• Tidak ada hasil yang ditemukan

PHBM: Rancangan Strategi Nafkah MDH

II. PENDEKATAN TEORITIS

2.5 PHBM: Rancangan Strategi Nafkah MDH

Sumberdaya hutan, berupa tanah dan hasil hutan, merupakan sumberdaya yang menjadi sumber nafkah MDH. Pemberian akses lahan hutan secara legal formal merupakan cara agar sumberdaya hutan dapat digunakan sebagai sumber nafkah oleh rumahtangga di desa-desa sekitar hutan.

Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya penting bagi Perhutani. Bagi Perhutani, wilayah hutan di bawah pengelolaan Perhutani adalah aset utama yang menandai eksistensi Perhutani sebagai perusahaan negara yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan hutan. Sebagai suatu perusahaan umum, Perhutani memiliki target produksi yang harus dipenuhi. Lahan hutan merupakan input produksi dasar bagi kelangsungan Perhutani sebagai suatu perusahaan umum.

Bagi pemerintah daerah, faktor terpenting dari pelaksanaan PHBM adalah penyelesaian masalah kemiskinan desa dalam wilayah pemerintahan daerah dan peningkatan pendapatan daerah20. Pemberian akses sumberdaya hutan merupakan upaya untuk meningkatkan pendapatan dan mengatasi masalah kekurangan lahan MDH.

PHBM dirancang untuk mengatur aktivitas nafkah MDH dan Perhutani yang berkaitan dengan satu sumber nafkah yaitu sumberdaya hutan. PHBM merupakan suatu bentuk institusionalisasi dari apa yang diinginkan oleh MDH dan Perhutani serta apa yang ditentang oleh MDH dan Perhutani. PHBM merupakan institusionalisasi nilai-nilai yang menga tur penggunaan sumberdaya hutan oleh MDH atau Perhutani.

PHBM mengatur luas lahan yang dapat diakses, cara pengelolaan dan cara bagi hasil. Forum PHBM merupakan organisasi yang dibentuk untuk mengatur hubungan antara penggarap lahan hutan, Perhutani, Pemerintah Daerah dan LSM. Forum PHBM mengatur pengambilan keputusan yang mempengaruhi tindakan pengelolaan lahan hutan.

20

Kelembagaan ini mengatur tentang keuntungan (reward) dan kerugian (cost) yang akan diterima dalam pelaksanaan PHBM. Reward yang diberikan berupa akses pengelolaan lahan dan akses bagi hasil. Bagi perhutani reward berupa keamanan lahan dari penjarahan dan tenaga penggarap. Perhutani mengorbankan 1200,46 Ha lahan untuk dikelola MDH, kekuasaan untuk menentukan kebijakan pengelolaan hutan di lahan hutan pangkuan, kompromi atas jenis tanaman serta bagi hasil dan bibit yang akan ditanam penggarap. Penggarap mengorbankan tenaga kerja, waktu kerja serta bibit yang akan ditanam dan mendapatkan akses lahan dan hasil lahan.

Kelembagaan itu ditetapka n dalam sebuah asosiasi yang disebut Nota Kesepahaman, NKB dan NPK. NKB merupakan bentuk dari kesepakatan pengelolaan hutan yang ditandatangani oleh Perhutani dan pemerintah daerah atau MDH. Nota Kesepahaman menunjukkan kesepakatan antara Direktur Utama Perum Perhutani dengan Bupati Kuningan tentang bentuk pengelolaan hutan yang akan dijalankan di wilayah hutan Kuningan21. Setelah Nota Kesepahaman ditandatangani, dirumuskan pola pelaksanaan PHBM melalui loka karya yang diikuti oleh pemerintah daerah, Perhutani, LSM dan perwakilan MDH. Lokakarya menghasilkan garis besar cara pelaksanaan PHBM22. Hasil lokakarya ini diterjemahkan di tingkat desa melalui penandatanganan NKB. NKB berisi luasan lahan yang menjadi wilayah pangkuan desa, dan garis besar teknis dan kelembagaan pengelolaan lahan23. Bentuk teknis dari NKB dijelaskan dalam NPK. NPK sekaligus merupakan pengesahan pengelolaan lahan hutan oleh MDH. Organisasi yang dibentuk untuk mengatur jalannya PHBM disebut Forum PHBM yang dibuat berjenjang dari tingkat desa, kecamatan, sampai kabupaten. Forum PHBM dibentuk atas dasar anggapan bahwa pelaksanaan PHBM dapat berhasil jika dilakukan secara kolaboratif oleh aktor -aktor yang terlibat dalam PHBM. Perhutani dan pemerintah daerah memiliki birokrasi yang membagi wilayah hutan sebagai wilayah kekuasaan tertentu. Forum PHBM dirancang untuk

21 Nota Kesepahaman antara Bupati Kuningan dengan Perum Perhutani, Kuni ngan, 1 Mei 2001

22 Program Strategis PHBM Kuningan, Hasil Lokakarya Langkah-langkah dan Rencana Strategis Implementasi PHBM Kuningan 3-5 April 2001 di Hotel Grage Sangkan Spa, Kuningan-Jawa Barat

23

Nota Kesepakatan Bersama antara Perum Perhutani dengan pem erintah Desa Padabeunghar Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, 7 Januari 2003

dapat mengalirkan informasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi dalam pengelolaan lahan hutan.

Berdasarkan tujuannya, Forum PHBM dibentuk untuk:

“Membangun kesepakatan dan menjalin komitmen yang telah disepakati, koordinasi, pemecahan/penyelesaian masalah yang timbul, membantu proses negosiasi/menemukan titik kompromi sebelum proses hukum, integralisasi program, monitoring dan evaluasi24”.

Setiap aturan yang mengatur pelaksanaan PHBM ditetapkan dalam Forum PHBM. Forum PHBM di tingkat desa merupakan organisasi tertinggi yang memutuskan kelembagaan PHBM di desa.

Forum PHBM merupakan kelembagaan yang dibentuk untuk melaksanakan PHBM. Forum PHBM bertugas untuk membangun kesepakatan dan menjalani komitmen yang telah disepakati, koordinasi, pemecahan/ penyelesaian masalah yang timbul, membantu proses negosiasi/menemukan titik kompromi sebelum proses hukum, integralisasi program, monitoring dan evaluasi (Pokok-pokok PHBM di Kabupaten Kuningan, 2001). Forum PHBM dibuat di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Kepala pemerintahan daerah menjadi penanggung jawab dalam struktur Forum PHBM.

Di bawah Forum PHBM terdapat KTH (Kelompok Tani Hutan). KTH berfungsi sebagai perencana dan pelaksana di tingkat petak atau istilah masyarakat Desa Padabeunghar, blok. KTH, pemerintah desa dan Forum PHBM diharapkan dapat bersama -sama dengan pihak swasta, pemerintah kabupaten LSM dan koperasi membangun pengelolaan hutan yang lestari dan masyarakat sejahtera.

KTH merupakan organisasi yang memiliki tanggungjawab pengelolaan lahan hutan di wilayah kelola yang telah disepakati dalam Forum PHBM. KTH biasanya meliputi satu petak dalam wilayah pangkuan desa. KTH membuat perjanjian mengenai pelaksanaan penggarapan lahan dengan Perhutani yang diwujudkan dalam bentuk NPK. Ketua KTH mendata penggarap yang menjadi anggota KTH, mengatur luas lahan garapan setiap anggota, dan bertanggungjawab pada pelaksanaan penggarapan lahan.

24

Pokok-pokok pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) di Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kabupaten Kuningan, 2001

Sampai saat ini Forum PHBM di Desa Padabeunghar masih bersifat sebagai penerus kegiatan yang disosialisasikan LSM, Perhutani atau Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) kepada masyarakat Desa Padabeunghar. Pertemuan yang secara resmi dilakukan sendiri dengan prakarsa penggarap peserta PHBM sulit dilakukan meskipun telah diprakarsai oleh LSM KANOPI. Pertentangan antar anggota dan antar ketua KTH di dalam Forum PHBM menunjukkan forum PHBM sebagai lembaga resmi yang dibangun untuk koordinasi pengelolaan hutan belum dianggap sebagai kelembagaan yang mampu mengatur perilaku masyarakat desa hutan dalam mengelola hutan.

Forum PHBM ada pada tingkat desa, kecamatan dan Kabupaten. Ini menunjukkan aktivitas nafkah rumahtangga di desa terkait dengan struktur luar desa. Ada pihak di luar MDH yang mempengaruhi pilihan strategi nafkah MDH. Pengaruh struktur supra desa, Perhutani, pemerintah daerah dan LSM, merupakan ikatan sosial yang terbentuk karena pelaksanaan PHBM.

Ikatan dengan Perhutani merupakan ikatan transaksional antara perusahaan yang memiliki kekua saan atas lahan dan MDH yang memiliki keinginan untuk menggarap. Batasan ikatan sosial antara MDH dan Perhutani ditetapkan dengan jelas dalam bentuk perjanjian yang mengikat secara hukum. Modal yang diberikan Perhutani, baik berupa lahan, bibit, studi banding, pelatihan, informasi, jaminan keselamatan kerja maupun bantuan dalam penanaman harus dikembalikan dalam bentuk tanggung-jawab pemeliharaan tanaman, keamanan tanaman dan bagi hasil tanaman. Perhutani merupakan lembaga yang dapat dihubungi MDH untuk kepentingan-kepentingan legal formal. Aktivitas nafkah apapun yang dilakukan MDH di lahan hutan hanya bersifat legal jika telah disahkan melalui perjanjian tertulis dengan Perhutani.

Ikatan dengan pemerintah daerah merupakan ikatan administratif dan kontrol. Secara administratif MDH merupakan warga Kabupaten Kuningan. Pemerintah daerah memiliki kepentingan pada kesejahteraan ekonomi MDH dan tanggungjawab menjaga kelestarian hutan25. Kepentingan pemerintah daerah itu ditunjukkan dengan pembentukan kelembagaan dan alokasi anggaran daerah untuk pelaksanaan PHBM.

25

Arifin Setiamihadja, Bupati Kuningan, menjabat sebagai bupati tahun 1998-2003, 2003; Sanusi Wijaya, Staf Ahli Bapeda, Ketua LPI PHBM kabupaten Kuningan, 2003

Pemerintah Daerah Kuningan menyediakan anggaran khusus untuk pelaksanaan PHBM. Anggaran ini diberikan pada masa pemerintahan Bupati Arifin Setiamihardja sejumlah Rp. 700.000.000,- untuk penguatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat. Selain dalam bentuk kelembagaan pendukung PHBM, pemerintah daerah memberikan bantuan dalam bentuk bibit tanaman, informasi tentang PHBM dan pelatihan peningkatan keterampilan MDH peserta PHBM.

LSM merupakan lembaga yang me mberi advokasi pada saat pembentukan kelembagaan dan pendampingan pada saat pelaksanaan. LSM merupakan satu-satunya lembaga yang secara intensif melakukan pendampingan pada desa-desa PHBM. LSM memberikan informasi dan bibit tanaman yang memiliki peluang pasar, menyelenggarakan pelatihan pengolahan hasil hutan untuk menghasilkan produk yang dapat dipasarkan, studi banding ke daerah pelaksana PHBM yang lain, dan melakukan kunjungan rutin setiap minggu pada desa-desa tertentu.

Ikatan-ikatan dengan ketiga aktor ini dianggap perlu agar MDH dapat melakukan kegiatan pertanian yang diharapkan dalam PHBM. Jika MDH memiliki ikatan yang kuat dengan Perhutani, Pemerintah daerah dan LSM dan sebaliknya, maka aktivitas nafkah MDH di hutan dapat mewujudkan kesejahteraan MDH dan kelestarian hutan26.

MDH merupakan tenaga kerja utama dalam PHBM27. MDH berperan

sebagai petani penggarap yang menggarap lahan sesuai aturan untuk mendapatkan bagi hasil. Penggarap anggota KTH melakukan pembibitan, pengolahan tanah dan penanaman pohon.

Kriteria MDH tidak ditentukan secara khusus. MDH adalah masyarakat desa yang berada di sekitar hutan28. Jadi, penggarapan hutan dapat dilakukan oleh siapa saja yang menjadi warga desa yang mengikuti program PHBM dan disetujui oleh Forum PHBM. Penggarap lahan hutan dapat seorang petani penggarap atau

26 Program Strategis PHBM Kuningan, Hasil Lokakarya Langkah-langkah dan Rencana Strategis Implementasi PHBM Kuningan 3-5 April 2001 di Hotel Grage Sangkan Spa, Kuningan-Jawa Barat

27 Prinsip dan Nilai PHBM Kuningan, dalam Program Strategis PHBM Kuningan, Hasil Lokakarya Langkah-langkah dan Rencana Strategis Implementasi PHBM Kuningan 3-5 April 2001 di Hotel Grage Sangkan Spa, Kuningan-Jawa Barat

28

Pokok-pokok pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) di Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kabupaten Kuningan, 2001

petani pemilik atau orang yang memiliki pekerjaan di luar pertanian yang ingin menggarap lahan hutan dan mau mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menggarap hutan. Alokasi waktu dan tenaga kerja diperlukan untuk menggarap hutan.

Akses lahan hutan dicatat atas nama petani penggarap secara perseorangan, bukan dalam rumahtangga atau kelompok. Petani penggarap dapat berasal dari rumahtangga yang berbeda atau berasal dari rumahtangga yang sama. Ini membuka peluang satu rumahtangga mendapatkan beberapa lahan garapan.

Pekerjaan menggarap hutan membutuhkan ketarampilan dan tenaga buruh tani. Keterampilan buruh tani tidak memerlukan keterampilan khusus dan telah biasa dilakukan oleh petani penggarap atau pemilik. Keterampilan khusus diperlukan untuk kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman pinus, jarak tanam dan pengolahan hasil tanaman.

MDH tidak mendapat dana PHBM dalam bentuk uang tunai. Sebenarnya, MDH memiliki hak untuk mendapatkan dana pembinaan desa hutan dari Perhutani. Dana tersebut diberikan bertahap pada setiap desa hutan dalam jumlah yang ditentukan oleh Perhutani29. Namun tidak ada kepastian dari Perhutani tentang nama desa, jumlah uang dan waktu pemberian uang.

MDH berhak memperoleh hak garap lahan garapan PHBM setelah ditetapkan oleh Peraturan Desa (Perdes). Hak garap ini dapat dipindah-tangankan atau diwariskan kepada penggarap lain. Pengalihan hak garap disahkan oleh Forum PHBM dan ditetapkan oleh Perdes. Peraturan ini merupakan jaminan keamanan (security) dan ketentuan (certainty) hak garap dan hak mendapat bagi hasil bagi penggarap. Jaminan ketentuan dan keamanan penting untuk menjamin bahwa penggarapan lahan yang dilakukan penggarap akan mendatangkan hasil yang dapat dipetik penggarap (Weber, 1968).

Aktivitas nafkah yang diijinkan dalam lahan yang diperoleh dari PHBM adalah kegiatan menanam, memelihara dan memetik tanaman yang diperuntukkan untuk penggarap30. Aktivitas pengelolaan sumberdaya hutan yang lain diijinkan

29 Wawancara dengan Wibowo Djatmiko, pendiri LSM LATIN, 6 Juli 2005

30

Nota Perjanjian Kerjasama (NPK) antara Perum Perhutani KPH Kuningan dengan Kelomp ok Tani Hutan (KTH) Batukuda, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, tentang pengelolaan tegakan dan tanaman pinus pada petak 5a di hutan negara yang

setelah disepakati dan ditetapkan dalam NPK. Pengelolaan lahan di luar NPK merupakan faktor kritis yang dapat digunakan baik oleh Perhutani maupun MDH untuk mengajukan pembatalan NPK. Menggali pasir dan batu untuk bahan bangunan, menggembalakan kerbau di lahan Perhutani, dan mengambil kayu bakar di lahan Perhutani merupakan kegiatan MDH yang tidak disepakati dalam NPK. Perhutani pun tidak dapat melakukan pemenanaman daerah hutan pangkuan tanpa persetujuan Forum PHBM desa.

MDH dan Perhutani tidak dapat menanam tanaman lain di luar tanaman yang telah ditetapkan dalam NPK atau mengubah jarak tanam. Jika MDH memiliki keinginan untuk menanam tanaman lain yang dianggap menguntungkan oleh MDH, maka MDH harus mengajukan keinginannya pada Forum PHBM. Jika tidak, MDH dianggap melanggar NPK. Hal yang sama berlaku bagi Perhutani.

Akses lahan hutan merupakan peluang bagi MDH untuk mendapatkan pendapatan dalam bentuk bagi hasil tanaman, pendapatan dari pengolahan hasil hutan, dan dampak dari kelestarian hutan. Bagi hasil tanaman pada petak 5a dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Bagi Hasil antara Perhutani dan MDH No. Pihak yang Mendapat Sharing Hasil Jenis Tanaman

Pokok (Pinus) (%) Tanaman Tahunan (%) Tanaman Nenas (%)

1 PIHAK PERTAMA (Perhutani) 75 20 20

2 PIHAK KEDUA (petani KTH) 20 75 75

3 Pemerintah Desa Padabeunghar 2,5 2,5 2,5

4 Forum PHBM Desa Padabeunghar 1,5 1,5 1,5

5 Kegiatan Sosial 1 1 1

Sumber: NPK antara petani Desa Padabeunghar dan Perhutani, 200331

Hasil hutan diharapkan bukan hanya dalam bentuk barang menta h. PHBM diharapkan dapat menjadi pemicu pertumbuhan industri pengolahan hasil hutan

turut wilayah administratif Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuninga n, 11 Januari, 2003.

31 Nota Perjanjian Kerjasama (NPK) antara Perum Perhutani KPH Kuningan dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Batukuda, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, tentang pengelolaan tegakan dan tanaman pinus pada petak 5a di hutan negara yang turut wilayah administratif Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, 11 Januari, 2003.

rumahtangga. Upaya mendapatkan hasil hutan harus disertai dengan upaya menjaga tegakan pohon. Tegakan pohon yang terpelihara mendatangkan pendapatan dalam bentuk kenaikan debit mata air, udara bersih dan potensi wisata hutan.

Berdasarkan uraian di atas, lahan hutan yang semula dikuasai oleh Perhutani dapat diakses oleh MDH melalui PHBM. Akses lahan hutan bukan merupakan akses cuma -cuma, setelah diperoleh dapat digunakan sesuai keinginan MDH, tetapi akses mengikat yang dapat digunakan berdasarkan kesepakatan. Aktifitas nafkah di lahan PHBM merupakan aktivitas nafkah pertanian dengan jenis tanaman dan bentuk pengelolaan yang telah ditentukan melalui kesepakatan bersama. PHBM memberi kebebasan bagi MDH untuk mengajukan bentuk pengelolaan lahan yang dapat diakses, namun bentuk pengelolaan lahan ditentukan oleh kesepakatan antara MDH dengan Perhutani.