• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN KEJAKSAAN

Dalam dokumen HUKUM ACARA PIDANA 002 (Halaman 119-133)

PENUNTUT UMUM DAN WEWENANGNYA

4. KEDUDUKAN KEJAKSAAN

Kedudukan kejaksaan atau penuntut umum sebagaimanan menurut Pasal 2 Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, sebagai berikut:

(1) Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya dalam Undang-Undang ini disebut kejaksaan adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang.

(2) Kekuasaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara merdeka.

(3) Kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah satu dan tidak terpisahkan.

Demikian pula dijelaskan lebih lanjut menurut Pasal 3 Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, yaitu “Pelaksanaan kekuasaan negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, diselenggarakan oleh Kejaksaan1 Agung, Kejaksaan tinggi, 1 Yang dimaksud dengan “Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan” adalah satu landasan dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya di bidang penuntutan yang bertujuan memelihara kesatuan kebijakan dibidang penuntutan sehingga dapat menampilkan ciri khas yang menyatu dalam tata pikir, tata laku, dan tata kerja Kejaksaan.

Oleh karena itu kegiatan penuntutan di pengadilan oleh Kejaksaan tidak akan berhenti hanya karena jaksa yang semula bertugas berhalangan. Dalam hal

dan Kejaksaan negeri”.

Kedudukan kejaksaan atau penuntut umum menurut Pasal 4 Undang-undang RI No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, yaitu: (1) Kejaksaan Agung berkedudukan di ibukota negara Republik

Indonesia dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara Republik Indonesia.

(2) Kejaksaan Tinggi berkedudukan di ibukota provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi.

(3) Kejaksaan negeri berkedudukan di ibukota kabupaten/ kota yang daerah hukumnya meliputi daerah kabupaten/kota. 5. WEWENANG

(1)

Tugas dan Wewenang Kejaksaaan

Di dalam Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang kejaksaan R.I. tidak terdapat suatu ketentuan yang mengatur tentang tugas dan kewenangan dari penuntut umum, hanya disebutkan dan diatur tentang tugas dan wewenang kejaksaan dalam Bab III Bagian Kesatu Pasal 30 sampai 34 Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang kejaksaan R.I.. Di dalam Pasal 30 Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan R.I., bahwa tugas dan wewenang kejaksaan adalah:

(1). Dibidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a. Melakukan penuntutan2;

b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap3;

demikian tugas penuntutan oleh Kejaksaan akan tetap berlangsung sekalipun untuk itu dilakukan oleh jaksa lainnya sebagai pengganti.

2 Penjelasan Ayat (1). Huruf a “Dalam melakukan penuntutan, jaksa dapat melakukan prapenuntutan. Prapenuntutan adalah tindakan jaksa untuk memantau perkembangan penyidikan setelah menerima pemberitahuan dimulainya penyidikan dari penyidik, petunjuk guna dilengkapi oleh penyidik untuk dapat menentukan apakah berkas tersebut dapat dilimpahkan atau tidak ke tahap penuntutan”.

3 Ayat (1) Huruf b “Dalam melaksanakan putusan pengadilan dan penetapan hakim, kejaksaan memperhatikan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dan perikemanusiaan berdasarkan Pancasila tanpa mengesampingkan ketegasan dalam bersikap dan bertindak.

c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat4;

d. Melakukan penyelidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang5;

e. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik6.

(2)

Di bidang perdata dan tata usaha negara, kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.

(3)

Dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum, kejaksaan turut meyeleng-garakan kegiatan7:

a. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat; b. Pengamanan kebijakan penegakan hukum;

wewenang mengendalikan pelaksanaan hukuman mati dan putusan pengadilan terhadap barang rampasan yang telah dan akan disita untuk selanjutnya dijual lelang.”

4 Ayat (1) Huruf c Yang dimaksud dengan “keputusan lepas bersyarat” adalah keputusan yang dikeluarkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang pemasyarakatan.

5 Ayat (1) Huruf d “Kewewenangan dalam ketentuan ini adalah kewewenangan sebagaimana diatur misalnya adalah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindakan Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”.

6 Ayat (1) Huruf e “Untuk melengkapi berkas perkara, pemeriksaan tambahan dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Tidak dilakukan terhadap tersangka,

1) Hanya terhadap perkara-perkara yang sulit pembuktiannya, dan/atau dapat meresahkan masyarakat, dan/atau yang dapat membahayakan keselamatan negara.

2) Harus dapat diselesaikan dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah diselesaikan ketentuan pasal 110 dan 138 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

3) Prinsip koordinasi dan kerjasama dengan penyidik.

7 Penjelasan Ayat (3). Tugas dan wewenang kejaksaan dalam ayat ini bersifat prevensif dan/atau edukatif sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Yang dimaksud dengan “turut menyelenggarakan” adalah mencangkup kegiatan-kegiatan bersifat membantu, turut serta, dan bekerja sama. Dalam turut menyelenggarakan tersebut, kejaksaan senantiasa memperhatikan koordinasi dengan instansi terkait.

c. Pengawasan peredaran barang cetakan;

d. Pengawasan kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara;

e. Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama; f. Penelitian dan pengembangan hukum serta statik kriminal. (1) Wewenang Jaksa sebagai Penuntut Umum

Adapun wewenang penuntut umum sebagaimana diatur menurut Pasal 14 KUHAP, adalah sebagai berikut:

a. menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu;

a. mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik;

b. memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahan-an lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpah-kan oleh penyidik;

c. membuat surat dakwaan;

d. melimpahkan perkara ke pengadilan;

e. menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan;

f. melakukan penuntutan;

g. menutup perkara demi kepentingan hukum;

h. mengadakan tindakan lain8 dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini;

i. melaksanakan penetapan hakim.

8 Yang dimaksud dengan “tindakan lain” ialah antara lain meneliti indentitas; tersangka, barang bukti dengan memperhatikan secara tegas batas wewenang dan fungsi antara penyidik, penuntut umum dan pengadilan.

(2) Wewenang Jaksa Agung

Untuk melengkapi pembahasan tentang wewenang kejaksaan atau penuntut umum di atas, maka perlu dikemukakan pula tentang wewenang Jaksa Agung berkaitan dengan penuntutan, sebagai berikut:

Adapun wewenang Jaksa Agung secara khusus terkait dengan penuntutan menurut ketentuan Pasal 35 Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksa-an, sebagai berikut:

a. Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegak hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan;

a. Mengefektifkan proses penegakan hukum yang diberikan oleh undang-undang;

b. Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum9;

c. Mengajukan kasasi dem kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana, perdata, dan tata usaha negara; d. Dapat mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada

Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana; e. Mencegah atau menangkal orang tertentu masuk atau

keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Lanjut wewenang Jaksa Agung menurut Pasal 36 Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, sebagai berikut: 1. Jaksa Agung memberikan izin kepada tersangka atau terdakwa

untuk berobat atau menjalani perawatan dirumah sakit dalam negeri, kecuali dalam keadaan tertentu dapat dilakukan perawatan di luar negeri10.

9 Penjelasan Huruf c “Yang dimaksud dengan “ kepentingan umum” adalah kepentingan bangsa dan negara dan/atau kepentingan masyarakat luas”.

“Mengesampingkan perkara sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini merupakan pelaksanaan asas oportunitas, yang hanya dapat dilakuka oleh Jaksa Agung setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang mempunyai hubungan dengan masalah tersebut”.

10 Penjelasan Pasal 36 Ayat (1), bahwa Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat ini, tersangka atau terdakwa atau keluarganya mengajukan

2. Izin secara tertulis untuk berobat atau menjalani perawatan di dalam negeri diberikan oleh kepala kejaksaan negeri setempat atas nama Jaksa Agung, sedangkan untuk berobat atau menjalani perawatan di rumah sakit di luar negeri hanya diberikan oleh Jaksa Agung.

3. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), hanya diberikan atas dasar rekomendasi dokter, dan dalam hal diperlukannya perawatan di luar negeri rekomendasi tersebut dengan jelas meyatakan kebutuhan untuk itu yang dikaitkan dengan belum mencukupi fasilitas perawatan tersebut di dalam negeri.

(3) Kejaksaan sebagai Penuntut Umum

Kejaksaan sebagai pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang sebagai penuntut umum, sebagaimana di dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, bahwa Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut untuk lebih berperan dalam menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum, penegakan hak asasi manusia, serta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh karena itu perlu dilakukan penataan kembali terhadap Kejaksaan untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan tersebut di atas.

Dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya, Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasa-an negara di bidang penuntutan harus mampu mewujudkan kepastian hukum, ketertiban hukum, keadilan dan kebenaran berdasarkan hukum dan mengindah-kan norma-norma keagamaan, kesopanan, dan kesusilaan, serta

permohonan secara tertulis kepada Jaksa Agung atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan Keputusan Jaksa Agung.

Diperlukannya izin dalam ketentuan ini oleh karena status tersangka atau terdakwa yang sedang dikenakan tindakan hukum, misalnya berupa penahanan, kewajiban lapor, dan/atau pencegahan dan penangkalan.

Yang dimaksud dengan “tersangka atau terdakwa” adalah tersangka atau terdakwa yang berada dalam tanggung jawab kejaksaan.

Yang dimaksud dengan “ dalam keadaan tetentu” adalah apabila fasilitas pengobatan atau menjalani perawatan di dalam negeri tidak ada.

wajib menggali nilai-nilai kemanusiaan, hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Kejaksaan juga harus mampu terlibat sepenuhnya dalam proses pembangunan antara lain turut menciptakan kondisi yang mendukung dan mengamankan pelaksanaan pembangunan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, serta berkewajiban untuk turut menjaga dan menegakkan kewibawaan pemerintah dan negara serta melindungi kepentingan masyarakat.

Dalam Undang-undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan diatur hal-hal yang disempurnakan, antara lain sebagai berikut:

1. Kejaksaan sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan Negara di bidang penuntutan ditegaskan kekuasaan negara tersebut dilaksana-kan secara merdeka. Oleh karena itu, Kejaksaan dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan kekuasaan lainnya. Selanjutnya ditentukan Jaksa Agung bertanggung jawab atas penuntutan yang dilaksanakan secara independen demi keadilan berdasarkan hukum dan hati nurani. Dengan demikian Jaksa Agung selaku pimpinan Kejaksaan dapat sepenuhnya merumuskan dan mengendalikan arah dan kebijakan penanganan perkara untuk keberhasilan penuntutan. 2. Untuk membentuk jaksa yang profesional harus ditempuh

berbagai jenjang pendidikan dan pengalaman dalam menjalankan fungsi, tugas, dan wewenang. Sesuai dengan profesionalisme dan fungsi Kejaksaan, ditentukan bahwa jaksa merupakan jabatan fungsional. Dengan demikian, usia pensiun jaksa yang semula 58 (lima puluh delapan) tahun ditetapkan menjadi 62 (enam puluh dua) tahun.

3. Kewenangan Kejaksaan untuk melakukan penyidikan tindak pidana tertentu dimaksudkan untuk menampung beberapa ketentuan undang-undang yang memberikan kewenangan kepada Kejaksaan untuk melakukan penyidikan, misalnya Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999

tentang Pemberan-tasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001, dan Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

4. Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penegakkan hukum dengan berpegang pada peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan demikian Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh Presiden serta bertang-gung jawab kepada Presiden.

5. Di bidang perdata dan tata usaha negara, Kejaksaan mempunyai kewenangan untuk dan atas nama negara atau pemerintah sebagai penggugat atau tergugat yang dalam pelaksanaannya tidak hanya memberikan pertimbangan atau membela kepentingan negara atau pemerintah, tetapi juga membela dan melindungi kepentingan rakyat.

(4)

Kejaksaan sebagai Penyidik

Kejaksaan Agung telah mengklaim berwenang menangani kasus korupsi, berlandaslan pasal (27) PP No, 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP Bab VII Penyidikan Terhadap Tindak Pidana Tertentu. Menurut ketentuan itu, khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada UU tertentu dimaksud dalam Pasal 284 KUHAP dilaksanakan oleh penyidik, jaksa, dan pejabat penyidik yang berwenang lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Kontroversi hukum muncul akibat Ketentuan Peralihan KUHAP Pasal 284 Ayat (2) menyebutkan “Dalam waktu dua tahun setelah undang-undang ini diundangkan, terhadap semua perkara diberlakukan ketentuan undang-undang ini, dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi”.

Ironisnya hingga kurang lebih ¼ (seperempat) abad, bahkan dengan munculnya undang-undang tindak pidana korupsi sekalipun, kejaksaan (tinggi) tetap menyidik kasus korupsi berlandaskan Undang-undang RI No 16 Tahun 2004

tentang Kejaksaan RI. Menurut KUHAP, ketentuan khusus acara pidana sebagai-mana tersebut pada undang-undang tertentu ialah ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada: undang-undang tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi (Undang-undang RI Nomor 7 Dit 1955), dan Undang-undang tentang Pemberantasan Tipikor (Undang-undang RI Nomor 3 Tahun 1971). Dengan catatan, semua ketentuan khusus acara pidana pada undang-undang tertentu akan ditinjau kembali, diubah atau dicabut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Namun kenyataannya, kewenangan penyidikan korupsi yang dasarnya adalah Pasal 17, PP No 27/ 1983 tentang pelaksanaan KUHAP terus berlangsung dan ini tak lepas dari ketiadaan kemauan politik legislatif maupun eksekutif untuk mengubah Pasal 284 KUHAP Ayat 2 selama kurun waktu 22 tahun.

Fungsi Yudisial yang dimiliki Polri adalah amanat dan wewenang dari Pasal 6 Ayat (1) UU RI No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana bahwa penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, dan Pejabat PNS tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Namun, Polri, yang waktu itu bagian dari ABRI, tak berdaya karena elite Kejaksaan Agung didominasi oleh TNI-AD.

Situasi ini harus berakhir. Solusinya: ”Fatwa” Mahkamah Konstitusi agar patuh pada Pasal 284 Ayat (2 ) KUHAP. Dengan demikian, KUHAP menetapkan akan menghilangkan ketentuan khusus acara Pidana dalam waktu sesingkat-singkatnya antara lain pada undang tindak pidana Korupsi dan undang-undang lainnya. Itu berarti tidak ada lagi undang-undang-undang-undang yang melahirkan adanya Acara Khusus. Ingat, Peraturan Pemerintah tidak boleh bertentangan dengan undang-undang. Apalagi, dalam Undang-undang RI No.3 Tahun 1971, Undang-undang RI No. 11 Tahun 1971 yang diperbaharui dengan UU RI No. 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi sama sekali tidak menyebutkan kewenangan jaksa sebagai penyidik.

Kalau jaksa tetap ingin tetap sebagai penyidik, sesuai KUHAP, mereka harus jadi PPNS. Jadi, kembalikan fungsi dan peranan masing-masing dalam tatanan Criminal Justice System (CJS): Polri

sebagai penyelidik—ketentuan umum KUHAP Pasal 1 (Ayat) (3) dan Ayat (4); Jaksa sebagai penuntut umum dan melaksanakan penetapan pengadilan—ketentuan umum KUHAP Pasal 1 Ayat ( 6 ) a dan b, serta pasal (7), sedangkan; Hakim adalah pejabat negara yang diberi wewenang untuk mengadili - KUHAP pasal 1 (ayat 8 hingga 11)

6. WAJAH KEJAKSAAN DI ERA REFORMASI

PADA tahun 1999 di Bangkok, Thailand, dalam The Asia Crime Prevention Foundation (ACPF) Working Group Meeting on The Role of The Prosecutor in The Changing Word, peran kejaksaan di berbagai negara dikelompokkan dalam dua sistem, pertama disebut mandatory prosecutorial system, dan kedua disebut discretionary prosecutorial system.

Kedua sistem ini menjadi model kejaksaan di belahan dunia terkait kewenangannya di bidang penuntutan dalam perspektif yurisdiksi: (1) kewenangan bidang penuntutan dibarengi kewenangan untuk melakukan penyidikan dan interogasi, (2) kewenangan di bidang penuntutan terbatas hanya untuk menuntut. Dalam konteks penyidikan, ada 3 (tiga) model yang dianut kejaksaan di berbagai negara yaitu:

1. Jaksa hanya bertindak selaku penuntut umum, tidak melakukan penyidikan, seperti Thailand, juga dianut kejaksaan di negara China, India, Singapura, Sri Lanka, Papua Nugini, Inggris, dan Filipina.

2. Jaksa sebagai penuntut umum, juga memiliki peran untuk berpartisipasi dalam penyidikan sebagaimana yang dianut kejaksaan di Amerika Serikat. Ketiga, jaksa tidak saja memiliki kewenangan melakukan penuntutan tetapi juga dapat langsung melakukan penyidikan sendiri seperti yang dianut kejaksaan di negara Korea, Jepang, Swedia, dan juga Belanda, seperti yang dianut kejaksaan RI pada masa HIR masih berlaku.

Kejaksaan RI atau lazim disebut Korps Adhyaksa masuk ke dalam kedua kelompok tersebut, baik mandatory prosecutorial system di dalam penanganan perkara tindak pidana umum, dan

tindak pidana korupsi, mengacu pada pasal 284 ayat 2 KUHAP jo Pasal 26 Undang-Undang RI No 31/1999 jo Undang-Undang No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 44 ayat 4 serta Pasal 50 ayat 1,2,3 dan 4 Undang-Undang RI No 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 30 huruf d Undang-Undang RI No 16/2004 tentang Kejaksaan RI, sedangkan berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia mengacu kepada Pasal 21 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang Peradilan Hak Asasi Manusia.

Beberapa dekade terakhir, ekspektasi masyarakat yang mencuat ke per-mukaan terkait dengan kinerja Korps Adhyaksa, hanya berkutat dengan pemberantasan korupsi.

Kriteria ini juga dijadikan acuan masyarakat untuk mengukur

keberhasilan igur seorang Jaksa Agung. Keberhasilan seorang Jaksa

Agung memimpin Korps Adhyaksa diukur dari sisi keberaniannya di dalam menindak koruptor, walaupun pemberantasan korupsi itu hanya bagian kecil dari upaya penegakan hukum dalam pengertian mikro dan selain itu sebenarnya keberhasilan pemberantasan korupsi tidak dapat dilepaskan dari penanggulangan faktor-faktor lain yang menstimulusnya.

Undang-undang RI Nomor 16/2004 tentang Kejaksaan RI tampaknya tidak berbeda jauh dengan UU sebelumnya. Kejaksaan RI masih ditetapkan sebagai lembaga pemerintahan (vide pasal 2 ayat 1), Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh presiden vide pasal 19 ayat 2) serta bertanggung jawab kepada presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (vide pasat 37 ayat 2), meskipun dalam melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang tersebut dilakukan secara merdeka terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya (vide pasal 2 ayat 1 dan 2 serta penjelasannya dan penegasan ini memang tidak dimuat di dalam undang-undang sebelumnya).

Karakteristik kewenangan ini sejalan dengan penggarisan PBB pada tahun 1990 yang menyetujui Guidelines on The Role of Prosecutor dan Ketetapan International Association of Prosecutors, bahwa menjamin profesi ini tidak boleh diintimidasi, diganggu, atau diintervensi di dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.

Pengaturan yang demikian, mengandung makna dari sudut kedudukan. Kejaksaan adalah bagian dari eksekutif, sedangkan dari sisi kewenangan dalam melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan menjalankan kekuasaan yudikatif yang bermuara ke Mahkamah Agung RI sebagai the last corner stone. Kondisi objektif ini tentu saja memunculkan dual obligation, di satu sisi harus berorientasi kepada hukum, di sisi lain sebagai bagian eksekutif harus berorientasi kepada pemerintah.

Tanpa mengabaikan kebijakan pemerintah yang lalu, di era Kabinet Indonesia Bersatu, komitmen pemerintah dalam penegakan hukum nuansanya tampak lebih kental. Kejaksaan bak mendapat durian runtuh, kekhawatiran adanya dual obligation

diharapkan pupus menjadi one way obligation, dengan keluar-nya berbagai produk-produk hukum pemerintah.

Diawali dengan Instruksi Presiden No 5/2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, yang menginstruksikan kepada jajaran kejaksaan agar mengoptimalkan upaya-upaya penyidikan/penuntutan terhadap tindak pidana korupsi untuk menghukum pelaku dan menyelamatkan uang negara, mencegah dan memberikan sanksi tegas terhadap penyalahgunaan wewenang yang dilakukan jaksa/penuntut umum dalam rangka penegakan hukum serta meningkatkan kerja sama dengan Kepolisian Negara RI, BPKP, PPATK, dan institusi negara yang terkait dengan upaya penegakan hukum dan pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi.

Menyusul kemudian Instruksi Presiden No 4/2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia. Dalam inpres tersebut Presiden meminta kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan serta 11 Menteri terkait, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, para gubernur dan para bupati/wali kota, sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk melakukan percepatan pemberantasan penebangan kayu secara ilegal di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh wilayah Republik Indonesia dan menindak tegas serta memberi sanksi terhadap oknum petugas yang terlibat dengan kegiatan penebangan kayu secara ilegal.

Khusus kepada Jaksa Agung diinstruksikan melakukan pencegahan dan penangkalan terhadap oknum yang diduga melakukan penebangan kayu secara ilegal di dalam kawasan hutan dan peredarannya, melakukan tuntutan yang tegas dan berat terhadap pelaku tindak pidana di bidang kehutanan berdasarkan semua peraturan perundangan yang berlaku dan terkait dengan tindak pidana di bidang kehutanan serta mempercepat proses penyelesaian perkara tindak pidana yang berhubungan dengan penebangan kayu secara ilegal dan peredarannya pada setiap tahap penanganan baik pada tahap penyidikan, penuntutan, maupun tahap eksekusi.

Terakhir Keputusan Presiden No 11/2005 tentang Tim Koordinasi Pem-berantasan Tindak Pidana Korupsi. Kebijakan ini

Dalam dokumen HUKUM ACARA PIDANA 002 (Halaman 119-133)