• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERKEMBANGAN PERGURUAN KRISTEN METHODIST

3.6. Kegiatan-Kegiatan

Pada table tersebut telah dijelaskannya pada tahan 1969 Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam jumlah siswa – siswi masih 56 orang dengan tingkatan Sekolah Dasar dan pada tahun 1975 Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam mulai membuka sekolah untuk tingkatan SMP dengan jumlah siswa – siswinya sebanyak 17 orang dan seiring berkembangnya sekolah – sekolah Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam didirikan lagi sekolah untuk tingkatan SMA dengan jumlah siswa – siswinya sebanyak 35 orang.

3.6. Kegiatan-kegiatan

Sekolah merupakan lembaga pendidikan kelompok pendidikan dasar dan menengah di jajaran kementrian pendidikan nasional. Kegiatan utama di lembaga ini adalah penyelenggaraan proses belajar dan mengajar, di ruang kelas maupun luar ruang kelas. Bentuk pelaksanaannya berupa kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan belajar tatap muka dalam alokasi waktu yang sudah diatur dalam struktur dan muatan kurikulum.

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan penunjang pembelajaran yang dilaksanakan di luar jam tatap muka. Meskipun demikian, kegiatan ini mendatangkan kesenangan dan keasyikan tersendiri bagi siswa. Boleh jadi sebagai ajang dan wahana menciptakan suasana dan nuansa baru bagi siswa – siswi untuk meningkatkan prestasi belajar. Pada hakikatnya kegiatan ini bertujuan untuk membantu perkembangan siswa - siswi sesuai kebutuhan, potensi, bakat dan minat siswa.

Diasumsikan bahka setiap siswa akan memiliki kebutuhan, potensi, bakat dan minat yang berbeda. Oleh sebab itu siswa boleh memilih kegiatan apa yang cocok dengan dirinya. Namun demikian, sekolah telah melakukan penelusuran dan penjaringan terhadap kebutuhan siswa tersebut sehingga sekolah bisa menentukan bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah. Bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di sekolah juga mempertimbangkan kondisi dan sarana prasarana yang ada. Misalnya

kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi dipilih yang memiliki sarana yang memadai. Vollyball, badminton, tenis meja, sepak takraw dan lain sebagainya merupakan beberapa contoh sederhana. Dapat pula kegiatan yang berkaitan dengan dunia tulis menulis, internet dan blogging. Atau, saat ini lagi populer olimpiade mata pelajaran seperti olimpiade matematika, fisika, biologi, ilmu pengetahuan sosial dan lain sebagainya. Semua ini bisa diterapkan dengan membentuk kelompok olimpiade mata pelajaran.

Kegiatan siswa – siswi di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam setiap tingkatannya memiliki beberapa kegiatan selain belajar yaitu :

1. Tingkatan Sekolah Dasar memiliki kegiatan mendasarkan perkembangan kerohanian peserta didiknya pada prinsip dan kualitas karakter Kristiani, seperti kasih, integritas, dan pengendalian diri. Kegiatan kerohanian seperti renungan pagi yang dilaksanakan sekali seminggu di gedung gereja namun Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tidak memaksa bagi yang beragama Budha, Hindu dan Islam untuk menikuti kegiatan acara renungan pagi, ibadah mingguan, retret, dan perayaan hari besar keagamaan, sehingga setiap anak dapat melengkapi dirinya untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Untuk meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran, tingkatan Sekolah Dasar didukung oleh guru-guru yang berdedikasi dalam mengajar dan membimbing siswa - siswi. Guru-guru secara rutin mengikuti pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pengajaran di kelas.

Sesuai dengan Misi Perguruan Kristen Methodist Indonesia yaitu mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal.

2. SMP di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam menyediakan wadah dalam meningkatkan kerohanian siswa seperti Kelompok Kecil, KKR, Character Building, Retreat siswa, kebaktian bersama setiap seminggu sekali namun tidak memaksa untuk yang beragama Budha , Hindu dan Islam untuk mengikuti acara kebaktian tersebut, serta renungan pagi yang dilaksanakan sebelum proses belajar mengajar.

3. SMA di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam juga terus meningkatkan sarana prasarana yang ada, sehingga proses belajar mengajar, guru dapat berkreasi dan membuat pelajaran lebih menarik, serta siswa dapat mengerti pelajaran yang diberikan. Selain itu, kegiatan penunjang seperti ekstrakurikuler juga terus diperbanyak, sehingga siswa mampu mengembangkan ketrampilan mereka, seperti Klub Matematika, bulu tangkis, futsal, basket, dan paduan suara. SMA di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam juga terus mengasah kemampuan siswa agar siswa - siswi mempunyai minat untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri ataupun dapat melanjutkan kuliah di universitas-universitas swasta yang baik. Saat yang bersamaan juga, SMA di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam sedang membangun jaringan dengan setiap alumni untuk dapat kembali menjadi bagian dari Sekolah Methodist, untuk menjadikan mereka sebagai guru, atau kakak senior yang membimbing adik-adik kelasnya melalui pembelajaran Character Building, maupun menjadi media untuk dunia karier bagi adik-adik kelasnya24

24Wawancara, Shen Wen Tu di Perguruan Kristen Methodist Lubuk Pakam tanggal 11 Agustus 2020

BAB IV

TANTANGAN YANG DIHADAPI PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM

4.1 Internal

Tantangan yang dihadapi Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ada beberapa yaitu :

a. Karakteristik Satuan Pendidikan

Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam adalah salah satu sekolah tertua dan terbesar di Lubuk Pakam mulai tahun berdirinya 1969, untuk itu Perguruan Methodist Lubuk Pakam perlu memiliki kurikulum yang memenuhi standar isi dari standar nasional pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Methodist Lubuk Pakam dikatakan berhasil jika kegiatan pembelajaran mampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui alat eveluasi yang sesuai dengan standar penilaian nasional.

Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik supaya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global, mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia global, dan sebagai proses untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Khas dari karakteristik satuan pendidik terletak pada simbol Methodist yaitu berakal budi, sehat jesmani dan rohani. Karakteristik merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah yang akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Hal tersebut diharapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi dan efektifitas kinerja sekolah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu perhatian sekolah

harus ditujukan pada asas pemerataan baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, maupun bidang sosial. Ini disebabkan karena peserta didik datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial. Di sisi lain, sekolah harus juga meningkatkan efisiensi, partisipasi dan mutu, serta bertanggungjawab kepada masyarakat dan pemerintah. Karakteristik bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa karakteristik satuan pendidikan sebagai pemberian otonomi luas Kepala Sekolah dan satuan pendidikan, partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi, kepemimpinan yang demokratis dan professional, tim kerja yang kompak dan transparan. Tujuan Karakteristik satuan pendidikan secara umum tujuan diterapkannya adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonom) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui keputusan bersama. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

b. Kondisi Kebutuhan Peserta Didik.

Pemenuhan delapan Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan.

* Peserta Didik.

Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dengan jumlah siswanya pada awalnya masih tergolong sedikit dan mulai berkembang seiring bergantinya tahun ajaran untuk dapat mengembangkan potensi peserta didik dengan optimal, maka Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam berusaha untuk membuat program-program intra dan ekstrakurikuler untuk menyalurkan minat dan bakat peserta didik.

* Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Dalam standar pendidik dan kependidikan Perguruan Methodist Lubuk Pakam memiliki tenaga Pendidik yang masih minim pada awalnya masih berjumlah 6 orang dan seiring bergantinya tahun ajaran mulai bertambahnya beberapa tenaga pengajar .

* Sarana dan Prasarana

Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam yang pada awalnya belum memiliki gedung permanen dan mulai membangun gedung permanen seiring meningkatnya jumlah siswa – siswi Methodist Lubuk Pakam dan harus membutuhkan biaya yang besar untuk membangun gedung permanen di Perguruan Methodist Lubuk Pakam ini.

* Pembiayaan

Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam memiliki beberapa sumber pendanaan untuk dapat berlangsungnya proses belajar mengajar dan kegiatan Ekstra Kurikuler. Diantaranya adalah sumbangan rutin Komite, Sumbangan dari gereja dan sedikitnya uang sekolah yang masih ditanggung oleh setiap siswa – siswi yaitu sebesar Rp. 3000 yang akan naik juga setiap tahunnya. Pembiayaan tersebut juga bertujuan untuk melunasi pembangunan gedung sekolah di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam, membayar gaji guru dan pegawai, menambah

dan memperbaiki sarana dan prasarana sekolah dan membeli hadiah untuk siswa – siswi yang berprestasi.25

4.1.1 Managemen

Untuk mengimplementasikan manajemen yang ada di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam secara efektif dan efisien, pimpinan sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. Wibawa pimpinan sekolah harus ditumbuh kembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Tantangan Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam yaitu mengejar ketinggalan artinya kompetisi dalam meraih prestasi terlebih dalam menghadapi persaingan global. Tantangan ini akan dapat teratasi bila pengaruh kepemimpinen sekolah terkonsentrasi pada pencapaian sasaran dimaksud. Pengaruh kepemimpinan pimpinan sekolah disamping mengejar ketinggalan untuk mengatasi tantangan tersebut perlu diperhatikan ciptakan keterbukaan dalam proses penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Ciptakan iklim kerja yang menyenangkan, berikan pengakuan dan penghargaan bagi personil yang berprestasi, tunjukan keteladanan, terapkan fungsi - fungsi manajemen dalam proses penyelenggaraan pendidikan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penentuan staff atas dasar kemampuan, kesanggupan dan kemauan, berikan bimbingan dan pembinaan kearah yang menuju kepada pencapaian tujuan.

Tantangan yang dihadapi oleh Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dalam manajemen pendidikannya yaitu :

25 Wawancara, Famina di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 10 Agustus 2010

1. Tantangan untuk meningkatkan nilai tambah dalam perkembangan Perguruan Methodist Lubuk Pakam, yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah dalam rangka meningkatkan produktivitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan sekolah.

2. Tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur organisasi sekolah.

3. Tantangan dalam persaingan antar sekolah yang semakin banyak, yaitu bagaimana meningkatkan daya saing sekolah dalam meningkatkan siswa - siswi yang bermutu dan mampu bersaing sebagai dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS).

4. Masalah managemen tenaga kependidikan sampai saat ini, perencanaan, rekrutmen, penempatan, pemanfaatan, pengembangan dan hal-hal lain yang terkait dengan manajemen tenaga kependidikan masih kurang jelas.

Akibatnya, sulit memperoleh tenaga kependidikan di sekolah.

5. Managemen sarana dan prasarana dari hasil penelitian yang penulis teliti, sebagian besar siswa – siswi Perguruan Methodist Lubuk Pakam justru berlajar dengan manajemen fasilitas yang masih seadanya. Itu dikarenakan banyak fasilitas tersebut rusak akibat anak-anak itu sendiri yang bermain dengan media media pembelajaran yang telah disediakan. Dalam mengelola dan memelihara sarana dan prasarana sekolah harus tetap prima. Oleh karena itu para petugas yang berhubungan dengan sarana dan prasarana bertanggung jawab langsung dengan kepada kepala sekolah.26

Dalam menghadapi tantangan tersebut sekolah harus menyediakan banyak tenaga pengajar yang profesional yang tidak hanya memiliki pengetahuan namun juga memiliki keterampilan agar mampu bersaing dalam era globalisasi saat ini. Kemudian

26 Wawancara, Sangap Ginting di Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 9 Oktober 2020

menyediakan banyak sarana belajar dan memberikan pemerataan pendidikan bagi seluruh masyarakat. Dengan adanya pendidikan, seluruh masyarakat di harapkan dapat mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat menghasilkan produk yang bermutu dan memiliki daya saing yang tinggi.

4.1.2 Konflik

Konflik memang suatu hal yang kerap kali terjadi dilingkungan sosial sehari-hari, tak terkecuali di lingkungan sekolah. Konflik di lingkungan pendidikan memang tak bisa dihidari, hal ini dikarenakan adanya perbedaan antar individu maupun kelompok sosial yang berada didalamnya. Konflik sendiri yang dapat diartikan sebagai suatu perselisihan atau pertentangan sebagai sproses disosiatif dalam hubungan interaksi sosial, dimana semua pihak yang berada didalamnya hendak mencapai tujuannya dalam waktu bersamaan. Di lingkungan sekolah, konflik dapat diartikan sebagai suatu pertikaian maupun pertentangan antara satu individu dengan individu lainnya atau kelompok satu dengan kelompok lainnya yang terjadi di lingkungan sekolah. Konflik di sekolah sendiri memiliki contoh, yang penyebabnya timbul karena berbagai persoalan.

Konflik akan berkembang di sekolah jika tidak cepat ditanggulangi, serta mendorong para tenaga kependidikan untuk menentukan sikap dan tindakan apabila konflik benar-benar muncul ke permukaan secara terbuka, dan jika tidak dapat ditanggulangi maka akan menjadi kenyataan, yang diwujudkan dalam pernyataan, tingkah laku, dan reaksi di antara pihak yang bertentangan. Mengetahui adanya konflik sedini mungkin dapat dilakukan dengan memperhatikan hubungan-hubungan yang ada, karena pada umumnya hubungan yang tidak normal merupakan gejala konflik, misalnya ketegangan, kekakuan, ketakutan, kekalutan, dan saling fitnah.

Meskipun demikian, tidak semua konflik dapat diketahui gejala-gejalanya, untuk mengetahuinya pimpinan harus aktif melakukan berbagai tindakan. Tindakan yang dapat dilakukan kepala sekolah untuk mengetahui adanya konflik dini adalah

menciptakan komunikasi timbal balik, menggunakan jasa ketiga, dan menggunakan jasa pengawas informal.

Seperti perihalnya konflik yang terjadi di Perguruan Kristen Methodist Indoneseia di Lubuk Pakam dari tahun 1969 – 1997 yaitu :

1. Konflik antar tugas sekolah yang terjadi didalam diri seseorang yang disebabkan oleh tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuan siswa –siswi.

2. Konflik antar tenaga pendidik yang dimana materi pengajarannya berbeda dengan jurusan yang disandang oleh tenaga pengajar tersebut.

3. Konflik antar sekolah dengan orang tua siswa – siswi dimana uang sekolah yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam konflik dapat berdampak positif dan negatif. Positifnya antara lain yaitu memungkinkan ketidakpuasan yang tersembunyi muncul ke permukaan, sehingga sekolah sebagai suatu organisasi dapat melakukan penyesuaian. Mendinamiskan suatu organisasi sekolah, sehingga tidak berjalan rutin dan statis. Sedangkan negatifnya antara lain.Menciptakan suasana ruangan kelas tidak nyaman dan tidak kondusif sehingga menghambat komunikasi dalam belajar mengajar dan menimbulkan perpecahan dalam sekolah yang dapat menganggu perhatian guru dan tenaga kependidikan terhadap program sekolah. Mengingat konflik tidak dapat dihindari, maka pendekatan yang baik untuk diterapkan kepala sekolah adalah mencoba memanfaatkan konflik sedemikian rupa, sehingga dapat dengan tepat dan efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di sekolah harus mampu mengelola konflik dengan baik sehingga memberikan manfaat positif dan terhindar dari akibat yang negatif. Kepala sekolah seharusnya tidak mengelak terhadap adanya

konflik, tetapi mengelolanya agar dapat mendorong sekolah menjadi dinamis dan konflik tidak menghambat program sekolah.27

4.2 Eksternal

Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. Tantangan masa depan antara lain globalisasi, kemajuan teknologi informasi. Kompetensi masa depan antara lain kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, dan memiliki kesiapan untuk bekerja. Persepsi masyarakat antara lain terlalu menitik beratkan pada aspek kognitif, beban siswa terlalu berat, kurang bermuatan karakter.

Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka. Tantangan masa depan antara lain globalisasi, kemajuan teknologi informasi. Kompetensi masa depan antara lain kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, dan memiliki kesiapan untuk bekerja. Persepsi masyarakat antara lain terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa terlalu berat, kurang bermuatan karakter. Perkembangan pengetahuan.Fenomena negatif antara lain perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, dan kecurangan dalam Ujian.

27 Wawancara, Famina di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 10 Agustus 2020

Tantangan dari luar yang dihadapi oleh Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam berupa tuntutan lingkungan. Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam , merupakan salah satu sekolah tertua di Lubuk Pakam. Dengan semakin besarnya tuntutan masyarakat dan lingkungan, maka Perguruan Methodist Lubuk Pakam harus dapat menata diri, meningkatkan kualitas pelayanan dan mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing dan berdaya guna. Dan juga diharapkan agar mampu bersaing dengan sekolah lain khususnya yang ada di sekitaran Lubuk Pakam. Kecenderungan umum masyarakat menunjukkan adanya perubahan cara berpikir yang memandang pendidikan sebagai langkah menyiapkan peserta didik secara utuh baik dari aspek pengetahuan, sikap, minat dan ketrampilan secara fungsional bagi kehidupan pribadi, warga Negara dan warga masyarakat.

Kecenderungan umum pemanfaatan media teknologi modern masih rendah, terbatas pada fungsi hiburan atau belum mengarah pada fungsi pendidikan. Sikap profesional kependidikan guru pada masa itu yang belum membudaya secara mapan dan merata, baik di kalangan guru maupun para tenaga kependidikan lainnya.28

4.2.1 Perkembangan Sekolah – Sekolah

Jumlah sekolah setiap tahunnya mengalami sebuah peningkatan dan perkembangan. Ini menjadi bagian prioritas pemerintah kota Lubuk Pakam dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya di bidang Pendidikan. Bertambahnya jumlah sekolah dengan menggunakan metode proyeksi bertujuan untuk meramalkan jumlah sekolah di masa sekarang dan mendatang. Dalam melihat perkembangan jumlah sekolah tentunya di perlukan data yang akurat serta dapat dipercaya untuk mengetahui keberadaan sekolah di kota Lubuk Pakam khususnya.

28 Wawancara, Sangap Ginting di Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 9 Agsutus 2020

Perkembangan sekolah – sekolah lain seiring berdirinya Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dapat dilihat dari perbedaannya yaitu :

1. Perbandingan uang SPP dimana di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam uang SPP meningkat setiap tahunnya sedangkan di sekolah – sekolah lain uang SPP tetap stabil namun disisi lain dengan meningkatnya uang SPP itu dikarenakan peningkatan atau perkembangan fasilitas sekolah setiap tahunnya.

2. Dalam bentuk fasilitas di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam setiap tahunnya mengalami perkembangan tetapi ada juga sekolah – sekolah yang berada di sekitaran Lubuk Pakam yang dimana fasilitasnya mengalami perkembangan yang lebih baik lagi namun tidak menutup kemungkinan untuk Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam mengalami perkembangan fasilitas yang lebih baiknya lagi.

3. Dalam jumlah siswa Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dimana jumlah siswanya tidak sebanding dengan sekolah negeri karena dimana sekolah negeri adalah sekolah yang banyak diminati oleh siswa – siswi yang mendaftar ke sekolah negeri.

Seiring waktu untuk peminat ke Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam cukup banyak tidak kalah bersaing dengan sekolah – sekolah lainnya baik sekolah swasta maupun sekolah negeri yang berada di Lubuk Pakam dan sekitarnya.

4.2.2. Pengaruh Terhadap Masyarakat

Masyarakat yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di Perguruan Methodist Lubuk Pakam dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sementara dukungan lain seperti pemikiran, moral, dan barang/jasa kurang diperhatikan oleh karena itu untuk memperbaikinya perlu dilakukan suatu upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan dengan melibatkan peran serta masyarakat melalui manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Masyarakat memegang peran penting dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan terutama dalam mendidik moralitas/agama, menyekolahkan anaknya, dan membiayai keperluan pendidikan anak-anaknya. Masyarakat juga dapat terlibat dalam memberikan bantuan dana, pembuatan gedung, area pendidikan, teknis edukatif seperti proses belajar mengajar, menyediakan diri menjadi tenaga pengajar, mendiskusikan pelaksanaan kurikulum, membicarakan kemajuan belajar dan lain-lain. Banyak hal yang bisa disumbangkan dan dilakukan oleh masyarakat untuk membantu terlaksananya pendidikan yang bermutu, mulai dari menggunakan jasa pelayanan yang tersedia sampai

Masyarakat yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di Perguruan Methodist Lubuk Pakam dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sementara dukungan lain seperti pemikiran, moral, dan barang/jasa kurang diperhatikan oleh karena itu untuk memperbaikinya perlu dilakukan suatu upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan dengan melibatkan peran serta masyarakat melalui manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Masyarakat memegang peran penting dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan terutama dalam mendidik moralitas/agama, menyekolahkan anaknya, dan membiayai keperluan pendidikan anak-anaknya. Masyarakat juga dapat terlibat dalam memberikan bantuan dana, pembuatan gedung, area pendidikan, teknis edukatif seperti proses belajar mengajar, menyediakan diri menjadi tenaga pengajar, mendiskusikan pelaksanaan kurikulum, membicarakan kemajuan belajar dan lain-lain. Banyak hal yang bisa disumbangkan dan dilakukan oleh masyarakat untuk membantu terlaksananya pendidikan yang bermutu, mulai dari menggunakan jasa pelayanan yang tersedia sampai

Dokumen terkait