• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.2 Kekerasan Verbal Tidak Langsung

2.2.3 Kekerasan Verbal Tidak Langsung Penstereotipan

Selanjutnya adalah kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan. Kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan adalah kekerasan verbal tidak langsung yang menciptakan stereotip, yaitu konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat (Baryadi, 2012: 37). Kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan ini muncul karena terdapat stigmatisasi yang telah menyebar luas dan disepakati secara umum. Berikut beberapa contoh kalimat yang mengandung kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan.

(24) Jadi sebetulnya Indonesia itu potensi masuk piala dunia sejak dulu, tapi karena pengurusnya biadab, jadi sial terus. Karma is rea

(25) Ancur nian negri ini pantesan papua ngebet pengen merdeka bukan hanya papua saya yakin setiap pulau indonesia pngen merdeka

(26) Gue heran ama pengangguran tipe kayak loe ndan,,, mkan siangnya gimana

y? Apa harus baku hantam dlu baru bisa makan siang??? @garudarevolution

(27) Inilah contoh dari suporter klub di Indonesia yg masih berjiwa

kampungan dan kekanak kanakan. Suporter MMA aja gk seanarkis gtu.

Malu kita..

(28) boro2 main di ACL. Kualifikasi aja ga dianggap wkwk.. Sekelas AFC cup pun harus ikut kualifikasi dlu jika ingin lolos ke fase grup

(Unggahan garudarevolution, 3 September 2019) Kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan yang terdapat pada kalimat (24), yaitu pada kata pengurusnya biadab. Kata biadab dalam KBBI V (2018)

42

memiliki‘arti kurang ajar’ sehingga kalimat (24) memiliki arti jika sebenarnya Indonesia dapat masuk ke piala dunia tetapi akibat pengurusnya kurang ajar, Indonesia sering mengalami kesialan. Kalimat (24) mengatakan bahwa pengurusnya biadab karena terdapat unggahan tentang pencoretan dan pemilihan pemain timnas yang dinilai banyak drama. Kemudian pada takarir unggahan tersebut pemilik akun mempertanyakan tentang pemilihan pemain yang banyak drama tersebut kesalahan siapa. Unggahan (24) mengajak pengikut akun tersebut agar mau mengkritisi mengapa pemilihan timnas Indonesia dikatakan banyak drama. Namun, komentar (24) menanggapi unggahan tersebut dengan menggunakan stereotip yang ditujukan kepada pengurus PSSI dengan mengatakan bahwa pengurusnya biadab. Oleh karena itu, kalimat tersebut termasuk dalam penstereotipan karena kalimat (24) adalah sebuah penilaian subjektif terhadap pengurus PSSI yang memiliki sifat biadab dan dianggap sebagai sebab ketidakmajuan persepakbolaan Indonesia.

Data (25) termasuk dalam kekerasan verbal penstereotipan karena pada data (25) memuat opini penutur terhadap negara Indonesia. Penutur berpendapat bahwa Negara Indonesia adalah negara yang hancur. Penutur mengungkapkan opini tersebut karena unggahan data (25) menyatakan banyaknya drama dalam pemilihan pemain timnas bahkan saling menyalahkan. Pada data (25) terdapat satu kalimat yang membuat pendapat penutur termasuk dalam kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan, yaitu pada kalimat Ancur nian negri ini. Kalimat tersebut merupakan kalimat stereotip karena tidak hanya yang mengetahui bahwa negara Indonesia hancur, namun banyak

43

orang yang setuju dengan pernyataan tersebut. Kata Ancur nian negri ini dikuatkan dengan alasan penutur yang menyatakan bahwa pantas saja pulau Papua ingin merdeka sendiri, dan penutur meyakini bahwa pulau selain Papua juga ingin merdeka. Oleh kerena itu, data (25) termasuk dalam kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan yang ditujukan kepada negara Indonesia.

Selanjutnya pada kalimat (26) terdapat kalimat kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan, yaitu pada kata pengangguran. Kata pengangguran dalam KBBI V (2018) berarti ‘hal atau keadaan menganggur’. Kata pengangguran dalam kalimat (26)

diberikan penutur kepada pemilik akun garudarevolution. Penutur memberikan stigma tersebut kepada pemilik akun karena penutur menganggap pemilik akun tidak memiliki pekerjaan selain bermain Instagram. Penutur memberikan penstereotipan tersebut karena dalam unggahan kalimat (26) tertulis pemilik akun memiliki rasa penasaran bagaimana orang yang sudah memiliki pekerjaan makan siang sehingga dalam kalima unggahan tersebut tergambarkan bahwa pemilik akun tidak memiliki pekerjaan. Kalimat (26) termasuk dalam kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan karena pada kalimat tersebut terdapat stigma yang diberikan penutur kepada pemilik akun berupa kata pengangguran.

Kemudian kalimat kekerasan verbal tidak langsun penstereotipan juga terdapat pada komentar (27) yang mengataka bahwa Inilah contoh dari suporter klub di indonesia yg masih berjiwa kampungan dan kekanak kanakan. Suporter MMA aja gk

44

kampungan dan kekanak-kanakan. Kedua kata tersebut digunakan penutur sebagai kata

stereotip yang diberikan kepada pendukung sepak bola Indonesia Kedua kata stereotip tersebut diberikan karena penutur melihat unggahan mengenai kericuhan yang terjadi pada saat pertandingan sepak bola. Kata kampungan yang dipakai oleh penutur pada kalimat (27) menunjukkan sifat pendukung sepak bola yang tidak tahu sopan santun dan kata kekanak-kanakan adalah kata yang menunjukkan bahwa pendukung sepak bola bertingkah seperti anak-anak. Kalimat (27) merupakan kalimat kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan karena melalui unggahan video pada akun tersebut menunjukkan sikap kampungan dan kekanak-kanakan pendukung Indonesia. Unggahan video yang terdapat pada kalimat (27) memperlihatkan perkelahian yang dilakukan oleh pendukung klub di dalam stadion ketika sedang berlangsungnya pertandingan. Oleh sebab itu, melalui video tersebut stigmatisasi yang diberikan oleh penutur akan menyebar dan disepakati secara umum.

Kemudian pada kalimat (28), memuat unggahan tentang klasemen peringkat dalam persepakbolaan se-Asia. Pada unggahan tersebut Indonesia berada di peringkat 7 Asean. Pada unggahan beberapa waktu yang lalu Indonesia berada di peringkat 3 Asia. Pemilik akun menuliskan takarir berupa perasaan curiga. Kalimat (28) terdapat kata boro-boro yang memiliki arti jangankan. Ungkapan kalimat (28) merupakan kalimat yang termasuk dalam kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan karena pada kalimat tersebut terdapat penilai penutur terhadap persepakbolaan Indonesia tidak bisa masuk ACL karena menurut penutur persepakbolaan Indonesia dalam kualifikasi ACL saja sudah tidak dianggap. Kalimat penstereotipan yang digunakan penutur

45

adalah kalimat yang menganggap bahwa persepakbolaan Indonesia tidak dapat masuk dalam ACL. Oleh sebab itu, pendapat penutur pada kalimat (28) termasuk dalam kekerasan verbal tidak langsung penstereotipan.