BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
3. Sejarah HAM di Indonesia
Penting pula dicermati bahwa dengan menyadari sejarah kemanusiaan sejagat dengan segala dinamikanya memberikan pengaruh bagi perkembangan pemikiran, khususnya dalam wilayah ketatanegaraan Indonesia. Bahwa ide-ide tentang hak-hak asasi bukanlah hal yang muncul begitu saja tanpa perjuangan dan pengorbanan yang mudah. Selain itu, komitmen yang tulus pada pengukuhan, pelaksanaan, dan pembelaan hak-hak asasi tanpa dikaitkan dengan dasar dan bukti keinsafan akan makna dan tujuan hidup pribadi manusia itu sendiri.120
Perkembangan HAM di Indonesia selanjutnya tumbuh seiring dengan kemunculan berbagai organisasi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh pejuang Indonesia masa itu. Tak sedikit dari mereka mengalami intimidasi dan sikap yang tak wajar untuk memperjuangankan HAM tersebut. Adapun tokoh-tokoh nasional yang mampu pemperkenalkan dan memperjuangkan HAM di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia adalah sebagai berikut:121
118 Perbandingan Ketatanegaraan bidang HAM di beberapa negara, lihat lebih lanjut dalam Arif Wahyudi, Analisis Hukum Atas Dimensi Hak Asasi Manusia Dalam Konsep Corporate Social Responsibility Pada Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia, (Tesis:Universitas Sumatera Utara, 2016), hlm 42.
119 Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia..., Op.,Cit, hlm 128-131.
120Ibid, hlm 55.
121 Hardjo Wirogo Marbagun, Hak Asasi Manusia dalam Mekanime-Mekanisme Perintis Nasional Regional, (Bandung: Padma, 1977), hlm 96, lihat juga dalam Perkembagan HAM di
Indonesia sebagaimana dikutip dalam
https://www.academia.edu/8873859/Perkembangan_HAM_Indonesia, diakses tanggal 06/08/2019.
56
1. Masa Kartini
Jauh sebelum masa kemerdekaan, Kartini (puteri dari seorang Bupati Jepara di Jawa Tengah) menulis surat kepada Profesor di Belanda yang isinya meneriakkan beberapa hak, seperti hak untuk berpikir, hak kebebasan dan emansipasi wanita.
Kartini juga menekankan pentingnya pendidikan (hak atas pendidikan) bagi kaum muda Indonesia pada waktu itu, khususnya bagi kaum wanita. Salah satu surat Kartini ditulis pada tanggal 10 Juni 1901 dan menjadi tokoh penting bagi munculnya pembicaraan tentang HAM di Indonesia.
2. Masa Boedi Oetomo
Boedi Oetomo tidak mengangkat isu HAM secara luas, melainkan secara tidak langsung telah membangkitkan masyarakat untuk mengorganisasikan dirinya dan untuk menuntut kemerdekaan (setidaknya suatu otonomi terbatas dalam Kerajaan Belanda sebagaimana yang diminta oleh wakil-wakil Indonesia di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
3. Masa Soekarno
Pada mulanya istilah “hak” di Indonesia cenderung hanya dibatasi pada hak atas kemerdekaan. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno kemudian mencoba untuk mengelaborasi tentang apa yang dimaksud dengan kata “hak”
tersebut. Soekarno memperbesar makna kata “hak” dengan mencakupkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
4. Masa Soeharto
Rezim Soeharto dianggap cukup represif dalam mempertahankan kekuasaannya sehingga menimbulkan berbagai pelanggaran HAM seperti: kasus Tanjung Periok 1984, Daerah Operasi Militer (DOM) 1989, kasus Tri Sakti 1998, dan lain-lain.
Pemerintahan Soeharto karenanya mendapat tekanan dari masyarakat internasional sehingga prinsip-prinsip HAM mulai diakomodasi saat itu. Untuk itu dibentuklah Komisi Nasional (Komnas) HAM di Indonesia.
5. Masa Habibie
Masa Habibie, perjuangan atas perlindungan, penegakan, penghormatan, pemenuhan, dan pemajuan terhadap HAM merupakan dorongan dari dunia internasional kian menguat, sehingga lahirlah UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.
Selain itu, pemahaman HAM di Indonesia ditandai dengan adanya perdebatan pemikiran dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo disatu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Perdebatan tersebut berkaitan dengan masalah perlu atau tidaknya hak dan persamaan kedudukan di muka hukum, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak untuk memeluk agama dan kepercayaan,
58
hak berserikat, hak untuk berkumpul, hak untuk mengeluarkan pemikiran dangan tulisan dan lisan dimasukkan dalam konstitusi.122
Pandangan Soepomo, HAM sangat identik dengan ideologi liberal-individual sehingga tidak cocok dengan bangsa Indonesia. Sebaliknya menurut M. Yamin tidak ada alasan untuk menolak memasukkan HAM dalam UUD yang sedang dirancang saat itu. Sebagaimana kompromi, maka dimasukkanlah beberapa prinsip HAM ke dalam UUD 1945 yang sedang dirancang masa itu. Sidang BPUPKI yang dihadiri oleh Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin mengemukakan alasannya dengan tegas tentang HAM sebagai berikut:123
Seokarno mengatakan:
"...buanglah sama sekali paham individualisme itu, janganlah dimasukkan ke dalam Undang-Undang Dasar kita yang dinamakan ‘’rights of the citizen’’
sebagaimana yang dianjurkan oleh republik Perancis itu adanya, kita menghendaki keadilan sosial.’’
Hatta mengatakan:
"...ada baiknya dalam salah satu pasal yang mengenai warga negara disebutkan juga disebelah hak yang sudah diberikan kepadanya misalnya tiap-tiap warga negara jangan takut mengeluarkan suaranya."
122Bagir Manan, Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia, (Jakarta:
Yayasan Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Supremasi Hukum, 2001), hlm 67. Lihat juga dalam A.
Widiada Gunakaya, Op.,Cit, hlm 32.
123 Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945: Himpunan Risalah Sidang-Sidang Dari BPUPKI Dan PPKI, (Jakarta: Yayasan Penerbit Siguntang, 1959) hlm 287-306.
Lihat juga dalam Moh. Mahfud MD, PolitikHukum HakAsasi Manusia di Indonesia, , dalam JURNAL HUKUM. NO. 14 VOL 7. AGUSTUS 2000: 17.
Yamin memberi penegasan juga ketika mengemukakan bahwa:
"... supaya aturan kemerdekaan warga negara dimasukkan dalam Undang Undang Dasar seluas-luasnya. Saya menolak segala alasan-alasan yang dimajukan untuk tidak memasukkannya.’’124
Perbedaan pendapat diatas menunjukkan adanya perjuangan besar dalam upaya jaminan HAM dalam konstitusi pada sidang BPUPKI yang telah dipersiapkan sedemikian rupa pada masa detik-detik menuju kemerdekaan Indonesia. Pemikiran tentang HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena hak memperoleh pengaturan dalam konstitusi yaitu UUD 1945 sebagai pencapaian nilai-nilai kehidupan manusia yang universal.
Perlindungan HAM yang efektif merupakan salah satu indeks demokrasi yang sangat penting. Komitmen Indonesia terhadap HAM yang dibuktikan melalui keberadaan TAP MPR-RI No. XVII/MPR/1998, kemudian membentuk UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia125 dan UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM dan puncaknya adalah pemantapan pengaturan HAM dalam UUD 1945 melalui proses amandemen. Hal ini juga diikuti dengan langkah-langkah ratifikasi terhadap pelbagai instrument HAM internasional lainnya.
124Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945, (Jakarta: Yayasan Penerbit Siguntang, 1959) hlm 287-306. Lihat juga dalam Moh. Mahfud MD, PolitikHukum HakAsasi Manusia di Indonesia, , dalam JURNAL HUKUM. NO. 14 VOL 7. AGUSTUS 2000: 17.
125 Lahirnya UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM selain karena kebutuhan dasar bangsa Indonesia, juga di pelopori dengan diratifikasinya pernyataan umum tentang Universal Declaration of Human Rights (deklarasi universal hak asasi manusia) pada 10 Desember 1948 di Palais de Chaillot, Paris), sebagaimana dikutip dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Pernyataan_Umum_tentang_Hak-Hak_Asasi_Manusia, diakses tanggal 08/06/2019.
60
Selain itu, wujud konkrit daripada UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia adalah dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai lembaga mandiri dimana kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi HAM.126 Selain kewenangan tersebut, Komnas HAM juga berwenang melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran HAM berat dengan dikeluarkannya UU No. 26 Tahun 2000 Tantang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang terdiri dari tim ad hoc yaitu Komisi Hak Asasi Manusia dan unsur masyarakat.127
Selain itu, UU No. 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Komnas HAM mendapatkan tambahan kewenangan berupa pengawasan.
Pengawasan dilakukan dengan maksud untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang dilakukan secara berkala atau insidentil dengan cara memantau, mencari fakta, menilai guna mencari dan menemukan ada tidaknya diskriminasi ras dan etnis yang ditindaklanjuti dengan rekomendasi.128
Berbagai instrument hukum HAM ini menyatakan bahwa negara berkewajiban untuk menghormati, melindungi, memajukan dan memenuhi HAM.129
126 Lihat Pasal 76 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Landasan Hukum pada awalnya, bahwa Komnas HAM didirikan dengan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 tentang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Sejak 1999 keberadaan Komnas HAM didasarkan pada Undang-Undang, yakni Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 yang juga menetapkan keberadaan, tujuan, fungsi, keanggotaan, asas, kelengkapan serta tugas dan wewenang Komnas HAM.
127 Lihat lebih lanjut dalam Pasal 18 Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
128 Lihat lebih lanjut dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.
129 Lihat Paragraf keenam Mukadimah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB, paragraf kelima Mukadimah International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR
Kerangka hukum HAM ini memposisikan negara sebagai pemangku atau pemegang kewajiban dan tanggung jawab HAM (duty holder and bearer). Pemahaman terkait HAM ini memfokuskan pembahasannya kepada kehidupan dan martabat manusia.
Karena itu, pembicaraan tentang HAM adalah pembicaraan tentang eksistensi dan proteksi terhadap kehidupan manusia.130
Pemikiran demikian semakin teraktualisasi dengan pengakuan pada alinea kedua Mukadimah Kovenan Sosial dan Politik (Sipol) dan Kovenan Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob) yang mengakui bahwa hak-hak yang dinyatakan pada kedua konvenan tersebut adalah hak yang berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia.131 Sejarah pembentukan dan perubahan UUD merupakan sejarah masa lalu dan masa depan konstitusi Indonesia.132 Mengacu kepada kerangka normatif yang ada di Indonesia, maka ruang lingkup penghormatan, penegakan, perlindungan, pemenuhan dan pemajuan HAM diatur dan dipertegas dalam konstitusi Indonesia, meliputi:
1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945)
UUD ini sering disebut dengan ‘’UUD Proklamasi’’. Dikatakan demikian karena kemunculannya bersamaan dengan lahirnya negara Indonesia melalui proklamasi
(Kovenan Internasional tentang dan Hak Sipil dan Politik/Kovenan Sipol), paragraf kelima International Covenant on Economic, Social dan Culture Rights/ICESCR (Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya/Kovenan Ekosob), Bagian I angka 1 Deklarasi Wina dan Program Aksi Wina tahun 1993, Pasal 28I ayat (4) UUDRI, Pasal 2 dan Pasal 8 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.
130Lihat Majda El Muhtaj, Dimensi-Dimensi HAM..., Op.,Cit, hlm 8.
131Lebih lanjut dalam alinea kedua Mukadimah, kedua konvenan tersebut berbunyi
‘’Mengakui, bahwa hak-hak ini berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia’’.
132Ni’matul Huda, Politik Ketatanegaraan Indonesia; Kajian Terhadap Dinamika Perubahan UUD 1945, (Yogyakarta: FH UII Press, 2003), hlm 1.
62
kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pergulatan pemikiran, khusunya pengaturan HAM dalam Konstitusi begitu intens terjadi dalam persidangan-persidangan BPUPKI dan PPKI.133 Satu hal yang menarik bahwa meskipun UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis yang didalamnya memuat hak-hak dasar manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang bersifat dasar pula, namun istilah perkataan HAM itu sendiri sebenarnya tidak di jumpai dalam UUD 1945, baik dalam pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya. Perumusan UUD 1945 pada masa itu sangat tergesa-gesa.134 Waktu yang tersedia dirasakan sangat pendek apalagi dalam kenayataanya dihadapkan dengan momentum Proklamasi Kemerdekaan RI. Jelas kelihatan bahwa pengaturan HAM berhasil di rumuskan dalam UUD 1945, bahwa jauh sebelum lahirnya UDHR/DUHAM versi PBB, Indonesia ternyata lebih awal mengumandangkan isu tentang HAM yang dimuat dalam UUD 1945.
2. Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949 (RIS)
Pengaturan HAM dalam Konstitusi RIS terdapat dalam bagian V yang berjudul
‘’Hak-Hak dan Kebebasan-Kebebasan Dasar Manusia’’. Pada bagian tersebut terdapat 27 pasal dimulai dari Pasal 7 sampai dengan Pasal 33. Eksistensi
133Lihat lebih lanjut Muhammad Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945, Vol. I (Jakarta:
Yayasan Panca, 1959) dan Risalah Sidang BPUPKI-PPKI 29 Mei 1945 - 22 Agustus 1945 (Jakarta:
Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1955).
134Penyusunan Rancangan UUD 1945 yang berlaku saat ini resmi dirampungkan oleh BPUPKI selama 40 (empat puluh) hari, yaitu sejak 29 Mei 1945 sampai dengan 16 Juli 1945. Waktu yang relatif singkat ini, setidaknya memberikan pertimbangan bahwa UUD 1945 lahir dari proses pembahasan yang ‘’super kilat’’ atau cepat. Lihat dalam Majda El Muhtaj, Indonesia dan Konstitusi,
‘’Mencermati Hadirnya Komisi Konstitusi Versi MPR & Koalisi Untuk Konstitusi Baru’’, dalam Istilah, Jurnal Hukum, Ekonomi dan Kemasyarakatan, (Medan: Fakultas Syari’ah IAIN-SU, vol 1 No 4 Oktober-Desember, 2002), hlm 448.
manusia secara tegas dinyatakan pada Pasal 7 ayat (1) yang berbunyi, ‘’setiap orang diakui sebagai manusia’’. Selain itu, hak atas perlindungan hukum juga termuat dalam Pasal 13 ayat (1), ‘’setiap orang berhak, dalam persamaan yang sepenuhnya, mendapat perlakukan jujur dalam perkaranya oleh hakim yang tak memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya dan dalam hal menetapkan apakah suatu tuntutan hukuman yang dimaksudkan terhadapnya beralasan atau tidak.135
3. Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 (UUDS)
UUDS 1950 terdiri atas 6 bagian dan 43 pasal. Menurut Adnan Buyung Nasution, dari tiga UUD 1945 yang berlaku sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, negara ini pernah memiliki UUD yang memuat pasal-pasal tentang HAM yang lebih lengkap daripada UDHR/DUHAM, yaitu UUDS 1950.136 Ketentuan HAM diatur pada Bagian V dari Pasal 7 sampai Pasal 33. Menariknya, pemerintah juga memiliki kewajiban dasar konstitusional yang diatur sedemikian rupa. Kewajiban dasar tersebut sebagaimana disebutkan dalam Pasal 36 berbunyi, ‘’penguasa mewujudkan kepastian dan jaminan sosial, teristimewa pemastian dan penjaminan syarat-syarat perburuhan dan keadaan-keadaan perburuhan yang baik’’.137
135 Lihat lebih lanjut Konstitusi Republik Indonesia Serikat tahun 1949 yang didalamnya terdapat 27 Pasal pengaturan tentang HAM.
136Adnan Buyung Nasution, Hak Asasi Manusia dalam Masyarakat Islam dan Barat,dalam Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia….Op.,Cit, hlm 57.
137 Lihat lebih lanjut Undang-Undang Dasar Sementara tahun 1950 yang didalamnya terdapat 43 Pasal pengaturan tentang HAM.
64
4. Kembali Kepada Undang-Undang Dasar Tahun 1945
Pasca keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia kembali pada dasar ketatanegaraan yang pertama (setback).138 Dekrit tersebut menjadi dasar hukum kembali berlakunya muatan-muatan yang terkandung dalam UUD 1945. Oleh karena itu, pengaturan HAM adalah sama dengan apa yang tertuang dalam UUD 1945 dan telah terjadi amandemen terhadap konstitusi yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, dan amandemen keempat tahun 2002.
Berdasarkan ketentuan periodisasi konstitusi diatas, dapat dikatakan bahwa konseptualisasi HAM di Indonesia telah mengalami proses dialektika yang serius dan panjang. Pentingnya pengaturan HAM dalam konstitusi menggambarkan komitmen atas upaya penegakan hukum dan HAM. Selain itu, beragamnya muatan HAM dalam konstitusi secara maksimal telah diupayakan untuk mengakomodasi hajat dan kebutuhan perlindungan HAM, baik dalam konteks pribadi, keluarga, masyarakat, dan sebagai warga negara Indonesia.
Periodisasi konstitusi Indonesia dalam pengaturannya tentang HAM cenderung mengadopsi dan menerima universalitas HAM sebagai langkah maju dalam penegakan HAM di Indonesia.139 Meminjam istilah Bambang Sutiyoso tentang
138Dikatakan setback karena apa yang dirumuskan oleh badan atau Majelis Konstituante melalui persidangan ‘’Marathon’’ sejak 1956-1959, praktis dianggap deadlock. Dan melalui Dekrit Presiden ini, Presiden Soekarno menyatakan kembali pada UUD 1945. Lebih lanjut lihat Departemen Penerangan RI, Kembali Kepada UUD 1945, (Jakarta: Penerbit Khusus).
139 Kurniawan Kunto Yuliqrso dan Nunung Prajarto, Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia:
Menuju Democratic Goaernances,sebagaimana dikutip dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu politik ISSN 1410-4946 Volume B, Nomor 3, Maret 2005, hlm 291- 308.
‘’konstitusi kehidupan’’, maka Hak Asasi Manusia merupakan prasyarat yang harus ada dalam setiap kehidupan manusia untuk dapat hidup sesuai dengan fitrah kemanusiaannya.140 Kecuali itu, menurut catatan Mahfud MD bahwa muatan dokumen-dokumen tersebut ternyata lebih sarat dengan hak asasi bidang politik.141
B. Kebijakan Hukum Perlindungan HAM oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
Latar belakang pembentukan RANHAM Indonesia merujuk pada sejarah awal perumusan HAM dalam Konstitusi dan sejumlah instrument hukum internasional seperti Universal Declaration on Human Rigths/UDHR (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia/DUHAM) oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948 dan Vienna Declaration and Programme of Action (Deklarasi dan Program Aksi Wina) 1993.142 RANHAM tersebut sebagai salah satu kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka penghormatan, pemenuhan, pelindungan, penegakan, dan pemajuan HAM (P5 HAM).
Hadirnya Vienna Declaration and Programme of Action (Deklarasi dan Program Aksi Wina) sangat penting karena konfrehensivitasnya yang berisikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah dan aktor-aktor lainnya dalam masyarakat
140Ibid.
141Lihat Moh. Mahfud MD, Pemahaman Hak Asasi Manusia: Sebuah Refleksi, makalah diskusi Peringatan Hak Asasi Manusia SEMA-FE UII, Yogyakarta 11 Desember 1993.
142Lihat Pasal 28A-28J Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 Pasca Amandemen.
66
internasional mengenai aksi-aksi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemajuan dan perlindungan HAM. Rekomendasi ini tidak mengikat tetapi memiliki sifat persuasif yang sangat kuat karena pentingnya kesempatan dan kenyataan bahwa rekomendasi tersebut didukung dengan suara bulat.143 Selama ini, masalah HAM selalu dijadikan sebagai ujung tombak oleh pihak-pihak yang anti-Indonesia untuk mendiskreditkan negeri ini pada forum-forum internasional.
Posisi Indonesia sebagai salah satu keanggotaan PBB mempunyai tanggung jawab untuk menjangkau lebih luas permasalahan HAM dan mempertajam penjabaran operasional prinsip-prinsip HAM yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.144 Lahirnya ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM merupakan salah satu langkah awal yang strategis untuk memulai penegakan HAM secara konsisten dan berkelanjutan. Hadirnya Tap MPR tersebut dipengaruhi oleh dinamika interaksi bebagai faktor terutama sosial politik dan hukum, tanpa mengabaikan pengaruh faktor-faktor lain seperti ekonomi, kehidupan keagamaan, kultural dan sebagainya.145
Laporan-laporan mandatoris Indonesia untuk perjanjian-perjanjian internasional HAM yang telah diratifikasi seringkali mencantumkan RANHAM sebagai sebuah pencapaian Indonesia dalam rangka pemajuan HAM.146 Langkah
143Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam….Op.,Cit, hlm 118.
144Institut Ecata dan INPI-PACT, Hak Asasi dalam Tajum, (Jakarta: Penebar Swadaya Press, 1997), hlm 10.
145C.S.T Kansil dan Christine S.T Kansil, Sekitar Hak Asasi Manusia Dewasa Ini, (Jakarta:
Penerbit Djambatan, 2003), hlm 175.
146 Laporan Alternatif pelaksanaan ICERD di Indonesia, menguak tabir diskriminasi rasial dan impunitas di Indonesia, HRWG, 2008, sebagaimana dikutip dalam
yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi HAM di masa reformasi adalah dengan membentuk perencanaan secara periodik dan diharapkan berjalan secara simultan per lima tahun, yang dibungkus di dalam Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM), sebagai pedoman yang melandasi program perbaikan HAM.
Salah satu kebijakan Pemerintah Republik Indonesia selain meratifikasi kovensi internasional dalam undang-undang seperti UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia juga membentuk kebijakan hukum dalam bentuk Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia memuat bagian terpenting terhadap penerapannya, bahwa RANHAM adalah:147
a. dokumen yang memuat sasaran, strategi, dan fokus kegiatan prioritas Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2015-2019 dalam pelaksanaan penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakan, dan pemajuan HAM bagi masyarakat Indonesia.
b. panduan dan rencana umum serta arah bagi penyelenggara negara yang pelaksanaannya bersifat dinamis (living document), dapat disesuaikan dengan potensi, dan permasalahan di setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Kehadiran RANHAM sebagai kebijakan pemerintah pusat dalam mendorong perbaikan dan pemajuan HAM secara terencana yang patut diapresiasi secara positif terlepas berbagai kritik yang muncul terhadapnya. Hal ini penting mengingat rezim Orde Baru ketika runtuh mewariskan persoalan hak asasi dalam berbagai dimensi dan
https://www.academia.edu/6984442/LAPORAN_ALTERNATIF_PELAKSANAAN_KONVENSI_PE NGHAPUSAN_SEGALA_BENTUK_DISKRIMINASI_RASIAL_ICERD_DI_INDONESIA_Mengu ak_Tabir_Diskriminasi_Rasial_dan_Impunity_di_Indonesia_BAB_I_PENGANTAR_REALITAS_PO LITIK_DISKRIMINASI_RASIAL_Di_INDONESIA, diakses tanggal 29/05/2019.
147Lampiran Perpres No. 75 Tahun 2015 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Tahun 2015-2019, hlm 8.
68
itu menuntut dilakukannya perbaikan fundamental di masa reformasi. Kepentingan mendorong perbaikan ini kiranya juga terekam dalam regulasi bidang HAM.148
Berkaitan dengan ketentuan Deklarasi Wina, Bill Baker mengemukakan sejumlah kriteria umum dalam perlindungan dan penegakan HAM dari suatu rencana aksi HAM, bahwa keberhasilan suatu RANHAM sangat tergantung pada cara yang dikembangkan menurut kondisi masing-masing negara.149 Tujuan pembentukan RANHAM di instrumentkan untuk menjamin peningkatan, pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia.150
Sebagai upaya mewujudkan tujuan tersebut pemerintah kemudian menetapkan sejumlah agenda prioritas yang akan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan yang disebut dengan Aksi HAM.151 Adapun yang menjadi urgensi (poin penting) dilakukannya pembentukan dan pengadopsian terhadap RANHAM sebagai sebuah dokumen aksi HAM dan fungsi pentingnya RANHAM dalam rangka penghormatan, penegakan, perlindungan, pemenuhan dan pemajuan HAM (P5 HAM) didasarkan pada sejumlah pertimbangan yang penulis rangkum sebagaimana dibawah ini, yaitu:
148 Latar belakang lahirnya RANHAM dan Kepres No. 129 Tahun 1993 menjadi awal perkembangan RANHAM, sebagaimana dikutip dalam https://ranham.net/latar-belakang/, diakses tanggal 14/05/19. Lihat juga dalam Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), ‘’Rencana Aksi Nasional HAM: Meletakkan Kembali Fungsi Pentingnya dalam Penegakkan HAM dan Agenda Pembangunan’’.
149 Bill Baker, ‘’Tanggung Jawab Negara Peran Institusi Nasional dan Masyarakat’’, (Komnas HAM, 1999), hlm. 45-46.
150 Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut RANHAM adalah dokumen yang memuat sasaran, strategi, dan fokus kegiatan prioritas rencana aksi nasional hak asasi manusia Indonesia dan digunakan sebagai acuan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam melaksanakan penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakan, dan pemajuan HAM di Indonesia.
151Lihat Pasal 1 ayat (2) dan (3) Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 129/1998 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Periode 1998-2003.
1. Bahwa Indonesia telah meratifikasi Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) dan menambah ratifikasi standar internasional serta mentransformasi norma hukum internasional yang lebih efektif ke dalam hukum nasional dan praktik domestik sehingga dapat mengarah pada
1. Bahwa Indonesia telah meratifikasi Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) dan menambah ratifikasi standar internasional serta mentransformasi norma hukum internasional yang lebih efektif ke dalam hukum nasional dan praktik domestik sehingga dapat mengarah pada