• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

II. GAMBARAN UMUM KINERJA SEKTOR PERTANIAN DAN PERPUPUKAN DI INDONESIA

4. Periode 2003-sekarang

4.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Pembangunan Ekonomi di Indonesia tidak akan terlepas dari pembangunan sektor pertanian, karena sektor tersebut sampai saat ini masih menjadi prioritas utama kegiatan ekonomi. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa.

Peningkatan kinerja sektor pertanian tidak lepas dari kondisi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kinerja sektor pertanian adalah tingkat produksi dan produktivitas hasil pertanian. Upaya peningkatan kinerja produksi dan produktivitas pertanian, terutama yang mempunyai nilai tinggi (high yield agriculture) serta peningkatan mutu komoditas dan berbagai produk olahannya dalam perspektif agribisnis harus terus-menerus dilaksanakan. Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat menentukan produksi dan produktivitas pertanian. Oleh karena itu, ketersediaan pupuk di pasar baik dari segi kuantitas, kualitas dan harga yang terjangkau menjadi salah satu syarat yang harus dapat dijamin oleh pemerintah.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah berupaya untuk menyediakan sarana produksi ini dalam jumlah yang relatif mencukupi kebutuhan dengan diimbangi harga yang terjangkau oleh kalangan pengguna pupuk. Hal inilah yang mendasari pemerintah memberlakukan subsidi pupuk bagi petani. Kebijakan

subsidi pupuk ini merupakan suatu kebijakan yang diterapkan pemerintah agar mampu berperan sebagai insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan serta peningkatan pendapatan petani. Kebijakan ini merupakan bagian integral dari paket intensifikasi yang telah membuat keberhasilan pembangunan pertanian, khususnya komoditas pangan dengan tercapainya swasembada pangan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan program pemberian pupuk bersubsidi oleh pemerintah belum dirasakan efektif mengingat masih banyaknya persoalan yang timbul pada tataran implementasinya. Persoalan penting yang senantiasa mengemuka dan menjadi pemberitaan hangat adalah terjadinya kelangkaan pupuk pada saat pupuk dibutuhkan, terutama awal musim tanam. Disamping itu HET yang ditetapkan pemerintah seringkali tidak diterima oleh petani sehingga petani tetap harus membayar di atas HET tersebut.

Kondisi ini membuat pemerintah, DPR maupun masyarakat relatif belum puas terhadap kebijakan subsidi pupuk yang berlaku saat ini sehingga terdapat wacana untuk mengganti pola subsidi pupuk dari subsidi yang dibayarkan melalui produsen pupuk (subsidi tidak langsung) menjadi subsidi yang dibayarkan langsung kepada petani. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa subsidi pupuk lebih baik dialihkan kepada subsidi infrastruktur pertanian seperti jalan irigasi, sehingga petani dapat mengakses input produksi dengan baik dan juga dapat mengakses pasar lebih mudah. Bahkan terdapat juga wacana bahwa subsidi pupuk sudah saatnya untuk dicabut. Lebih jelasnya kerangka analisis penelitian tentang penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 15.

95 DAMPAK EKONOMI SUBSIDI PUPUK : Produksi pertanian Pendapatan petani Tenaga kerja Ketersediaan pupuk

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI :

Kondisi lingkungan Tujuan subsidi

Jenis pupuk Aktor yang terlibat

POLA SUBSIDI DAN SISTEM DISTRIBUSI TERBAIK

SAM

(Sosial Accounting Matrix)

REKOMENDASI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK

KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK :

Alternatif Pola Subsidi dan Sistem Distribusi Pupuk : (1) Subsidi pupuk melalui produsen (tidak langung) (2) Subsidi langsung ke petani

(3) Dialihkan ke infrastruktur pertanian (jalan dan irigasi) (4) Subsidi pupuk dicabut

PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN

PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL

MENENTUKAN ALTERNATIF POLA SUBSIDI DAN SISTEM DISTRIBUSI TERBAIK

ANP

(Analytic Network Process)

METODE BAYES

Oleh karena itu, dalam penelitian ini untuk mengetahui pola subsidi mana yang dipilih, terlebih dahulu akan dianalisa dampak dari penerapan masing- masing pola subsidi terhadap distribusi pendapatan sektor produksi, pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja, dan ketersediaan pupuk. Alat analisis yang yang digunakan untuk melihat dampak dari masing-masing pola subsidi tersebut adalah Sosial Acounting Matrix (SAM) atau Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Secara empiris, model SAM adalah salah satu model dari aspek makroekonomi yang banyak digunakan untuk menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap perekonomian.

Di lain pihak dalam menentukan arah kebijakan subsidi pupuk, khususnya dalam menentukan pola subsidi dan sistem distribusi pupuk tidak hanya cukup mengetahui dampak ekonomi saja, tetapi harus juga dianalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penentuan kebijakan tersebut. Penentuan kebijakan dapat dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti faktor eksternal (seperti politik, sosial, teknologi dan lainnya), pertimbangan kemudahan operasionalisasinya serta kesesuaian kebijakan tersebut dengan tujuan yang ditetapkan dan aktor yang terlibat. Penelitian ini berusaha untuk menyusun kekomplekan yang terjadi dengan mengevaluasi alternatif-alternatif pola subsidi pupuk dengan menggunakan teknik analisis multiatribut yang lebih dikenal dengan Analytic Network Process (ANP). ANP merupakan suatu sistem dengan pendekatan feedback yang digunakan untuk menilai hubungan multi-arah yang dinamis antar atribut keputusan. Menurut Saaty (2006), ANP adalah suatu model yang menawarkan ahli ekonomi untuk mempertimbangkan pendekatan yang berbeda

97

untuk masalah yang berhubungan dengan ekonomi yang selama ini biasa menggunakan pendekatan kuantitatif.

Terakhir untuk menentukan pola subsidi pupuk yang terbaik dengan mempertimbangkan dampak ekonomi dan faktor-faktor yang mempengaruhi digunakan metode Bayes. Menurut Marimin (2008), metode Bayes merupakan salah satu teknik pengambilan keputusan berbasis kinerja yang dapat dipergunakan untuk melakukan analisis dalam pengambilan keputusan terbaik dari sejumlah alternatif keputusan. Setelah diperoleh alternatif pola subsidi yang terbaik, maka dirumuskan rekomendasi kebijakan subsidi pupuk.

Untuk memahami bagaimana subsidi pupuk itu dapat mempengaruhi distribusi pendapatan dalam sebuah perekonomian, diperlukan suatu perangkat analisis yang dapat menjabarkan mekanisme dampak kenaikan subsidi tersebut dalam perekonomian secara komprehensif, dimana salah satu alat analisis yang paling baik digunakan adalah SNSE yang mampu menjabarkan dengan lengkap struktur perekonomian, keterkaitan diantara aktifitas produksi, konsumsi barang dan jasa, tabungan dan investasi, perdagangan luar negeri, dan distribusi pendapatan. Oleh karena itu berikut ini disajikan mekanisme sederhana dari dampak subsidi pupuk terhadap distribusi pendapatan melalui kajian SNSE, sebagaimana yang terlihat dalam Gambar 16.

Untuk penyederhanaan, anggaplah dalam suatu aktivitas perekonomian

terdapat 4 sektor produksi yaitu industri pupuk, pertanian,

pertambangan/penggalian dan sektor lainnya. Dalam SNSE sektor-sektor produksi itu masuk dalam neraca aktivitas produksi. Kemudian institusi rumah tangga digolongkan saja dalam tiga kelompok yaitu rumah tangga yang berpendapatan

rendah, menengah, dan tinggi. Ketiga intitusi ini dimasukan dalam neraca institusi rumah tangga. Selain itu terdapat juga institusi pemerintah dan swasta.

Sumber : diolah

Gambar 16. Kerangka Pemikiran Dampak Subsidi Pupuk Terhadap Perekonomian T a bunga n P e m er in ta h INSTITUSI SWASTA SEKTOR INDUSTRI PUPUK

GOLONGAN PENDAPATAN RENDAH GOLONGAN PENDAPATAN TINGGI LUAR NEGERI GOLONGAN PENDAPATAN MENENGAH INSTITUSI PEMERINTAH KAPITAL SEKTOR LAINNYA SEKTOR PERTANIAN PASAR BARANG/ JASA DISTRIBUSI PENDAPATAN ANTAR

SEKTOR