ANALISIS PENERAPAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA
DALAM KEBIJAKAN HUKUM PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
TESIS
OLEH:
EDO MARANATA TAMBUNAN 177005068/HK
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
SUMATERA UTARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum Pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
OLEH
EDO MARANATA TAMBUNAN 177005068/HK
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Faisal Akbar Nasution S.H.,M.Hum Anggota : 1. Dr. Mirza Nasution, S.H., M.Hum 2. Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum
3. Prof. Dr. Hasim Purba, S.H.,M.Hum 4. Dr. Chairul Bariah, S.H.,M.Hum
ABSTRAK
Tuntutan terhadap kesadaran atas perlindungan, penghormatan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan HAM merupakan komitmen dan tanggung jawab negara.
Bentuk kesadaran etis tersebut diwujudkan dan di normakan dalam bentuk Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebagai penjabaran dari Vienna Declaration and Programme of Action June 25, 1993 (Deklarasi dan Program Aksi Wina 25 Juni 1993). Pelaksanaannya turut menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota dalam menangani pemasalahan HAM yang bersifat lokal. Penelitian ini difokuskan pada Kebijakan Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam pelaksanaan RANHAM di daerah.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang bersifat deskriptif analitis dan menghasilkan tiga kesimpulan dari permasalahan yang dibahas, yakni: 1) Kebijakan hukum perlindungan HAM oleh Pemerintah Republik Indonesia secara umum diatur dan bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian dijabarkan dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, selanjutnya dilaksanakan dalam bentuk Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM; 2) RANHAM daerah Provinsi Sumatera Utara diatur dan direkomendasikan berdasarkan Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ, yang sebelumnya diatur dan harus ditetapkan berdasarkan Instruksi Presiden; 3) Pendanaan penerapan RANHAM di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara periode 2015-2019 masih mengalami keterbatasan anggaran.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan: 1) Perlu meningkatkan komitmen pemerintah dengan membentuk kebijakan-kebijakan hukum nasional perspektif HAM; 2) Penerapan RANHAM daerah Provinsi Sumatera Utara perlu didukung dengan kebijakan hukum daerahnya dan keseriusan Pemerintah Pusat untuk memperbaiki dan mempertegas kedudukan dan tata kelola Instruksi Presiden maupun Surat Edaran Mendagri yang dijadikan sebagai acuan atau kebijakan peraturan pelaksana daripada Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM sebagai acuan dan tata laksana pelaporan Aksi HAM daerah yang telah di tetapkan; 3) Penerapan RANHAM di Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara perlu disikapi dengan sinergitas cakupan anggaran yang lebih rasional dan memadai, serta menjalin hubungan yang harmonis diantara Tim Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara terutama antara Kepala Daerah dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam mendorong kesepahaman untuk perlindungan dan pemajuan HAM melalui proses penyusunan anggaran daerah yang konfrehensif dan akuntabel.
Kata Kunci: HAM, RANHAM, Peraturan Perundang-Undangan.
Regulation Number 75 of 2015 concerning the National Action Plan for Human Rights as an elaboration of the Vienna Declaration and Program of Action June 25, 1993. The implementation is partly the responsibility of regional governments both provincial and district/city in handling local human rights issues that are focused on the Legal Policy of the province of North Sumatera. Government in the implementation of human rights actions in the regions.
This study uses a normative juridical method that is descriptive analytical and produces three conclusions from the problems discussed, namely: 1) Human rights protection policies by the Government of the Republic of Indonesia in general are regulated and sourced from the Pancasila and the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Then it is elaborated in Law Number 39 of 1999 concerning Human Rights, subsequently implemented in the form of Presidential Regulation Number 75 of 2015 concerning National Action Plan on Human Rights; 2) National Action Plan on Human Rights of the province of North Sumatera is regulated and recommended based on the Minister of Home Affairs Circular Letter No. 180/1319 / SJ, which was previously regulated and must be determined based on Presidential Instruction; 3) Funding for the application of National Action Plan for Human Rights in the Regional Government of the province of North Sumatera in the 2015-2019 period is still experiencing budget limitations.
Based on these conclusions, it is suggested: 1) It is necessary to increase the government's commitment by forming national legal policies from a human rights perspective; 2) The application of the National Action Plan on Human Rights area of the province of North Sumatera. needs to be supported by its regional legal policies and the seriousness of the Central Government to improve and reinforce the position and governance of the Presidential Instruction as well as the Minister of Home Affairs Circular used as a reference or implementing regulation policy rather than Presidential Regulation Number 75 of 2015 concerning National Action Plan on Human Rights as a reference and reporting procedure for regional human rights actions that have been established; 3) The implementation of National Action Plan on Human Rights in the Regional Government of the province of North Sumatera needs to be addressed with a synergy of more rational and adequate budget coverage, as well as establishing harmonious relations between the province of North Sumatera Government's Human Rights Action Team, especially between the Regional Head and the Regional Representative Council in encouraging understanding for protection and the promotion of human rights through a comprehensive and accountable regional budgeting process.
Keywords : Human Rights, National Action Plan on Human Rights, Legislation.
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha ESA atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan judul
‘’ANALISIS PENERAPAN RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA DALAM KEBIJAKAN HUKUM PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA’’. Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih terdapat kekurangan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga terdapat penelitian-penelitian lain yang lebih baik dan relevan dengan tesis ini pada masa yang akan datang. Penulis juga menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan karena dukungan dan bantuan berbagai pihak, untuk itu Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Prof Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum, selaku Ketua Program Magister (S2) dan Doktor (S3) Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Dr. Faisal Akbar Nasution, S.H., M.Hum, selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Penguji;
5. Dr. Mirza Nasution, S.H., M.Hum, selaku Anggota Komisi Pembimbing dan Penguji;
6. Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum, selaku Anggota Komisi Pembimbing dan Penguji;
Utara yang membidangi penerapan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia;
10. Desni Manik, S.H., M.Hum, selaku Kepala Sub Bidang HAM Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara;
11. Bapak/Ibu Dosen dan Pegawai Tata Usaha Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan arahan serta bantuan administrasi;
12. Secara khusus, penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua Orangtua Penulis Robert Tambunan (Ayah) dan Serpia Sitompul (Ibu) yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini;
13. Terima kasih juga kepada Saudara/Saudari saya (Lae Fery Panjaitan, Meta Tambunan, Henro Tambunan, Dea Tambunan, Nova Tambunan, Christin Panjaitan, Jonas Panjaitan, Christabel Panjaitan, Gevariel P. Tambunan, Gita K.
Tambunan);
14. Kepada seluruh teman-teman mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara;
15. Kepada Pimpinan kerja dan kerabat sejawat di PT. Sinar Sawit Perkasa Bpk. Hadi Darmawan, Bpk. Humar Nursalim, Bpk. Leo Tarigan, Bpk. Damenta Pranginangin, Bpk. Rudi, Bpk. Alex Nainggolan, Bpk. Wilson Tanzil, Ibu Ida
Boni Sinurat, Ibu Galeria, Ibu Seven Putri Sirait, Ibu Juli Empita Ginting, Ibu Ratna Siregar, Ibu Fany Lumban Tobing, Ibu Jeslyn.
Akhirnya, penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi pembacanya sebagai dasar perkembangan dan pemajuan bidang keilmuan hukum.
Medan, 13 Agustus 2019 Penulis
Edo Maranata Tambunan
Tempat / Tgl Lahir : Hutanabolon / 14 Maret 1994 Jenis Kelamin : Laki – Laki
Agama : Kristen
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat Domisili : Jl. Pertahanan Dusun VI Patumbak Pendidikan : Riwayat Pendidikan Penulis, meliputi:
1. SD INPRES 155678 HUTANABOLON (2000-2006) 2. SMP SWASTA SANTU FRANSISKUS AEKTOLANG
(2006-2009)
3. SMA SWASTA SANTU FRANSISKUS AEKTOLANG (2009-2012)
4. S-1 ILMU HUKUM TATA NEGARA NOMMENSEN (2012- 2016)
5. S-2 ILMU HUKUM TATA NEGARA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (2017 – 2019)
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP PENULIS ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 13
D. Manfaat Penelitian ... 13
1. Manfaat Teoritis ... 13
2. Manfaat Praktis ... 14
E. Keaslian Penelitian ... 14
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep ... 17
1. Kerangka Teori... 17
2. Kerangka Konsep ... 29
G. Metode Penelitian... 32
1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 32
2. Pendekatan Penelitian ... 34
3. Sumber Data ... 34
4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 35
5. Analisis Data ... 36 BAB II LANDASAN HISTORIS KONSEPSI TENTANG HAK
ASASI MANUSIA DAN KEBIJAKAN HUKUM PERLINDUNGAN OLEH PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DALAM PERATURAN PRESIDEN NOMOR
2. Sejarah HAM Modern (Negara Barat) ... 50
1. Magna Charta (Inggris) ... 50
2. Petition of Rights (Inggris) ... 51
3. Bill of Rights (Inggris) ... 51
4. Declaration of Independence (Amerika Serikat) ... 52
5. Declaration Des Deroits de L’Homme et du Citoyen (Perancis) ... 53
6. Universal Declaration of Human Rights (UDHR) ... 54
3. Sejarah HAM di Indonesia ... 55
B. Kebijakan Perlindungan Hak Asasi Manusia Oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia .... 65
BAB III PENGATURAN HUKUM TERHADAP PENERAPAN RENCANA AKSI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA DALAM KEBIJAKAN HUKUM PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA ... 79
A. Kebijakan Hukum Sebagai Sisi Pembangunan Politik Hukum HAM ... 79
B. Keterkaitan Konsep RANHAM Dengan Kebijakan Hukum .. 85
C. Kebijakan Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara Dalam Upaya Penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia ... 88
1. Kekuatan Hukum Mengikat Instruksi Presiden Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia ... 100
2. Kedudukan Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Dalam Kerangka Hukum Nasional Indonesia ... 106
3. Capaian Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi
Sumatera Utara ... 116
a. Kabupaten/Kota Peduli HAM ... 126
b. Kreatifitas Pemanfaatan Anggaran ... 129
BAB IV KEBIJAKAN HUKUM PENDANAAN PENERAPAN RANHAM DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA ... 132
A. Kedudukan Hukum Tim Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara... 132
B. Kebijakan Hukum Pendanaan Penerapan RANHAM di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara ... 143
1. Peranan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara Dalam Perumusan Anggaran ... 148
2. Pendanaan Penerapan Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara Periode 2015-2019 ... 154
BAB V PENUTUP ... 161
A. Kesimpulan ... 161
B. Saran ... 162 DAFTAR PUSTAKA
Tabel 2.2 Cakupan Kegiatan Aksi HAM ... 75
Tabel 2.3 Ratifikasi Instrument Hukum HAM Internasional Dalam Hukum Nasional Indonesia ... 77
Tabel 3.1 Inventarisasi Kebijakan Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara Perspektif HAM ... 92
Tabel 3.2 Penerapan Norma Dan Standar HAM ... 99
Tebel 3.3 Capaian Aksi HAM B-12 Tahun 2016-2017 Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara ... 117
Tabel 3.4 Capaian Aksi HAM B-12 Tahun 2019 Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara ... 121
Tabel 4.1 Tim Aksi HAM Nasional Periode 1998-2003 ... 133
Tabel 4.2 Tim Aksi HAM Provinsi Periode 2004-2009 ... 135
Tabel 4.3 Tim Aksi HAM Provinsi Sumatera Utara Periode 2011-2014 ... 136
Tabel 4.4 Tim Aksi HAM Provinsi Sumatera Utara Periode 2015-2019 ... 138
Tabel 4.5 Rincian Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara T.A 2019 (Per Satu Tahun) ... 156
Tabel 4.6 Rincian Kertas Kerja Implementasi Aksi HAM Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utara T.A 2019 (Per Satu Tahun) ... 158
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Piagam HAM Cyrus Cylinder ... 49
Salah satu komitmen penting yang dimiliki Indonesia dalam kerangka kebijakan Hak Asasi Manusia (selanjutnya disebut dengan HAM) adalah National Action Plan on Human Rights (Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia/selanjutnya disingkat dengan RANHAM).1 RANHAM merupakan komitmen negara Republik Indonesia dalam rangka penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan HAM (P5 HAM) yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres).
RANHAM Indonesia telah memasuki Generasi ke- IV dimulai sejak tahun 1998 hingga 2019 (berumur 21 tahun). Tercatat, RANHAM Generasi I Tahun 1998- 20032, RANHAM Generasi II Tahun 2004-20093, RANHAM Generasi III Tahun 2011-20144, dan RANHAM Generasi IV Tahun 2015-2019. Seluruhnya mengintegrasikan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan inklusivitas kelompok rentan
1Ranham Indonesia adalah jejaring HAM yang sangat potensial dan signifikan dalam upaya menumbuh kembangkan budaya penghormatan dan perlindungan terhadap HAM Indonesia. Lihat Harkristuti Harkrisnowo, 10 Tahun Reformasi; Sampai di Mana Kita ?,makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional 10 Tahun Reformasi; Quo Vadis Kemajuan dan Penegakan HAM di Indonesia, Komnas HAM RI, Jakarta, 8-11 Juli 2008.
2Keputusan Presiden RI Nomor 129 Tahun 1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
3Keputusan Presiden RI Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
4Peraturan Presiden RI Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
2
dalam satu Rencana Aksi Nasional.5 Keseluruhan RANHAM tersebut tampak belum berjalan dengan sempurna, dalam arti masih terdapat kendala baik dari segi kebijakan hukum maupun unit atau institusi pelaksana RANHAM, dan alokasi dana implementasi Aksi HAM yang belum memadai.6
Kedudukan RANHAM memiliki peran strategis sebagai pedoman dalam penyusunan agenda-agenda dan program-program pemajuan HAM di Indonesia baik pusat maupun daerah pemerintahan. Selain itu, mendorong fungsi pemerintah untuk beberapa hal sebagai berikut: pertama, evaluasi atas pelaksanaan kebijakan HAM.
Kedua, meningkatkan kesadaran atas pentingnya isu HAM untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan pada jajaran pemerintahan, aparat keamanan, organisasi masyarakat sipil dan masyarakat secara keseluruhan.
Ketiga, menggerakkan spektrum masyarakat untuk bekerjasama dalam mendorong isu HAM. Keempat, mengusulkan rangkaian aktivitas yang realistik.
Kelima, mengatur target capaian. Keenam, mempromosikan isu HAM dengan program-program nasional lainnya, terutama pada isu pembangunan dan pendidikan.
Ketujuh, mendorong komitmen untuk melakukan aksi konkret dari RANHAM.7 Sasaran tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama, moral, adat-
5Lebih lanjut lihat Peraturan Presiden RI Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.
6Lihat Lampiran Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia hlm 8-9. Lebih lanjut dalam Jurnal Ilmiah Penelitian, Evaluasi Implementasi RANHAM 2015-2019 Dalam Rangka Mewujudkan Penghormatan, Pemenuhan, Perlindungan, Penegakan, dan Pemajuan HAM di Indonesia, oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAk Asasi Manusia Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, hlm 12.
7 Lihat: Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. 2002. Handbook on National Human Rights Plans of Action. UN: Geneva, hlm 3, dokumen dapat diakses di https://www.ohchr.org/Documents/Publications/training10en.pdf, diakses tanggal 15/02/2019.
istiadat, budaya, keamanan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya di singkat UUD NRI Tahun 1945).
Untuk mencapai sasaran umum tersebut, harus dilakukan dengan 6 (enam) strategi agar penerapan RANHAM berjalan secara optimal, meliputi:8
1. Penguatan institusi pelaksana RANHAM;
2. Penyiapan pengesahan dan penyusunan bahan laporan implementasi instrumen internasional HAM;
3. Penyiapan regulasi, harmonisasi rancangan dan evaluasi peraturan perundang-undangan dari perspektif HAM;
4. Pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang HAM;
5. Penerapan norma dan standar HAM;
6. Pelayanan komunikasi masyarakat.
Melihat strategi diatas tidak semuanya dapat di implementasikan secara optimal. Misalnya dalam strategis penyiapan regulasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan selalu saja menjadi kendala maupun hambatan realisasi HAM.
Bahkan pemerintah daerah sebagai pengemban tanggungjawab pelaksana RANHAM daerah yang kurang mendukung dalam menyambut baik Perpres No. 75 Tahun 2015 dengan menghadirkan kebijakan-kebijakan hukum daerahnya yang berprespektif HAM.
Sebagaimana diketahui, penghormatan atas hak-hak dasar manusia telah di jamin dan diamanatkan dalam Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 sebagai pandangan hidup, falsafah dan dasar konstitusional bagi Negara Kesatuan Republik
8Terdapat 6 (enam) Strategi RANHAM Periode 2015-2019 yang harus dilaksanakan sebagai bagian instrument pelaksanaan Aksi HAM baik oleh Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota), selanjutnya dapat dilihat dalam Lampiran Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia, hlm 12.
4
Indonesia.9 Walaupun perwujudan secara materil dan formil baru ada setelah dikeluarkannya Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusiadan Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM.10
Undang-Undang tersebut dikeluarkan sebagai salah satu rangkaian perwujudan RANHAM dan menjadi landasan hukum normatif lahirnya RANHAM dalam bentuk Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia/selanjutnya disingkat dengan RANHAM (generasi ke-IV).11 Pembentukan RANHAM dalam Perpres tersebut adalah penjabaran berdasarkan mekanisme hierarki peraturan perundang-undangan12, sekalipun RANHAM merupakan hasil gagasan dari Vienna Declaration and Programme of Action (Deklarasi dan Program
9Perubahan kedua UUD NRI Tahun 1945 mengatur substansi HAM dalam bab tersendiri yaitu BAB XA dari Pasal 28A hingga Pasal 28J menegaskan komitmen negara untuk menghormati, memenuhi, melindungi, menegakkan, dan memajukan HAM di Indonesia.
10 Amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945 tersebut dijabarkan lebih lanjut ke dalam Pasal 71 dan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 71 menyatakan bahwa Pemerintah wajib dan bertanggung jawab untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia sebagaimana yang diatur dalam Undang- Undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang Hak Asasi Manusia yang diterima oleh Negara Republik Indonesia. Selanjutnya dalam Pasal 72 mengatur bahwa kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71, meliputi langkah implementasi yang efektif di bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain.
11 Subardjo, Kebijakan Hukum Di Bidang Hak Asasi Manusia (HAM), dalam Jurnal lmiah Ilmu Hukum Vol. 4, N0.1, Februari 2007, hlm 203.
12 Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan: Dasar dan Cara Pembentukannya, (Yogjakarta: Kanisius, 1998) membahas Stavenbau Theory, bahwa sistem hukum oleh Hans Kelsen (1881-1973) yang menyatakan bahwa sistem hukum merupakan sistem anak tangga dengan kaidah berjenjang di mana norma hukum yang paling rendah harus berpegangan pada norma hukum yang lebih tinggi, dan kaidah hukum yang tertinggi (seperti konstitusi) harus berpegangan pada norma hukum yang paling mendasar (grundnorm) dalam Jimly Ashidiqqie, Pengantar lmu Hukum Tata Negara, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hlm 162-163, lebih lanjut dalam Undang-Undang No 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Aksi Wina)13 dan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Hak Penyandang Disabilitas)14 menekankan agar setiap negara membentuk dan melaksanakan Rencana Aksi Nasional yang terkait dengan Hak Asasi Manusia (RAN-HAM).15
Deklarasi tersebut umumnya hadir dari tuntutan penyelesaian masalah- masalah politik, hukum, dan HAM di negara-negara yang baru lepas dari kekuasaan otoritarian. Pada sisi politik, terdapat desakan untuk melakukan perubahan sistem politik ke arah yang demokratis. Sisi hukumnya terdapat desakan agenda pembaharuan sistem hukum melalui penegakan supremasi hukum yang berkeadilan.
Sementara dari sisi HAM muncul tekanan berupa usaha penegakan, penghormatan, perlindungan, pemenuhan, dan pemajuan HAM.16
Sebagaimana dimuat dalam Article I Section 5 Vienna Declaration and Programme of Action (bagian I angka 5 Dekladasi Wina) menyatakan:17
13Sebelumnya PBB menggelar Konferensi HAM Sedunia Iran pada 22 April- 13 Mei 1968 dan menghasilkan the Final Act of International Conference on Human Rights, dokumen dapat dilihat dalam http://legal.un.org/avl/pdf/ha/fatchr/Final_Act_of_TehranConf.pdf, diakses tanggal 22/07/2019.
14 Konvensi Hak Penyandang Disabilitas yang diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas).
15Lihat catatan Vienna Declaration and Programme of Action (Deklarasi dan Program Aksi Wina)Pada Bagian II angka 71 dinyatakan bahwa: the world conference on human rights recommends that each state consider the desirability of drawing up national action plan identifying steps whereby that state would improve the promotion and protection of human rights (Konferensi HAM Sedunia merekomendasikan pada tiap negara untuk mempertimbangkan keinginan untuk membuat rencana aksi nasional yang mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat dipergunakan negara dalam memperbaiki pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia).
16Suparman Marzuki, Politik Hukum Hak Asasi Manusia, (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2014), hlm 2.
17Lihat Article I Section 5 dalam dokumen Vienna Declaration and Programme of Action Adopted by the World Conference on Human Rights in Vienna on 25 June 1993.
6
“...All human rights are universal, indivisible and interdependent and interrelated.The international community must treat human rights globally in a fair and equal manner, on the same footing, and with the same emphasis.
While the significance of national and regional particularities and various historical, cultural and religious backgrounds must be borne in mind, it is the duty of states, regardless of their political, economic and cultur systems, to promote and protect all human rights and fundamental freedoms. (semua hak asasi manusia bersifat universal, tidak terbagi, saling tergantung dan saling berhubungan. Seluruh masyarakat internasional harus memperlakukan sebagai hak asasi manusia global secara jujur dan sama, atas kedudukan yang sama, dan dengan perhatian yang sama. Sementara kepentingan nasional dan kenyataan-kenyataan regional, latar belakang sejarah, dan agama yang beragam tentu saja tersimpan dalam pikiran, itu adalah kewajiban negara, bagaimanapun kondisi politik, ekonomi, dan sistem budaya mereka, untuk memajukan dan melindungi seluruh hak asasi manusia dan kebebasan dasar).
Konsep ini mengakui bahwa tidak ada satu pun negara yang memiliki catatan HAM sempurna (no country has a perfect human rights record). Setiap negara berbeda-beda, dan rencana apapun yang dikembangkan oleh suatu negara harus mampu disesuaikan dengan keadaan politik budaya, hukum, sosial dan ekonomi.
Dengan demikian, untuk memastikan implementasi yang efektif, komitmen HAM harus berasal dari suatu negara.18
Kesadaran bahwa berhasil memajukan pemenuhan HAM, diperlukan perubahan sikap, pendidikan dan pelatihan, sistem hukum dan peradilan yang kuat, serta komitmen terhadap aturan hukum dari negara itu sendiri. Selain itu, sumber daya dan kemauan politik menjadi dasar dalam menyiapkan kebijakan. Kebijakan
18Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia: Dari UUD 1945 Sampai Dengan UUD 1945 Tahun 2002, (Jakarta: Prenadamedia Group-Edisi Kedua, 2017), hlm 119-120.
dalam hal ini adalah kebijakan hukum perspektif HAM yang melandasi implementasi Aksi HAM baik di pusat maupun di daerah pemerintahan.19
Berdasarkan pemaparan tentang RANHAM diatas, merupakan langkah dalam mengawali pemahaman lebih lanjut apa dan bagaimana RANHAM dari sisi sosial politik yang dirangkum dalam kebijakan hukum yang pada akhirnya melegitimasi pengimplementasian HAM tersebut. Pelaksanaan RANHAM yang terdiri atas unsur Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang dibentuk oleh Presiden dengan nama Sekretariat Bersama (SETBER).20
Aksi HAM sebagai penjabaran lebih lanjut dari RANHAM dilaksanakan di seluruh Kementerian/Lembaga (K/L), dan Pemerintah Daerah (gubernur, bupati/walikota) dengan melakukan analisis, koordinasi, dan fasilitasi untuk mengurai masalah dalam pelaksanaan Aksi HAM. Selanjutnya, menyampaikan laporan pelaksanaan Aksi HAM secara berkala kepada SETBER dan mempublikasikannya kepada masyarakat sebagai bagian dari akuntabilitas publik.21
Korelasinya dengan pembangunan hukum di Indonesia berperspektif HAM, menjadikan RANHAM Indonesia tidak sekadar komitmen normatif belaka, tetapi justru mampu dielaborasikan dalam seluruh kebijakan pembangunan Indonesia.
19 Lihat lebih lanjut Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights, Handbook of National Human Rights Plan of Action (New York: 2002), hlm 8, dalam Majda El Muhtaj.,.Ibid.
20Lihat Pasal 3 Ayat (3) Perpres No. 75 Tahun 2015 ‘’Sekretariat Bersama RANHAM dipimpin oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia (Menkumham)’’.
21Lihat Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2015 tentang Aksi HAM tahun 2015, RANHAM tersebut memuat 88 aksi HAM, dikelompokan ke dalam 23 fokus melalui 6 strategi.
8
Kebijakan hukum sebagai instrumen penting dalam membuktikan komitmen Aksi HAM yang susungguhnya, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
Kebijakan hukum (legal policy) lebih menekankan pembangunan hukum yang berintikan pembentukan dan pembaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi bangsa Indonesia khususnya di daerah pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.
Hukum bukan berarti pasal-pasal yang bersifat imperative atau keharusan- keharusan yang bersifat das sollen, melainkan harus dipandang sebagai sub-sistem yang dalam kenyataanya (das sein) baik dalam perumusan materi, dan pasal-pasalnya maupun dalam implementasi dan penegakannya.22 Sehingga, dengan keterbatasan kebijakan hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara menjadi hambatan dalam upaya penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan HAM.
Berdasarkan Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019, yaitu terkait dengan Aksi HAM bidang pengelolaan dan pemerataan distribusi (sebaran) jumlah guru didaerah dalam format pelaporanya perlu mendapat perhatian.23 Juga Aksi HAM penyediaan ruang menyusui yang memadai bagi perempuan bekerja di gedung perkantoran milik Pemerintah Daerah dan Swasta dalam rangka implementasi UU
22Mirza Nasution, Politik Hukum Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, (Jakarta:
Puspantara Media, 2015), hlm 16-17.
23 Lihat lebih lanjut dalam Surat Edaran Mendagri RI No. 180/1319/SJ Tentang Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi HAM Pemerintah Provinsi Tahun 2019.
No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian ASI Eksklusif.24
Bentuk Aksi HAM tersebut belum terealisasikan secara maksimal dikarenakan kurang responsifnya dukungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam penetapan kebijakan hukum terkait hal demikian.25 Sehingga persoalan regulasi maupun kebijakan hukum yang dibentuk, belum sepenuhnya mencerminkan budaya regulasi HAM. Dengan demikian, perlu diikuti dengan sejumlah regulasi di daerah pemerintahan sebagai daerah otonom, dimana kebijakan hukum yang terbatas akan sulit menampilkan keterkaitan antara output (data) dengan outcome dalam percepatan perlindungan, pemenuhan, dan pemajuan HAM.
Merespon situasi tersebut, Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara perlu mengambil langkah strategis baik dalam penerapan RANHAM maupun dalam legal policy (kebijakan hukum). Pemaknaan indikator HAM yang beragam dalam menetapkan apakah HAM tertentu sudah terpenuhi atau belum, memang menjadi kendala tersendiri dalam penerapan RANHAM khususnya di daerah otonom.26
Langkah untuk menyelesaikan persoalan HAM di daerah sangat penting mengangkat isu kebijakan hukum sebagai sisi politik hukum dan HAM di daerah.
24 Lihat lebih lanjut dalam UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian ASI Eksklusif.
25 Pelaksanaan Aksi HAM sebagaimana disebutkan dalam huruf d : ‘’Penyediaan ruang menyusui yang memadai bagi perempuan bekerja diperkantoran milik Pemerintah Daerah dan swasta dalam rangka implementasi UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif.’’, dimana mekanisme kerja dan pelaporannya di serahkan dalam kebijakan pemerintah daerah, namun ketentuan demikian terwujud.
26 Lihat Lampiran Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia hlm 12.
10
Sehingga, penataan sistem dan mekanisme perlindungan serta pemajuan HAM perlu diperhatikan, baik dari sisi institusi atau unit pelaksana RANHAM maupun kebijakan hukum yang tepat. Upaya tersebut dilakukan untuk menghambat aksesibilitas terjadinya pelanggaran-pelanggaran HAM oleh pemangku kepentingan.27
Konstitusi yang merupakan konstitusionalisme bersama memberikan petunjuk menuju bangsa yang beradab dalam bernegara. Masuknya materi jaminan HAM dalam Peraturan Presiden tersebut mempertegas konstitusi sebagai standar daripada norma hukum.28 Oleh karena HAM adalah hak-hak yang diakui secara konstitusional, maka pelanggaran atas HAM merupakan pelanggaran atas konstitusi. Untuk mendukung terwujudnya kesadaran jamak atas eksistensi HAM Indonesia, maka pemerintah menyadari bahwa kebijakannya harus mengedepankan isu-isu HAM.
Kebijakan tersebut dimaksudkan sebagai peran serta pemerintah daerah dalam memproteksi jaminan atas HAM sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi dengan melakukan akselerasi regulasi (kebijakan hukum) dan diseminasi HAM.29 Hal demikian penting dilakukan pembahasan dengan alasan bahwa secara universal diketahui HAM merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap individu dalam suatu negara. Sehingga, negara wajib melindungi hak-hak dasar bagi warga negaranya melalui kebijakan hukum yang dibentuk.
27 Suparman Marzuki, Politik Hukum Hak Asasi Manusia...., Op.,Cit., hlm 2.
28Kata pengantar oleh Hafid Abbas dalam Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia: Dari UUD 1945 Sampai Dengan UUD 1945 Tahun 2002, Edisi Kedua (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2017), Op.,Cit, hlm xi.
29Ibid., hlm xii.
Selanjutnya, dari sudut pandang akademisnya melihat RANHAM sebagai bagian integral sisi advokasi hukum terhadap HAM di tengah-tengah masyarakat dewasa ini yang dinamis sifatnya, serta kebijakan hukum yang hadir sebagai fondasi normatif. Untuk melihat realitas yang terjadi dalam penerapan RANHAM bidang kebijakan hukum berdasarkan Perpres tersebut, maka RANHAM tersebut akan diteliti penerapannya di Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Sehingga, berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat hal-hal sebagai berikut:
1. HAM merupakan hak dasar yang melekat pada diri setiap manusia karena itu harus dihormati, dilindungi dan ditegakkan. Pelaksanaan penghormatan, pelindungan dan penegakan HAM akan menciptakan kesejahteraan rakyat dan kepastian hukum terhadap kelompok rentan HAM;
2. Bahwa Komitmen Negara Republik Indonesia dalam rangka penghormatan, pemenuhan, pelindungan, penegakan, dan pemajuan HAM bersumber pada Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian dijabarkan dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, selanjutnya dilaksanakan dalam Perpres No. 75 Tahun 2015 sebagai norma hukum pelaksana HAM untuk melakukan penataan kembali mekanisme kebijakan hukum dalam pembenahan dan perlindungan hak-hak dasar manusia secara menyeluruh;
3. RANHAM sangat penting sebagai panduan dan rencana umum serta arah bagi penyelenggara negara baik kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah
12
yang pelaksanaannya bersifat dinamis (living document), dapat disesuaikan dengan potensi, dan permasalahan di setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah (provinsi/kabupaten/kota) sehingga perlu melihat bagaimana konsistensinya saat ini;
4. Masih terdapat isu-isu HAM bidang kebijakan hukum (legal policy) yang perlu dikaji dan ditata ulang.
5. Mengingat Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai salah satu bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka perlu dijadikan sebagai studi penelitian untuk mengidentifikasi dan melihat efektifitas penerapan RANHAM di tingkat daerah sebagai sisi evaluasi dalam melaksanakan penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakan, dan pemajuan terhadap HAM.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka diperoleh identifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana kebijakan hukum perlindungan Hak Asasi Manusia oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia ?
2. Bagaimana kebijakan hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia ?
3. Bagaimana kebijakan hukum pendanaan penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini dapat dilihat dibawah ini, sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis dan mengetahui kebijakan hukum perlindungan Hak Asasi Manusia oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia;
2. Untuk menganalisis dan mengetahui kebijakan hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia;
3. Untuk menganalisis dan mengetahui kebijakan hukum pendanaan penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.
D. Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat sebagai hasil capaian, akan diperoleh dalam penelitian yang dilakukan, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan di bidang hukum dan HAM, khususnya dalam penyusunan RANHAM dan pelaksanaannya di Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan melihat sisi pembentukan
14
kebijakan hukum daerah. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya pada bidang yang sama.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah manfaat bagi pihak-pihak sebagai berikut:
a. Pemerintah Pusat
Sebagai masukan dan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan HAM di tingkat pemerintah pusat dalam basis sentral penyusunan atau pembentukan RANHAM.
b. Pemerintah Daerah
Sebagai masukan dan evaluasi penerapan RANHAM dalam kebijakan hukum daerahnya demi menjamin penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan HAM di tingkat pemerintah daerah provinsi, dan kabupaten/kota terhadap permasalahan HAM yang lebih kompleks sifatnya.
c. Masyarakat
Memberikan gambaran dan menggerakkan spektrum masyarakat untuk bekerjasama dalam mendorong isu HAM demi perlindungan, penghormatan, penegakan, pemajuan, dan pemenuhan HAM.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian yang berjudul ‘’Analisis Penerapan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Dalam Kebijakan Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara’’, belum pernah dilakukan
dalam topik atau judul dan permasalahan yang sama. Sehingga untuk memenuhi aspek akademisnya, dapat dikatakan bahwa penelitian ini adalah penelitian yang asli dan sesuai dengan studi keilmuan.
Karena itu, pengutipan pada karya-karya terdahulu diusahakan mendapat ruang yang memadai untuk penyebutan sumbernya, sehingga dapat dihindari adanya klaim plagiat kemudian hari. Sebagai bentuk pertanggung jawaban akademik, Penulis bertanggung jawab sepenuhnya jika ditemukan adanya plagiat dan duplikasi dalam karya ini. Demi menjamin keaslian sebuah penelitian, ditemukan beberapa penelitian yang pernah dilakukan dan sekaligus dijadikan sebagai the suggested reading dalam penelitian ini yakni, sebagai berikut:
1. Tesis atas nama Adila Yustiana Program Studi Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Gajah Madah dengan judul penelitian, ‘’Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Bidang Pendidikan Di Kota Yogyakarta Tahun 2004-2009’’.
Rumusan Masalah:
a) Bagaimana pelaksanaan rencana aksi nasional hak asasi manusia bidang pendidikan di Kota Yogyakarta Tahun 2004 –2009 ?
b) Bagaimana pemenuhan hak atas pendidikan yang dilaksanakan oleh Panitia Pelaksana RANHAM ?
c) Bagaimana upaya-upaya perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan oleh Panitia Pelaksana RANHAM Kota Yogyakarta Tahun 2004 – 2009 ?
16
2. Tesis atas nama Anak Agung Adi Lestari Program Studi Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Udayana dengan judul penelitian, ‘’Tanggung Jawab Negara Dalam Hak Asasi Manusia di Bidang Pendidikan Bagi Warga Negara Indonesia’’.
Rumusan Masalah:
a) Bagaimanakah pengaturan negara dalam pemenuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan ?
b) Bagaimana tanggung jawab negara jika terjadi kelalaian dalam hal pemenuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan?
3. Skripsi atas nama Rifa’I Idris Universitas Negeri Semarang dengan Judul Penelitian, “Peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan HAM Jawa Tengah Dalam Menyelesaikan Dugaan Pelanggaran HAM Sebagai Bentuk Pelayanan Komunikasi Masyarakat (YANKOMNAS)”.
Rumusan Masalah:
a) Bagaimana prosedur pelayanan/penanganan terhadap dugaan pelanggaran HAM baik yang dikomunikasikan maupun yang tidak dikomunikasikan oleh seseorang atau kelompok orang?
b) Apa saja peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah dalam upaya mendorong penyelesaian dugaan pelanggaran HAM di wilayah Provinsi Jawa Tengah?
c) Apa saja hambatan dalam pelaksanaan Pelayanan Komunikasi Masyarakat (YANKOMAS) dan bagaimana upaya untuk mengatasi hambatan tersebut ?
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep 1. Kerangka Teori
a. Teori Negara Kesejahteraan (Welfare State)
Sebelumnya telah dibahas titik singgung antara RANHAM dengan kebijakan hukum yang terletak pada fokus perhatian terhadap penerapan Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM. Penerapan RANHAM ini adalah salah satu bagian daripada instrument HAM basis internasional. Konteks penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan dan pemajuan HAM menjadi tanggungjawab negara, khususnya pemerintah daerah yang begitu kompleks permasalahan HAM.
Konsepsi tersebut dapat dilihat titik tautannya dengan menggunakan kaca mata hukum yang lebih luas, yaitu memahami persoalan pemenuhan dan pemajuan HAM dalam perspektif hukum. Sebagaimana dipaparkan oleh R. Kranenburg dalam sebuah kajian ‘’A Theory of Welfare State’’ (teori negara kesejahteraan) menyatakan bahwa negara yang pemerintahannya menjamin terselenggaranya kesejahteraan rakyat. Lebih lanjut R. Kranenburg menjelaskan prinsip negara kesejahteraan sebagai berikut:
‘’Negara harus secara aktif mengupayakan kesejahteraan, bertindak adil yang dapat dirasakan seluruh masyarakat secara merata dan seimbang, bukan mensejahterakan golongan tertentu tapi seluruh rakyat. Maka akan sangat ceroboh jika pembangunan ekonomi dinafikan, kemudian pertumbuhan ekonomi hanya dipandang dan dikonsentrasikan pada angka persentase belaka’’30.
30Kranenburg ‘’Teori Negara Kesejahteraan (walfare state)’’ sebagaimana dikutip dalam https://kumparan.com/bathara-kresno/konsep-welfare-state-theory-maksimalkan-peran-pemerintah, diakses tanggal 25/02/2019.
18
Teori negara kesejahteraan diatas oleh R. Kranenburg ditujukan sebagai alternatif terhadap doktrin-doktrin yang telah mendominasi tradisi filsafat.
Kesejahteraan rakyat sebagai salah satu bidang pembangunan HAM yang mempunyai peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pembangunan atas kesejahteraan rakyat tersebut tidak dapat dilepaskan dari cita-cita mulia bangsa Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.31
Menurut dia, tujuan negara bukan sekadar memelihara ketertiban hukum, melainkan juga aktif mengupayakan kesejahteraan warganya. Kesejahteran pun meliputi berbagai bidang yang luas cakupannya, sehingga selayaknya tujuan negara itu disebut secara plural: tujuan-tujuan negara. Ia juga menyatakan bahwa upaya pencapaian tujuan-tujuan negara itu dilandasi oleh keadilan secara merata, seimbang.
Upaya pencapaian kesejahteraan dari berbagai sistem penyelenggaraan negara seperti sistem demokrasi dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, masih dipandang sebagai sistem yang baik dalam tatanan negara hukum materil yang dikenal dalam istilah welfare state (negara kesejahteraan).
Demokrasi memungkinkan rakyat bersuara dan rakyat yang dimaksud adalah seluruh rakyat (all the people).32 Negara modern sebagai personifikasi dari tata hukum, artinya, negara dalam segala aktivitasnya senantiasa didasarkan pada
31Lihat Pembukaan UUD Tahun 1945 Alinea Ke-4.
32Bagir Manan dan Susi Dwi Harijanti, Saat Rakyat Bicara: Demokrasi dan Kesejahteraan, dalam Padjadjaran Jurnal Ilmu Hukum, Volume 1-No. 1-Tahun 2014.
hukum.33 Menurut Jimly Asshiddiqie, ide negara kesejahteraan merupakan pengaruh dari faham sosialis yang berkembang pada abad ke-19, yang populer pada saat itu sebagai simbol perlawanan terhadap kaum penjajah yang Kapitalis-Liberalis.34 Cita- cita mulia dimaksud ternyata merupakan perwujudan dari HAM yang secara jelas termuat dalam konstitusi Negara Republik Indonesia sebagai hak konstitusional yang perlindungan, penegakan, pemenuhan dan pemajuan HAM (P5 HAM) menjadi tanggung jawab negara (pemerintah).
Permasalahan tentang kesejahteraan rakyat tidak hanya terbatas pada agenda pemajuan perekonomian, tetapi juga dalam konteks pendidikan, lingkungan hidup, sosial, politik, dan hukum yang bersinggungan langsung dengan rakyat secara umum.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka pemerintah sebagai penyelenggara negara harus mampu menciptakan kebijakan maupun regulasi untuk membuka jalan terciptanya kesejahteraan rakyat.35 Ketentuan menghadirkan sebuah kebijakan adalah salah satu strategi penerapan RANHAM dalam penyiapan regulasi, harmonisasi, dan evaluasi peraturan perundang-undangan.
Para ‘’founding fathers’’ mengatakan bahwa negara kita menggunakan istilah
‘’adil dan makmur’’ sebagaimana tertuang dalam Alinea Kedua Pembukaan UUD NRI Tahun 1945. Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945 menggunakan istilah
33 Soemardi, Teori Umum Hukum dan Negara : Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik, (Bandung: Bee Media Indonesia, 2010), hlm 225.
34Jimly Asshiddiqie, Gagasan Konstitusi Sosial: Institusionalisasi dan Konstistusionalisasi Kehidupan SosialMasyarakat Madani, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2015), hlm. 112.
35 Yohannes Suhardin,,Peranan Hukum Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat, Jurnal Hukum Pro Justitia, Juli 2007, Volume 25 No. 3, hlm 272.
20
‘’kesejahteraan sosial’’ dan ‘’kemakmuran rakyat’’.36 Oleh karena itu, pemerintah baik pusat maupun daerah memiliki kewajiban untuk mengeluarkan kebijakan publik, dalam bentuk peraturan perundang-undangan, anggaran publik, program maupun perencanaan pembangunan guna menjamin pemenuhan HAM.37
Tujuan mendirikan negara pada dasarnya adalah agar tercipta kesejahteraan rakyat oleh Pemerintah sebagai penyelenggara negara. Merumuskannya dalam peraturan perundang-undangan yang responsive, aspiratif, dan progresif sesuai dengan kepentingan masyarakat.38 Sehingga substansi kebijakan maupun regulasi memuat nilai-nilai keadilan demi terwujudnya kesejahteraan rakyat sebagai relevansinya dalam penerapan RANHAM.
Kebijakan hukum oleh pemerintah sebagai jaminan cita-cita ideal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dalam negara modern.39 Penerapan RANHAM yang di instrumenkan dalam berbagai macam Aksi HAM serta peranan kebijakan hukum akan membuka peluang dan harapan dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Namun, apabila tidak diperoleh perubahan positif dari penerapan RANHAM tersebut, maka besar kemungkinan terjadi gab atau negara gagal dalam mewujudkan pemenuhan dan pemajuan HAM sebagai salah satu sisi prinsip negara kesejahteraan.
36Lihat Pasal 33 Ayat 3 UUD NRI Tahun 1945 Pasca Amandemen.
37 Jaap E Doek, Harmonisation of National Laws With the Convention on the Rights of the Child: Some Observations and Suggestions (Addis Ababa: The African ChildPolicy Forum, 2007), hlm 2, dalam Laporan Rencana Aksi Nasional Bisnis Hak Asasi Manusia May 2017, hlm 28.
38Sajipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresi, (Jakarta: Penerbit Hukum Kompas, 2006), hlm 9.
39 Sentanoe Kertonegoro, Jaminan Sosial dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya Cetakan Ke-II, 1987), hlm 7.
Berdasarkan teori welfare state (negara kesejahteraan) sebagaimana dikemukakan oleh R. Kranenburg diatas, bahwa negara Indonesia dalam hal ini Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki tanggung jawab penuh dan aktif dalam mengupayakan kesejahteraan, bertindak secara adil sebagaimana dalam penerapan Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM yang secara langsung dapat dirasakan masyarakat dengan merata dan seimbang terutama kepada mereka yang terlibat sebagai tim Aksi HAM dalam pelaksanaan dan peneraparan RANHAM daerah.
b. Teori Kepastian Hukum
Menurut Hans Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma yang menekankan aspek das sollen (apa yang seharusnya dilakukan) dalam bentuk produk hukum sebagai aksi manusia yang deliberatif.40 Undang-Undang yang berisi aturan-aturan yang bersifat umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku dalam bermasyarakat, baik dalam hubungan sesama individu maupun dalam lingkup masyarakat. Aturan-aturan tersebut menjadi batasan bagi masyarakat dalam
40 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm 158.
Lebih lanjut dalam literature bahwa Kata deliberatif berasal dari kata Latin deliberatio atau deliberasi (Indonesia) yang artinya konsultasi, musyawarah, atau menimbang-nimbang. Demokrasi bersifat deliberatif jika proses pemberian alasan atas suatu kandidat kebijakan publik diuji lebih dahulu lewat konsultasi publik, atau diskursus publik. Demokrasi deliberatif ingin meningkatkan intensitas partisipasi warga negara dalam proses pebentukan aspirasi dan opini agar kebijakan-kebijakan dan undang-undang yang dihasilkan oleh pihak yang memerintah semakin mendekati harapan pihak yang
diperintah, sebagaimana dikutip dalam
https://www.kompasiana.com/taurahida/550d50348133115922b1e277/jurgen-habermas /demokrasi- deliberatif-dan-ruang-publik, diakses tanggal 19/07/2019.
22
membebani atau melakukan tindakan terhadap individu dalam lingkup hak dan kewajiban.
Adanya aturan dan pelaksanaannya menimbulkan kepastian hukum.
Pandangan tersebut menyimpulkan bahwa kepastian hukum esensinya adalah keteraturan.41 Sehingga, perlu direlevansikan dalam pandangan Gustav Radbruch yang membahas tentang nilai-nilai dasar tujuan hukum yang saling berkaitan satu sama lain (keadilan, kemanfaatan hukum, dan kepastian hukum).42
Untuk mengawal penajaman pembahasan perlu dijelaskan nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan hukum terkait dengan penelitian hukum ini, sekalipun head of theory yang digunakan adalah prinsip kepastian hukum sebagai pisau analisis untuk membantu dalam bedah hukum persoalan dibidang HAM dan regulasi (kebijakan).
Sehingga perlu dijelaskan secara lebih terinci tujuan hukum lainnya dengan urgensi penerapan RANHAM sebagaimana dimaksud diatas :43
1. Asas keadilan hukum (gerectigheit)
Suatu teori normatif tentang keadilan menjelaskan persamaan dimuka hukum yang berjalan sesuai peraturan dan asas-asas hukum, struktur sosial yang adil merupakan suatu keharusan demi mencapai cita-cita hukum yaitu keadilan hukum dan keadilan sosial.44 Asas ini meninjau dari sudut filosofis, dimana keadilan adalah persamaan hak untuk semua orang. Kaitannya dengan Penerapan Perpres No. 75
41 Ibid.
42Ojak Nainggolan, Pengantar Ilmu Hukum, (Medan:UHN Press-Cetakan Ke II 2010), hlm 21.
43Ibid.,hlm 19-24.
44Mulyana W. Kusumah, Hukum dan Hak-Hak Asasi Manusia, (Bandung: Penerbit Alumni, 1981), hlm 27.
Tahun 2015 Tentang RANHAM di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, negara (pemerintah) memiliki tanggung jawab dalam memberikan upaya penghormatan, perlindungan, penegakan, pemenuhan, dan pemajuan HAM.
Tanggung jawab tersebut dijalankan dengan prinsip yang berkeadilan baik melalui pendekatan institusi (struktur hukum) yang jujur dan akuntabel, maupun dari sisi regulasi (substansi hukum) untuk menghindari adanya akomodasi oleh pihak yang berkepentingan terhadap penerapan RANHAM yang kemudian merugikan atau menghilangkan kepentingan stakeholders (masyarakat sebagai pemangku kepentingan).
Menjadikan peregulasian RANHAM sebagai struktur dasar dapat diartikulasikan sebagai kebutuhan untuk menjaga keterpenuhan keadilan sosial.
Keadilan dalam skema sosial secara mendasar bergantung pada bagaimana hak-hak dan kewajiban fundamental diterapkan pada peluang hukum, ekonomi serta kondisi sosial dalam berbagai sektor masyarakat untuk tetap dijaga dan dipertahankan.45 2. Asas kemanfaatan hukum (zwechmatigheid atau utility).
Jhon Rawls dalam padangannya mengenai kemanfaatan hukum menyatakan bahwa:
‘’saya membedakan antara dua teori tentang manfaat. Alasannya, karena dalam keadilan sebagai fairness konsep hak adalah lebih tinggi (didahulukan) daripada konsep tentang manfaat. Berkebalikan dengan teori teleologis, sesuatu adalah baik (bermanfaat) hanya ketika ia sesuai dengan cara hidup yang sejalan dengan prinsip hak yang telah ada. Namun, untuk mengukuhkan
45Jhon Rawls, A Theory Of Justice: Teori Keadilan Dalam Dasar-Dasar Filsafat, Politik Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Dalam Negara, (Cambridge: Harvard University Press, 1995), diterjemahkan Heru Prawetyo dalam Pustaka Pelajar, 2006, hlm 30- 34 dan 203-234.
24
prinsip-prinsip ini perlu menyandarkan pada sejumlah pandangan tentang kemanfaatan, sebab kita membutuhkan asumsi-asumsi tentang motif-motif berbagai pihak di posisi asali. Karena asumsi-asumsi ini tidak boleh membahayakan ruang konsep hak-hak sebelumnya, maka teori manfaat yang digunakan dalam mendukung prinsip keadilan terbatas pada hal-hal yang dangkal. Penilaian tentang manfaat ini saya sebut teori sederhana (thin theory). Tujuannya adalah menjamin premis-premis tentang nilai-nilai primer yang harus ada pada prinsip keadilan. Ketika teori ini berjalan dan nilai-nilai primer terpenuhi, kita bebas menggunakan prinsip-prinsip keadilan pada perkembangan selanjutnya yang akan saya sebut sebagai teori yang lengkap tentang manfaat (full theory of the god). 46
Pendapat diatas memberikan kesempatan dan peluang dari sisi manfaatnya keberadaan hukum sebagai sebuah norma dalam upaya jaminan atas prinsip-prinsip hak dasar kehidupan manusia. Bahwa dengan meregulasinya sebuah norma hukum tersebut telah menyumbangkan arti bahwa penting dan berharganya kebijakan maupun regulasi yang dibentuk oleh negara (pemerintah) sebagai manfaat yang diperoleh untuk menjamin hak-hak konstitusional manusia.
Merealisasikan sejumlah instrument kebijakan hukum memiliki manfaat hukum yang secara langsung diperoleh masyarakat (pihak penerima hak) dengan penerapan Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang RANHAM. Dengan demikian, negara melalui unit-unit pelaksana RANHAM menjadikan HAM sebagai hak yang fundamental dan hakiki, serta dimiliki oleh setiap insan manusia.
3. Asas kepastian hukum (rechtmatigheid).
Ketentuan mengenai keadilan dan kemanfaatan hukum dipertegas dalam prinsip kepastian hukum. Ajaran kepastian hukum berasal dari ajaran Yuridis- Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivis di dunia hukum, yang
46Ibid., hlm 514.
cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom dan mandiri, karena bagi penganut pemikiran ini, hukum tak lain hanya kumpulan aturan yang tersusun dalam sub-sistem hukum itu sendiri.47
Korelasinya adalah, bahwa dengan hadirnya kebijakan-kebijakan hukum menjamin perlindungan dan pemenuhan HAM serta terlaksananya penerapan RANHAM dengan sempurna, maka secara langsung diperoleh kepastian hukum atas kerja keras yang telah dilakukan oleh Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). Terwujudnya kepastian hukum menjawab permasalahan HAM yang tengah terjadi akan diselesaikan secara transparan, sistematis, massif.
Betapa pun pentingnya masing-masing tujuan hukum tersebut, namun perlu melihat bagaimana seutuhnya keberadaan HAM yang dijamin dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang lain.
Berdasarkan ketentuan diatas, maka Roscoe Pound dalam pemikirannya terhadap ke tiga nilai tujuan hukum diatas mempertajam dan menyimpulkan pemahaman bahwa‘’law asa tool of social engineering’’ (hukum sebagai alat atau sarana perubahan masyarakat).48 Sehingga, apa yang menjadi tujuan hukum itu dalam esensinya sama-sama penting dan hanyalah sebagai alat yang digunakan dalam rangka menjamin terpenuhinya aspek-aspek hukum bidang HAM.
47Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2010), hlm 59.
48Roscoe Pound, Contemporary Juristic Theory, hlm.80, dalam Padjadjaran Jurnal Ilmu Hukum, Volume 1-No 2 - Tahun2014, sebagaimana dikutip dalam http://jurnal.unpad.ac.id/pjih/article/view/7083, diakses tanggal 03/05/2019.
26
c. Teori Kewenangan
Kewenangan atau wewenang dalam bahasa Belanda disebut bevoegdheid, istilah tersebut memiliki kedudukan penting dalam kajian hukum tata negara dan hukum administrasi. F.A.M. Stroink dan J.G Steenbeek menyatakan : “Het Begrip bevoegdheid is dan ook een kembegrip in he staats-en administratief recht’’ (bahwa wewenang merupakan konsep inti dari hukum tata negara dan hukum administrasi).49 Kamus Hukum Black’s Law Dictionary mendefenisikan kewenangan (authority) sebagai berikut:
Legal Power; a right to command or to act; the right and power of publik officers to require obedience to their orders lawfully issued in scope of their public duties (kewenangan atau wewenang adalah kekuasaan hukum, hak untuk memerintah atau bertindak, hak atau kekuasaan pejabat publik untuk mematuhi aturan hukum dalam lingkup melaksanakan kewajiban publik).50 Membicarakan wewenang juga membicarakan distribusi kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah berdasarkan asas desentralisasi.51 Wewenang sebagai konsep hukum publik sekurang-kurangnya terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1. Komponen pengaruh adalah bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku subjek hukum.
49Nur Basuki Winanrno, Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana Korupsi, (Yogyakarta:
Laksbang Mediatama, 2008), hlm 65.
50Ibid.
51 M. Solly Lubis, Asas-Asas Hukum Tata Negara, (Bandung: Penerbit Alumni, 1978), hlm 157. Lebih lanjut ihat dalam Pasal 1 ayat 8 UU No. 9 Tahun 2015 Tentang Pemerintahan Daerah.
2. Komponen dasar hukum bahwa wewenang itu selalu dapat ditunjukkan dasar hukumnya.
3. Komponen konformitas mengandung makna adanya standar wewenang yaitu standar umum (semua jenis wewenang) dan standar khusus (untuk jenis wewenang tertentu).
Demikian juga pada setiap perbuatan pemerintah diisyaratkan harus bertumpu pada kewenangan yang sah. Tanpa adanya kewenangan yang sah, seorang pejabat atau badan tata usaha negara tidak dapat melaksanakan suatu perbuatan pemerintah.
Kewenangan yang sah merupakan atribut bagi setiap pejabat atau bagi setiap badan.
Kewenangan yang sah bila ditinjau dari sumber dimana kewenangan itu lahir atau diperoleh, maka terdapat tiga kategori kewenangan, yaitu Atribusi, Delegasi dan Mandat, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:52
1. Kewenangan Atribusi
Kewenangan atribut biasanya digariskan atau berasal dari adanya pembagian kekuasaan oleh peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan kewenangan atributif ini dilakukan sendiri oleh pejabat atau badan yang tertera dalam peraturan dasarnya. Terhadap kewenangan atributif mengenai tanggung jawab dan tanggung gugat berada pada pejabat atau badan sebagaimana tertera dalam peraturan dasarnya.
52 Kasman Siburian dan Victor R. Puang, Hukum Administrasi Negara, (Medan: UHN Press, 2011), hlm 38-40.
28
2. Kewenangan Delegasi
Kewenangan Delegasi bersumber dari pelimpahan suatu organ pemerintahan kepada organ lain dengan dasar peraturan perundang-undangan. Kemudian tanggung jawab dan tanggung gugat atas wewenang tersebut beralih kepada yang diberi wewenang dan beralih pada delegataris.
3. Kewenangan Mandat
Kewenangan Mandat merupakan kewenangan yang bersumber dari proses atau prosedur pelimpahan dari pejabat atau badan yang lebih tinggi kepada pejabat atau badan yang lebih rendah. Kewenangan mandat terdapat dalam hubungan rutin atasan dan bawahan, kecuali bila dilarang secara tegas.
Sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) UUD NRI Tahun 1945 susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam Undang-Undang.53 Bahwa penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
53 Lihat lebih lanjut Pasal 18 Ayat (7) Undang-Undang Dasar 1945 Pasca Amandemen.