VI. PROFIL SOSIAL EKONOMI DESA PADABEUNGHAR
4.6 Kelembagaan Sosial
Kelembagaan sosial di Desa Padabeunghar dapat dibagi menjadi dua, (1) kelembagaan yang dibentuk dengan sengaja untuk suatu kepentingan dan (2) kelembagaan yang dibentuk oleh nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat Desa Padabeunghar. Kelembagaan yang dibentuk dengan sengaja adalah kelompok kerja “bakti”. Kelembagaan yang dibentuk oleh nilai dan norma masyarakat adalah ngobeng, babantu, kondangan, neang, dan ngalongok .
4.6.1 Ke lompok Kerja “Bakti”
Kelompok kerja “bakti” merupakan suatu rombongan yang bekerjasama menggarap lahan hutan. Kelompok biasanya terdiri dari 10 orang yang membagi pekerjaan pada setiap lahan selama dua hari. Anggota kelompok terdiri dari orang-orang yang ingin menjadi anggota. Kelompok “bakti” bubar karena waktu kerja di sawah yang sering bersamaan membuat pekerjaan kelompok terbengkalai. Menurut Pak Suh, 50 tahun, kelompok “bakti” tidak seimbang dalam membagi pekerjaan, lahan yang pertama dibersihkan akan pertama bersih sedangkan yang lain terbengkalai57.
Sampai saat ini kelompok “bakti” yang masih jalan adalah kelompok Wa Am yang beranggotakan delapan orang. Wa Am adalah petani penggarap yang memiliki sawah milik 0,25 bau dan kebon satu tempat. Wa Am, 60 tahun, membentuk kelompok kontak tani “bakti” sejak masih jaman tumpang sari atau sekitar 13 tahun yang lalu. Kelompok yang terdiri dari delapan orang petani itu secara bergiliran mengolah lahan garapan di hutan. Mereka secara bergiliran membabat rumput, menanam pohon dan menanam pisang. Mereka bekerja bergiliran dua hari di setiap lahan garapan anggotanya.
4.6.2 Sistem Kerja Nyeblok
Sistem kerja nyeblok hanya ada di pertanian padi sawah. Pekerjaan
nyeblok sudah lazim di Desa Padabeunghar. Seorang petani bekerja dari awal
penyemaian benih, mengolah tanah sampai memanen di lahan petani lain. Petani yang mengikuti proses menanam dan mengurus padi berhak ikut memanen dengan bagi hasil sebanyak 5:1 kg gabah kering.
Nyeblok sering dilakukan oleh orang yang memiliki lahan atau orang yang
tidak memiliki lahan. Seorang petani dapat nyeblok jika diijinkan oleh petani pemilik lahan. Pemilik di sini dapat berarti pemilik secara resmi atau pemilik karena penyewaan. Petani yang nyeblok dapat keluar atau berhenti nyeblok dengan memberitahu pada pemilik bahwa ia akan berhenti. Pemecatan tidak pernah terjadi. Hubungan petani pemilik dan petani nyeblok dilandasi oleh
57
hubungan saling percaya. Sanksi bagi petani pemilik yang tidak melibatkan petani
nyeblok dalam pemanenan atau petani nyeblok yang mangkir kerja adalah rasa
tidak enak.
Petani yang nyeblok merupakan orang yang tetap nyeblok di tempat yang telah dipilih. Menurut Bi En, 42 tahun, petani perempuan pemilik sawah, jika petani tersebut nyeblok dibeberapa tempat, ia mungkin akan mendapatkan hasil panen yang lebih banyak dari pada petani pemilik lahan. Ini karena petani pemilik lahan harus membayar biaya pupuk (gemuk) dan pestisida yang harganya kadang menghabiskan seluruh hasil panen58.
Kepastian tentang jumlah petani ya ng nyeblok pada sawah petani pemilik diketahui petani pemilik jika petani nyeblok datang ke rumah petani pemilik untuk memastikan kehadirannya pada malam atau pagi hari sebelum ia berangkat ke sawah. Ketidakpastian ini menyebabkan petani pemilik sulit menentukan kapan saatnya diperlukan tenaga kerja bayaran dan berapa banyak konsumsi yang diantar ke sawah (“nganteuran ”)
Nyeblok merupakan mekanisme kerja untuk menjamin pendapatan buruh
petani atau sebagai pendapatan tambahan bagi pemilik lahan. Nyeblok sangat ditentukan oleh kepercayaan antar warga Desa Padabeunghar. Nyeblok yang dilakukan dengan warga desa lain seperti Desa Bantar Agung, desa yang terletak di sebelah timur Desa Padabeunghar, lebih bersifat teknis kerja. Petani Bantar Agung memang dikenal rajin bekerja namun juga ketat dalam perhitungan bagi hasil. Meskipun diakui pekerjaan petani Bantar Agung lebih baik, petani pemilik lebih memilih petani Desa Padabeunghar untuk nyeblok di lahan miliknya.
4.6.3 Ngobeng
Membantu orang yang akan hajatan disebut “ngobeng ”. Jika yang punya hajat menyelenggarakan hiburan atau mendirikan panggung, maka orang yang
ngobeng bisa mencapai 200 orang. Orang yang ngobeng mengerjakan semua
pekerjaan persiapan pelaksanaan hajatan. Ngobeng dilakukan sebelum, pada saat dan setelah hajatan. Mereka akan membuat kue, menyiapkan lauk pauk, memasak nasi, membersihkan ruangan, menyajikan makanan, menerima tamu, mendirikan
58
tenda, memasak air, membakar sate, mencuci perabotan dan membersihkan rumah setelah hajatan selesai.
Orang yang ngobeng diberi makan di tempat hajatan dan membawa pulang makanan untuk di rumah. Makanan disediakan penyelenggara hajatan. Makanan diantar oleh orang yang juga sedang ngobeng yang ditunjuk sebagai pembagi makanan atau oleh orang kepercayaan penyelenggara hajatan .
Ngobeng merupakan kelembagaan yang mengatur pelaksanaan kegiatan
penting dalam rumahtangga. Hajatan yang membutuhkan modal besar dihadapi oleh masyarakat Desa Padabeunghar dengan pembagian resiko pada orang lain.
Ngobeng mengurangi biaya “panitia” penyelenggara, tenaga untuk memasak dan
membersihkan alat-alat makan, keamanan, dan kebersihan. Ngobeng juga memberi kesempatan untuk menyelenggarakan hajatan pada rumahtangga.
4.6.4 Ngalongok
Ngalongok adalah mengunjungi orang sakit dengan memberika n bantuan
berupa uang atau barang. Ngalongok memiliki arti tersendiri bagi komunitas Desa Padabeunghar. Membantu orang sakit te lah menjadi kebiasaan di Desa Padabeunghar. Setiap anggota komunitas memiliki kewajiban moral unutk menolong atau menengok tetangga atau saudara yang sakit.
Menengok ke rumah sakit selalu disertai dengan pemberian uang. Uang diberikan untuk membantu biaya pengobatan. Penengok biasanya akan memberikan uang minimum Rp 5000. Jumlah penengok dan jumlah uang yang diberikan ditentukan ole h hubungan baik dengan orang sakit dan sejauh mana orang yang sakit suka menengok atau baik pada orang lain. Anggota komunitas rajin menengok bisa mengumpulkan sumbangan uang yang cukup untuk membayar biaya perawatan59.
4.6.5 Babantu
Babantu menekan bia ya pembangunan rumah. Setiap orang yang akan
membangun rumah cukup menyediakan bahan bangunan, makanan, dan uang
59
untuk membayar tukang. Anggota komunitas Desa Padabeunghar biasa melakukan pembongkaran dan pembangunan rumah bersama-sama. Rata -rata setiap orang akan membantu selama dua hari. Warga Desa Padabeunghar membantu secara bergiliran sampai rumah beres. Setiap hari warga yang datang untuk bantu-bantu rata -rata 50-100 orang. Warga yang datang membantu datang dari setiap pelosok kampung. Bekerja membantu pembangunan rumah disebut
babantu .
Babantu tidak mendapatkan bayaran atau imbalan dalam bentuk uang.
Orang yang babantu akan diberi makan pada jam makan dan diberikan hantaran untuk keluarga di rumah. Babantu didasari oleh perasaan tidak enak dan takut dianggap tidak berpartisipasi di masyarakat. Babantu dilakukan agar jika suatu hari ia membangun rumah orang-orang akan datang babantu dalam pembangunan rumahnya. Babantu pun dilakukan untuk membalas jasa pembuat rumah yang pernah babantu pada saat pembangunan rumahnya.
Babantu dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga untuk membangun
rumah, memberikan uang atau rokok atau membantu memasak. Setiap rumahtangga mewakilkan anggota rumahtangga untuk babantu . Laki-laki membantu pembangunan rumah dengan menjadi tenaga pembantu tukang (knek). Perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan pembangun rumah akan membantu memasak di dapur dan mengantarkan makanan ke rumah laki-laki yang
babantu .
Rumahtangga yang tidak memiliki anggota rumahtangga yang dapat
babantu baik perempuan maupun laki-laki akan menyumbang dalam bentuk uang
atau rokok. Uang diberikan setara dengan bayaran knek sehari yaitu sebesar Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-. Rokok diberikan sesuai dengan jenis rokok yang biasa diberikan untuk pekerja , misalnya Djarum Coklat. Jumlah rokok disamakan dengan harga jual rokok atau antara dua sampai tiga bungkus. Sedangkan pemberian makanan tidak ditentukan jumlah dan jenis makanan yang akan diberikan.
Pekerjaan rumah dengan bergotong royong ini lebih terlihat pada warga yang tidak mampu. Bagi warga yang mampu atau lama merantau sehingga tidak pernah ikut babantu akan mengerjakan rumah dengan cara borongan. Mereka
mawas diri karena jarang ada di Desa Padabeunghar60. Akses terhadap kelembagaan babantu dapat dipe roleh dengan mengalokasikan anggota rumahtangga untuk tinggal di Desa Padabeunghar, menjadi tenaga kerja babantu , memberikan makanan makanan atau rokok.
4.6.6 Kondangan
Kondangan adalah kunjungan kepada orang yang sedang mengadakan hajatan , sebuah perhelatan besar bisa menikahkan anak atau sunatan anak
laki-laki, dengan memberikan sejumlah uang dan atau makanan. Seseorang yang mengadakan hajatan tidak perlu memberikan undangan resmi pada orang satu kampung. Undangan dapat berupa rokok atau permen untuk ga dis-gadis disertai ucapan “dihaturanan”---diundang. Kondangan termasuk menabung. Besarnya uang kondangan tidak ditentukan, namun seberapa besar kita memberi, sebesar itu pula kita mengharapkan akan kembali saat kita ada hajatan61.
Kondangan biasa dilakukan per KK. Satu KK diwakili oleh satu orang. Kondangan selalu dilakukan dengan uang. Jumlah uang kondangan berkisar
antara Rp. 10.000 atau Rp. 20.00062. Kondangan biasa dilakukan oleh suami atau oleh istri jika kondangan dilakukan rombongan bersama ibu-ibu lain. Kondangan berdua suami-istri jarang dilakukan, kecuali jika pelaksana hajatan adalah saudara dekat atau tetangga dekat. Banyaknya orang yang hajatan biasanya disiasati dengan memilih orang yang akan di-kondangan-i. Orang yang akan menyelenggarakan hajatan dua kali biasanya ditunda dengan pertimbangan mungkin nanti ia juga akan hajatan . Pertimbangan yang lain didasakan pada kedekatan, dan atas dasar apakah kemarin orang tersebut datang pada waktu kita menyelenggarakan hajatan63.
4.6.7 Neang
Melahirkan anak merupakan suatu peristiwa penting dalam rumahtangga. Melahirkan anak sangat penting terutama bagi KK anak yang baru menikah.
60 Wawancara dengan aparat Desa padabeunghar, 10 Maret 2005
61
Wawancara dengan aparat D esa padabeunghar, 10 Maret 2005
62
Wawancara dengan Pak Suh, tanggal 10 maret 2005
63
Melahirkan anak pertama berarti kelengkapan dalam KK. Melahirkan anak juga berarti kebutuhan biaya bagi rumahtangga. Biaya untuk membayar bidan, dukun beranak dan membeli perlengkapan bayi.
Neang merupakan suatu kelembagaan sosial yang dibangun untuk
mengurangi beban rumahtangga saat ada anggota rumahtangga yang melahirkan anak. Neang dilakukan dengan mengunjungi orang yang bar u melahirkan. Kunjungan disertai dengan pemberian bingkisan baik berupa uang, makanan, sabun mandi atau sabun cuci, atau perlengkapan bayi. Neang dilakukan pada kelahiran tetangga, saudara atau pada orang yang pernah neang saat anggota rumahtangga melahirkan.
Neang dilandasi oleh perasaan tidak enak jika tidak dilakukan dan takut
dianggap tidak baik oleh orang yang pernah neang pada saat kelahiran anggota rumahtangga. Neang akan dilakukan oleh KK anak dan KK orang tua. KK anak melakukan neang untuk membalas kunjungan atau mengunjungi kelahiran anak dari KK anak di rumahtangga lain. KK orang tua melakukan neang untuk menjaga hubungan baik dengan saudara atau tetangga. Ini berarti neang tetap dilakukan meskipun tidak ada lagi proses melahirkan dalam keluarga.
4.6.8 Maron
Sebagian besar kerbau atau kambing dimiliki secara turun temurun dengan sistem maron. Maron biasa dilakukan antara anak dan orang tua. Dari enam orang “tukang angon”, hanya satu orang yang maron bukan dari orang tua. Sukari, nama anak muda tersebut maparon dari orang Bantar Agung, desa tetangga Desa Padabeunghar.
Maron merupakan suatu cara mendapatkan kambing atau kerbau bagi
orang yang tidak memiliki kambing atau kerbau atau ingin menambah jumlah pemilikan kambing atau kerbau dengan cara me melihara kambing atau kerbau milik orang lain dan mendapatkan imbalan berupa pembagian anak kambing atau kerbau atau uang seharga separuh anak kambing atau kerbau. Pembagian berupa kerbau dilakukan jika telah ada dua ekor anak kambing atau kerbau atau jumlah lain yang dapat dibagi. Pembagian berupa uang dilakukan jika jumlah kambing atau kerbau yang ada tidak dapat dibagi. Uang diberikan pada pihak penggembala
atau pemilik yang tidak mendapatkan kambing atau kerbau. Uang yang diberikan sebesar harga anak kambing atau kerbau yang telah lepas susu (“disapih ”).
Sistem maron tersebut relatif baru. Awalnya, orang yang ingin mendapatkan kerbau harus bekerja sebagai “tukang angon ” selama empat tahun tiga bulan 10 hari untuk mendapatkan seekor anak kerbau sapihan. Sebenarnya, angka tiga bulan 10 hari tersebut sebagai cadangan jika ada kerbau peliharaan yang merusak (“ngaranjah”) kebun atau tanaman orang lain. Jika ada kerbau yang merusak tanaman orang lain, maka pemilik kerbau harus mengganti kerugian sesuai dengan besarnya pengganti yang diajukan oleh pemilik tanaman. Tiga bulan 10 hari merupakan waktu yang diberikan oleh penggembala untuk mengganti kerugian yang dikeluarkannya. Namun perkembangannya, ada atau tidak kebun yang di-“ranjah ”, waktu penggembalaan tetap empat tahun tiga bulan 10 hari. Sekarang sistem penggembalaan seperti itu sudah jarang dilakukan.