• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA 79 LAMPIRAN

2.5. Kendala Usahatani Lahan Kering

Sumber-sumber alam yang terbatas dan jumlah penduduk yang semakin bertambah besar dengan tingkat pendapatan yang belum memadai, dapat menimbulkan masalah-masalah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Tekanan kepadatan penduduk yang terjalin erat dengan kemiskinan, telah mendorong penduduk untuk mengolah tanah dengan cara-cara yang merusak kelestarian dan kesuburannya (Haeruman, 1979).

Masalah-masalah yang dihadapi dalam pengelolaan lahan kering antara lain : (1) sumber air yang sangat terbatas dan hanya tergantung dari curah hujan, (2) umumnya merupakan tanah marginal, dan (3) sangat peka terhadap erosi (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 1983).Selanjutnya Tohir (1983) mengemukakan bahwa masalah pokok yang dihadapi dalam penanganan lahan

kering adalah rumitnya penataan pertanaman yang beraneka ragam di samping rendahnya kesuburan tanah. Dengan penataan pertanaman diharapkan dapat meningkatakan kualitas dan kuantitas hasil panen secara rasional, efisien dan ekonomis.

Apabila diperhatikan secara seksama, ternyata kemunduran kesuburan tanah, timbulnya hama penyakit, timbulnya tanah bera dan sebagainya sering disebabkan karena kesalahan dalam penataan tanaman. Untuk memahami penataan pola pertanaman ini berbagai aspek perlu diperhatikan, baik secara teknis, biologis maupun sosial ekonominya. Selain itu, kendala utama yang dihadapi dalam pengelolaan usahatani lahan kering adalah terbatasnya pemilikan modal dan tenaga kerja keluarga yang tersedia, sempitnya lahan usahatani, dan menurunnya tingkat kesuburan tanah lahan kering.

Data keragaan tanah di Kalimantan Barat menunjukan bahwa, lahan Podsolik Merah Kuning (PMK) mendominasi jenis tanah di Kalimantan Barat yang luasnya mencapai 67,783 Km2. Jenis tanah ini merupakan jenis tanah yang bermasalah, sehingga perlu masukan teknologi tinggi dan khusus untuk daerah lahan kering. Jenis-jenis tanah yang lain dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jenis Tanah Tiap Kabupaten dan Kota di Kalimantan Barat

No. Kabupaten Organosol, Gley dan Humus (ha) Aluvial (ha) Regosol (ha) PMK (ha) Podsolik (ha) Litosol (ha) 1 Sambas 1.280 3.600 - 546 432 1.520 2 Pontianak 6.187 3.934 - 6.176 1.408 416 3 Ketapang 7.360 4.336 448 21.953 1.712 - 4 Sanggau 1.056 144 - 15.296 992 192 5 Sintang 480 912 - 15.296 - - 6 Kapuas Hulu 3.968 2.064 - 3.584 - - 7 Kota Pontianak 36 72 - - - - Keseluruhan 19.935 15.112 448 67.783 4.544 2.128 Sumber : Kalimantan Barat dalam Angka (2000)

Keterangan : PMK = Podsolik Merah Kuning

Pada umumnya kondisi petani lahan kering memiliki sumberdaya yang terbatas. Mereka harus membuat keputusan dengan menggunakan sumberdaya (tanah, tenaga kerja dan modal) yang terbatas untuk memperoleh hasil yang setinggi-tingginya sesuai dengan kondisi usahataninya. Keterbatasan sumberdaya

tersebut terutama adalah terbatasnya modal dan rendahnya tingkat kesuburan tanah. Padahal modal merupakan unsur yang esensial dalam mendukung peningkatan produksi dan taraf hidup masyarakat pedesaan itu sendiri. Menurut Hardwood (1982) faktor modal merupakan faktor pembatas dalam pengembangan pertanian. Hal ini membuat semakin sulitnya usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan dengan cepat.

2.6. Struktur Klasifikasi Lahan

Evaluasi sumberdaya merupakan proses untuk menduga potensi sumberdaya untuk berbagai penggunaan . Dengan demikian evaluasi sumberdaya adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk penggunaan suatu sumberdaya dengan sifat yang dimiliki oleh sumberdaya tersebut. Hasil dari suatu evaluasi sumberdaya menjadi suatu dasar bagi perencanaan dan pengembangan wilayah (Saefulhakim et al., 2003).

Menurut FAO dalam Sitorus (1998) struktur klasifikasi kesesuaian lahan dibagi menjadi empat kategori yaitu : Ordo, Kelas, Sub-kelas dan Unit kesesuaian lahan. Ordo kesesuaian lahan mencerminkan macam kesesuaiannya. Kelas kesesuaian lahan mencerminkan derajat kesesuaian lahan dalam Ordo, Sub-kelas kesesuaian lahan mencerminkan macam hambatan atau perbaikan utama yang dibutuhkan dalam kelas, dan Unit kesesuaian lahan mencerminkan perbedaan- perbedaan minor yang dibutuhkan dalam pengelolaan Sub-kelas.

Ordo kesesuaian lahan dapat dibagi menjadi dua yaitu ; Sesuai (S) dan Tidak Sesuai (N). Ordo Sesuai (S) adalah lahan yang dapat digunakan secara berkesinambungan untuk tujuan yang dipertimbangkan. Keuntungan dari hasil pengelolaan akan memuaskan setelah dikalkulasi dengan masukan, tanpa adanya resiko kerusakan terhadap sumberdaya lahannya. Ordo Tidak Sesuai (N) adalah lahan yang apabila dikelola mempunyai kesulitan sedemikian rupa sehingga menghambat penggunaannya untuk tujuan yang direncanakan.

Ordo Sesuai dapat dibagi menjadi beberapa kelas. Jumlah kelas pada ordo sesuai tidak ditentukan, tetapi diusahakan sesedikit mungkin untuk memudahkan interpretasi. Jika terdapat tiga kelas dalam ordo Sesuai (S) maka definisi masing- masing kelas dapat dijelaskan sebagai berikut :

Ordo S (Sesuai) terdiri atas tiga kelas :

1. Kelas S1 (Sangat Sesuai) adalah lahan yang tidak mempunyai pembatas serius dalam pengelolaannya atau hanya mempunyai faktor pembatas yang tidak berarti dan tidak berpengaruh terhadap produksinya dan tidak menaikkan masukan yang telah biasa diberikan.

2. Kelas S2 (Cukup Sesuai) adalah lahan yang mempunyai pembatas-pembatas agak berat untuk suatu penggunaan yang lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan, sebab akan meningkatkan masukan yang diperlukan.

3. Kelas S3 (Sesuai Marjinal) adalah lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk penggunaan yang lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas atau keuntungan karena akan menaikkan masukan yang diperlukan.

Order N (Tidak Sesuai) terdiri atas dua kelas :

1. Kelas N1 (Tidak Sesuai Saat Ini) adalah lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, tetapi masih memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan saat ini dengan biaya yang rasional.

2. Kelas N2 (Tidak Sesuai Permanen) adalah lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat sehingga tidak memungkinkan digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.

Sub-kelas kesesuaian lahan mencerminkan jenis pembatas. Tiap kelas dapat dibagi menjadi satu atau lebih sub-kelas tergantung dari jenis pembatas yang ada, tetapi untuk S1 tidak ada faktor pembatas. Jenis pembatas ini ditunjukkan dengan simbol huruf kecil yang diletakkan setelah simbol kelas. Sebagai contoh, kelas S2 yang mempunyai faktor pembatas kedalaman tanah efektif (s) akan menyebabkan kelas masuk ke sub-kelas S2s.

Kesesuaian lahan pada tingkat satuan lahan merupakan pembagian lebih lanjut dari sub-kelas. Semua satuan yang berada dalam sub-kelas mempunyai tingkat kesesuaian yang sama pada tingkat sub-kelas. Satuan-satuan berbeda satu dengan yang lainnya dalam sifat-sifat atau aspek-aspek tambahan pengelolaan yang diperlukan dan sering merupakan rincian bagi pembatasnya. Dengan diketahuinya pembatas secara rinci akan memudahkan penafsiran perencanaan pada tingkat usahatani. Tingkat kesesuaian lahan dapat berupa gambaran keadaan lahan pada saat penelitian, yang disebut kesesuaian lahan aktual, ataupun

kesesuaian lahan setelah dilakukan perbaikan, atau input tertentu, yang disebut kesesuaian lahan potensial (Dent dan Young, 1983).

Sehubungan dengan kesesuaian lahan potensial Hardjowigeno et al.(2001) menggolongkan masukan tersebut atas tiga bagian. Pertama masukan rendah, kedua masukan sedang, dan ketiga adalah masukan tinggi, Jenis masukan dan kemungkinan perbaikan yang dapat dilakukan untuk masing-masing karakteristik lahan tertera pada Tabel 6.

Berdasarkan Tabel 6 tersebut kemungkinan akan ditemui beberapa kombinasi masukan. Jika kombinasi dari beberapa tingkat masukan ditemui maka kombinasi dari dua tingkat masukan rendah akan menghasilkan tingkat masukan menengahApabila dengan kombinasi dua tingkat masukan yang ditemui memiliki tingkat yang berbeda, maka yang digunakan adalah input yang tertinggi.

Perbaikan yang dilakukan akan menghasilkan peningkatan kelas kesesuaian lahan satu tingkat atau lebih dari kesesuaian lahan aktual. Penjelasan mengenai kelas kesesuaian lahan potensial ini adalah sebagai berikut :

1. Jika kelas kesesuaian lahan aktual adalah kelas S2 dan memungkinkan untuk diperbaiki, maka kelas kesesuaian lahan potensial adalah kelas S1.

2. Jika kelas kesesuaian lahan aktual adalah kelas S3 dan memungkinkan untuk diperbaiki, tapi faktor pembatas pada kelas S2 masih ada, maka kelas kesesuaian lahan potensial adalah kelas S2.

3. Jika kelas kesesuaian lahan aktual adalah kelas S3 dan memungkinkan untuk diperbaiki, dan faktor pembatas untuk kelas S3 tidak ada lagi, maka kelas kesesuaian lahan potensial adalah kelas S1.

4. Jika kelas kesesuaian lahan aktual adalah N dan memungkinkan untuk diperbaiki, tapi faktor pembatas untuk S3 masih ada, maka kelas kesesuaian lahan potensial adalah kelas S3.

5. Jika kelas kesesuaian lahan aktual adalah N dan memungkinkan untuk diperbaiki, tapi faktor pembatas untuk S2 masih ada, maka kelas kesesuaian lahan potensial adalah kelas S2.

4. Jika kelas kesesuaian lahan aktuala adalah N dan memungkinkan untuk diperbaiki, dan tidak ditemukan faktor pembatas lain, maka kelas kesesuaian lahan potensial adalah S1.

7. Jika tidak memungkinkan untuk diperbaiki (simbol x) maka kelas kesesuaian lahan aktual dan potensial adalah sama.

Tabel 6. Jenis Masukan dan Kemungkinan Perbaikan yang Dapat Dilakukan untuk Masing-masing Karakteristik Lahan.

Karakteristik Lahan Yang Dikelompokkan Berdasarkan

Kualitas Lahan

Perbaikan dan Simbolnya Tingkat

Input

t – Regim Temperatur

1.Rata-rata temperatur tahunan w- Ketersediaan Air

2.Bulan kering

3.Curah hujan rata-rata tahunan r – Keadaan Perakaran

1.Kelas drainase 2.Tekstur

3.Kedalaman perakaran

f – Retensi Unsur Hara 1. KTK me/ 100 g (subsoil) 2. pH (Lapisan atas) n – Ketersediaan Unsur Hara

1.Nitrogen total (Lapisan atas) 2.P2O5 tersedia (Lapisan atas)

3. K2O tersedia (Lapisan Atas)

x – Toksisitas 1. Salinitas s – Lahan 1. Lereng (%) 2. Batuan lepas 3. Batuan tersingkap

Tidak dapat diperbaiki

Irigasi (I) Irigasi (I) Drainase buatan Tidak dapat diperbaiki

Umumnya tidak dapat diperbaiki jika lapisan yang menghambat tebal dan tidak dapat ditembus, tetapi jika lapisan yang menghambat tipis dan dapat diperbaiki maka masih dapat diperbaiki (I)

Pengapuran dengan sumber disekitar Lokasi (L) Pengapuran dengan sumber jauh dari Lokasi (L) -sda-

Pemupukan (M)

Pemupukan untuk kelas S2 (M) Pemupukan untuk kelas S3/N (M) -sda-

Reklamasi untuk tanah salin kelas S2/S3 (N) Reklamasi untuk kelas N (N)

Kontruksi sawah kemiringan < 3 % (P) Kontruksi sawah kemiringan 3 - 8 % (P) Kontruksi sawah kemiringan 8 - 15 % (P)

Penanaman strip rumput pada kontur kemiringan 0 – 8 % (O)

Teras tanpa SPA, kemiringan > 8 % ® Teras dengan SPA, kemiringan >8 % (T) Pengambilan batuan untuk kelas S2/S3 (S) Tidak dapat diperbaiki

Hi Hi Hi Hi Mi Li Li Mi Mi Mi Li Mi Hi Li Li Mi Mi Sumber : Hardjowigeno et al., (2001)

Keterangan : Hi = Masukan Tinggi Mi = Masukan Sedang Li = Masukan Rendah