BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
C. Kerangka Berpikir
Konsep yang akan diteliti pada penelitian ini adalah tentang pemahaman nilai nilai kepahlawanan melalui ketokohan dari Pangeran Sambernyawa. Tokoh Pangeran Sambernyawa digunakan sebagai model dalam pemahaman nilai-nilai kepahlawanan. Nilai-nilai Kepahlawanan Pangeran Sambernyawa pada penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan model pemahaman nilai-nilai kepahlawanan yang tepat untuk komunitas suporter Pasoepati dalam upaya mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa dengan harapan membentuk sikap dan nilai yang positif bagi para anggota suporter Pasoepati.
Bagan 2.1. Kerangka Berpikir.
Model Pemahaman Nilai-Nilai Kepahlawanan Pangeran
Sambernyawa Pemahaman Nilai
Kepahlawanan Pangeran Sambernyawa
Nilai Kepahlawanan 1. Rela berkorban 2. Kerja keras 3. Solidaritas 4. Loyalitas
Perencanaan Pelaksanaan Penilaian
Kesadaran Sejarah dan Sikap Positif Suporter
54 BAB III
METODE PENELITIAN A. Latar Penelitian
Dalam penelitian Nilai-Nilai Kepahlawanan Pangeran Sambernyawa, penulis memilih kota Surakarta sebagai latar penelitian karena ada berbagai latar belakang. Komunitas suporter Pasoepati lahir di Surakarta dan mayoritas anggota Pasoepati berasal dari kota Surakarta, selain itu pengambilan tokoh Pangeran Sambernyawa juga tidak lepas dari sejarah panjang perjuangannya melawan penjajah. Menurut Sunarjan (2017), pemilihan latar penelitian sangat penting untuk membantu menyederhanakan dan memfokuskan masalah, dengan demikian peneliti dapat lebih fokus dalam memecahkan masalah yang terjadi pada latar penelitian yang dipilih.
Pasoepati adalah sebuah komunitas pendukung sepakbola klub PERSIS Solo yang sudah berdiri secara sah dan legal. Pasoepati sendiri terdiri dari delapan belas kordinator wilayah yaitu Kartasura, Jebres, Kalioso, Cemani, Pasar Kliwon, Mojolaban, Karanganyar, Klaten, Colomadu, Serengan, Banjarsari, Boyolali, Laweyan, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Yogyakarta. Sebagai komunitas besar tentunya Pasoepati mempunyai banyak anggota sehingga dalam menyikapi hal tersebut dan untuk mempermudah koordinasi dalam mendukung PERSIS Solo maka dibentuk DPP Pasoepati sebagai pusat kegiatan Pasoepati dan membentuk korwil-korwil suporter di setiap wilayah di Karesidenan Solo.
Dewan Pimpinan Pusat Pasoepati terletak di Komplek Stadion Manahan, Jl. Adi Sucipto No. 1, Manahan, Banjarsari, Surakarta. Tempat ini merupakan tempat yang strategis bagi para suporter Pasoepati karena Manahan merupakan kendang tim Persis Solo dalam berlaga di berbagai pertandingan. Selain itu dilihat dari letak geografis yang cukup strategis karena berdekatan dengan pusat kota, stasiun dan jalan raya.
Suporter Pasoepati lahir pada tanggal 9 Februari 2000, masyarakat Surakarta membentuk aliansi suporter untuk mendukung tim yang berkompetisi di Liga Indonesia waktu itu yakni Pelita Solo dengan nama Pasukan Suporter Pelita Sejati atau disingkat dengan Pasoepati. Komunitas suporter Pasoepati dirintis oleh seorang praktisi periklanan Solo, Mayor Haristanto yang berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah organisasi suporter pasca kedatangan Aremania di stadion Manahan ketika Pelita Solo bertanding dengan Arema Malang. Pasoepati disambut antusias oleh masyarakat Surakarta dan sekitarnya yang bereuforia menyambut tim Pelita Solo berlaga di Manahan. Berjalannya waktu, Pasoepati berkembang dan menjadi salah satu basis suporter fanatik di Indonesia berkat kreatifitas dan pemberitaan media- media pada waktu itu.
Pasoepati sebagai komunitas suporter yang mempunyai jumlah anggota yang besar tentunya mempunyai tujuan positif dalam mengembangkan komunitasnya. Pasoepati mempunyai “7 Janji Pasoepati”
yang harus ditaati oleh seluruh suporter. Ketujuh janji itu adalah sebagai berikut : pertama, mendukung Pelita Solo (sekarang Persis Solo), menang atau
kalah; kedua, bersikap hormat, sopan, cinta damai kepada tim dan suporter lawan, ketiga, menjunjung tinggi sportivitas, tidak suka bikin onar, dan menghindari tindakan merusak lainnya; keempat, pantang melakukan
“Malima” yakni melempar, memukul, mencaci, membakar mercon, dan mbludus; kelima, berusaha tampil kreatif dan menjaga kekompakan; keenam, ikut menjaga dan mengamankan pertandingan; ketujuh, Bersama-sama mewujudkan sikap penonton yang manis dengan pakaian kebesaran Pelita Solo( sekarang Persis Solo) yang didominasi warna merah (Devi, 2016:33).
Pangeran Sambernya sebagai tokoh lokal yang dijadikan oleh Tim Persis Solo maupun Pasoepati sebagai figur penting mereka diharapkan mampu menjadi tokoh yang menyebarkan semangat dan loyalitas dalam rangka mewujudkan harapan Tim Persis Solo dan merealisasikan “7 Janji Pasoepati”, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengulas bagaimana nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa di aplikasikan dalam pembentukan karakter dan pembentukan fanatisme yang bersifat positif serta untuk mengetahui sejauh mana para suporter Pasoepati mengenal sosok pahlawan Pangeran Sambernyawa yang menjadi figure kebanggan bagi tim Persis Solo maupun Pasoepati.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif diperoleh setelah peneliti melakukan grand tour observation dan grand tour question atau yang disebut dengan penjelajahan umum. Dari penjelajahan umum ini peneliti akan memeproleh gambaran umum menyeluruh yang masih pada tahap permukaan
tentang situasi sosial, untuk dapat memahami secara lebih luas dan mendalam, maka diperlukannya fokus penelitian (Sugiyono, 2016: 288). Fokus penelitian ini akan menjadi acuan bagi penulis saat melakukan penelitian di lapangan, sehingga hasil yang diperoleh tidak meluas dari fokus yang telah ditetapkan.
Fokus-fokus penelitian tersebut selanjutnya akan digunakan penulis sebagai pedoman dalam pengambilan data yakni pengamatan dan wawancara.
Penelitian ini bertujuan menjelaskan mengenai pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa sebagai pahlawan lokal bagi anggota komunitas Suporter Pasoepati di Surakarta. Dipilihnya Pangeran Sambernyawa dikarenakan dia adalah salah satu tokoh pahlawan yang dikagumi dan dijadikan teladan oleh masyarakat Surakarta dan sekitarnya.
Pangeran Sambernyawa merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan Belanda serta menjadi tokoh pendiri Mangkunegaran. Dalam penelitian ini hal utama yang menjadi perhatian adalah Pangeran Sambernyawa yang dijadikan sebagai ikon dan julukan bagi tim sepak bola Persis Solo yang didukung oleh para suporter yang dinamakan Pasoepati.
Pangeran Sambernyawa dijadikan sebagai ikon klub Persis Solo karena keteladanan dan perjuangannya selama masa penjajahan Belanda. Hal ini diharapkan tim Persis Solo dan para suporter Pasoepati dapat meneladani dan mengimlementasikan nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa baik ketika pemain Persis Solo bertanding maupun ketika para anggota suporter
Pasoepati mendukung tim Persis Solo berlaga serta dapat diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari mereka.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2019 di Surakarta dan sekitarnya. Penelitian ini dilakukan terhadap manajemen Persis Solo, DPP Pasoepati dan para anggota suporter Pasoepati dengan mendatangi narasumber secara langsung, agar tercipta kedekatan secara personal dengan para narasumber.
C. Pendekatan Penelitian
Penelitian yang berjudul “Pemahaman Nilai-Nilai Kepahlawanan Pangeran Sambernyawa Pada Komuntas Suporter Pasoepati” menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono,2015:15). Menurut Moleong (2017:6), penelitian kualitatif memiliki tujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi serta tindakan yang dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Fenomenologi sesuai dengan namanya, adalah ilmu (logos) mengenai sesuatu yang tampak (phenomenon). Dengan demikan, setiap penelitian atau
setiap karya yang membahas cara penampakan dari apa saja merupakan fenomenologi (Bertens, 1987). Dalam hal ini, fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia (Bagus, 2002). Fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang berasal dari kesaradan, atau cara memahami suatu objek atau peristiwsa dengan mengalaminya secara sadar (Littlejohn, 2003).
Menurut Brouwer (1984), fenomenologi itu bukan ilmu, tetapi suatu metode pemikiran. Dalam fenomenologi tidak ada teori, tidak ada hipotesis, tidak ada sistem di dalamnya, semuanya bersifat deskriptif. Pendekatan fenomenologis memusatkan perhatian pada pengalaman subyektif. Pendekatan ini berhubungan dengan pandangan pribadi mengenai dunia dan penafsiran mengenai berbagai kejadian yang dihadapinya. Pendekatan tersebut mencoba memahami kejadian fenomenal yang dialami individu tanpa adanya beban prakonsepsi (Arif Nuryana,2019:20).
Peneliti mencoba mengamati dan mencari tahu fenomena yang terjadi di Komunitas Suporter Pasoepati di Surakarta secara nyata dari berbagai sumber yang ada untuk mengetahui pemahaman suporter Pasoepati, DPP Pasoepati hingga manajemen tim Persis Solo mengenai nilai-nilai kepahlawanan apa saja yang dimiliki oleh Pangeran Sambernyawa, dan proses pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa serta kendala-kendala yang ditemui oleh Pasoepati, DPP Pasoepati, hingga manajemen tim Persis Solo didalam proses pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa. Melalui penelitian ini diharapkan
bahwa pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa pada komunitas Suporter Pasoepati di Surakarta dapat digali informasinya dan diteliti secara lebih mendalam dan mendapat model yang tepat untuk proses pemahaman nilai-nilai kepahlawnannya.
D. Sumber Data
Sumber data penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya merupakan data tambahan seperti dokumen dan lainnya (Moeleong, 2002:112). Dalam penelitian bersifat kualitatif ini sumber data yang dibutuhkan adalah :
1. Informan
Informan merupakan orang yang biasa memberikan informasi-informasi utama yang dibutuhkan dalam penelitian. Pengambilan informasi-informasi tersebut dilakukan untuk mengambil data khususnya mengenai pemahaman para suporter terkait ketokohan Pangeran Sambernyawa dan bagaimana kpemahaman nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa oleh manajemen Persis Solo dan DPP Pasoepati untuk para Suporter Pasoepati dan menumbuhkan kesadaran sejarah bagi para suporter Pasoepati.
Informan pada penelitian ini dari Langgeng Jatmiko (44), manajer tim Persis Solo yang memberikan perpektif tentang ketokohan Pangeran Sambernyawa dan hubungan klub dengan Komunitas Pasoepati dengan sudut pandang sebagai pihak manajemen klub Persis Solo. Dari pihak Dewan Pengurus Pusat Pasoepati, peneliti mendapatkan informasi tentang sejarah dan keorganisasian Pasoepati dari Purdoko (37) yang menjabat
sebagai Menteri Dalam Negeri DPP Pasoepati. Informasi yang lain didapat dari dari para suporter, diantaranya Tomy (37), Muhammad Nur (33), Muhammad Azid (17), Aditomo Susilo Nugroho (20), Muhammad Faqih (20), Agung Daryono (36) dan Muhammad Fajar Febriyanto (16). Data yang diambil dari anggota Pasoepati adalah pemahaman anggota Pasoepati terkait ketokohan Pangeran Sambernyawa, pemahaman nilai-nilai kepahlawanan dan imlementasinya serta kendala-kendala yang dihadapi ketika proses pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa tersebut.
2. Dokumen
Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data-data tertulis mengenai berbagai macam dokumen yang berkaitan dengan informasi mengenai nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa dan deskripsi tentang tim Persis Solo dan juga deskripsi tentang Komunitas Suporter Pasoepati. Untuk menggali tentang nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa peneliti menggunakan beberapa arsip tentang Pangeran Sambernyawa yang berasal dari Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran seperti Arsip yang berjudul Pangeran Sambernowo (KGPAA Mangkunegoro I) “Sejarah perjuangan, Latar Belakang, dan Perjalanan Kehidupan Keagamaannya oleh Dr. Djoko Surjo (1989), Babad KGPAA Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa) “Nyariosaken Aluran Mangkunegran Surakarta” oleh Kamajaya (1993), Pangeran Sambernyowo KGPAA, Ringkasan Sejarah Perjuangannya oleh yayasan Mangadeg
(1989), Tri-Dharma, Tiga Dasar Perjuangan Pangeran Sambernyowo oleh Yayasan Mangadeg (1974). Selain arsip dari Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, mendapat informasi dari buku yaitu diantaranya buku yang ditulis oleh Soeryo Soedibyo Mangkoehadiningrat (2011) yang berjudul Sambernyawa Menggugat Indonesia, buku dari Dr. Eko Punto Hendro, MA dkk (2017). yang berjudul Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Pangeran Sambernyawa dan buku dari KRT. Sarjono Darmasarkoro (1989) yang berjudul Sejarah Singkat Dari Keteladanan Pangeran Sambernyawa. Selain itu peneliti juga menggunakan buku yang menggali terkait Persis Solo dan Komuitas Pasoepati diantaranya buku dari Devi Fitroh Laily (2016) yang berjudul Kota, Klub, dan Pasoepati dan juga buku dari Ardian Nur Rizki (2018) yang berjudul Pustaka Sepak Bola Surakarta Sejarah, Gairah dan Marwah Persis. Arsip dan buku ini digunakan oleh peneliti guna mencari data tentang nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa yang akan dicocokkan dengan data dan dokumen lain serta data dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada informan pada bulan Agustus sampai Oktober 2019.
E. Alat dan Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi atau pengamatan menurut Nabuko (2013:70) adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati atau mencatat secara sistematik gejala-gejala yang sedang diamati. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan apabila penelitian yang dilakukan
berkenaan dengan perilku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan apabila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2015:203).
Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung. Observasi langsung dalam penelitian dilakukan untuk memperoleh data yang akurat dilapangan dengan cara mengamati dan terjun langsung ke lokasi penelitian.
Observasi atau pengamatan secara langsung ini dilakukan pada 26 September 2019 ketika Persis Solo melakukan pertandingan melawan Persiba Balikpapan di Stadion Wilis Kota Madiun. Observasi awal ini dilakukan peneliti untuk mengetahui aktifitas Pasoepati dalam mendukung tim Persis Solo dan bentuk pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa baik melalui spanduk dukungan, koreografi suporter hingga nyanyian dukungan yang berkaitan dengan Pangeran Sambernyawa. Hasil penelitian akan diproses menjadi data untuk menjawab masalah yang ada dalam penelitian yang diteliti ini.
2. Wawancara
Wawancara merupakan proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan antara dua orang atau lebih dengan bertatap muka, mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan (Nabuko, 2013:83). Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam dengan menggunakan alat bantu pedoman wawancara yang telah dibuat berdasarkan pada fokus penelitian yang dilakukan secara terbuka dan menjalin keakraban dengan
informan penelitian sehingga wawancara yang dilakukan tidak terkesan kaku. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan pada informan-informan utama yaitu Pengelola klub Persis Solo sebagai pihak yang menjadi obyek penelitian serta para suporter Pasoepati dalam mengetahui dan memahami keteladanan kepahlawanan Pangeran Sambernyawa.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara jenis semistruktur, dimana dalam pelaksanannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Untuk menjaga kredibilitas hasil wawancara perlu adanya pencatatan data baik melalui catatan lapangan dan juga melalui rekaman hasil wawancara dengan alat bantu perekam.
Kegiatan wawancara kepada informan ini bertujuan untuk mengetahui tentang data dan fakta cara pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa dari manajemen tim Persis Solo dan DPP Pasoepati serta mengetahui sejauhmana suporter Pasoepati menghayati nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa dan mengamalkan nilai-nilai tersebut pada kehidupan sehari-hari.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyono, 2015:329). Dokumetasi biasanya berupa tulisan dan gambar yang digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian guna untuk
membuktikan kebenaran data yang ditulis oleh peneliti serta memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang sedang dibahas dalam penelitian tersebut. Dokumentasi yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa catatan, gambar, notulen, dan sebagainya yang berisi tentang kegiatan sehari-hari para siswa yang bersekolah serta relasi antar aktor yang terlibat dalam upaya mengakses pendidikan.
Menuut Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2011:217), dokumen digunakan untuk keperluan penelitian karena alas an-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan seperti berikut ini:
a. Digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong b. Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian
c. Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
d. Dokumen harus dicari dan ditemukan
e. Tidak reaktif, sehingga sukar ditemukan dengan Teknik kajian isi
f. Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diteliti.
Dari pernyaraan diatas maka penulis mendapatkan beberapa buku yang peneliti gunakan sebagai referensi untuk menggali dan mengetahui lebih dalam tentang nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa melalui buku-buku biografi tentang Pangeran Sambernyawa yang ditulis oleh beberapa komunitas suporter Pasoepati.
F. Uji Validitas Data
Validitas data yang digunakan untuk memeriksa keabsahan dan kebenaran data adalah triangulasi data. Triangulasi data merupakan pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu (Sugiyono, 2013:372). Triangulasi dalam penelitian ini berarti teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber dalam tekniknya. Triangulasi sumber berarti untuk melaporkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan Teknik yang sama. Triangulasi sumber dalam penelitian dilakukan dengan cara membandingkan hasil wawancara antara Tim Persis Solo selaku klub yang didukung dan DPP Pasoepati selaku organisasi yang mengkoordinir Pasoepati dan juga Pasoepati subyek pada penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan guna mengetahui lebih dalam tentang proses pemahaman nilai kepahlawanan Pangeran sambernyawa yang dilakukan oleh manajemen Persis Solo yang dibantu oleh DPP Pasoepati dan juga mengetahui pemahaman suporter Pasoepati terhadap nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diteladani dari tokoh Pangeran Sambernyawa.
G. Teknik Analisa Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan, sehingga data penelitian yang sangat besar jumlahnya dapat menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih
mudah untuk dipahami. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data menurut Miles and Huberman (dalam Sugiyono, 2013:337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Analisis Data Model Interaktif:
Bagan 3.1.Analisis Data Model Interaktif.
1. Pengumpulan Data
Peneliti mengumpulkan data meliputi data tentang pemahaman nilai kepahlawanandari Pasoepati terhadap nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa, dan sikap Pasoepati setelah menerima proses kegiatan entang pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa serta kendala-kendala yang menghambat proses pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa. Data tersebut diperoleh dari wawancara dan observasi langsung serta kajian dokumen pada anggota Pasoepati didukung dengan manajemen Persis Solo dan DPP Pasoepati.
Penyajian data Pengumpulan data
Reduksi data
Simpulan atau Verivikasi
2. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan yang tertulis dilapangan. Apabila data sudah terkumpul, langkah selanjutnya adalah mereduksi yaitu menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikannya sehingga nantinya mudah dilakukan penarikan kesimpulan. Data yang direduksi yaitu data yang diperoleh melalui wawancara, kajian dokumen dan observasi yang meliputi nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa, proses pembentukan kesadaran sejarah tentang ketokohan Pangeran Sambernyawa beserta kendala-kendala yang menghambat proses pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa. Setelah data diperoleh,kemudian digolongkan berdasarkan sub-sub kajian yang dipelajari. Hal ini dilakukan karena data yang didapat tidak urut. Jika data kurang lengkap maka peneliti mencari kembali data yang diperlukan di lapangan.
3. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Rahman, 2015:201) penyajian maksudnya memaparkan data yang telah direduksi dalam bentuk bahan yang diorganisasi melalui ringkasan terstrukur, diagram, matrik, maupun sinopsis dan beberapa teks. setelah data direduksi, penyajian data yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dalam menemukan jawaban atas pertanyaan
mengenai pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa pada suporter Pasoepati serta kendala-kendala yang dihadapi.
4. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan, dimana dengan bertukar pikiran dengan teman sejawat untuk mengembangkan pemikiran. Selain itu kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat awal, karena masih bisa berubah penarikan kesimpulannya tergantung pada bukti-bukti di lapangan (Sugiyono. 2010:99).
Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, atau bisa juga tidak sama sekali, karena seperti yang telah dikemukakan masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan. Oleh karena itu dalam analisis data ini penelitian menggunakan analisis deskriptif yaitu penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikannilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa dan bangaimana proses pemahaman nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Sambernyawa serta kendala-kendala dalam pemahaman nilai-nilai kepahlawanan tersebut.
70 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Komunitas Pasoepati
1. Lokasi Komunitas Suporter Pasoepati
Komunitas Suporter Pasoepati merupakan komunitas yang mempunyai tempat kesekretariatan di komplek Stadion Manahan yang berada di Jalan Adi Sucipto No 1, Manahan, Kota Surakarta.
Kesekretariatan Dewan Pengurus Pusat Pasoepati yang berada di komplek Stadion Manahan mempermudah koordinasi bagi anggota karena tempat yang strategis karena berada di pusat kegiatan tim Persis Solo baik saat latihan maupun bertanding.
Pasoepati sebagai komunitas suporter yang mempunyai anggota yang besar tentunya mempunyai koordinator wilayah di berbagai daerah di Solo Raya dan kota lain. Dalam penelitian tahun 2019 Pasoepati sendiri terdiri dari delapan belas kordinator wilayah yang tersebar di wilayah Solo Raya dan sekitarnya, yaitu Kartasura, Jebres, Kalioso, Cemani, Pasar Kliwon, Mojolaban, Karanganyar, Klaten, Colomadu, Serengan, Banjarsari, Boyolali, Laweyan, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Yogyakarta.
Pasoepati sebagai komunitas suporter yang mempunyai anggota yang besar tentunya mempunyai koordinator wilayah di berbagai daerah di Solo Raya dan kota lain. Dalam penelitian tahun 2019 Pasoepati sendiri terdiri dari delapan belas kordinator wilayah yang tersebar di wilayah Solo Raya dan sekitarnya, yaitu Kartasura, Jebres, Kalioso, Cemani, Pasar Kliwon, Mojolaban, Karanganyar, Klaten, Colomadu, Serengan, Banjarsari, Boyolali, Laweyan, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Yogyakarta.