• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Sosial Masyarakat

VI. PROFIL SOSIAL EKONOMI DESA PADABEUNGHAR

4.5 Penduduk Desa Padabeunghar

4.4.2 Struktur Sosial Masyarakat

Setiap kali ditanya tentang pelapisan sosial, informan selalu akan menjawab tidak ada perbedaan yang mencolok diantara warga Desa Padabeunghar, semua warga dianggap rata-rata. Berdasarkan informasi yang tersirat, ada tiga hal yang menjadi dasar penghargaan dalam masyarakat Desa Padabeunghar, (1) penghargaan yang diberikan berdasarkan pemilikan barang, (2) penghargaan yang diberikan berdasarkan pekerjaan, dan (3) penghargaan yang diberikan berdasarkan pendidikan formal atau informal yang dimiliki. Warga akan dianggap mampu jika telah mampu mengganti lantai rumah dengan kramik, memiliki kebon dan sawah yang luas, memiliki kendaraan bermotor terutama mobil, memiliki rumah yang bagus atau peralatan elektronik. Kemampuan menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi atau kemampuan ilmu agama menempatkan seseorang pada kelas sosial yang tinggi. Tabel 1 menunjukkan aset yang dimiliki rumahtangga dan dasar pembentukan stratifikasi dalam masyarakat.

Tabel 2 . Jenis Barang dan Dasar Penghargaan di Masyarakat

Aset Dasar penghargaan

Rumah Ukuran, model, bahan pembuatan

Kendaraan Jenis, penggunaan

Tanah Luas tanah, kelas tanah

Pendidikan formal Tingkat pendidikan

Pekerjaan Pangkat, pendapatan

Barang elektronik Jenis, ukuran, merk

Hewan ternak Jenis, jumlah

Perabotan rumah Model, harga

Lantai kramik Model

Pendidikan agama Tingkat kemampuan agama Sumber: Diolah dari data primer , 2005

Urutan dalam tabel menunjukkan urutan aset yang dapat meningkatkan status sosial dalam masyarakat. Pemilikan berbagai aset meningkatkan status sosial seseorang. Dua orang yang memiliki aset yang sama tidak selalu ditempatkan pada kelas sosial yang sama. Dasar penghargaan atas pemilikan suatu aset mene ntukan kelas sosial seseorang. Haji43 Sukanta dianggap kaya karena

43

Nama Haji Sukanta bukan berarti Pak Sukanta telah dengan sengaja pergi ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Haji Sukanta disebut haji karena telah bekerja di Arab Saudi sebagai

memiliki 22 tempat sawah dan kebon namun Bos Enon dianggap lebih kaya dari haji Sukanta karena mobil yang dimilikinya tidak dipakai untuk angkutan (‘diomprengkeun”)44. Padahal, Haji Sukanta merupakan pemilik sawah dan kebon terbanyak di Desa Padabeunghar. Ini menunjukkan penghargaan atas pemilikan mobil lebih besar dari pada penghargaan atas pemilikan tanah.

Pekerjaan yang dimiliki oleh anggota rumahtangga merupakan hal yang dihargai oleh masyarakat Desa Padabeunghar. Seseorang yang memiliki pangkat atau kedudukan akan dihargai lebih dari pada seseorang yang tidak memiliki pangkat dan kedudukan. Pekerjaan di luar pertanian dihargai lebih tinggi dari pada pekerjaan di pertanian (menggarap lahan). Ini menyebabkan rumahtangga petani berusaha keras agar anaknya mendapatkan pekerjaan di luar pertanian dengan pangkat atau kedudukan yang baik. Sampai saat ini, pegawai negeri masih menjadi pilihan utama. Selain pangkat atau kedudukan hal yang dihargai dari pekerjaan seseorang adalah penghasilan yang diperoleh. Pak Sud, seorang

supplier tenaga kerja bangunan dihargai oleh tetangganya karena dianggap

memiliki penghasilan tinggi.

Lantai rumah yang telah dipasang kramik selalu disebut sebagai lambang bahwa orang tersebut telah mampu. Pemeluran lantai rumah tidak dijadikan ukuran bahwa seseorang telah mampu karena pemeluran lantai dilakukan melalui program bantuan pemerintah. Lantai kramik menunjukkan seseorang telah mampu lebih dari memelur lantai rumah. Lantai kramik pun bertahap, lantai kramik yang lebih besar, lebih baru motifnya akan menjadikan pemilik rumah dianggap lebih mampu.

Kemampuan menyekolahkan anak dianggap memiliki nilai. Sekolah yang dianggap tinggi adalah perguruan tinggi. Penduduk yang sekolah sampai Strata 2 (S2) hanya suami dari BS , Pak NS seorang guru SMP di SMPN Mandirancan. Pak NS bukan penduduk asli Desa Padabeunghar, ia berada di Desa Padabeunghar karena tinggal di rumah dinas bidan desa.

TKI. Menurut Ceu Mm, gelar haji sering diberikan pada laki-laki yang pernah bekerja di Arab Saudi. Perempuan yang bekerja di Arab Saudi atau perempuan dan laki-laki yang bekerja di luar negeri di luar Arab Saudi tidak mendapat sebutan Hajjah atau Haji (Wawancara dengan Ceu Mm tanggal 3 Maret 2005.

44

Wawancara dengan Pak Kd, 10 Maret 2005 dan dengan Pak Bd, Pak Suh dan Bu Yy, tangga l 18 Maret 2005.

Pendidikan agama juga dihargai oleh masyarakat di Desa Padabeunghar. Agama tidak kental mewarnai kehidupan masyarakat Desa Padabeunghar. Masyarakat masih dipengaruhi kepercayaan pada hal-hal gaib45. Pergeseran kepercayaan dari hal-hal gaib pada agama Islam menempatkan orang-orang yang mengetahui agama pada ststus sosial yang tinggi. Pengetahuan agama yang dihargai adalah kemampuan membaca Al-Quran, kemampuan ceramah agama dan kemampuan menjadi imam mesjid.

4.4.3 Rumahtangga Petani di Desa Padabeunghar

Satuan rumahtangga yang dikenal oleh pemerintah Desa Padabeunghar adalah Kepala Keluarga (KK). KK adalah orang yang dianggap bertanggungjawab dalam keluarga. KK biasanya adalah laki-laki, suami atau ayah pencari nafkah utama. Seorang laki-laki yang telah menikah otomatis akan dianggap sebagai KK. KK perempuan hanya dianggap ada jika keluarga tersebut sudah tidak memiliki ayah atau suami karena proses perceraian atau kematian46.

Beberapa KK dapat tinggal dalam satu rumah. Orang tua dapat tinggal bersama di rumah anah yang telah menikah. Anak laki-laki dan perempuan yang belum memiliki tempat tinggal sendiri akan hidup menumpang dengan orang tua laki-laki atau perempuan. Tidak ada aturan khusus mengenai tempat tinggal anak yang telah menikah ini, pilihan untuk tinggal dengan orang tua laki-laki dan perempuan ditentukan ole h kesediaan pasangan, kesediaan orang tua, dan kemampuan ekonomi orang tua yang akan ditempati.

Beberapa KK yang tinggal dalam satu rumah masih memiliki keterkaitan dalam konsumsi rumahtangga. Kebutuhan makan, air bersih, penerangan, sabun cuci atau mandi KK anak diperoleh KK orang tua. KK anak hanya membeli sabun mandi sekali-kali dan memenuhi kebutuhan jajan anak. Aliran bantuan seperti ini terjadi pada rumahtangga dengan KK orang tua yang dianggap “baik’, tidak semua pasangan yang baru menikah mendapatkan kesempatan makan di

45

Wawancara dengan Pak Jj, Kaur Kemasyrakatan di Desa padabeunghar, 04 Maret 2005

46

tempatnya menumpang, beberapa KK anak yang tinggal bersama KK orang tua harus memasak nasi dan lauk-pauk sendiri47.

KK yang tinggal dalam satu rumah melakukan pembagian kerja bersama. Ibu dalam rumahtangga (perempuan pemilik rumah) memasak nasi dan lauk pauk untuk seluruh anggota rumahtangga (KK orang tua ditambah KK anak). Anak perempuan atau menantu perempuan membantu mencuci pakaian, membersihkan rumah dan mengasuh anak. Pengasuhan anak kadang dilakukan oleh orang tua perempuan, anak yang lain, atau orang tua laki-laki. Anak laki-laki atau menantu laki-laki mengerjakan pekerjaan yang menjadi sumber pendapatan utamanya. Anak laki-laki atau menantu laki-laki akan membantu pekerjaan di sawah atau di lahan garapan orang tua di antara pekerjaan utamanya.

Pendapatan diatur dalam KK. Pendapatan yang diperoleh suami akan diberikan kepada istri. Pembagian pendapatan antar KK dilakukan dalam bentuk peminjaman atau pemberian uang dari KK anak pada KK orang tua atau bantuan bahan pembuatan rumah dari KK orang tua pada KK anak. Bantuan pembangunan rumah selalu dilakukan orang tua di Desa Padabeunghar. KK anak merupakan pihak yang secara aktif menabung untuk mengumpulkan keperluan pembangunan rumah, namun, bantuan KK orang tua merupakan faktor penting keberhasilan pembangunan rumah anak di Desa Padabeunghar. KK orang tua juga dapat mengharapkan perawatan dan jaminan konsumsi hari tua saat sudah tidak dapat menjalankan usaha pertanian.

Selain warisan dalam bentuk barang, secara alami KK orang tua mewariskan hubungan persaudaraan untuk anak. Hubungan baik dengan tetangga juga merupakan sesuatu yang dibangun KK orang tua atau pun KK anak yang hasilnya dapat dinikmati oleh KK anak atau KK orang tua yang tidak membangun hubungan. Hubungan persaudaraan dan hubungan baik dengan tetangga merupakan bagian yang sangat penting dalam strategi nafkah petani di Desa Padabeunghar48.

47 Wawancara dengan Ceu Im yang masih tinggal di rumah mertua dan Ceu Mm yang masih tinggal bersama orang tua, 10 Maret 2005

48

Pembahasan mengenai ikatan-katan dalam komunitas dapat diamati pada bagian strategi nafkah rumahtangga petani.

KK Anak atau KK orang tua juga memberikan status dalam masyarakat. Status sosial ekonomi KK anak atau KK orang tua mempengaruhi status KK anak atau KK orang tua. Pemilikan aset KK anak memberi kebanggaan pada KK orang tua. Pemilikan aset KK orang tua memberi kebanggaan dan kesempatan untuk mendapatkan manfaat bagi KK anak.

Aliran pengaruh antara KK anak dan KK orang tua dapat diamati pada gambar berikut:

Sumber: Diolah dari data penelitian, 2005

Gambar 4. Aliran Sumberdaya dalam Rumahtangga yang Berisi KK Orang Tua dan KK Anak

Berdasarkan uraian tersebut, KK bukan gambaran sebuah rumahtangga. Beberapa KK yang masih tinggal dalam satu rumah merupakan satu unit ekonomi yang memperoleh pendapatan, mengalokasikan pendapatan dan memenuhi kebutuhan hidup bersama. Orang-orang yang tinggal dalam satu rumah masih memiliki ketergantungan sosial dalam hubungan-hubungan di masyarakat. Antar KK memiliki perbedaan orientasi ekonomi, sumber nafkah dan alokasi pendapatan. Beberapa KK merupakan rumahtangga selama masih tinggal dalam satu rumah. Lingkup tempat tinggal dalam satu rumah menunjukkan kesatuan ekonomi yang memberikan jaminan pemuasan kebutuhan, jaminan sosial, dan keamanan sosial bagi anggota rumahtangga.

KK orang tua

KK anak Konsumsi, tempat tinggal, pengasuhan anak, bantuan pembuatan rumah, warisan, hubungan

baik dengan tetangga, hubungan baik dengan saudara, status di masyarakat

Kiriman uang, tenaga kerja, jaminan hari tua, hubungan baik dengan tetangga, hubungan baik dengan saudara, status di

masyarakat

Satu Rumah

4.4 .4 Struktur pemilikan dan Penggunaan Lahan

Lahan memiliki peranan penting dalam rumahtangga petani Desa Padabeunghar. Peran tersebut baru terasa jika ada akses milik atau akses manfaat. Akses milik dan manfaat lahan diatur oleh sistem kepemilikan lahan yang ada dan dibangun oleh masyarakat, negara dan pihak lain yang terkait dengan lahan tersebut.

Pemilikan lahan di Desa Padabeunghar dapat dibagi menjadi tiga, lahan milik pribadi, lahan milik pemerintah desa untuk peruntukan desa, dan lahan milik pemerintah desa yang dikelola oleh petani. Struktur pemilikan lahan di Desa Padabeunghar dapat diamati pada tabel berikut:

Tabel 3. Jenis Lahan dan Struktur Pemilikan Lahan di Desa Padabeunghar

Jenis lahan

Pemilik Penggarap Pengalihan akses

Sawah Petani Petani Pemjualan/penyewaan/pewarisan/ pengolahan oleh orang lain

Kebon Petani Petani Penjualan/pewarisan Lahan

hutan

Perhutani Perhutani/petani NKB/NPK/pengalihan antar penggarap/pewarisan Lahan kebun karet Pengusaha pemegang HGU

Pengusaha/petani Pengalihan antar penggarap/pewarisan

Bengkok Pemerintah desa Pemerintah desa/penyewa Peralihan jabatan/penyewaan Iasa/titi-sara Pemerintah desa Pemerintah desa/petani

Perijinan dari pemerintah desa Sumber: D iolah dari data primer , 2005

Sawah dan kebon merupakan lahan milik pribadi atau pemerintah desa yang berhubungan dengan sistem pemilikan tanah negara. Kedaulatan negara ditunjukkan oleh Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayar oleh pemilik sawah atau kebon setiap tahun. Keterikatan dengan hukum negara menyebabkan lahan milik pribadi pun tidak dapat dialih-fungsikan begitu saja sesuai dengan keinginan pemilik. Lahan sawah tidak dapat dialihfungsikan menjadi kebon , dan sebaliknya. Pengalihfungsian lahan harus melalui perijinan dengan negara pemilik PBB.

Berdasarkan tempat, sawah di Desa Padabeunghar dapat dikelompokkan menjadi sawah yang berdekatan dengan mata air dan sawah yang berjauhan dengan mata air. Kedua jenis sawah ini berbeda dalam produktifitas pada musim kemarau dan musim hujan. Sawah yang letaknya berdekatan dengan mata air menghasilkan padi yang lebih baik pada musim kemarau. Sedangkan sawah yang letaknya berjauhan dengan mata air bisa sampai tidak panen di musim kemarau.

Sawah dapat dialihkan penggarapannya kepada orang lain melalui penjualan dan penyewaan. Penjualan sawah hanya dilakukan jika ada keperluan uang yang sangat mendesak. Petani yang tidak memiliki sawah dapat menggarap sawah orang lain melalui penyewaan atau penggarapan melalui sistem “maron”.

Kebon hanya akan beralih penggarap melalui penjualan dan pewarisan.

Pemilikan sawah berkisar antara tidak memiliki sama sekali sampai 22 tempat yang terdiri dari sawah dan kebon. Haji Sukanta, pemilik tanah terbanyak memiliki 22 tempat sawah dan kebon. Responden yang diwawancarai rata -rata memiliki 1,25 bau sawah. Sawah menghasilkan padi yang digunakan sebagai konsumsi utama masyarakat Desa Padabeunghar. Sawah di Desa Padabeunghar hanya akan ditanami padi. Petani tidak menanam tanaman palawija di antara musim tanam padi. Tanaman palawija ditanam di lahan garapan. Produksi gabah kering per 1,25 bau adalah 5-7 kuintal. Sawah dapat dipanen tiga kali dalam satu tahun pada saat hutan Prhutani dan kebun karet masih hijau. Setelah hutan gundul, debit air yang dihasilkan mata air berkurang. Sekarang, sawah hanya dapat dipanen dua kali dalam satu tahun.

Tanah milik pemerintah desa dikenal dengan nama tanah titisara , iasa dan tanah bengkok. Tanah bengkok merupakan tanah pemerintah yang diberikan pada

pamong desa sebagai gaji. Tanah bengkok dikelola dan diambil hasilnya selama

orang tersebut menjabat sebagai pamong desa. Tanah bengkok dapat pula disewakan kepada orang lain selama masa kerja pamong desa masih berlaku. Menurut BE, tanah bengkok di Desa Padabeunghar paling kecil dibandingkan dengan desa-desa lain di Kecamatan Pasawahan. Sebagai perbandingan, PK hanya mendapatkan tiga bau tanah bengkok , sedangkan Kepala Desa Pasawahan mendapatkan lima bau. Kualitas tanah bengkok di Desa Padabeunghar juga tidak

bagus, lebih banyak hanya dapat ditanam satu kali dalam setahun karena tidak cukup air untuk menanam padi.

Jika tanah bengkok ada dalam bentuk sawah, tanah titisara dan tanah iasa ada dalam bentuk sawah, kebon dan pekarangan. Berbeda dengan tanah bengkok yang khusus dikelola oleh pamong desa, tanah iasa dan titisara dapat dikelola oleh petani dengan ijin pemerintah desa. Tanah titisara dan iasa juga dipergunakan untuk sarana umum seperti balai desa, bangunan sekolah dasar, Puskesmas dan kuburan.

Desa Padabeunghar juga memliki akses terhadap lahan kebun karet dan lahan hutan Perhutani. Sejak kebun karet dibuka, lahan kebun karet dimanfaatkan petani untuk ladang. Tidak ada aturan khusus mengenai pemilikan lahan garapan di lahan kebun karet. Petani sadar bahwa lahan kebun karet dimiliki oleh pengusaha pemegang HGU, mereka hanya sementara menggarap. Luasan lahan olahan ditentukan oleh kesepakatan diantara petani dan siapa petani yang mengolah lahan terlebih dahulu. Pengalihan pengolahan lahan cukup dengan pembicaraan antara petani dan diketahui oleh petani lain atau pamong desa.

Lahan hutan sebanarnya memiliki aturan hak pengelolaan lahan yang lebih teratur. NKB menetapkan luas lahan garapan dan petani-petani yang berhak menggarap lahan serta bagaimana cara menggarap lahan. Namun kenyataannya, petani menggunakan cara penggarapan yang sama dengan lahan kebun karet. Penggarap yang tertulis di NKB belum tentu merupakan penggarap yang sebenarnya di petak yang telah ditentukan. sebagian besar petani menggarap lahan sesaui dengan NKB, ini karena data petani yang dimasukkan ke dalam NKB adalah data petani yang sejak semula telah memiliki lahan garapan di petak tersebut. Luas lahan garapan yang telah ditentuka n juga tidak selalu ditepati. Petani lebih memilih mengatur penggarapan lahan dengan aturan siapa yang sempat dan siapa yang dapat, siapa yang sempat menggarap dan siapa yang dapat menggarap.

Pengalihan hak menggarap lahan hutan sama dengan lahan garapan kebun karet. Pengalihan hak menggarap dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak yang diketahui pamong desa. Cara ini tidak sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh Perhutani. Menurut peraturan PHBM, pengolahan lahan hutan harus

mengikuti aturan yang te lah ditetapkan dalam NKB dan NPK. Penggarap pada suatu petak telah ditetapkan, tidak dapat diganti. Peralihan lahan garapan harus ditetapkan dalam rapat Forum PHBM dan disahkan oleh Perdes (Perdes). Kenyataannya, petani masih menggunakan pola penggarapan sebelum ada PHBM. Forum PHBM dan Perdes tidak dapat menjalankan fungsinya. Perdes ini sebetulnya melindungi hak garapan lahan petani sampai ketika penggarap tersebut meninggal, sama seperti girik pada lahan milik pribadi.

Struktur pemilikan lahan ini menunjukkan pengaruh struktur di luar desa terhadap akses lahan petani. Struktur luar desa terutama berpengaruh pada akses sumberdaya hutan dan lahan kebun karet. Pengaruh struktur luar desa juga tampak pada pembayaran pajak pada tanah hak miliki dan peruntukan tanah yang telah ditetapkan dalam pajak.

Meskipun dianggap berat, mengelola sawah tetap diinginkan petani Desa Padabeunghar. Sawah menghasilkan padi, suatu komoditas penting bagi rumahtangga petani Desa Padabeunghar. Masyarakat Desa Padabeunghar menempatkan kebutuhan beras sebagai kebutuhan nomor satu dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan-kegiatan besar dalam kehidupan masyarakat Desa Padabeunghar. Prinsip “asal gaduh beas” (asal punya beras), melekat pada penyediaan beras dalam setiap kegiatan masyara kat Desa Padabeunghar. Pembangunan rumah, hajatan , dan makan sehari-hari menempatkan beras sebagai kebutuhan utama.

Kebon ditanami tanaman yang dimiliki petani atau diberikan oleh

Pemerintah daerah, Perhutani atau LSM. Hasil kebon digunakan untuk menambah pendapatan rumahtangga dan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi. Kebon berguna sebagai tambahan penghasilan rumahtangga. Kebon merupakan suatu sumber pendapatan yang dapat memberikan uang dalam jumlah besar setiap tahun. Satu batang pohon durian dapat menghasilkan uang ratusan ribu. Durian dari pohon dihargai Rp. 2000,- sampai Rp. 30.000,- per buah tergantung dari ukuran dan jenis durian. Petai biasa dipetik buat makan, sedangkan jengkol lebih sering dijual dengan harga sekitar Rp 60.000 satu kali musim berbuah49. Sedangkan hasil kebon yang tidak banyak akan dijadikan konsumsi rumahtangga.

49

Lahan kebun karet menyediakan modal alami bagi petani Desa Padabeunghar setelah ditinggalkan oleh pemegang HGU. Wilayah Desa Padabeunghar meliputi 171 Ha wilayah tanah kebun karet. Pada awalnya, kebun karet dikelola oleh perusahaan pemegang HGU yaitu PT. Yunawati. Tanaman karet ditebang habis pada akhir tahun 80-an50.

Tanah kebun karet merupakan tanah merah yang ba ik untuk ditanami tanaman kacang-kacangan, umbi-umbian dan singkong. Lahan kebun karet terdapat di sekitar pemukiman dan diantara kebon petani. Lahan kebun karet telah ada pada jaman Belanda. Tempat penampungan getah karet sekaligus pabrik yang mengelola karet terletak berdekatan dengan kampung Muncang Pandak. Seka rang pabrik tersebut menjadi tempat peristirahatan pengurus lahan kebun karet dan penampungan sementara tanaman hasil lahan kebun karet. Menggarap lahan kebun karet lebih disukai dari pada menggarap lahan hutan. Tanah perkebunan karet berupa tanah merah ya ng mekipun berbukit-bukit tetapi tidak berbatu. Tanah kebun karet lebih menguntungkan untuk digarap51.

Lahan hutan Perhutani merupakan tanah hitam yang dipenuhi batu. Lahan hutan Perhutani menyediakan kayu bakar, batu untuk bahan bangunan, rumput untuk pakan ternak, dan lahan penggembalaan kerbau. Lahan hutan Perhutani digarap untuk mendapatkan tambahan kebutuhan rumahtangga sehari-hari, menggembalakan kerbau dan menabung bahan bangunan.

Penggarapan lahan dilakukan oleh tenaga kerja rumahtangga. Lahan sawah dan lahan Perhutani yang digarap oleh penduduk Desa Padabeunghar yang tidak bekerja sebagai petani digarap oleh buruh tani. Tenaga kerja nyeblok hanya berlaku untuk penggarapan sawah. Tabel berikut menunjukkan jenis lahan dan ekonomi lahan bagi rumahtangga.

50

Wawancara dengan Pak Suh, 9 Maret 2005

51

Tabel 4 . Jenis Lahan dan Ekonomi Lahan bagi Rumahtangga Jenis lahan Tanaman utama Skala penanaman Sumber pengairan Tenaga kerja pengelola Orientasi produksi Sawah Padi Skala kecil Air

hujan/mata air Tenaga kerja rumahtangga/buruh tani/nyeblok Pemenuhan kebutuhan harian rumahtangga Kebon Durian, petai, tanamana bahan bangunan

Skala kecil Air hujan/mata air Tenaga kerja rumahtangga/buruh tani Kebutuhan harian dan bahan bangunan Lahan hutan Singkong, pisang

Skala kecil Air hujan/mata air T enaga kerja rumahtangga/buruh tani Kebutuhan harian rumahtangga Lahan kebun karet Singkong, pisang

Skala kecil Air hujan/mata air Tenaga kerja rumahtangga Kebutuhan harian rumahtangga Sumber: Diolah dari data primer , 2005

Selain lahan, hewan ternak merupakan sumberdaya yang penting dalam ekonomi rumahtangga di Desa Padabeunghar. Hewan ternak yang dimiliki petani di Desa Padabeunghar adalah kambing, kerbau dan ayam. Ayam dimiliki hampir oleh seluruh petani Desa Padabeunghar. Bagi masyarakat Desa Padabe unghar, ayam merupakan barang yang terpakai di waktu hidup dan mati. Di waktu hidup ayam digunakan untuk dijual, atau disembelih atau diambil telurnya. Di waktu mati, ayam digunakan sebagai sebagai masakan yang harus ada. Setiap ada orang yang meninggal, keluarga yang ditinggalkan akan menyembelih ayam untuk dimasak dan disertakan dalam nasi yang dibawa oleh orang yang tahlilan52.