PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM (1969-1997)
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O
L E H
NAMA : ELISA TILANI BR. MANIHURUK NIM : 140706049
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk melengkapi dan memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Judul skripsi ini adalah “PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM (1969 - 1997)”. Pada proses penulisan skripsi ini penulis banyak menghadapi rintangan maupun hambatan, namun penulis banyak memperoleh bantuan serta bimbingan yang sangat bernilai dari berbagai pihak, terutama dari staf pengajar prodi Ilmu Sejarah.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini sangat penulis harapkan. Akhirnya dengan kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Medan, Januari 2021 Penulis
Elisa Tilani Br. Manihuruk NIM: 140706049
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, beserta Wakil Dekan I Prof. Drs. Mauly Purba, M.A.,Ph.d, Wakil Dekan II Dra. Heristina Dewi, M.pd, dan Wakil Dekan III Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si, berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, maka penulis dapat menyelesaikan studi.
2. Bapak Drs. Edi Sumarno M.Hum, selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan yang telah banyak memberikan dorongan, nasihat dan motivasi kepada penulis baik selama kuliah maupun pada saat mengerjakan penulisan skripsi ini. Juga kepada Ibu Dra. Nina Karina, M.SP. sebagai Sekretaris Program studi Ilmu Sejarah. Terima kasih banyak penulis hanturkan kepada seluruh Bapak/Ibu dosen khususnya di Departemen Ilmu Sejarah, semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat.
3. Ibu Dra. Junita Setiana Ginting, M,Si. sebagai dosen selaku pembimbing skripsi dan dosen PA saya, yang telah sabar dan tanpa henti - hentinya memberi nasihat kepada penulis. Terimakasih atas segala arahan dan bantuannya dalam penulisan skripsi ini masukan dan bimbingan Ibu sangat penting menuntun penulis dalam penulisan skripsi ini.
4. Untuk semua dosen – dosen dan bapak Ampera sebagai tenaga pendidik Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan yang telah banyak memberi ilmu pengetahuan, bimbingan, nasehat dan dorongan selama penulis menjadi Mahasiswa. Semoga ilmu yang telah penulis terima bisa diterapkan dalam kehidupan sehari - hari.
5. Kedua orang tua penulis Bapak N. Manihuruk dan Ibu R.Sipahutar yang telah merawat, membesarkan, mendidik, membiayai, memberi dorongan dan nasehat. Terima kasih atas segalanya, doa, didikan dan dukungannya yang menjadikan penulis bisa sampai seperti ini. Terima kasih kepada saudara penulis ( Kesya, Citra, Yopi dan Shesy) yang selalu mendoakan dan memotivasi penulis untuk tetap semangat dan selalu mengingatkan penulis untuk selalu berpengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terimakasih atas doa dan bantuannya baik materil maupun moril, tanpa kalian penulis tidak bisa menyelesaikan studi ini.
6. Terimakasih banyak saya ucapkan kepada Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam beserta Alumi telah bersedia memberikan waktu dan berbagi informasi, sehingga informasi tersebut sangat banyak membantu penulis.
7. Kepada Sahabat penulis Andy Handal Jeverson Silalahi dan juga teman- teman stambuk 2014 yang telah memberikan motivasi, doa serta dukungannya. Kalian adalah orang-orang terpilih yang Tuhan kirimkan dalam hidup penulis sebagai sahabat sampai saat ini. Kebaikan kalian yang tulus pada penulis layaknya seperti saudara kandung sendiri. Semua cerita kebersamaan yang sudah kita lewati, canda tawa, keluh kesah yang sudah kita lalui bersama tidak akan pernah penulis lupakan.
Akhir kata, kepada semua pihak dan para informan yang telah membantu penulis baik dari segi moril maupun materi untuk menyelesaikan skripsi ini, kiranya segala kebaikan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Medan, Januari 2021 Penulis
Elisa Tilani Br. Manihuruk NIM : 140706049
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
UCAPAN TERIMAKASIH... ii
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR LAMPIRAN... viii
ABSTRAK... ix
BAB I PENDAHULUAN……… 1.1. Latar Belakang………....………... 1
1.2. Rumusan Masalah... 4
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian………... 4
1.4. Tinjauan Pustaka... 5
1.5. Metode Penelitian... 6
BAB II SEJARAH PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM 1969... 2.1. Letak Geografis Lubuk Pakam... 8
2.2.Latar Belakang Berdirinya Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam……….…..…... 9
2.3. Berdirinya Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam…... 11
2.3.1. Pihak Yang Terlibat Dalam Pembangunan…...………... 13
2.3.2. Pemilihan Lokasi………...………...……... 14
2.3.3. Sumber Dana………..…... 16
BAB III PERKEMBANGAN PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM (1969-1997)……… 3.1. Perkembangan Fisik………...……... 18
3.1.1. Bangunan…... 18
3.1.2. Fasilitas………... 21
3.1.3. Peralatan………... 23
3.2. Perkembangan Managemen... 25
3.3. Kurikulum... 30
3.4. Tenaga Pengajar Dan Pegawai...32
3.5. Siswa – Siswi... 39
3.6. Kegiatan-Kegiatan... 43
BAB IV TANTANGAN YANG DIHADAPI PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM... 4.1. Internal... 49
4.1.1. Managemen... 51
4.1.2. Konflik... 53
4.2. Eksternal... 54
4.2.1. Perkembangan Sekolah – Sekolah... 51
4.2.1. Pengaruh Terhadap Masyarakat... 55
BAB V KESIMPULAN & SARAN……….. 5.1. Kesimpulan………... 58
5.2. Saran……….………... 59
DAFTAR PUSTAKA...61
DAFTAR INFORMAN...63
LAMPIRAN...65
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Jumlah Siswa – Siswi Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 : Lokasi Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam LAMPIRAN 2 : Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam 1969 LAMPIRAN 3 : Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam Setelah
Pembangunan
LAMPIRAN 4 : Fasilitas Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Perguruan Kristen Methodist Indonesia Di Lubuk Pakam ( 1969 – 1997 ). Sekolah ini dibangun pada tahun 1969 dan selesai pada tahun 1997.
Sekolah ini mulai beroperasi juga pada tahun 1969 dengan tingkat sokolah dasar dengan jumlah siswa 56 orang dan durasi belajar selama 6 tahun lamanya. Pada tahun ajaran 1975/1976 sekolah ini menamatkan siswa lulusan pertama kali dengan lulusan yang memuaskan.
Tulisan ini membahas tentang bagaimana sejarah berdirinya Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam, bagaimana perkembangan Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dari tahun 1969 sampai tahun 1997 dan tantangan apa yang dihadapi Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Tujuan dari penulisan ini juga untuk menjelaskan sejarah, perkembangan dan tantangan yang dihadapi Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam.
Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian sejarah ini adalah dengan menggunakan metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan data) dilakukan dengan wawancara terhadap informan di lapangan dan mencari sumber buku di perpustakaan.
Verifikasi (kritik sumber),Interpretasi (penafsiran terhadap sumber), dilakukan dengan memakai catatan dalam setiap hasil penelitian dilapangan, dan Historiografi (penulisan).
Kata Kunci : Perguruan Methodist Indonesia Lubuk Pakam, Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran bagi setiap individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek tertentu dan spesifik.
Pengetahuan yang diperoleh secara formal tersebut berakibat pada setiap individu yaitu memiliki pola pikir, perilaku dan akhlak yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya. Namun pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi dimasa yang mendatang.
Awal mula bersentuhan dengan dunia pendidikan modern di Nusantara di mulai datangnya Bangsa Portugis ke Nusantara. Pada awal tersebut pendidikan hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas karena biaya pendidikan yang tinggi. Pendidikan yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia sudah menjadi sebuah senjata bagi kita untuk melenyapkan Kolonialisme dari Indonesia. Maka dari sinilah kenapa pentingnya pendidikan,yaitu karena pendidikan ini dapat merubah kelangsungan hidup seseorang.1
Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam sistem among didasarkan pada dua azas yaitu : Pertama, kodrat alam yang menjadi syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat - cepatnya dan sebaik – baiknya ; Kedua, azas kemerdekaan yang menjadi syarat untuk menghidupkan, menggerakan dan mengembangkan kekuatan lahir dan batin anak sehingga menjadi pribadi yang kuat, berpikir dan bertindak merdeka. Dalam sistem among, ia mengedepankan azas
1 S.Nasution,Sejarah Pendidikan Indonesia,Jakarta: Bumi Aksara, 2001
kemanusiaan sehingga anak-anak harus diberikan kebebasan dan kemerdekaan yang terbatas oleh tuntutan kodrat alam dan kebudayaan.2
Pada masa kolonial, pendidikan hanya berlaku pada golongan tertentu saja karena selain sulitnya ekonomi untuk biaya sekolah bangsa kolonial juga takut jika banyak bangsa Indonesia yang pintar dan dapat melakukan sebuah perlawanan, akan tetapi pada jaman sekarang ini pendidikan sudahlah dapat dirasakan oleh kalangan masyarakat Indonesia. Bagi Bangsa Indonesia kebutuhan tenaga terdidik pada masa itu adalah untuk menjadi pimpinan dalam sebuah organisasi politik yang sudah pernah ada pada masa itu. Organisasi yang sudah ada di Sumatera Utara pada jaman itu yaitu Gerindo,Parindra dan juga PNI. Maka pada waktu itu tenaga terdidik diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan politik untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia. Adanya motivasi tersebut maka pada tahun 1930 beberapa sekolah berdiri yang berdasarkan kebangsaan banyak muncul di Sumatera Utara termasuk di Lubuk Pakam.
Banyaknya organisasi masyarakat maupun yayasan sosial yang ikut dalam membangun pendidikan di Indonesia dengan cara membangun sarana pendidikan seperti sekolah dari tingkat dasar hingga pada perguruan tinggi. Lembaga pendidikan swasta biasanya berbentuk yayasan dan dikelola oleh yayasan itu sendiri.3 Salah satu yayasan yang memperhatikan pendidikan yaitu Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Perguruan ini tidak terlepas dari sejarah berdirinya suatu gereja dimana gereja mendirikan sekolah alasannya gereja menyadari betapa pentingnya fungsi pendidikan dan peran pendidikan pertumbuhan rohani anak-anak untuk mencerdaskan anak bangsa dan untuk melengkapi infrastruktur pendidikan yang kurang memadai sehingga dengan alasan misi suci dirikanlah Perguruan Kristen
2 Putu Ayub Darmawan, Pandangan Dan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Salatiga Central Java, 2016, hlm. 127
3 Masjkuri Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Utara, Medan Depatermen Pendidikan dan Kebudayaan,1981, hlm.54
Methodist Indonesia yang berada di Lubuk Pakam walaupun awalnya tidak komersial karena tidak dapat subsidi dari pemerintah. Para jemaat luar daerah yang masih asing dengan situasi, kesulitan dalam mencari sekolah untuk pendidikan anaknya. Dari sinilah kemudian timbul suatu pemikiran dari majelis untuk membantu mengatasi masalah pendidikan anak-anak anggota jemaat dengan mendirikan sekolah.
John Wesley adalah seorang pendeta dari Inggris berpandangan bahwa sekolah adalah salah satu bentuk pelayanan sosial gereja terhadap bangsa. Melalui institusi sekolah, anak-anak tidak hanya dibentuk sebagai manusia berilmu, namun juga sebagai manusia beriman. 4
Perguruan Kristen Methodist Indonesia mendirikan sekolah untuk sarana pendidikan yang berada di Sumatera Utara, yaitu di Lubuk Pakam. Awalnya adalah Pendirian Sekolah Dasar pada tahun 1969, kemudian dilanjutkan dengan dibukanya sekolah tingkat SMP pada tahun 1975, seiring dengan tamatnya angkatan pertama SMP Methodist Lubuk Pakam lalu didirikan pendidikan jenjang SMA Methodist Lubuk Pakam pada tahun 1978. Jumlah siswanya 35 orang. Kepala sekolah yang bernama Pdt.Jakub Beriman.
Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini awalnya hanya memiliki bangunan berdinding berupa tepas dan beratapkan nipah. Lalu pada tahun 1979 Perguruan Kristen Methodist Indonesia yang berada di Lubuk Pakam ini membangun gedung permanen yang berlantai 2 berada di bagian Selatan. Gedung tersebut memiliki 3 ruang teori dan 1 ruang Administrasi. Gedung ini mulai dipergunakan pada tahun ajaran 1982/1983. Pada tahun pengajaran 1996/1997 dimulai lagi pembangunan gedung baru dengan berlantai 4 sebanyak 12 ruangan yang saat ini digunakan sebagai ruang pembelajaran, labolatorium dan juga perpustakaan.
4 Daulay Richard M, 2003, Mengenal Gereja Methodist Indonesia, Jakarta, BPK
Dari tahun 1969 sampai tahun 1997 banyak siswa - siswi bersekolah di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Perguruan ini juga memberikan bantuan kepada siswa - siswi yang kurang mampu agar bisa menuntut ilmu dengan baik dan juga perguruan ini memberikan apresiasi kepada siswa - siswi yang berprestasi baik akademis maupun dalam bidang organisasi. Yayasan Perguruan Kristen Methodist Indonesia ini tidak hanya berkembang dalam ilmu pengetahuan saja tetapi yayasan ini juga mengajarkan siswa-siswi tersebut untuk mendalami bidang kerohanian dengan melakukan ibadah setiap hari selasa dan juga hari jumat di Gereja Methodist Indonesia yang terletak disamping Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam.
Maka dari uraian di atas, penulis tertarik untuk menulis tentang “PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM (1969 - 1997)”. Penulis membatasi waktu antara tahun 1969 - 1997, karena pada tahun 1969 merupakan awal berdirinya perguruan tersebut di Lubuk Pakam. Penulis juga membatasi waktu sampai tahun 1997 karena sampai pada waktu tersebut dimulai pembangunan gedung baru dan perkembangan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mencoba untuk merumuskan beberapa permasalahan yaitu :
1. Bagaimana sejarah berdirinya Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam?
2. Bagaimana perkembangan Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dari tahun 1969 - 1997?
3. Tantangan apa yang dihadapi dari Perguruan Kristen Methodist Lubuk Pakam 1969 - 1997?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dimaksud untuk proses pembahasan mengenai Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah :
1. Menjelaskan sejarah berdirinya Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tahun 1969.
2. Menjelaskan perkembangan Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dari 1969-1997.
3. Menjelaskan tantangan yang dihadapi dari Perguruan Kristen Methodist Lubuk Pakam (1969-1997).
Selain tujuan penelitian, juga dapat diperoleh berbagai manfaat penelitian, diantaranya adalah:
1. Memberi informasi tentang sejarah pendidikan secara umum dan di daerah Lubuk Pakam pada khususnya.
2. Memberikan informasi tentang sejarah berdirinya Methodist di Lubuk Pakam.
3. Sebagai bahan referensi dan rujukan untuk penelitian yang berhubungan dengan pendidikan.
1.4. Tinjauan Pustaka
Untuk Mendukung penulis dalam melakukan penelitian ini, maka penulis menggunakan beberapa karya tulis buku yang menjadi acuan diantaranya S.Nasution dalam Sejarah Pendidikan Indonesia (1994) menjelaskan bagaimana sulitnya bangsa Indonesia pada masa lalu untuk mendapatkan pendidikan yang layak lagi. Penulis menggunakan buku ini untuk bandingkan perbedaan pendidikan pada jaman dulu dengan jaman sekarang yaitu dimana pada jaman dulu pendidikan hanya kalangan tertentu saja yang dapat memperoleh sebuah pendidikan sedangkan pada jaman sekarang semua kalangan dapat memperoleh pendidikannya tersebut.
Masjkuri Sutrisno dalam Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Utara (1980) menjelaskan tentang bagaimana latar belakang dan budaya masyarakat Sumatera Utara. Pendidikan yang tradisional didaerah Sumatera Utara pada masa Hindu Budha yang terletak di Tapanuli Selatan di daerah Gunung Tua dan datangnya Belanda menyebabkan adanya sistem pendidikan yang baru yaitu berdasarkan golongan penduduk. Penulis menggunakan buku ini sebagai acuan untuk memberikan informasi pendidikan di Sumatera Utara yang dimana perkembangan pendidikan juga dirasakan oleh masyarakat Lubuk Pakam yaitu dengan berdirinya Perguruan Kristen Methodist.
Wardiman Djojonegoro Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia (1996) yang dimana buku ini telah dijelaskan bagaimana perjelanan serta perkembangan pendidikan di Indonesia sebelum Kemerdekaan dapat dilihat dari zaman Hindu dan Budha pada abadnya yang ke-5 yaitu zaman penjajahan hingga Indonesia Merdeka. Penulis memperoleh gambaran dari buku ini bahwa pendidikan telah berjalan sesuai dengan adanya tuntutan zaman yang berbeda dengan penyesuaian sistem penyampaian dan tujuannya.
Nurani Suyomukti dalam Teori—Teori Pendidikan (2016) menjelaskan bahwa pendidikan berkaitan dengan bagaimana manusia dipandang. Pendidikan bermakna bahwa pendidikan adalah sebagian dari hidup yang mempengaruhi pembentukan cara berpikir dan bertindak individu yang merupakan proses tanpa akhir yang diupayakan oleh siapapun terutama Negara. Tujuan Penulis menggunakan buku ini untuk menjelaskan bagaimana proses perubahan sikap dan perilaku seseorang dalam usaha mendewasakan diri melalui pendidikan.
I.H. Enklaar dalam Pendidikan Agama Kristen (1984) menjelaskan sekolah adalah salah satu bentuk pendidikan agama. Di Indonesia pendidikan agama dilihat sebagai bagian integral yang hakiki bagi pembangunan bangsa dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Penulis menggunakan buku ini karena di dalam pendidikan
tidak cukup memiliki ilmu pengetahuan saja tetapi manusia juga harus memahami tentang konsep agama agar menjadi pribadi yang lebih baik.
1.5. Metode Penelitian
Dalam menuliskan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah harus didukung oleh metode untuk mendapatkan data yang akurat. Adanya metode penelitian yang dilakukan penulis dalam memperoleh data-data harus berdasarkan seleksi sehingga melahirkan suatu tulisan yang bersifat ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman peninggalan masa lampau. Tahap-tahap yang dilakukan data antara lain:
Heuristik, yaitu tahap untuk mencari sumber-sumber data yang relevan dengan topik penelitian guna untuk mengetahui segala bentuk peristiwa dan kejadian sejarah pada masa lampau. Untuk menemukan sumber tersebut peneliti mencari data tersebut dengan melakukan studi pustaka, wawancara dan studi lapangan. Studi Pustaka ini penulis mencari data - data tertulis ke Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Arsip Sekolah dan Arsip Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Penulis melakukan wawancara kepada kepala sekolah, guru, alumni dan masyarakat sekitar untuk melengkapi sumber data sehingga diperoleh data yang baik dan lengkap dan dapat menunjang terwujudnya sejarah yang mendekati kebenaran.
Kritik Sumber, merupakan proses yang dilakukan penulis untuk mencari nilai kebenaran sumber sehingga dapat menjadi penelitian yang obyektif.
Dalam tahap ini sumber-sumber yang telah terkumpul dilakukan kritik internal maupun kritik eksternal. Kritik internal merupakan kritik yang dilakukan untuk mencari kesesuaian data dengan permasalahan yang diteliti, sedangkan kritik eksternal membuktikan kredibilitas dari sumber yang ditemukan, lalu kritik ini mencari keotentikan dari isi untuk mencari
kebenaran sumber pustaka yang diambil oleh peneliti maupun fakta yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan dengan informan.
Interpretasi, yaitu tahap penulis untuk mecari data-data yang diperoleh dan bagaimana mengolahnya berusaha untuk menuangkan berbagai ide pemikirinnya yang diperoleh melalui sumber primer ataupun sekunder, sehingga diharapkan sumber tersebut menjadi data yang obyektif.
Historiografi, yaitu tahap akhir dalam metode sejarah. Dalam tahap ini peneliti menuliskan hasil penelitian secara kronologis dan sistematis untuk memberi suatu kohesi untuk menjadi suatu pemikiran obyektif.
BAB II
SEJARAH PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM 1969
2.1 Letak Geografis Lubuk Pakam
Posisi geografis Lubuk Pakam dimana luas daerah 40, 33KM yang terdiri dari 16 Kelurahan dan Desa ( 7 Kelurahan dan 9 Desa ) dengan ibukota Kecamatan terletak di Jl. Tengku Raja Muda Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Lubuk Pakam dengan letak wilayahnya di 3⁰53’ - 3⁰86’ Lintang Utara dan 98⁰85’ - 98⁰89’ Bujur Timur. Dimana letak di atas permukaan laut 0 sampai dengan 8 meter dari permukaan laut. Adapun batasan wilayah :
a. Batas wilayah utara : Berbatasan dengan Kecamatan Beringin.
b. Batas wilayah selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Pagar Merbau.
c. Batas wilayah timur : Berbatasan dengan Kecamatan Pagar Merbau.
d. Batas wilayah barat : Berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Morawa.
Daerah Lubuk Pakam beriklim sedang dan terdiri dari musim hujan dan musim kemarau, kedua musim ini dipengaruhi oleh dua arah angin yang terdiri dari angin laut dan angin gunung. Angin laut yang membawa hujan sedangkan angin gunung membawa cuaca panas dan lembab. Curahan hujan yang menonjol pada daerah Lubuk Pakam ini adalah pada bulan Maret, April, Juni sampai dengan Desember.
Sedangkan musim kemarau hanya terjadi pada bulan Januari, Febuari dan Mei. Iklim di sekitaran Lubuk Pakam termasuk cukup panas dengan suhu maksimum mencapai
32º C dan minimum 21,6 º C. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu 71, 75 mm sedangkan hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember yaitu 10, 9 hari.5 2.2 Latar Belakang Berdirinya Perguruan Kristen Methodist Indonesia Di Lubuk Pakam (1969)
Pengertian sekolah secara umum adalah pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangunan manusia. Pendidikan merupakan sarana untuk membebaskan dirinya dari sebuah keterbelakangan, dan berbagai belenggu sosial yang menghambat tercapainya kesejahteraan bersama. Pendidikan adalah sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Oleh karena itu kemajuan suatu bangsa dapat diukur dan ditandai dari kemajuan pendidikannya. Pendidikan diberikan dalam bentuk yang bervariasi, baik formal maupun informal. Pendidikan secara formal adalah pendidikan yang dapat diperoleh dari sekolah - sekolah.
Sedangkan pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh dari lingkungan, masyarakat ataupun keluarga secara mandiri dan bertanggung jawab. Pada umumnya sekolah - sekolah dibagi menjadi dua jenis yaitu, sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah dan sekolah swasta yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh non pemerintah. Penyelenggara sekolah swasta berupa yayasan yang badan hukumnya berupa rancangan peraturan pemerintah.
Berdasarkan Undang –Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat (3) juga menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sitem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdeskan kehidupan bangsa yang
5 Badan Pusat Statistik Lubuk Pakam, 1997
diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh kompenen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan Negara Indonesia. Secara etimologi, istilah sekolah dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa latin, yaitu schola yang secara harfiah bermakna “waktu lapang” atau “waktu senggang”. Bahasa Inggris mengadopsi school bernama sekolah.
Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam adalah lembaga pendidikan yang berdasarkan pada keyakinan agama Kristen didalam pembelajarannya. Perguruan Kristen Methodist ini dibawah naungan Gereja Methodist. Kemudian, Perguruan Kristen Methodist Indonesia yang terletak di Lubuk Pakam ini berdiri sejak tahun 1969 yang terletak di Jl. Tengku Cikditiro No.34 Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Sekolah memiliki kawasan yang letaknya persis di tengah kota Lubuk Pakam. Perguruan ini terdiri dari tingkat SD, SMP dan tingkat SMA yang dipimpin oleh GI Ong Lie Cu mulai tahun 1969 sampai 1991 dan 1992 sampai sekarang dipimpin oleh Drs. Sangap Ginting M.Pd.6
Dalam perkembangannya sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit disamping sekolah Darma Bakti Lubuk Pakam, PGRI Lubuk Pakam dan sekolah Nasional Lubuk Pakam. Banyak prestasi yang di peroleh dan di raih oleh sekolah ini dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Berbagai prestasi di bidang pendidikan telah di peroleh sekolah ini terkhusus tingkat SMA di antaranya juara olimpiade tingkat nasional hingga banyak alumni nya yang di terima oleh perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan maupun tertulis. Juga tidak kalah dengan pendidikan adalah
6 Penjelasan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam lembaran negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.
Jakarta.
prestasi di bidang seni, budaya dan olahraga. Hal ini, di karenakan adanya tingkat kedisplinan yang tertanam pada seluruh civitas akademika sekolah tersebut.7
Perguruan dalam KBBI yang berate Sekolah. Methodist berasal dari kata metodis yaitu metode - metode yang digunakan untuk mencari kebenaran dalam upayanya mengurangi kemungkinan penyimpangan, yang secara umum dikenal sebagai metode ilmiah. Berasal dari bahasa Yunani metodos dari kata hodos yang berarti: cara dan jalan.
2.3 Berdirinya Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam
Sekolah adalah lembaga untuk siswa - siswi di bawah pengawasan guru.
Pendidikan adalah salah satu komponen penting dalam menujang kemajuan suatu negara. Manusia yang ingin mencapai suatu tingkat kemajuan harus menempuh pendidikan. Pendidikan dapat membantu manusia untuk keluar dari belenggu sebuah kemiskinan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh pendidikan. Untuk memajukan pendidikan, seluruh komponen baik pemerintah maupun masyarakat wajib melaksanakan upaya untuk mencerdaskan bangsa karena hal itu merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. Sejak dikenal pendidikan modern, pengaruh keagamaan juga masuk ke bidang pendidikan. Pendidikan bercorak keagamaan biasanya diselenggarakan oleh misi keagamaan seperti yang diselenggarakan oleh missionaris agama Kristen dan para ulama. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa - siswi mengalami kemajuan melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada tanggal 29 Desember 1968 jemaat mengadakan rapat untuk menempatkan susunan majelis baru periode 1969, sekaligus merumuskan pendirian sekolah dasar. Dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh pemula diperolah keterangan tentang jumlah murid angkatan pertama sebanyak 56 orang.
7 Wawancara, Richard Gordon Tua di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam pada tanggal 10 Agustus 2020
Dengan tenaga pengajar sebanyak 6 orang, yakni : 1. GI. Ong Lie Cu (Ragel Anggelis) sebagai kepala sekolah.
2. Huang Chui Ik 3. Huang Ju Cu 4. Chai Pik Yek 5. Lie Ik Tuan
6. Pdt. R. Sihombing (alm)8
Tempat pelaksanaan proses belajar mengajar pada awalnya berlangsung di ruang tamu pastori Gereja Methodist Indonesia Lubuk Pakam untuk kelas I. Kemudian selang beberapa bulan pihak sekolah menerima murid - murid pindahan dari sekolah lain. Untuk itu diruang belajar dipindahkan ke gedung gereja. Ruang gereja dipakai untuk aktivitas kelas I dan kelas II. Pada bulan September 1969 jabatan kepala sekolah dan gembala sidang GMI diserah terimakan kepada Pdt. Jakub Beriman. Pada tahun 1970, di belakang gedung GMI dibangun dua buah lokal, berdinding tepas dan beratap nipah. Kedua lokal tersebut diperuntukkan kegiatan belajar siswa kelas I dan kelas II. Pada tahun 1971 dibangun lagi 2 lokal dibelakang pastori untuk menampung para siswa kelas III dan kelas IV. Pada pertengahan tahun 1971 dibangun lagi 2 lokal tepat dibelakang gereja. Dengan demikian lokal yang ada dapat menampung untuk sementara seluruh siswa – siswi pada waktu itu. Semua bangunan yang dibangun dalam 3 periode ini semua terbuat berdinding tepas dan beratap nipah. Kemudian pada tahun 1974 bangunan tersebut diganti atapnya dengan seng pada tahun 1975 mengingat semakin bertambah jumlah murid maka dibangun lagi sebuah gedung permanen beratap seng, berdinding beton. Pada awalnya bangunan sekolah hanya berukuran 3 x 5 meter dengan seiring berkembangnya Perguruan Kristen Methodist
8 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 14
Indonesia di Lubuk Pakam jarak total bangunan 193,25m (634,01 kaki). Visi sekolah berdisiplin, berprestasi, berwawasan IPTEK, Unggul dalam olahraga dan seni serta siap berkompetitif dalam globalisasi berdasarkan iman kristiani. 9
2.3.1. Pihak yang terlibat dalam pembangunan
Pihak yang terlibat dalam pembangunan Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam ini berawal dari usul seorang pendeta yang bernama pendeta Jakub Bariman.
Beliau berinisiatif setelah selesainya pembangunan gereja Methodist beliau mengajak para majelis - majelis gereja untuk membangun sekolah disekitaran gereja Methodist yang terletak di Lubuk Pakam dan membicarakan tentang bagaimana proses pencarian dana. Majelis bergerak dengan mengadakan rapat mengenai kelanjutan pembangunan sekolah. Hasil rapat majelis tersebut memutuskan untuk mengumpulkan dana pembangunan gedung sekolah tersebut dengan mengadakan kunjungan ke gereja – gereja di sekitaran gereja Methodist Lubuk Pakam dengan arahan dari Guru Injil Ong Lie Cu. Ada juga dari beberapa majelis gereja yang menyumbangkan sebagian dari gajinya untuk pembangunan sekolah tersebut. Kantor Pusat Gereja Methodist Indonesia juga ikut terlibat dalan pembangunan Perguruan Methodist Lubuk Pakam. Guru Injil Ong Lie Cu dan Pendeta Jakub Bariman Para jemaat gereja juga ikut membantu dengan memberi sumbangan untuk proses berdirinya sekolah tersebut.
9 Wawancara, Famina di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam pada tanggal 10 Agustus 2020
Majelis gereja yang terlibat dalam pembangunan Perguruan Methodist Lubuk Pakam yaitu :
1. Ketua : Guru Injil Ong Lie Cu 2. Pembantu Umum : Huang Phing Cin 3. Sekretaris : Liu Chi Fang 4. Seksi Hubungan Masyarakat : Chen Cai Hong 5. Seksi Acara : Chai Chung Uh 6. Seksi Dokumentasi : Liu Ming Sie10 2.3.2. Pemilihan Lokasi
Pendirian suatu sekolah baru akan bermanfaat maksimal bila dibangun pada lokasi yang tepat. Untuk menentukan lokasi yang tepat, berbagai faktor perlu diperhatikan.
Dari faktor-faktor tadi dirancang sebuah sistem yang merupakan model hubungan keterkaitan diantara faktor dalam menentukan lokasi (area) yang tepat untuk dibangun sekolah. Rancangan sistem tersebut diimplementasikan dalam bentuk program aplikasi yang berbasis sistem informasi geografis (SIG). Program aplikasi akan menghasilkan suatu lokasi pilihan untuk dibangun sekolah berdasarkan kriteria yang ditetapkan pada setiap faktor.
10 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 15
Dalam menentukan sebuah lokasi sekolah diutamakan untuk memperhatikan faktor – faktor sebagai berikut: faktor aksesibilitas dan faktor pola distribusi.
a. Faktor Aksesibilitas
Faktor aksesibilitas ini dianalisis berdasarkan wilayah terdekat yang mampu diakses sesuai peta jaringan jalan berdasarkan batasan jarak atau waktu minimum yang diberikan antara tempat tinggal sekolah. Jarak tempuh maksimal tempat tinggal sekolah berdasarkan standar yang berlaku di Indonesia dengan tidak membedakan transportasi yang dipilih dan kondisi jalan yang ditempuh. Indikator yang menentukan aksesibilitas ini, yaitu: kedekatan lokasi dengan jaringan transportasi dan kedekatan lokasi dengan pusat kota.
Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini berlokasi di tengah kota Lubuk Pakam. Pemilihan lokasi sekolah sangat strategis dikarenakan jarak tempuh untuk dicapai siswa – siswi sangatlah mudah. Bagi siswa – siswi yang berjalan kaki dapat menempuh perjalanan kesekolah melalui empat arah yang berbeda setiap jalannya dilengkapi kelandaian disetiap ujung jalan dan pemandu jalur taktil. Kendaraan umum juga dapat dijangkau disekitaran Methodist Lubuk Pakam sehingga siswa – siswi bagi yang tempat tinggalnya lumayan jauh dapat dijangkau dengan baik sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar.
b. Faktor Pola Distribusi
Faktor pola distribusi dimaksudkan untuk menganalisis penyebaran sekolah dengan melihat kesesuaian terhadap persediaan permintaan sekolah (supply-demand).
Proyeksi penduduk di masa yang akan datang dalam rangka mengetahui jumlah kebutuhan fasilitas sekolah juga akan dilakukan. Supply (jumlah daya tampung sekolah) dianalisis berdasarkan standar luas minimum sekolah, luas sekolah per siswa, jumlah siswa per kelas, serta jumlah siswa per guru sedangkan demand (kebutuhan) dianalisis berdasarkan jumlah penduduk usia sekolah dari tingkat SD sampai tingkat SMA yakni 7 - 18 tahun. Analisis terhadap pola distribusi ini
dilakukan untuk meminimalisir kesenjangan antar wilayah untuk rasio jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah sekolah, ketidak seimbangan antara kapasitas dan kebutuhan, serta keterbatasan lahan untuk pengembangan dan pembangunan sekolah. Payung hukum untuk pola distribusi ini juga diatur di dalam standar nasional sarana dan prasarana pendidikan yang dimuat dalam Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD, SMP, SMA atau sederajat.
Pada satu sisi, secara kuantitas Perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam harus menjawab kebutuhan masyarakat yang senantiasa tumbuh dan secara kualitas sekolah dituntut mampu memfasilitasi kegiatan belajar dengan standar yang terus meningkat.
Pada sisi lain, Perguruan Methodist Lubuk Pakam harus bersaingî dengan berbagai kepentingan dalam penggunaan lahan sebagai konsekuensi pertumbuhan penduduk dan kota, demografi mengalami perubahan dan kebutuhan ruang terus meningkat. Hal ini memicu terjadinya pelanggaran master plan dan perubahan tata guna lahan sehingga sedikit banyak mempengaruhi lingkungan sekolah.11
2.3.3. Sumber Dana
Sumber dana untuk pembangunan gedung sekolah di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam berasal dari beberapa pihak yang terlibat untuk membantu dan mengembangkan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis dengan beberapa informan diketahui telah dilakukannya rapat Majelis tertanggal 27 September 1967, membicarakan tentang pencarian dana sebesar Rp. 170.000.000 untuk membeli tanah bagi pertapakkan gedung gereja yang terletak dijalan Cik Ditiro Lubuk Pakam. Tidak memakan waktu terlalu lama pembangunan gedung gereja sudah dapat dimulai, tetapi dana yang diperoleh tidak memadai dan boleh dikatakan
11 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 18
teramat jarang sehingga pelaksanaan pembangunan terbengkalai lebih kurang 6 bulan.12
Majelis kembali mengadakan rapat mengenai kelanjutan pembangunan. Sidang memutuskan untuk mengumpulkan dana pembangunan dengan mengadakan kunjungan ke gereja - gereja di lingkungan Methodist. Untuk mengatasi kendala tersebut diusahakan jalan keluar dengan memohon bantuan ke luar negeri melalui kantor pusat gereja Methodist di Korea. Permohonan tersebut ditanggapi dengan baik oleh pihak kantor pusat gereja Methodist tetapi realisasinya membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan pihak pembangunan tidak dapat membangun tanpa uang dana. Kebijaksanaan lain adalah dengan memohon pinjaman sukarela dan tanpa bunga dari anggota jemaat. Ada diantara jemaat gereja telah meminjamkan uangnya untuk proses pembangunan sekolah tersebut. Setelah itu Pendeta Jakub Bariman melakukan peminjaman dana dari bank Bali sebesar Rp.75.000.000 dengan jaminan rumah dan tanahnya dengan tempo pengembalian dana tersebut selama 6 tahun lamanya.13 Dana tersebut dikembalikan 30% hasil uang sekolah dan pembangunan sebagai sumbangan wajib dari orang tua. Uang sekolah tersebut dibayar tiap bulannya dan sedangkan uang pembangunan dibayar sekali selama masa pendidikan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. 30% untuk gaji guru dan pegawai sekolah, 30% untuk perawatan atau pengembangan sarana dan prasarana sekolah dan 10% untuk membeli hadiah bagi siswa – siswi yang berprestasi.
12 Wawancar, Yousdy Salim di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 9 Agustus 2020
13 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 17
BAB III
PERKEMBANGAN PERGURUAN KRISTEN METHODIST INDONESIA DI LUBUK PAKAM (1969-1997)
3.1.Perkembangan Fisik
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini, penulis mendapatkan berbagai informasi yang berkaitan dengan perkembangan fisik Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Data – data tersebut penulis dapatkan langsung dari pihak sekolah, yang tentunya ke absahan dan validitas data tersebut bisa di dapatkan. Perkembangan fisik dalam sekolah ini, memberikan perkembangan yang positif terhadap prestasi dan kemajuan suatu sekolah. Seiring berkembangnya sekolah ini dari tahun ketahun dapat meningkatkan minat belajar siswa - siswi dengan baik dan tentunya nyaman diantaranya yaitu :
3.1.1 Bangunan
Bangunan gedung sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pengembangan dan pertumbuhan pendidikan suatu wilayah dan upaya mewujudkan pemerataan pembangunan pendidikan serta peningkatan kualitas dan pengembangan sumber daya manusia, dimana bangunan gedung sekolah digunakan sebagai prasarana pendidikan.
Pada tahun 1969 tempat pelaksanaan proses belajar mengajar pada awalnya berlangsung di ruang tamu pastori gereja Methodist Indonesia untuk kelas I Sekolah Dasar. Kemudian selang beberapa bulan kemudian pihak sekolah membuka penerimaan murid-murid pindahan dari sekolah lain. Untuk itu ruang belajar dipindahkan ke gedung gereja Methodist. Ruang gereja dipakai untuk belajar mengajar kelas I dan II sekolah dasar.
Pada tahun 1970 dibelakang gedung gereja Methodist dibangun dua buah lokal berdinding tepas dan beratap nipah. Kedua lokal tersebut diperuntukan kegiatan belajar siswa kelas I dan II sekolah dasar. Pada tahun 1971 dibangun lagi dua lokal dibelakang pastori untuk menampung para siswa kelas III dan kelas IV sekolah dasar.
Pada pertengahan tahun 1971 dibangun lagi dua lokal tepat dibelakang gereja Methodist. Dengan demikian lokal yang ada dapat menampung untuk sementara seluruh siswa pada waktu itu. Semua bangunan yang dibangun selama tiga periode ini semuanya terbuat berdinding tepas dan beratapkan nipah. Kemudian pada tahun 1974 bangunan tersebut diganti atapnya dengan seng.
Pada tahun 1975 mengingat semakin bertambah jumlah murid maka dibangun lagi sebuah gedung permanen beratap seng dan berdindingkan beton. Gedung ini memiliki empat lokal untuk ruangan teori. Dengan adanya gedung ini kelas SMP dapat belajar dengan tenang dan nyaman. Pada tahun 1978 perguruan Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini membangun gedung permanen berlantai dua dibagian selatan. Gedung ini memiliki tiga ruangan teori dan satu ruangan administrasi. Di gedung inilah dimulai proses belajar mengajar tingkat SMA tahun ajaran 1978/1979 dengan jumlah siswa 20 orang.
Pada tahun 1979 Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini mengadakan renovasi pada gedung permanen yang dibangun tahun 1975 dengan menambah satu tingkat sehingga gedung ini terdapat enam ruangan teori satu ruangan keterampilan, satu ruangan perpustakaan, satu ruang untuk kegiatan OSIS dan dilantai dasar terdapat enam ruangan teori, satu ruanga koperasi dan satu ruangan labolatorium. Pada tahun 1980 - 1982 pada tahun ajaran ini jumlah murid SMP 322 orang dan SMA 231 orang. Mengingat jumlah tersebut yang akan semakin bertambah pada tahun ajaran berikut, maka dibangun lagi sebuah gedung bertingkat tiga
dibagian utara. Masing-masing terdiri dari tiga ruang kelas. Gedung sekolah ini mulai dipergunakan pada tahun ajaran 1982/1983.14
Berikut ini adalah bangunan – bangunan sekolah di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam untuk proses belajar mengajar siswa - siswi berdasarkan kegunaannya:
1. Ruang Belajar
Ruang belajar adalah suatu ruangan tempat kegiatan belajar mengajar dilangsungkan. Ruang belajar terdiri dari beberapa jenis sesuai fungsinya yaitu : Ruang kelas atau ruang Tatap Muka, ruang ini berfungsi sebagai ruangan tempat siswa menerima pelajaran melalui proses interaktif antara peserta didik dengan pendidik, ruang belajar terdiri dari berbagai ukuran, dan fungsi.Sistem kelas terbagi 2 jenis yaitu kelas berpindah (moving class) dan kelas tetap. Ruang Praktik / Laboratorium ruang yang berfungsi sebagai ruang tempat peserta didik menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan keahlian melalui praktik, latihan, penelitian, percobaan. Ruang ini mempunyai kekhususan dan diberi nama sesuai kekhususannya tersebut, diantaranya: Laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, Laboratorium bahasa, Laboratorium komputer, Ruang keterampilan.
2. Ruang kantor
Ruang kantor adalah suatu tempat dimana tenaga kependidikan melakukan proses administrasi sekolah tersebut, pada institusi yang lebih besar ruang kantor merupakan sebuah gedung yang terpisah.
14 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 21
3. Perpustakaan
Sebagai satu institusi yang bergerak dalam bidang keilmuan, maka keberadaan perpustakaan sangat penting. Untuk meminjam buku, murid terlebih dahulu harus mempunyai kartu peminjaman agar dapat meminjam sebuah buku.
4. Halaman / Lapangan
Merupakan area umum yang mempunyai berbagai fungsi, di antaranya untuk tempat upacara, tempat olahraga, tempat kegiatan luar ruangan seperti pertandingan basket, futsal maupun catur, tempat latihan dan tempat bermain/beristirahat
5. Kantin
Kantin merupakan bangunan dimana siswa – siswi beristirahat pada saat jam instirahat di sekolah.
3.1.2 Fasilitas
Fasilitas merupakan salah satu penentu dari perkembangan sekolah. Fasilitas yang baik tidak terlepas dari faktor siswa – siswi, guru, pegawai, kurikulum serta komponen lain yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Berdasarkan dari hasil observasi yang penulis lakukan di lokasi Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam, penulis mendapatkan berbagai informasi yang berdasarkan serta berkaitan dengan fasilitas di sekolah tersebut. Data – data tersebut penulis dapatkan langsung dari pihak sekolah, yang tentunya ke absahan dan validitas data tersebut bisa di dapatkan. Fasilitas dalam sekolah ini, memberikan trend positif terhadap prestasi dan kemajuan suatu sekolah setiap perkembangannya dari tahun ke tahun.
Minat dan bakat siswa - siswi pun harus di genjot dengan cara - cara yang inovatif dan kreatif melalui fasilitas yang layak untuk di gunakan. Fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang kelancaran proses belajar baik di rumah maupun di sekolah. Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam ini mempunyai komitmen dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah
yang salah satunya adalah memberikan fasilitas yang baik dan layak untuk di pergunakan dari tahun ketahunnya. Sehingga siswa - siswi di sekolah tersebut menjadi bersemangat dan termotivasi dalam mengikuti proses belajar-mengajar yang tidak membosankan dan merasa nyaman di setiap aktivitas sekolah yang tentunya dibarengi dengan potensi guru yang memadai dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar tersebut.
Dalam Keputusan Menteri P dan K No. 079/1975, fasilitas belajar terdiri dari 3 kelompok besar yang akan berguna pada peraturan mengenai fasilitas belajar pada suatu sekolah yaitu:
1. Bangunan dan Perabot Sekolah
Bangunan di sekolah pada dasarnya harus sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan harus layak untuk di tempati siswa – siswi pada proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bangunan sekolah terdiri atas berbagai macam ruangan.
2.Alat Pelajaran
Alat pelajar yang dimaksudkan disini adalah alat peraga dan buku – buku barang ajar. Alat peraga berfungsi untuk memperlancar dan memperjelas komunikasi dalam proses belajar mengajar antara guru dan siswa. Jika alat pelajaran yang dimiliki siswa – siswi tidak ada ataupun habis siswa – siswi yang berada di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam bisa membelinya di koperasi yang berada dilantai 1 gedung sekolah.
3. Media Pendidikan
Media pendidikan adalah suatu bagian integral dari proses pendidikan di sekolah.
Dan karena itu menjadi suatu bidang yang harus di kuasi oleh setiap guru professional.15
3.1.3 Peralatan
Untuk mengetahui kebutuhan pendidikan pada suatu unit kerja diperlukan data dan informasi peralatan pendidikan, baik yang ada di lapangan maupun didalam ruangan sesuai ketentuan yang berlaku. Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam ini lebih mengutamakan peralatan yang lebih baik dan berkualitas serta menjamin untuk ketahanan yang lama. Hal ini akan membantu serta mengembangkan potensi diri siswa - siswi di sekolah dalam mewujudkan tercapainya prestasi yang membanggakan. Peralatan sekolah tidak terlepas dari saran dan kritik orang tua atau wali murid dalam mengembangkan sekolah.
Dari hasil observasi, penulis memperoleh gambaran bahwasanya peralatan di sekolah tersebut masih terjaga dengan baik. Berikut daftar peralatan Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam dari tahun 1969 – 1997 adalah sebagai berikut :
1. Papan Tulis, Penghapus Dan Alat Tulis
Papan tulis yang awalnya menggunakan papan tulis hitam dengan menilis mengunakan kapur dan menghapus mengunakan kain kini seiring bergantinya tahun telah diganti menjadi papan tulis putih dan penghapus tulis papan dengan penghapus yang lebih baik lagi.
15 Wawancara, Sangap Ginting di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 9 Agustus 2020
2. Meja Dan Kursi Siswa – Siwi Dan Guru.
Meja guru digunakan sebagai tempat pengajaran dan barang guru dalam proses balajar mengajar terhadap siswa - siswi Perguruan Kristen Methodist di Lubuk Pakam. Tentunya meja guru selalu mengalami perbaikan setiap tahunya yang lebih baik dari tahun berdirinya hingga sekarang. Begitu juga dengan keadaan kursi guru di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam yang selalu di perbaiki dari tahun ke tahunnya. Meja dan kursi guru terdapat dari mulai tingkat SD, SMP dan tingkat SMA dengan keterangan hak milik pribadi serta layak untuk digunakan.
3. Lemari, Komputer, Printer, Tempat Sampah, Rak Buku, Kursi Pimpinan, Meja Pimpinan, Kursi dan Meja Tamu.
Barang tersebut di gunakan di dalam ruangan kepala sekolah. Setiap barang – barang yang di gunakan dengan baik oleh siswa/siswi serta milik pribadi sekolah. Hal ini menjadikan pekerjaan kepala sekolah untuk mengurus segala urusan dalam penyajian data sekolah berjalan dengan baik.
4. Kursi Ibadah, Tempat Sampah, Jam Dinding, dan Perlengkapan Ibadah.
Ruang ibadah di dalam sekolah sangat digunakan untuk memberikan kesadaran diri terhadap siswa - siswi dan guru di sekolah. Barang tersebut di gunakan untuk perlengkapan peralatan ruangan ibadah. Sekolah yang di dominasi oleh etnis Tionghoa dan agama Kristen ini tentunya mengutamakan atau memprioritaskan bangunan ibadah berupa gereja. Bangunan gereja adalah bangunan yang di gunakan untuk ibadah bagi umat agama Kristen. Setiap tahunnya mengalami perubahan dalam bentuk bangunan ibadah ini agar layak dan nyaman jika dipergunakan setiap waktunya.
5. Kloset Jongkok, BAK , Gayung dan Westafel.
Barang tersebut di gunakan untuk alat perlengkapan kebersihan di sekolah.
Manfaatnya adalah demi kebersihan dan kenyamanan para siswa,guru, tamu, dan staff
pendidik di sekolah. Dalam data yang telah di lampirkan bahwsanya kepemilikan barang di sekolah adalah hak milik pribadi sekolah dan masih layak untuk di pergunakan.
Adapun penggunaan perlatan sekolah di jaga dengan sebaik mungkin dan secara efisien. Tujuan dari peralatan itu semua, tidak terlepas demi menunjang prestasi pembelajaran bagi anak didik di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tersebut. Ini merupakan wadah bagi anak didik supaya lebih nyaman, konsentrasi, dan menambah semangat dalam proses belajar dan mengajar kedepannya16
3.2. Perkembangan Managemen
Manajemen pendidikan merupakan suatu proses untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti guru, sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Maka dari itu Perguruan Methodist Lubuk Pakam mengkoordinasikan pendidikan untuk meningkatkan minat belajar siswa – siswi dengan lebih baik lagi setiap tahunnya.
16 Wawancara, Arifin di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 10 Agustus 2020
Dalam managemen berorientasi pada siswa, pengelolaan sekolah diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar, kebutuhan pengguna jasa pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah. Oleh karena itu masyarakat pengguna jasa sekolah sangat bervariasi, sedangkan kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional, maka proses belajar di sekolah harus dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat pengguna jasa pendidikan. Penegelolaan sekolah secara efektif sekolah sebagai lembaga pendidikan, pengelolaannya dapat dilakukan secara efektif dengan menggunakan asumsi dasar keberhasilan sekolah yang efektif.
Beberapa pengelolaan managemen di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk pakam yang efektif antara lain :
a. Adanya standar harapan yang tinggi
Para pengelola di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam termasuk guru perlu selalu memiliki standar harapan yang tinggi terhadap prestasi belajar anak. Prinsip ini mendasari pendidik dengan sikap berfikir positif bahwa setiap anak berpeluang untuk berprestasi tinggi. Dengan menaruh harapan positif maka guru dan pengelola sekolah akan selalu berusaha memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa - siswi. Berbeda dengan sikap yang negatif dimana beranggapan bahwa siswa - siswi itu malas, bodoh, dan lain – lain sehingga semakin mempertebal semangan guru untuk tidak berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik anak.
b. Menciptakan keamanan dan keteraturan lingkungan lingkungan belajar
Agar pelaksanaan pendidkan di sekolah berjalan tertib perlu diciptakan suasana sekolah yang aman dan teratur. Suasana aman dapat ditandai dengan siswa merasa betah di sekolah, bebas tanpa tekanan. Secara fisik aman dari gangguan dari orang – orang berniat jahat. Suasana sekolah merangsang siswa – siswi, guru dan staf pegawai untuk berprestasi, dan bagi mereka yang berprestasi diberikan penghargaan.
Di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam perlu tertib dan teratur,
perlu ada peraturan yang mengatur hubungan antara siswa - siswi dengan guru dan pegawai lainnya, hubungan antara guru dengan kepala sekolah, hubungan antara guru dan orang tua bahkan hubungan antar siswa dengan siswa. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh kedisiplinan dan menegakkannya baik dalam belajar mengajar maupun dalam tugas – tugas lainnya.
c. Merumuskan tujuan yang jelas
Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam juga menjabarkan tujuan kelembagaannya secara jelas (Visi dan Misi). Seperangkat tujuan tersebut agar dijabarkan kedalam program sehingga fokus pencapaiannya jelas. Dengan penuangan tujuan secara transparan dapat diupayakan perbaikan terhadap tujuan – tujuan yang belum dapat dicapai dan peningkatan program terhadap tujuan yang sudah berhasil.
d. Kepemimpinan yang kuat dan dinamis
Keberhasilan Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam sangat ditunjang oleh hadirnya kepemimpinan yang kuat. Ciri – ciri kepemimpinan ini antara lain :
1. Memiliki Visi 2. Disiplin 3. Konsisten
4. Teladan bagi yang lain 5. Support (memberi dorongan)
6. Penghargaan terhadap yang berprestasi (staf, guru dan siswa) e. Memonitor kemajuan siswa
Secara terus menerus Kepala Sekolah bersama guru perlu melakukan evaluasi dan pemantauan atas kemajuan dan prestasi belajar siswa - siswi. Di samping itu evaluasi dan pemantauan secara keseluruhan dilaksanakan oleh pengelola (Kepala sekolah) terhadap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada guru dan kepada Kepala Sekolah atas amanah kepemimpinan serta manajemen secara keseluruhan dengan mengingat besar kecilnya sasaran.
f. Pengembangan guru dan staf
Peningkatan mutu guru dan staf terus menerus diupayakan karena kesadaran adanya tuntutan dunia luar (pasar) dan perkembangan aspirasi masyarakat, serta pengamatan lingkungan dan pendidikan yang baik. Dalam kaitan itu pengembangan mutu guru dan staf disamping melalui pelatihan, penataran, juga diupayakan dengan kunjungan studi banding, maupun seminar.
Dalam perkembangannya, manajemen pendidikan memerlukan Good Management Practice untuk pengelolaannya. Banyak penyelenggaraan pendidikan
yang beranggapan bahwa hal tersebut bukanlah suatu hal yang penting.
Pada awalnya managemen pendidikan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia Lubuk Pakam yaitu :
1. Belum tersedianya dokumen kurikulum belum lengkap baik berupa silabus, RPP, maupun perangkat evaluasi/ penilaian seiring bergantinya tahun dokumen kurikulum sekolah mulai lengkap.
2. Masih kurang optimalnya fungsi dan peran Tim Pengembangan sekolah dikarenakan minimnya tingkat pengembangan sekolah dan seiring bergantinya tahun pengembangan sekolah mulai optimal dalam fungsi dan perannya.
3. Masih adanya beberapa guru yang kurang mampu memanfaatkan metode pembelajaran yang efektif dan inovatif dan semakin berkembangnya teknologi maka metode pembelajaran mampu dimanfaatkan oleh guru – guru.
4. Masih kurangnya optimal SDM guru maupun tenaga pelaksana Tatausaha dalam bekerja dikarenakan masih kurangnya tenaga pengajar dan pegawai didalam sekolah tetapi seiring berkembangnya sekolah tersebut guru – guru dan pegawai mulai bertambah.
5. Masih terdapatnya sebagian kecil guru yang berkualifikasi pendidikan DIII pada awal pembentukan sekolah dan setelah berkembangnya sekolah maka sekolah menetapkan guru berkualifikasi pendidikannya minimal jenjang S1.
6. Masih menyatunya gedung laboratorium Fisika dan Biologi dengan Laboratorium Kimia (Lab. IPA).
7. Terbatasnya dana untuk pengembangan sarana dan prasarana sekolah.
8. Masih lemahnya sistem pengelolaan informasi kepada masyarakat karena pada awalnya sekolah hanya baru menerima beberapa siswa - siswi mulai dari beberapa jemaat gereja Methodist Lubuk Pakam saja barulah setelah berkembangnya Perguruan Methodist Lubuk Pakam ini barulah ada beberapa siswa-siswi di luar dari gereja Methodist Lubuk Pakam mendaftar ke sekolah tersebut bahkan ada siswa – siswi yang pindahan dari sekolah lain.
9. Masih terbatasnya ketersediaan dana untuk pengembangan sekolah karna dana masih sangat minim untuk mengembangkan sekolah maka daripada itu pihak yang terlibat dalam proses pembangunan sekolah mencari dana kembali untuk mengembangkan Perguruan Methodist tersebut lebih baik lagi maka setelah terkumpulnya dana Perguruan Kristen Methodist Indonesia Lubuk Pakam dapat digunakan dengan baik dan nyaman.17
17 Wawancara, Sangap Ginting di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam tanggal 9 Agustus 2020
3.3. Kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang disusun sesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah. Kurikulum dilaksanakan untuk mengembangkan berbagai potensi siswa - siswi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional,kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, akan tetapi memuat pada segala sarana dan prasarana sekolah yaitu seperti bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan perpustakaan, dan pekarangan sekolah untuk menunjang ataupun mendukung proses belajar - mengajar agar bisa berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan. Ada banyak kurikulum pendidikan di Indonesia yang diberlakukan oleh pemerintah yang juga di pergunakan di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam. Dalam sejarah pendidikan, perubahan kurikulum telah terjadi beberapa kali. Kurikulum mengalami perubahan mengikuti perubahan masyarakat yang dipengaruhi oleh situasi politik, ekonomi dan kultur.
Oleh karena itu banyak kurikulum yang mengalami perubahan kurikulum - kurikulum yang digunakan mulai tahun 1969 di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam yaitu sebagai berikut:
a. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan.
Pada masa itu siswa – siswi Methodist Lubuk Pakam hanya berperan sebagai pribadi yang pasif, dengan hanya menghapal teori-teori yang ada, tanpa ada pengaplikasian dari teori tersebut. Aspek afektif dan psikomotorik tidak ditonjolkan pada kurikulum ini. Praktis, kurikulum ini hanya menekankan pembentukkan peserta didik hanya dari segi intelektualnya saja. Kurikulum SD 1968 terdiri dari empat unsure pokok, yaitu
dasar, tujuan dan asas-asas pelaksanaan nasional Pancasila di Sekolah Dasar; struktur progam atau kerangka kurikulum Sekolah Dasar; bahan pendidikan atau garis-garis besar progam pengajaran; serta pedoman evaluasi atau pengisian dan penggunaan Buku Rapor murid Sekolah Dasar.
b. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien berdasar MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar - mengajar, dan evaluasi. Pada kurikulum ini peran guru menjadi lebih penting, setiap guru di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam wajib untuk membuat rincian tujuan yang ingin dicapai selama proses belajar mengajar berlangsung. Tiap guru harus detail dalam perencanaan pelaksanaan program belajar mengajar. Setiap tatap muka telah di atur dan dijadwalkan sedari awal. Dengan kurikulum ini semua proses belajar mengajar menjadi sistematis dan bertahap.
c. Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung “process skill approach”. Proses menjadi lebih penting dalam pelaksanaan pendidikan. Peran siswa dalam kurikulum ini menjadi mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). CBSA memposisikan guru sebagai fasilitator, sehingga bentuk kegiatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam kurikulum ini. Pada kurikulum ini siswa di Perguruan Kristen Methodist Indonesia di Lubuk Pakam diposisikan sebagai subjek dalam proses belajar mengajar. Siswa - siswi juga diperankan dalam pembentukkan suatu pengetahuan
dengan diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, bertanya, dan mendiskusikan sesuatu.
d. Kurilukum 1994
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Pada kurikulum ini bentuk opresi kepada siswa mulai terjadi dengan beratnya beban belajar siswa, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain - lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu- isu tertentu masuk dalam kurikulum. 18
Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Siswa – siswi di Perguruan Methodist Lubuk Pakam dihadapkan dengan banyaknya beban belajar yang harus mereka tuntaskan, dan mereka tidak memiliki pilihan untuk menerima atau tidak terhadap banyaknya beban belajar yang harus mereka hadapi.
3.4. Tenaga Pengajar Dan Pegawai
Peranan guru sangatlah penting bagi dunia pendidikan. Dalam pendidikan formal di sekolah, guru memegang kendali penuh terhadap anak didik. Baik atau tidaknya pembelajaran dalam kelas bergantung pada guru sebagai ujung tombaknya. Ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi personal lebih menunjukkan pada kematangan pribadi. 19
18 Tatang Syarifudin dan Nur’aini, Landasan Pendidikan ( Bandung : UPI PRESS 2013) hlm.5 19 Jakub Bariman, Sejarah Singkat PKMI ( Lubuk Pakam : Sakura) 1991 ) hlm. 34