BAB I PENDAHULUAN
1.5. Metode Penelitian
Dalam menuliskan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah harus didukung oleh metode untuk mendapatkan data yang akurat. Adanya metode penelitian yang dilakukan penulis dalam memperoleh data-data harus berdasarkan seleksi sehingga melahirkan suatu tulisan yang bersifat ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman peninggalan masa lampau. Tahap-tahap yang dilakukan data antara lain:
Heuristik, yaitu tahap untuk mencari sumber-sumber data yang relevan dengan topik penelitian guna untuk mengetahui segala bentuk peristiwa dan kejadian sejarah pada masa lampau. Untuk menemukan sumber tersebut peneliti mencari data tersebut dengan melakukan studi pustaka, wawancara dan studi lapangan. Studi Pustaka ini penulis mencari data - data tertulis ke Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Arsip Sekolah dan Arsip Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis melakukan wawancara kepada kepala sekolah, guru, alumni dan masyarakat sekitar untuk melengkapi sumber data sehingga diperoleh data yang baik dan lengkap dan dapat menunjang terwujudnya sejarah yang mendekati kebenaran.
Kritik Sumber, merupakan proses yang dilakukan penulis untuk mencari nilai kebenaran sumber sehingga dapat menjadi penelitian yang obyektif.
Dalam tahap ini sumber-sumber yang telah terkumpul dilakukan kritik internal maupun kritik eksternal. Kritik internal merupakan kritik yang dilakukan untuk mencari kesesuaian data dengan permasalahan yang diteliti, sedangkan kritik eksternal membuktikan kredibilitas dari sumber yang ditemukan, lalu kritik ini mencari keotentikan dari isi untuk mencari
kebenaran sumber pustaka yang diambil oleh peneliti maupun fakta yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan dengan informan.
Interpretasi, yaitu tahap penulis untuk mecari data-data yang diperoleh dan bagaimana mengolahnya berusaha untuk menuangkan berbagai ide pemikirinnya yang diperoleh melalui sumber primer ataupun sekunder, sehingga diharapkan sumber tersebut menjadi data yang obyektif.
Historiografi, yaitu tahap akhir dalam metode sejarah. Dalam tahap ini peneliti menuliskan hasil penelitian secara kronologis dan sistematis untuk memberi suatu kohesi untuk menjadi suatu pemikiran obyektif.
BAB II
SEJARAH PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM 1969
2.1 Letak Geografis Lubuk Pakam
Posisi geografis Lubuk Pakam dimana luas daerah 40, 33KM yang terdiri dari 16 Kelurahan dan Desa ( 7 Kelurahan dan 9 Desa ) dengan ibukota Kecamatan terletak di Jl. Tengku Raja Muda Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Lubuk Pakam dengan letak wilayahnya di 3⁰53’ - 3⁰86’ Lintang Utara dan 98⁰85’ - 98⁰89’ Bujur Timur. Dimana letak di atas permukaan laut 0 sampai dengan 8 meter dari permukaan laut. Adapun batasan wilayah :
a. Batas wilayah utara : Berbatasan dengan Kecamatan Beringin.
b. Batas wilayah selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Pagar Merbau.
c. Batas wilayah timur : Berbatasan dengan Kecamatan Pagar Merbau.
d. Batas wilayah barat : Berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Morawa.
Daerah Lubuk Pakam beriklim sedang dan terdiri dari musim hujan dan musim kemarau, kedua musim ini dipengaruhi oleh dua arah angin yang terdiri dari angin laut dan angin gunung. Angin laut yang membawa hujan sedangkan angin gunung membawa cuaca panas dan lembab. Curahan hujan yang menonjol pada daerah Lubuk Pakam ini adalah pada bulan Maret, April, Juni sampai dengan Desember.
Sedangkan musim kemarau hanya terjadi pada bulan Januari, Febuari dan Mei. Iklim di sekitaran Lubuk Pakam termasuk cukup panas dengan suhu maksimum mencapai
32º C dan minimum 21,6 º C. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu 71, 75 mm sedangkan hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember yaitu 10, 9 hari.5 2.2 Latar Belakang Berdirinya Perguruan Kristen Methodist Indonesia Di Lubuk Pakam (1969)
Pengertian sekolah secara umum adalah pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangunan manusia. Pendidikan merupakan sarana untuk membebaskan dirinya dari sebuah keterbelakangan, dan berbagai belenggu sosial yang menghambat tercapainya kesejahteraan bersama. Pendidikan adalah sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Oleh karena itu kemajuan suatu bangsa dapat diukur dan ditandai dari kemajuan pendidikannya. Pendidikan diberikan dalam bentuk yang bervariasi, baik formal maupun informal. Pendidikan secara formal adalah pendidikan yang dapat diperoleh dari sekolah - sekolah.
Sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh dari lingkungan, masyarakat ataupun keluarga secara mandiri dan bertanggung jawab. Pada umumnya sekolah - sekolah dibagi menjadi dua jenis yaitu, sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah dan sekolah swasta yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh non pemerintah. Penyelenggara sekolah swasta berupa yayasan yang badan hukumnya berupa rancangan peraturan pemerintah.
Berdasarkan Undang –Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat (3) juga menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sitem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdeskan kehidupan bangsa yang
5 Badan Pusat Statistik Lubuk Pakam, 1997
diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh kompenen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan Negara Indonesia. Secara etimologi, istilah sekolah dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa latin, yaitu schola yang secara harfiah bermakna “waktu lapang” atau “waktu senggang”. Bahasa Inggris mengadopsi school bernama sekolah.
Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam adalah lembaga pendidikan yang berdasarkan pada keyakinan agama Kristen didalam pembelajarannya. Perguruan Kristen Methodist ini dibawah naungan Gereja Methodist. Kemudian, Perguruan Kristen Methodist Indonesia yang terletak di Lubuk Pakam ini berdiri sejak tahun 1969 yang terletak di Jl. Tengku Cikditiro No.34 Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Sekolah memiliki kawasan yang letaknya persis di tengah kota Lubuk Pakam. Perguruan ini terdiri dari tingkat SD, SMP dan tingkat SMA yang dipimpin oleh GI Ong Lie Cu mulai tahun 1969 sampai 1991 dan 1992 sampai sekarang dipimpin oleh Drs. Sangap Ginting M.Pd.6
Dalam perkembangannya sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit disamping sekolah Darma Bakti Lubuk Pakam, PGRI Lubuk Pakam dan sekolah Nasional Lubuk Pakam. Banyak prestasi yang di peroleh dan di raih oleh sekolah ini dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Berbagai prestasi di bidang pendidikan telah di peroleh sekolah ini terkhusus tingkat SMA di antaranya juara olimpiade tingkat nasional hingga banyak alumni nya yang di terima oleh perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan maupun tertulis. Juga tidak kalah dengan pendidikan adalah
6 Penjelasan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam lembaran negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.
Jakarta.
prestasi di bidang seni, budaya dan olahraga. Hal ini, di karenakan adanya tingkat kedisplinan yang tertanam pada seluruh civitas akademika sekolah tersebut.7
Perguruan dalam KBBI yang berate Sekolah. Methodist berasal dari kata metodis yaitu metode - metode yang digunakan untuk mencari kebenaran dalam upayanya mengurangi kemungkinan penyimpangan, yang secara umum dikenal sebagai metode ilmiah. Berasal dari bahasa Yunani metodos dari kata hodos yang berarti: cara dan jalan.
2.3 Berdirinya Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam
Sekolah adalah lembaga untuk siswa - siswi di bawah pengawasan guru.
Pendidikan adalah salah satu komponen penting dalam menujang kemajuan suatu negara. Manusia yang ingin mencapai suatu tingkat kemajuan harus menempuh pendidikan. Pendidikan dapat membantu manusia untuk keluar dari belenggu sebuah kemiskinan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh pendidikan. Untuk memajukan pendidikan, seluruh komponen baik pemerintah maupun masyarakat wajib melaksanakan upaya untuk mencerdaskan bangsa karena hal itu merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. Sejak dikenal pendidikan modern, pengaruh keagamaan juga masuk ke bidang pendidikan. Pendidikan bercorak keagamaan biasanya diselenggarakan oleh misi keagamaan seperti yang diselenggarakan oleh missionaris agama Kristen dan para ulama. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa - siswi mengalami kemajuan melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada tanggal 29 Desember 1968 jemaat mengadakan rapat untuk menempatkan susunan majelis baru periode 1969, sekaligus merumuskan pendirian sekolah dasar. Dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh pemula diperolah keterangan tentang jumlah murid angkatan pertama sebanyak 56 orang.
7 Wawancara, Richard Gordon Tua di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam pada tanggal 10 Agustus 2020
Dengan tenaga pengajar sebanyak 6 orang, yakni : 1. GI. Ong Lie Cu (Ragel Anggelis) sebagai kepala sekolah.
2. Huang Chui Ik 3. Huang Ju Cu 4. Chai Pik Yek 5. Lie Ik Tuan
6. Pdt. R. Sihombing (alm)8
Tempat pelaksanaan proses belajar mengajar pada awalnya berlangsung di ruang tamu pastori Gereja Methodist Indonesia Lubuk Pakam untuk kelas I. Kemudian selang beberapa bulan pihak sekolah menerima murid - murid pindahan dari sekolah lain. Untuk itu diruang belajar dipindahkan ke gedung gereja. Ruang gereja dipakai untuk aktivitas kelas I dan kelas II. Pada bulan September 1969 jabatan kepala sekolah dan gembala sidang GMI diserah terimakan kepada Pdt. Jakub Beriman. Pada tahun 1970, di belakang gedung GMI dibangun dua buah lokal, berdinding tepas dan beratap nipah. Kedua lokal tersebut diperuntukkan kegiatan belajar siswa kelas I dan kelas II. Pada tahun 1971 dibangun lagi 2 lokal dibelakang pastori untuk menampung para siswa kelas III dan kelas IV. Pada pertengahan tahun 1971 dibangun lagi 2 lokal tepat dibelakang gereja. Dengan demikian lokal yang ada dapat menampung untuk sementara seluruh siswa – siswi pada waktu itu. Semua bangunan yang dibangun dalam 3 periode ini semua terbuat berdinding tepas dan beratap nipah. Kemudian pada tahun 1974 bangunan tersebut diganti atapnya dengan seng pada tahun 1975 mengingat semakin bertambah jumlah murid maka dibangun lagi sebuah gedung permanen beratap seng, berdinding beton. Pada awalnya bangunan sekolah hanya berukuran 3 x 5 meter dengan seiring berkembangnya Perguruan Kristen Methodist
8 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 14
Indonesia di Lubuk Pakam jarak total bangunan 193,25m (634,01 kaki). Visi sekolah berdisiplin, berprestasi, berwawasan IPTEK, Unggul dalam olahraga dan seni serta siap berkompetitif dalam globalisasi berdasarkan iman kristiani. 9
2.3.1. Pihak yang terlibat dalam pembangunan
Pihak yang terlibat dalam pembangunan Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam ini berawal dari usul seorang pendeta yang bernama pendeta Jakub Bariman.
Beliau berinisiatif setelah selesainya pembangunan gereja Methodist beliau mengajak para majelis - majelis gereja untuk membangun sekolah disekitaran gereja Methodist yang terletak di Lubuk Pakam dan membicarakan tentang bagaimana proses pencarian dana. Majelis bergerak dengan mengadakan rapat mengenai kelanjutan pembangunan sekolah. Hasil rapat majelis tersebut memutuskan untuk mengumpulkan dana pembangunan gedung sekolah tersebut dengan mengadakan kunjungan ke gereja – gereja di sekitaran gereja Methodist Lubuk Pakam dengan arahan dari Guru Injil Ong Lie Cu. Ada juga dari beberapa majelis gereja yang menyumbangkan sebagian dari gajinya untuk pembangunan sekolah tersebut. Kantor Pusat Gereja Methodist Indonesia juga ikut terlibat dalan pembangunan Perguruan Methodist Lubuk Pakam. Guru Injil Ong Lie Cu dan Pendeta Jakub Bariman Para jemaat gereja juga ikut membantu dengan memberi sumbangan untuk proses berdirinya sekolah tersebut.
9 Wawancara, Famina di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam pada tanggal 10 Agustus 2020
Majelis gereja yang terlibat dalam pembangunan Perguruan Methodist Lubuk Pakam yaitu :
1. Ketua : Guru Injil Ong Lie Cu 2. Pembantu Umum : Huang Phing Cin 3. Sekretaris : Liu Chi Fang 4. Seksi Hubungan Masyarakat : Chen Cai Hong 5. Seksi Acara : Chai Chung Uh 6. Seksi Dokumentasi : Liu Ming Sie10 2.3.2. Pemilihan Lokasi
Pendirian suatu sekolah baru akan bermanfaat maksimal bila dibangun pada lokasi yang tepat. Untuk menentukan lokasi yang tepat, berbagai faktor perlu diperhatikan.
Dari faktor-faktor tadi dirancang sebuah sistem yang merupakan model hubungan keterkaitan diantara faktor dalam menentukan lokasi (area) yang tepat untuk dibangun sekolah. Rancangan sistem tersebut diimplementasikan dalam bentuk program aplikasi yang berbasis sistem informasi geografis (SIG). Program aplikasi akan menghasilkan suatu lokasi pilihan untuk dibangun sekolah berdasarkan kriteria yang ditetapkan pada setiap faktor.
10 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 15
Dalam menentukan sebuah lokasi sekolah diutamakan untuk memperhatikan faktor – faktor sebagai berikut: faktor aksesibilitas dan faktor pola distribusi.
a. Faktor Aksesibilitas
Faktor aksesibilitas ini dianalisis berdasarkan wilayah terdekat yang mampu diakses sesuai peta jaringan jalan berdasarkan batasan jarak atau waktu minimum yang diberikan antara tempat tinggal sekolah. Jarak tempuh maksimal tempat tinggal sekolah berdasarkan standar yang berlaku di Indonesia dengan tidak membedakan transportasi yang dipilih dan kondisi jalan yang ditempuh. Indikator yang menentukan aksesibilitas ini, yaitu: kedekatan lokasi dengan jaringan transportasi dan kedekatan lokasi dengan pusat kota.
Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini berlokasi di tengah kota Lubuk Pakam. Pemilihan lokasi sekolah sangat strategis dikarenakan jarak tempuh untuk dicapai siswa – siswi sangatlah mudah. Bagi siswa – siswi yang berjalan kaki dapat menempuh perjalanan kesekolah melalui empat arah yang berbeda setiap jalannya dilengkapi kelandaian disetiap ujung jalan dan pemandu jalur taktil. Kendaraan umum juga dapat dijangkau disekitaran Methodist Lubuk Pakam sehingga siswa – siswi bagi yang tempat tinggalnya lumayan jauh dapat dijangkau dengan baik sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar.
b. Faktor Pola Distribusi
Faktor pola distribusi dimaksudkan untuk menganalisis penyebaran sekolah dengan melihat kesesuaian terhadap persediaan permintaan sekolah (supply-demand).
Proyeksi penduduk di masa yang akan datang dalam rangka mengetahui jumlah kebutuhan fasilitas sekolah juga akan dilakukan. Supply (jumlah daya tampung sekolah) dianalisis berdasarkan standar luas minimum sekolah, luas sekolah per siswa, jumlah siswa per kelas, serta jumlah siswa per guru sedangkan demand (kebutuhan) dianalisis berdasarkan jumlah penduduk usia sekolah dari tingkat SD sampai tingkat SMA yakni 7 - 18 tahun. Analisis terhadap pola distribusi ini
dilakukan untuk meminimalisir kesenjangan antar wilayah untuk rasio jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah sekolah, ketidak seimbangan antara kapasitas dan kebutuhan, serta keterbatasan lahan untuk pengembangan dan pembangunan sekolah. Payung hukum untuk pola distribusi ini juga diatur di dalam standar nasional sarana dan prasarana pendidikan yang dimuat dalam Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD, SMP, SMA atau sederajat.
Pada satu sisi, secara kuantitas Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam harus menjawab kebutuhan masyarakat yang senantiasa tumbuh dan secara kualitas sekolah dituntut mampu memfasilitasi kegiatan belajar dengan standar yang terus meningkat.
Pada sisi lain, Perguruan Methodist Lubuk Pakam harus bersaingî dengan berbagai kepentingan dalam penggunaan lahan sebagai konsekuensi pertumbuhan penduduk dan kota, demografi mengalami perubahan dan kebutuhan ruang terus meningkat. Hal ini memicu terjadinya pelanggaran master plan dan perubahan tata guna lahan sehingga sedikit banyak mempengaruhi lingkungan sekolah.11
2.3.3. Sumber Dana
Sumber dana untuk pembangunan gedung sekolah di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam berasal dari beberapa pihak yang terlibat untuk membantu dan mengembangkan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis dengan beberapa informan diketahui telah dilakukannya rapat Majelis tertanggal 27 September 1967, membicarakan tentang pencarian dana sebesar Rp. 170.000.000 untuk membeli tanah bagi pertapakkan gedung gereja yang terletak dijalan Cik Ditiro Lubuk Pakam. Tidak memakan waktu terlalu lama pembangunan gedung gereja sudah dapat dimulai, tetapi dana yang diperoleh tidak memadai dan boleh dikatakan
11 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 18
teramat jarang sehingga pelaksanaan pembangunan terbengkalai lebih kurang 6 bulan.12
Majelis kembali mengadakan rapat mengenai kelanjutan pembangunan. Sidang memutuskan untuk mengumpulkan dana pembangunan dengan mengadakan kunjungan ke gereja - gereja di lingkungan Methodist. Untuk mengatasi kendala tersebut diusahakan jalan keluar dengan memohon bantuan ke luar negeri melalui kantor pusat gereja Methodist di Korea. Permohonan tersebut ditanggapi dengan baik oleh pihak kantor pusat gereja Methodist tetapi realisasinya membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan pihak pembangunan tidak dapat membangun tanpa uang dana. Kebijaksanaan lain adalah dengan memohon pinjaman sukarela dan tanpa bunga dari anggota jemaat. Ada diantara jemaat gereja telah meminjamkan uangnya untuk proses pembangunan sekolah tersebut. Setelah itu Pendeta Jakub Bariman melakukan peminjaman dana dari bank Bali sebesar Rp.75.000.000 dengan jaminan rumah dan tanahnya dengan tempo pengembalian dana tersebut selama 6 tahun lamanya.13 Dana tersebut dikembalikan 30% hasil uang sekolah dan pembangunan sebagai sumbangan wajib dari orang tua. Uang sekolah tersebut dibayar tiap bulannya dan sedangkan uang pembangunan dibayar sekali selama masa pendidikan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. 30% untuk gaji guru dan pegawai sekolah, 30% untuk perawatan atau pengembangan sarana dan prasarana sekolah dan 10% untuk membeli hadiah bagi siswa – siswi yang berprestasi.
12 Wawancar, Yousdy Salim di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 9 Agustus 2020
13 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 17
BAB III
PERKEMBANGAN PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM (1969-1997)
3.1.Perkembangan Fisik
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini, penulis mendapatkan berbagai informasi yang berkaitan dengan perkembangan fisik Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Data – data tersebut penulis dapatkan langsung dari pihak sekolah, yang tentunya ke absahan dan validitas data tersebut bisa di dapatkan. Perkembangan fisik dalam sekolah ini, memberikan perkembangan yang positif terhadap prestasi dan kemajuan suatu sekolah. Seiring berkembangnya sekolah ini dari tahun ketahun dapat meningkatkan minat belajar siswa - siswi dengan baik dan tentunya nyaman diantaranya yaitu :
3.1.1 Bangunan
Bangunan gedung sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pengembangan dan pertumbuhan pendidikan suatu wilayah dan upaya mewujudkan pemerataan pembangunan pendidikan serta peningkatan kualitas dan pengembangan sumber daya manusia, dimana bangunan gedung sekolah digunakan sebagai prasarana pendidikan.
Pada tahun 1969 tempat pelaksanaan proses belajar mengajar pada awalnya berlangsung di ruang tamu pastori gereja Methodist Indonesia untuk kelas I Sekolah Dasar. Kemudian selang beberapa bulan kemudian pihak sekolah membuka penerimaan murid-murid pindahan dari sekolah lain. Untuk itu ruang belajar dipindahkan ke gedung gereja Methodist. Ruang gereja dipakai untuk belajar mengajar kelas I dan II sekolah dasar.
Pada tahun 1970 dibelakang gedung gereja Methodist dibangun dua buah lokal berdinding tepas dan beratap nipah. Kedua lokal tersebut diperuntukan kegiatan belajar siswa kelas I dan II sekolah dasar. Pada tahun 1971 dibangun lagi dua lokal dibelakang pastori untuk menampung para siswa kelas III dan kelas IV sekolah dasar.
Pada pertengahan tahun 1971 dibangun lagi dua lokal tepat dibelakang gereja Methodist. Dengan demikian lokal yang ada dapat menampung untuk sementara seluruh siswa pada waktu itu. Semua bangunan yang dibangun selama tiga periode ini semuanya terbuat berdinding tepas dan beratapkan nipah. Kemudian pada tahun 1974 bangunan tersebut diganti atapnya dengan seng.
Pada tahun 1975 mengingat semakin bertambah jumlah murid maka dibangun lagi sebuah gedung permanen beratap seng dan berdindingkan beton. Gedung ini memiliki empat lokal untuk ruangan teori. Dengan adanya gedung ini kelas SMP dapat belajar dengan tenang dan nyaman. Pada tahun 1978 perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini membangun gedung permanen berlantai dua dibagian selatan. Gedung ini memiliki tiga ruangan teori dan satu ruangan administrasi. Di gedung inilah dimulai proses belajar mengajar tingkat SMA tahun ajaran 1978/1979 dengan jumlah siswa 20 orang.
Pada tahun 1979 Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini mengadakan renovasi pada gedung permanen yang dibangun tahun 1975 dengan menambah satu tingkat sehingga gedung ini terdapat enam ruangan teori satu ruangan keterampilan, satu ruangan perpustakaan, satu ruang untuk kegiatan OSIS dan dilantai dasar terdapat enam ruangan teori, satu ruanga koperasi dan satu ruangan labolatorium. Pada tahun 1980 - 1982 pada tahun ajaran ini jumlah murid SMP 322 orang dan SMA 231 orang. Mengingat jumlah tersebut yang akan semakin bertambah pada tahun ajaran berikut, maka dibangun lagi sebuah gedung bertingkat tiga
dibagian utara. Masing-masing terdiri dari tiga ruang kelas. Gedung sekolah ini mulai dipergunakan pada tahun ajaran 1982/1983.14
Berikut ini adalah bangunan – bangunan sekolah di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam untuk proses belajar mengajar siswa - siswi berdasarkan kegunaannya:
1. Ruang Belajar
Ruang belajar adalah suatu ruangan tempat kegiatan belajar mengajar dilangsungkan. Ruang belajar terdiri dari beberapa jenis sesuai fungsinya yaitu : Ruang kelas atau ruang Tatap Muka, ruang ini berfungsi sebagai ruangan tempat siswa menerima pelajaran melalui proses interaktif antara peserta didik dengan pendidik, ruang belajar terdiri dari berbagai ukuran, dan fungsi.Sistem kelas terbagi 2 jenis yaitu kelas berpindah (moving class) dan kelas tetap. Ruang Praktik / Laboratorium ruang yang berfungsi sebagai ruang tempat peserta didik menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan keahlian melalui praktik, latihan, penelitian, percobaan. Ruang ini mempunyai kekhususan dan diberi nama sesuai kekhususannya
Ruang belajar adalah suatu ruangan tempat kegiatan belajar mengajar dilangsungkan. Ruang belajar terdiri dari beberapa jenis sesuai fungsinya yaitu : Ruang kelas atau ruang Tatap Muka, ruang ini berfungsi sebagai ruangan tempat siswa menerima pelajaran melalui proses interaktif antara peserta didik dengan pendidik, ruang belajar terdiri dari berbagai ukuran, dan fungsi.Sistem kelas terbagi 2 jenis yaitu kelas berpindah (moving class) dan kelas tetap. Ruang Praktik / Laboratorium ruang yang berfungsi sebagai ruang tempat peserta didik menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan keahlian melalui praktik, latihan, penelitian, percobaan. Ruang ini mempunyai kekhususan dan diberi nama sesuai kekhususannya