• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Landasan Teori

4. Media Pembelajaran Berbasis Video

= 3,5 𝑐𝑚 × 1.000.000

1

= 3.500.000 𝑐𝑚

= 35 𝑘𝑚

Dari ketiga contoh tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai penyelesaian masalah terkait skala:

1) Pahami konsep dasar terkait skala.

2) Perhatikan satuan yang digunakan ketika penghitungan agar memperoleh hasil yang benar.

Pada penelitian ini akan digunakan materi perbandingan senilai, perbandingan berbalik nilai, dan skala.

4. Media Pembelajaran Berbasis Video

Media pembelajaran pada umumnya digunakan untuk membuat proses pembelajaran berlangsung lebih efektif. Media pembelajaran disebut sebagai pembawa informasi atau pesan dari sumber informasi ke penerima dan pesan

29

tersebut mengubah perilaku penerima (Rusli et al, 2017: 40). Media pembelajaran berfungsi membuat pembelajaran lebih menarik. Semakin banyak alat indera yang digunakan dalam mengelola informasi, maka semakin banyak informasi yang dipahami. Pemilihan media yang tepat dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran terlebih pada masa pandemi ini.Pengembangan media pembelajaran tidaklah mudah dan cepat karena membutuhkan waktu dan upaya guru untuk lebih kreatif. Hal ini dapat menjadikan guru enggan mencoba media lain yang akibatnya mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar siswa (Brown & Thornton dalam Rusli, 2017: 41).

Berikut adalah kriteria pemilihan media pembelajaran:

a. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai baik dari ranah kognitif, afektik, dan psikomotorik.

b. Mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau prosedur.

c. Praktis, luwes, dan bertahap. Jika kurang tersedianya waktu, dana, atau sumber daya lainnya untuk memproduksi tidak perlu dipaksakan.

d. Guru terampil menggunakannya dalam proses pembelajaran.

e. Pengelompokkan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau individu.

f. Kualitas teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf perlu memenuhi syarat teknis tertentu. Misalnya, informasi atau pesan yang ingin disampaikan jangan sampai terganggu oleh elemen lain seperti latar belakang.

Berkembangnya teknologi mempengaruhi perkembangan media pembelajaran baik dari aspek hardware maupun software. Penggunaan media teknologi yang dilakukan dengan benar dapat menjadikan proses belajar dan upaya memperoleh informasi berlangsung lebih efektif dan efisien. Salah satu media pembelajaran

30

yang memanfaatkan teknologi adalah video. Perkembangan teknologi digital memberi pengaruh terhadap format dan cara penggunaan video sebagai media pembelajaran.

Menurut Cheppy Riyana (dalam Wulandari & Gusmania, 2018: 63), media video pembelajaran adalah alat bantu yang menyajikan audio dan visual yang berisikan konsep, prinsip, prosedur dan teori pengetahuan untuk membantu memahami materi pelajaran. Media video ini tergolong sebagai media audiovisual yang menayangkan pesan atau informasi melalui gambar dan suara yang disampaikan secara simultan. Media audiovisual pada hakikatnya merupakan bentuk representasi melalui peninderaan penglihatan dan pendengaran yang bertujuan untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang nyata kepada siswa (Abdulhak & Darmawan, 2013: 84). Oleh karena itu, video mampu memperlihatkan objek, tempat, dan peristiwa dalam format gambar bergerak secara komprehensif. Medium video ini sebagai sarana pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa (Pribadi, 2017: 146). Pada aspek kognitif, video membantu penambahan wawasan pengetahuan penggunanya. Pada aspek afektif, video menampilkan nilai dan norma dalam masyarakat. Sedangkan, pada aspek psikomotor, video nemampilkan berbagai keterampilan yang dapat dipelajari sehingga membantu penyelesaian masalah atau suatu pekerjaan.

Berdasarkan pendapat menurut beberapa ahli di atas, peneliti menarik kesimpulan bahwa media pembelajaran berbasis video merupakan sarana pembelajaran yang menggabungkan aspek audio dan visual untuk membantu pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan. Media video

31

pembelajaran dalam penelitian ini memuat materi perbandingan senilai dan berbalik nilai SMP Kelas VII.

Menurut Erickson & Curl dalam buku Pinnington (dalam Pribadi, 2017: 144) mengungkapkan beberapa kelebihan yang diperoleh dari penggunaan media video dalam pembelajaran, yaitu:

a. Menambah wawasan pengalaman belajar siswa.

b. Merangsang timbulnya minat belajar.

c. Membimbing respon siswa dalam proses belajar.

d. Mengatasi keterbatasan fisik.

e. Mendorong upaya pemecahan masalah.

f. Mengungkapkan kesalahan dalam proses belajar dan upaya untuk memperbaikinya.

Di sisi lain, menurut Heinich et al (dalam Pribadi, 2017: 147), media video memiliki beberapa kekurangan, yaitu:

a. Kecepatan penayangan informasi dan pengetahuan secara konstan.

Kecepatan penayangan informasi dalam video berlangsung secara tetap atau konstan. Akan tetapi, beberapa bagian ditayangkan terlalu cepat. Hal ini menyebabkan siswa kesulitan dalam menyerap informasi di dalamnya.

Permasalahan ini sesungguhnya dapat diatasi dengan memanfaatkan fitur rewind untuk menonton ulang bagian yang belum jelas.

b. Terkadang menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap informasi dan pengetahuan yang ditayangkan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa video menimbulkan persepsi yang berbeda antar individu yang menontonnya. Dalam hal ini adalah video

32

pembelajaran, guru dapat memberikan penguatan dan memastikan siswa tidak salah persepsi terhadap isi informasi yang disampaikan.

c. Membutuhkan waktu dan pengeluaran lebih.

Untuk memproduksi sebuah video memerlukan dukungan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan aplikasi video maker dan software lainnya untuk meminimalisir keluarnya biaya produksi.

Pada penelitian ini, video pembelajaran yang digunakan adalah video animasi.

Animasi merupakan pembuatan gambar film dari gambar statis untuk menghasilkan gambar bergerak atau hidup jika ditayangkan. Ilusi dari gerakan tersebut terjadi dengan pergerakan yang cepat. Menurut Agustien et al (2018: 20), pembuatan video pembelajaran dengan animasi dapat sebagai pendukung dalam menyampaikan materi dan meningkatkan semangat belajar siswa karena dapat ditampilkan lebih variatif.

Pembuatan video pembelajaran animasi ini memerlukan alat bantu software dalam proses pembuatannya. Perkembangan teknologi memberi pengaruh besar dalam produksi video animasi. Beberapa aplikasi software yang dapat digunakan antara lain Adobe After Effect, Macromedia Flash, Animator, Pro, Biteable, Animaker, Powtoon, dan lain sebagainya. Penggunaan media teknologi yang benar dapat membantu aktivitas belajar dan penyerapan materi lebih efektif dan efisien (Pribadi, 2017:25).

Video yang digunakan dalam penelitian ini memanfaatkan aplikasi Biteable.

Aplikasi ini menawarkan berbagai template dengan beragam tema seperti pada gambar 2.2. Template yang telah dipilih untuk digunakan dapat digabungkan dengan template lainnya. Template-template tersebut rata-rata berdurasi 1-3 menit.

33

Walaupun begitu, pengguna tetap dapat memproduksi video animasi sesuai keinginan dan kebutuhan sehingga informasi dapat tersampaikan dengan lebih menarik seperti pada gambar 2.3 di bawah ini. Hal ini akan memudahkan pendidik dalam menyesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.

Pada gambar 2.3 diatas, pengguna dapat memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Tidak hanya dari sisi visual, aplikasi ini dilengkapi dengan fitur menambah suara baik backsound yang telah tersedia maupun rekaman suara dari si pembuat video. Penggunaan aplikasi ini disarankan untuk diakses dengan PC atau laptop agar lebih nyaman dalam meanfaatkan fitur-fitur yang tersedia. Bila video telah selesai diproduksi, maka hasilnya dapat langsung diunduh dengan fitur export atau langsung dibagikan melalui aplikasi lainnya.

Gambar 2. 2 Pilihan Template Video

Gambar 2. 3 Proses Edit Video

34 B. Penelitian Yang Relevan

Penelitian ini mengenai kemampuan komunikasi matematis dan motivasi belajar belajar pada materi perbandingan senilai dan berbalik nilai berbantuan video pembelajaran siswa kelas VII SMP Kanisius Bambanglipuro. Berdasarkan eksplorasi peneliti, ditemukan beberapa penelitian yang relevan dengan topik penelitian ini:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Verawati (2020) berjudul “Kemampuan Komunikasi Matematis Ditinjau dari Motivasi belajar Belajar pada Materi Himpunan di SMPN 14 Pontianak”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal materi himpunan yang memiliki motivasi belajar belajar tinggi, sedang, dan rendah di SMPN 14 Pontianak. Pengumpulan data dilakukan dengan tes, angket, dan wawancara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menyatakan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan motivasi belajar belajar tinggi adalah mampu mengekspresikan dan memahami ide matematis secara tertulis, meliputi kemampuan menggunakan notasi matematika dan menggambar diagram venn. Sedangkan, kemampuan komunikasi matematis siswa dengan motivasi belajar belajar sedang adalah mampu mengekspresikan ide matematis melalui tulisan dan notasi himpunan, tetapi kurang mampu mendeskripsikan diagram venn dan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan motivasi belajar belajar rendah adalah kesulitan memahami perintah soal dan kurang mampu menyelesaikan soal yang diberikan karena hanya mampu mengekspresikan ide matematis dan menggambar diagram venn.

Penelitian dari Verawati tersebut relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Penelitian tersebut meneliti bagaimana kemampuan komunikasi matematis siswa berdasarkan tingkatan motivasi belajar belajar. Hal ini sejalan

35

dengan penelitian yang dilakukan peneliti karena meneliti komunikasi matematis dan motivasi belajar belajar siswa.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanto (2018) berjudul “Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP pada Materi Segitiga dan Segiempat”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa SMP pada materi segitiga dan segiempat.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan instrumen tes. Subjek penelitian ini adalah 5 siswa kelas VII yang diambil secara acak di salah satu SMP di Cimahi. Hasil penelitian menyatakan kemampuan komunikasi matematis siswa tergolong rendah karena dari lima butir soal yang diujikan terdapat dua butir soal dari dua indikator berada pada skala ≤ 33%

(kategori rendah), yaitu indikator membuat konjektur, menyusun argument, merumuskan definisi dan generalisasi, serta indikator mengungkapkan kembali suatu uraian paragraf matematika dalam bahasa sendiri. Sedangkan tiga soal dari tiga indikator lainnya berkategori sedang.

Penelitian dari Wijayanto tersebut relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti karena menganalisis aspek yang sama, yaitu komunikasi matematis.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Nurrohma (2020) berjudul “The Effectiveness of Learning Videos to Improve Student Mathematic Communication Skills”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan video pembelajaran berbantuan Microsoft Teams guna meningkatkan komunikasi matematis siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan tes kemampuan komunikasi matematis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode Quasi Experimental Design. Sampel penelitian diambil dari kelas XII SMA N 2

36

Semarang dimana kelas XII MIPA 10 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII IPS 2 sebagai kelas kontrol. Materi dalam video pembelajaran adalah median. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan signifikan dengan rata-rata hasil tes akhir kelas eksperimen adalah 98,89 dan kelas kontrol 73,86. Oleh karena itu, video pembelajaran memiliki pengaruh baik terdahap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa.

Penelitian dari Nurrohma tersebut relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Penelitian tersebut menganalis kemampuan komunikasi matematis siswa dengan berbantuan video pembelajaran.

Adapun perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan ketiga penelitian yang relevan tersebut adalah materi matematika serta jumlah indikator komunikasi matematis dan motivasi belajar belajar yang diujikan, serta teknis analisis data yang digunakan. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini berbantuan video pembelajaran. Sehingga, pemaparan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat menjadi bahan pendukung dalam pelaksanaan penelitian ini.

C. Kerangka Berpikir

Tujuan umum pembelajaran matematika yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tertuang dalam Permendiknas No.22 tahun 2006 mengenai standar isi, menegaskan bahwa pembelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan dalam mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas suatu permasalahan (Niasih et al, 2019: 267). Selain itu, pembelajaran matematika menekankan pada aktivitas penalaran, berpikir kritis, dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan.

37

Pembelajaran jarak jauh ini menjadi tantangan dalam menumbuhkan motivasi belajar belajar dan kemampuan matematis siswa. Pada proses pembelajaran matematika idealnya akan terjadi pertukaran gagasan atau ide antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan antara siswa dengan sumber belajar. Hal inilah yang jarang terjadi selama pembelajaran jarak jauh atau daring. Kemampuan komunikasi matematis siswa terbilang rendah karena merasa kesulitan dalam mengerjakan tes yang mengukur aspek tersebut. Menurut Darkasyi (2004 dalam Hendriana, 2018: 478) menyatakan penyebab rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa adalah terpakunya siswa pada rumus dan contoh soal yang diberikan guru, sehingga siswa tidak terbiasa mengerjakan soal yang berbeda. Selain itu, pembelajaran daring membuat siswa menjadi kurang aktif dalam penyampaian pendapat dan pemikirannya, sehingga proses pembelajaran terasa membosankan yang berdampak pada hasil belajar, salah satunya aspek komunikasi matematis. Oleh karena itu, diperlukan adanya pendorong untuk mengembangkan motivasi belajar belajar siswa.

Komunikasi matematis dan motivasi belajar belajar menjadi penting dalam proses pembelajaran matematika. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan analisis kemampuan komunikasi matematis sesuai indikator komunikasi matematis dan analisis angket motivasi belajar siswa sesuai dengan indikator motivasi belajar. Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan kemampuan komunikasi matematis yang baik dan tingkat motivasi belajar dalam kategori baik ketika dilakukan pembelajaran pada materi perbandingan senilai dan berbalik nilai dengan berbantuan video pembelajaran.

38

Masalah yang timbul ketika pembelajaran jarak jauh:

1. Menurunnya motivasi belajar siswa

2. Siswa kesulitan mengerjakan soal karena terpaku pada rumus dan contoh yang diberikan guru

Kemampuan

komunikasi matematis Motivasi belajar

Memiliki kriteria baik – sangat baik

Solusi:

Pembelajaran matematika menggunakan video pembelajaran

39 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (Sukmadinata, 2020: 60). Menurut Mantra (dalam Siyoto & Sodik, 2015: 27), penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif yang diperoleh dari subjek dan objek penelitian yang diamati berupa kata-kata atau lisan. Metode deskriptif merupakan penelitian paling sederhana dimana peneliti mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan dari satu fenomena dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2020:72). Metode ini lebih menekankan pemahaman terhadap aspek yang dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis dan motivasi belajar belajar dengan berbantuan video pembelajaran pada materi perbandingan senilai dan berbalik nilai.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bertempat di SMP Kanisius Bambanglipuro Jogodayoh, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pengambilan data dilakukan secara daring pada bulan Januari sampai Februari 2021.

40 C. Subjek Dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Kanisius Bambanglipuro Bantul tahun ajaran 2020/2021 berjumlah 23 siswa.

Sedangkan, objek penelitian dalam penelitian ini adalah kemampuan komunikasi matematis dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran perbandingan senilai dan berbalik nilai yang berbantuan video pembelajaran.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tes Kemampuan Komunikasi Matematis

Tes merupakan alat latihan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Winarni, 2018: 64). Tes bersifat subjektif karena soal pertanyaan tidak terdapat alternatif pilihan jawaban. Pada penelitian ini, tes tertulis digunakan untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi perbandingan senilai dan berbalik nilai.

2. Angket Motivasi Belajar

Angket merupakan alat pengumpulan data berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden dan dijawab secara tertulis (Winarni, 2018: 70).

Pada penelitian ini angket digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa. Penyebaran angket dilakukan setelah tes kemampuan komunikasi matematis dilakukan.

41 E. Instrumen Pengumpulan Data

Berdasarkan metode pengumpulan data, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Instrumen Pembelajaran

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP disusun oleh peneliti sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 yang dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 145. Hal ini berdasarkan kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator kemampuan yang diteliti, serta pendekatan saintifik yang digunakan.

b. Video Pembelajaran

Video pembelajaran disusun peneliti karena sebagai objek penelitian untuk mencapai tujuan penelitian. Video pembelajaran ini memuat materi perbandingan senilai dan berbalik nilai dengan masing-masing berdurasi 5-10 menit serta mendukung indikator komunikasi matematis dan motivasi belajar siswa. Peneliti menginstruksikan siswa untuk menontonnya terlebih dahulu sebelum dimulainya pembelajaran dalam pertemuan virtual. Sebelum video digunakan, dilakukan validasi mengenai rubrik penilaian yang telah disusun kepada tim ahli dalam hal ini adalah dosen pembimbing dan guru.

Hasil validasi ini terlihat pada lampiran 4 halaman 137-144.

2. Instrumen Penelitian

a. Soal Tes Kemampuan Komunikasi Matematis

Dalam membuat soal perlu dirancang terlebih dahulu rubrik penilaian yang berisi indikator soal, soal, kunci jawaban, rubrik penskoran, serta kesesuaian soal dengan indikator komunikasi matematis yang digunakan

42

dalam penelitian seperti pada lampiran 5.3 halaman 167. Pada penelitian ini dilakukan satu kali tes terkait materi perbandingan senilai dan berbalik nilai.

Lembar soal yang digunakan dapat dilihat pada lampiran 5.2 halaman 165.

Sebelum dilakukan tes, dilakukan validasi mengenai rubrik penilaian yang telah disusun kepada tim ahli dalam hal ini adalah dosen pembimbing dan guru. Hasil validasi ini terlihat pada lampiran 2 halaman 129. Berikut adalah indikator soal yang digunakan dalam penelitian ini:

Tabel 3. 1 Kisi-kisi Soal Kemampuan Komunikasi Matematis Materi: Perbandingan Senilai

Nomor

Soal Indikator Soal

Indikator Komunikasi

Matematis

Rumusan Soal 1 Menentukan nilai

variabel dari dua perbandingan senilai.

K3 Tentukanlah nilai 𝑥 dari perbandingan-perbandingan di pasar membeli beras. Harga 2 kg beras adalah Rp21.000,00.

Jika Ibu membeli 6 kg beras, berapakah jumlah uang yang dibayar Ibu?

3 Disajikan suatu kondisi dan

K2, K3, K4 Seutas tali memiliki panjang 24 m. Tali tersebut dipotong menjadi dua bagian dengan perbandingan 3:5. Berapakah panjang tali terpendek?

4 Melengkapi tabel perbandingan senilai. Siswa menyajikan

K1 Lengkapilah tabel di bawah ini!

Bilangan pertama (x)

1 2 3 4 5

43

5 Menentukan jarak pada peta dan jarak sebenarnya berdasarkan skala peta.

K2, K4 Sebuah peta dibuat dengan skala 1:200.000. Tentukanlah:

a. Jarak pada peta, jika jarak sebenarnya 70 km.

b. Jarak sebenarnya, jika jarak pada peta 4,5 cm.

Materi: Perbandingan Berbalik Nilai 1 Menentukan nilai

variabel dari dua 2 Disajikan suatu

kondisi dan

K2, K3, K4 Seorang peternak ayam memiliki persediaan pakan untuk 450 ekor selama 20 hari.

Jika Ia membeli 50 ekor, berapa lama persediaan pakan akan habis?

3 Disajikan suatu kondisi dan ke kota S selama 10 jam dengan kecepatan 96 km/jam. Kereta api 2 melewati lintasan yang sama dalam waktu 12 jam.

Berapakah kecepatan kereta api 2?

4 Melengkapi tabel perbandingan berbalik nilai.

Siswa menyajikan kembali dalam bidang cartesius.

K1, K2 Suatu pekerjaan merenovasi bangunan dapat diselesaikan oleh 12 orang dalam waktu 3 hari.

a. Salin dan lengkapilah tabel di bawah ini!

Banyak orang

2 4 6 12

44

Waktu (hari)

… … … 3 b. Lukislah grafiknya!

c. Apa yang dapat kamu simpulkan?

Keterangan:

K1 : Menyatakan situasi tertentu, gambar, diagram, tabel maupun cara penyajian data lainnya ke dalam bahasa matematika berupa simbol dan model matematika.

K2 : Menjelaskan ide, gagasan, dan relasi matematika baik secara lisan maupun tulisan.

K3 : Membaca dan memahami suatu representasi matematika secara tertulis.

K4 : Menyatakan kembali suatu penjelasan matematika menggunakan bahasa sendiri.

b. Angket Motivasi Belajar

Pada penelitian ini, skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert. Skala ini menggunakan pernyataan yang bernilai positif dan negatif dengan lima pilihan jawaban, yaitu “Sangat setuju”, “Setuju”, “Netral”,

“Tidak setuju”, dan “Sangat tidak setuju” (Sukmadinata, 2020: 225).

Instrumen angket ini menyesuaikan indikator motivasi belajar yang berjumlah 18 pernyataan. Dalam lembar angket ini terdapat petunjuk pengisian, sehingga akan memudahkan siswa mengisinya seperti yang tertulis pada lampiran 6 halaman 175. Sebelum dilakukan penyebaran angket, dilakukan validasi terlebih dahulu kepada ahli dan hal ini adalah dosen pembimbing dan guru. Hasil validasi ini dapat dilihat pada lampiran 3

45

halaman 133. Berikut adalah indikator angket yang digunakan dalam penelitian ini:

Tabel 3. 2 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar

No Indikator Motivasi Belajar Rumusan Pernyataan 1 Tekun mengerjakan tugas a. Ketika mendapat tugas saya

langsung mengerjakannya.

b. Ketika mendapat tugas saya tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

2 Pantang menyerah a. Saya tidak mempelajari lebih lanjut mengenai materi yang sulit.

b. Saya berusaha untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dengan usaha sendiri.

3 Tidak memerlukan dorongan luar untuk berprestasi

a. Saya akan belajar kembali di rumah tanpa diminta orangtua.

b. Saya sangat bergantung pada dukungan orang lain untuk belajar.

4 Memiliki rasa ingin tahu pada bidang pengetahuan yang diberikan

a. Saya bersemangat ketika mendapat materi baru.

b. Saya hanya mempelajari hal yang saya suka.

5 Berusaha untuk tetap berprestasi

a. Saya tetap berusaha memahami materi yang sulit.

b. Saya tidak memiliki target nilai.

6 Memiliki ketertarikan terhadap berbagai masalah kehidupan (misalnya pembangun, korupsi, keadilan, dan lain sebagainya)

a. Saya tertarik pada berbagai bidang kehidupan (pembangunan, kesehatan, pendidikan, keadilan, dan lain-lain).

b. Saya tidak banyak mencari tahu diluar hal yang saya sukai.

7 Berpegang teguh pada suatu keyakinan dan tidak mudah melepaskannya

a. Saya mudah menerima pendapat dari orang lain tanpa

menyaringnya terlebih dahulu.

b. Saya memiliki keyakinan mengenai pendapat saya.

8 Berusaha mencapai tujuan jangka panjang

a. Saya belajar dengan giat agar dapat naik kelas.

b. Saya berusaha untuk meraih cita-cita.

46 9 Senang memecahkan

permasalahan

a. Saya tidak bersemangat ketika mendapatkan tugas.

b. Ketika mendapat soal saya pasti berusaha untuk mendapatkan penyelesaiannya.

F. Teknik Analisis Data

Analisis merupakan proses pengolahan data mentah yang dikelompokkan berdasarkan elemen dan struktur tertentu (Siyoto & Sodik, 2015: 98). Analisis data pada penelitian kualitatif berupa kata atau kalimat yang dihasilkan dari subjek penelitian dan kaitannya dengan objek penelitian. Tujuan analisis data ini adalah mencari makna dari data yang diperoleh. Peneliti dihadapkan dengan 23 siswa sebagai subjek penelitian, sehingga data yang didapat belum memiliki kaitan. Oleh

Analisis merupakan proses pengolahan data mentah yang dikelompokkan berdasarkan elemen dan struktur tertentu (Siyoto & Sodik, 2015: 98). Analisis data pada penelitian kualitatif berupa kata atau kalimat yang dihasilkan dari subjek penelitian dan kaitannya dengan objek penelitian. Tujuan analisis data ini adalah mencari makna dari data yang diperoleh. Peneliti dihadapkan dengan 23 siswa sebagai subjek penelitian, sehingga data yang didapat belum memiliki kaitan. Oleh

Dokumen terkait