• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama Perdagangan Bilateral

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS. Program Riset: (Halaman 64-73)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Kerjasama Perdagangan Bilateral

$90 $20 Harga sepeda Sebelum FTA $120 $120 $110 Harga sepeda Setelah FTA $120 $100 $110 Keterangan :

a. Sebelum FTA (Free Trade Area) antara Indonesia dan Singapura terbentuk, tidak ada perdagangan atau impor sepeda dari Singapura, tetapi dari AS. Dengan tarif bea masuk sebesar $20 maka harga sepeda buatan AS akan lebih murah daripada buatan Indonesia dan Singapura ($120).

b. Setelah FTA antara Indonesia dan Singapura terbentuk, impor sepeda dari Singapura tidak lagi dikenakan tarif bea masuk sehingga tercipta perdagangan (impor) sepeda dari Singapura dengan harga yang lebih murah ($100). Akan tetapi, konsumen Indonesia sebenarnya rugi karena membayar harga sepeda Singapura yang lebih mahal daripada sededa AS karena tidak dikenakan tarif masuk (hanya $90). Adanya pengalihan impor ddari AS menjadi impor dari Singapura yang pada dasarnya merugikan konsumen indonesia ini disebut

Trade Diversion.

2.4 Kerjasama Perdagangan Bilateral

2.4.1 Perkembangan Kerjasama Perdagangan Bilateral

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya pola forum perdagangan regional, sejak kegagalan pertemuan World Trade Organization (WTO) di Seattle tahun 1999, telah terjadi pergeseran arah negoisasi kerja sama perdagangan dari multilateral ke regional dan bilateral dalam kerangka Free Trade Agreement (FTA). Salah satu alasan yang menjadi pertimbangan suatu negara untuk melakukan Free

Trade Agreement (FTA) adalah kekhawatiran kehilangan pangsa pasar yaitu

kemungkinan beralihnya mitra dagang ke negara lain yang telah melakukan FTA dengan mitra dagang tersesebut. Hal ini dapat terjadi karena anggapan bahwa daya tarik suatu negara akan meningkat dengan menjadi anggota suatu FTA atau RTA (Regional Trade Agreement) yang akan mendorong antara lain terjadinya Trade

Creation.

Dengan menandatangani perjanjian perdagangan FTA diharapkan akan mendukung terciptanya transaksi perdagangan antara anggota FTA yang sebelumnya tidak pernah terjadi setelah dilakukan penghapusan tarif akan hambatan maupun

adanya insentif-insentif karena terbentuknya FTA tersebut. Misalnya dalam konteks AFTA, sebelumnya Kamboja tidak pernah mengimpor obat-obatan, namun setelah menjadi anggota ASEAN dengan berjalannya waktu, tercipta daya beli yang menyebabkan Kamboja memiliki devisa cukup untuk menimpor obat dari Indonesia demi peningkatan kesejahteraan rakyatnya.

Secara teoritis, perjanjian perdagangan bebas Bilateral (BTA-Bilateral Trade

Agreement) juga merupakan satu bentuk pengembangan dari konsep kawasan

(regionalsme). Regionalisme pada saat ini bisa dibentuk dalam bentuk pluralisme atau bilateral antara dua negara, atau antara satu kelompok kawasan dengan satu negara, atau dengan kelompok kawasan lainnya. Untuk lebih jelasnya seperti perjanjian perdagangan bilateral yang dilakukan oleh ASEAN maupun negara anggota kelompok kerja sama tersebut misalnya ASEAN – China FTA dan Singapura – China FTA.

Keberadaan perjanjian FTA baik dalam rangka regional maupun bilateral dapat dikatakan sebagai jembatan untuk menuju perjanjian yang multilateral. Hal ini telah diperkuat dengan adanya studi empiris oleh Levy dengan menggunakan pendekatan Heckser-Ohlin Model, yang menyatakan bahwa bilateral free trade

agreement tidak akan menggantikan multilateral trade agreement. Namun

kebalikannya, menggunakan pendekatan yang sama dengan ”differentiated product”, BTA akan mendukung multilateral free trade.

Dalam perkembangannya, trend FTA melanda hampir di seluruh kawasan di dunia sehingga dewasa ini jumlah negara anggota WTO yang terlibat dalam

Preferential Trade Agreement (PTA) mencapai 149 negara. Khusus di Asia

kecenderungan melakukan FTA baik dalam bentuk perjanjian regional maupun bilateral juga didorong oleh lambatnya kemajuan APEC dan ASEAN ditambah ketidakpastian setelah krisis melanda Asia tahun 1997. ADB mencatat jumlah kerja sama perdagangan bilateral (Bilateral Trade Agreement/BTA) di Asia meningkat pesat di mana sebelum 1995 hanya ada 3 BTA yang melibatkan negara anggota ADB yang dinotifikasikan ke WTO. Pada tahun 2005 jumlah BTA meningkat hingga berjumlah 27, dan masih banyak perjanjian bilateral lainnya yang masih dinegosiasikan. Diperkirakan pada akhir tahun 2006, jumlah BTA akan melonjak menjadi 300.

2.4.2 Bentuk dan Materi Kerjasama Perdagangan Bilatral

Pada umumnya Bilateral Trade Agreement (BTA) yang telah ditangani di dunia saat ini dibuat dalam 3 bentuk perjanjian yaitu penyatuan kepabeanan (BCU –

Bilateral Custom Agreement), Bilateral Preferential Agreement (BPA) dan Bilateral Free Trade Agreement (BFTA). Dalam BCU biasanya mengikutsertakan supresi

terhadap berbagai jenis diskriminasi yang ada pada perpindahan komoditas dan meliputi penerapan tarif bersama oleh pihak-pihak yang terlibat kepada negara-negara yang tidak terlibat (Balassa 1961:2) sebagaimanan BCU antara Republik Ceko dan Republik Slovak dan antara EU dan Siprus.

BPA merupakan perjanjian perdagangan di mana negara-negara yang terlibat setuju memberikan perlakuan khusus (preferensi) dalam perdagangan barang dan jasa antara satu dengan lainnya. Bentuk preferensi yang dipergunakan antara lain berupa penurunan tarif sebagaimana BPA yang dibentuk antara Laos PDR dengan Thailand. Sedangkan bentuk BTA terakhir, yaitu BFTA hampir serupa dengan BPA yang juga meliputi penurunan atau pembebasan tarif di antara negara-negara yang terlibat perjanjian (Lipsey and Chrystal 999:487). Namun perbedaan mendasar dari kedua bentuk perjanjian bilateral tersebut adalah BFTA cenderung untuk memasukan seluruh barang dan jasa dalam perjanjian kedua belah pihak. Di lain pihak BPA biasanya hanya menurunkan tarif pada sejumlah produk/ dan atau sektor yang ingin dilibatkan pada perjanjian bilateral tersebut. Di luar ketiga bentuk perjanjian tersebut terdapat perjanjian bilateral perdagangan yang hanya meliputi sektor jasa, seperti BTA yang dibentuk Korea Selatan dan Chile dan antara Selandia Baru dengan Singapura.

Materi yang diperjanjikan dalam perundingan bilateral akhir-akhir ini mengalami perluasan sebelumnya cakupan materi umumnya hanya meliputi preferensi pengurangan tarif dan pembatasan kuantitas perdagangan barang antara negara-negara yang terlibat dalam perjanjian. Selanjutnya cakupan diperluas hingga memasukkan jasa keuangan, perlindungan investasi, perlindungan lingkungan, hak-hak buruh, government procurement, peraturan perdagangan internasional,

International Property Rights (IPR) dan isu-isu hukum persaingan usaha. Bahkan

Amerika Serikat dalam perjanjian perdagangan bilateral memasukkan masalah lingkungan hidup dan standar tenaga kerja, tercermin dalam perjanjian bilateral antara AS–Jordan, AS-Singapura dan AS-Chili. Dalam perjanjian ini negara-negara yang terlibat perjanjian mempunyai kewajiban untuk meningkatkan hukum perburuhan dan

lingkungan, namun tidak harus mengadopsi standar tinggi perlindungan lingkungan yang dimiliki negara-negara lainnya. Apabila negara yang melakukan perjanjian perdagangan bilateral memiliki hukum perlindungan yang belum sesuai dengan standar yang diinginkan Amerika Serikat, maka negara tersebut didorong untuk meningkatkan standarnya sebelum masuk ke dalam perundingan. Berkaitan dengan hal tersebut Amerika Serikat akan memberikan bantuan capacity building untuk mencapai standar yang diinginkan.

2.4.3 Faktor Pendukung Keberadaan Forum Kerjasama Perdagangan Bilateral di Asia Timur

Seperti dijelaskan dalam kerjasama regional, landasan perjanjian BTA di Asia Timur juga mengacu pada artikel XXIV GATT dan artikel V GATS yang memberikan pengecualian dari ketentuan sistem perdagangan multilateral yaitu mengurangi hambatan perdagangan harus dilaksanakan berdasarkan Most Favoured

Nation (MFN) untuk semua anggota WTO. Dua bentuk Regional Trade Agreements

(RTAs) yang dilakukan di bawah WTO yaitu (1) Custom Union, dan (2) Free Trade

Agreements. Custom Union yang paling terkenal adalah European Union. Bentuk ini

sangat kompleks dalam melakukan negosiasi karena semua negara anggota union harus menyetujui untuk menyatukan kebijakan perdagangan luar negeri. Dengan demikian negar-negara anggota custom union menyetujui untuk menghilangkan tarif dan hambatan non-tarif antar anggotanya dan juga membuat common external tariff untuk negara-negara yang bukan anggota union. Sementara dalam Free Trade

Agreement (FTA) negara-negara yag melakukan perjanjian yaitu dengan melakukan

penghapusan tarif dan hambatan non-tarif antara mereka, namun setiap negara mempunyai kebijakan tarif sendiri untuk negara-negara di luar negara-negara yang melakukan FTA.

Selain landasan hukum yang diuraikan di atas, faktor-faktor yang mendorong maraknya PTA baik yang berbentuk Bilateral Trade Agreement maupun Regional

Trade Agreement di Asia Timur berasal dari dalam maupun luar kawasan termasuk

faktor-faktor pendorong maraknya PTA di Asia Timur berasal dari dalam maupun luar kawasan. Faktor-faktor pendorong tersebut termasuk :

a) Asia Timur pada dasarnya mengejar ketinggalan dari banyak negara di belahan dunia lain yang telah intensif memanfaatkan PTA dalam era 1990-an.

Selain itu, terdapat kekuatiran bahwa dengan tidak terlibat dalam PTA membuat Asia Timur semakin tertinggal, negara-negara di di luar kawasan juga semakin banyak ”mengundang” negara-negara Asia Timur untuk bergabung dalam PTA mereka. Langkah Amerika Serikat sebagai negara dengan kekuatan ekonomi dan politik terbesar di dunia yang mulai aktif mengembangkan jaringan PTA juga merupakan faktor pendorong yang penting.

b) Maraknya PTA di Asia Timur juga merupakan reaksi atas lambannya liberalisasi perdagangan di bawah kerangka multilateral WTO dan APEC. Negosiasi liberalisasi perdagangan WTO berjalan sangat lamban dan terbukti hanya menjadi ajang adu kepentingan negara-negara maju—kulminasi kelambanan tampak nyata dalam sejumlah putaran perundingan termasuk yang diselenggarakan terakhir di Doha (Doha Round). Kegagalan APEC dalam melahirkan Early Voluntary Sector Liberalization (EVSL) memaksa negara-negara Asia Timur untuk berpaling pada kerja sama PTA sebagai pendekatan

second-best.

c) Krisis ekonomi dan kuangan yang baru lalu menyuburkan sentimen di kalangan negara-negara barat telah ”menyebabkan” krisis dengan menarik investasinya secara besar-besaran dari kawasan Asian Timur dan kemudian mendikte program pemulihan (recovery) ekonomi melalui program IMF. Timbul rasa senasib-sepenganggungan yang kuat di antara negara-negara tersebut. negara-negara ASEAN, misalnya, mengunakan kerja sama PTA sebagai upaya pendamping dari langkah-langkah kerja sama keuangan Asia Timur untuk meningkatkan integrasi ekonomi kawasan dan menghindari krisis yang sama di masa datang.

d) Maraknya PTA di Asia Timur juga didorong alasan pragmatisme. Negosiasi PTA melibatkan lebih sedikit negara daripada negosiasi multilateral membutuhkan biaya yang relatif lebih rendah dan mengurangi potensi munculnya masalah yang rumit dan di luar jangkauan negara-negara kecil. Selain itu, kesepakatan juga lebih mudah dicapai sehubungan dengan adanya ikatan historis dan problem yang relatif sama di antara mereka yang berada dalam satu kawasan.

e) Kerja sama PTA juga dimanfaatkan sejumlah negara di luar kepentingan ”tradisional” perdagangan dan ekonomi. China, raksasa ekonomi baru yang

luput dari krisis, menjadikan kerja sama integrasi ekonomi Asia Timur sebagai media strategis untuk mengembangkan pasar ekspor baru dan menghilangkan persepsi ”China sebagai ancaman”. Amerika Serikat yang pada awalnya merupakan promotor liberalisasi perdagangan dunia secara multilateral (WTO), dewasa ini menjadikan kerja sama PTA sebagai ujung tombak diplomasi internasional, peran yang dahulu ditempuh melalui kerja sama militer. Posisi tawar (leverage) Amerika Serikat yang jauh lebih besar daripada negara mitra dagang merupakan salah satu alasan utama kenapa Amerika Serikat dewasa ini memberi tempat khusus bagi kerja sama PTA. f) Inisiatif sejumlah negara di Asia Timur untuk memulai kerja sama PTA

mendorong negara lainnya untuk melakukan langkah serupa (domino effect). Sebagai contoh, langkah Singapura, salah satu negara pionir kerja sama BTA di kawasan, untuk menandatangani kerja sama BTA dengan Amerika Serikat memacu Thailand, Malaysia, dan negara lainnya (termasuk Indonesia) untuk mewujudkan kerja sama serupa. Langkah China untuk memulai negosiasi PTA dengan ASEAN diikuti oleh langkah serupa dari Jepang dalam kurun waktu yang tidak berbeda. Sementara itu, langkah Amerika Serikat untuk memulai negosiasi dengan ASEAN antara lain dimaksudkan sebagai upaya mencegah dominasi Jepang (dan China) yang terlampau besar di Asia Timur.

2.4.4 Alasan-alasan Pendukung dan Penentang Peningkatan BTA

Peringkatan yang pesat negara-negara di dunia ini yang beralih dari negosiasi multilateral ke Regional Trade Agreement (termasuk perundingan bilateral) dalam rangka liberalisasi perdagangan mempunyai dampak positif dan negatif bagi pencapaian kesejahteraaan dunia. Beberapa argumen yang mendukung dan menolak keberadaan dari BTA dapat dilihat pada penjelasan berikut ini:

Alasan-alasan yang mendukung BTA

a. BTA akan menghasilkan trade creation. Trade Creation terjadi apabila efisiensi global dilakukan melalui RTA misalnya saat RTA mengijinkan produsen-produsen dari yang relatif efisien mendapatkan keuntungan market

share pada pasar dalam lingkup RTA yang menjadi biaya bagi

produsen-produsen yang tidak efisien. Kesejahteraan global akan terjadi melalui alokasi yang optimal sumber daya global hanya bila Trade Creation lebih besar dari

b. BTA akan menghasilkan “dynamic effects”, yaitu efisiensi diperoleh oleh para pelaku ekonomi dalam pasar yang besar yang diciptakan oleh RTA sebagai hasil peningkatan investasi dan perdagangan.

c. BTA akan meningkatkan perhatian pada kepentingan bersama dalam lingkungan kerja sama yang mengadakan perdagangan.

d. BTA dipergunakan sebagai alat untuk perkembangan ekonomi dan reformasi politik di negara-negara berkembang.

e. BTA lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan perjanjian di tingkat multilateral sebab BTA lebih mudah untuk mencapai kompromi dan konsensus di dalam negosiasi antara 2 negara dibandingkan perjanjian yang melibatkan 150 negara di dunia ini.

f. BTA akan menstimulasi negara lain melakukan hal yang sama dan menghasilkan sedikit hambatan dalam perdagangan dunia.

g. BTA juga dapat menyediakan road map untuk negosiasi untuk isu-isu baru seperti inovasi dalam intellectual property rights, investasi, lingkungan dan isu-isu tenaga kerja. Dengan demikian BTA akan menyediakan sejumlah ketentuan dan inovasi traty yang di kemudian hari akan diadopsi dalam tingkat multilateral.

h. BTA akan menghasilkan kerja sama yang lebih dekat pihak-pihak yang malakukan BTA saat mengikuti negosiasi di tingkat multilateral yang akan menggabungkan atau mengurangi posisi negosiasi.

i. BTA diharapkan akan mendorong perusahaan-perusahaan domestik untuk melakukan perbaikan-perbaikan sehingga mampu bersaing dengan kompetitor asing. Pertama kali akan bersaing dengan kompetitornya dengan negara parter BTA dan RTA, kemudian diharapkan mampu bersaing pada tingkat global.

Alasan-alasan Menentang BTA

Selain berbagai manfaat yang bias diraih dengan melakukan BTA, terdapat pula sejumlah alasan yang menolak pembentukan BTA antara lain :

a. BTA akan mengurangi kesejahteraan dunia (global welfare) dengan mengalihkan perdagangan dan investasi dari negara-negara produsen yang efisien kepada negara-negara yang tidak efisien dalam satu blok. Terjadi alokasi sumber daya yang salah saat negara-negara kurang efisien memperoleh

keuntungan dari preferensi tarif dan non tarif dari negara-negara yang tidak terlibat dalam BTA.

b. BTA menyebabkan kompleksitas akibat overlapping rules of origin yang dikenal dengan istilah spaghetti bowl. Kompleksitas dalam penerapan rules of

origin menyebabkan godaan bagi para pihak untuk memberikan perlakuan

khusus atau preferensi untuk industri-industri tertentu.

c. Terdapat kemungkinan dispute settlement yang ditetapkan dalam BTA berlawanan dengan dispute settlement mechanism yang dipergunakan WTO. d. Perdagangan dan peraturan internal di bawah BTA dapat mengurangi

kesejahteraan dunia bila harmonisasi yang dilakukan merupakan bentuk perlindungan yang tersembunyi dan di-design sedemikian rupa sehingga akhirnya meningkatkan biaya produksi dan meningkatkan harga bagi negara-negara yang tidak ikut serta menandatangani BTA.

e. BTA akan menghalangi liberalisasi perdagangan di tingkat multilateral karena BTA menciptakan stakeholder ekonomi baru yang memperoleh keuntungan ari akses khusus FTA sehingga membuka pasar luar negeri baru. Kondisi ini memberikan motivasi tekanan politik yang mendesak untuk menentang konsesi perdagangan multilateral karena memberikan akses yang sama kepada kompetitornya di negara lain. Selain itu, BTA akan menciptakan vested

interest untuk memelihara tarif-tarif diskriminasi dan Non-tariff barrier regime.

f. Dalam jangka panjang, apabila terjadi peningkatan kepentingan yang berbeda dalam politik dan ekonomi pada regional blok, perkembangan BTA kemungkinan akan memberikan dampak negatif untuk keamanan global maupun regional.

2.4.5 Isu-isu Strategis yang Perlu Diperhatikan dalam Kerjasama Perdagangan Bilateral

Alexander Chandra (2005:49) mengemukakan bahwa Indonesia perlu berhati-hati dalam memutuskan untuk melakukan perjanjian blateral dengan mitra dagang utama Indonesia mengingat bahwa BTA mempunyai kecenderungan untuk mempercepat proses liberalisasi perdagangan golobal. BTA mempunyai kemampuan untuk mendorong kerja sama yang lebih dalam dan menyeluruh dibandingkan

komitmen-komitmen yang harus dilakukan dalam lingkup WTO. Beberapa hal yang menjadi sorotan dari Chandra antara lain:

1. pemerintah harus yakin bahwa setiap keputusan yang dibuat untuk menempuh kebijakan BTA dengan mitra dagang utama Indonesia tidak hanya merupakan imitasi kebijakan yang ditempuh oleh para negara tetangga Indonesia di ASEAN, seperti Singapura, Thailand, Philipina dan Malaysia. Pemerintah Indonesia harus memutuskan diadakannya BTA dengan pertimbangan benar-benar positif terhadap ekonomi secara keseluruhan.

2. pemilihan mitra dagang yang tepat benar-benar diperlukan. Proposal BTA dengan mitra dagang China dan AS dilihat oleh mayoritas aktor-aktor pemerintah dan non pemerintah yang paling berbahaya. Dengan China tanpa BTA pun produk China sudah membanjiri Indonesia dan juga kualitas produknya lebih unggul dibandingkan produk Indonesia seperti mebel. Sementara BTA dengan Amerika Serikat dapat melemahkan posisi Indonesia di WTO khusunya pada hal-hal seputar masalah lingkungan dan hak-hak atas kekayaan intelektual.

3. perhatian yang berlebihan terhadap kebijakan BTA akan melemahkan Kebijakan Ekonomi Luar Negeri (KELN) Indonesia secara menyeluruh. Sejauh ini Indonesia telah memberikan komitmennya terhadap integrasi ekonomi kawasan dengan negara-negara ASEAN lainnya di bawah AFTA. Dengan demikian prioritas adalah kerja sama perdagangan ditingkat regional sebelum melangkah kerja sama di tingkat bilateral.

4. sektor-sektor domestik industri Indonesia juga masih jauh tertinggal dalam hal tingkat kompetisi dan efisiensi, juga tak adanya infrastruktur penting yang dapat mendukung rencana-rencana pemerintah untuk melakukan BTA dengan para mitra dagang utamanya.

5. desakan untuk membuat kebijakan BTA dari pemerintah Indonesia juga dapat menciptakan kebingungan bagi para petugas pabean dan cukai yang bekrja di daerah-daerah perbatasan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah dengan mempertimbangkan kelemahan-kelemahan tersebut di atas, maka untuk saat ini Indonesia belum perlu melakukan BTA. Karena BTA hanyalah alat-alat tersembunyi yang digunakan untuk memperkuat hak-hak istimewa dan kekayaan yang telah diterima

perusahaan-perusahaan multinasional dan untuk mengedepankan kepentingan pemerintah-pemerintah negara-negara maju.

Pada akhirnya Indonesia perlu membenahi diri agar dapat mengejar ketinggalan untuk dapat meraih keuntungan dari prospek kerja sama bilateral untuk pengembangan ekonomi Indonesia secara makro. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan serta meningkatkan hubungan ekonomi/perdagangan dengan mitranya. Langkah strategis lainnya yang perlu dibenahi agar dapat mendorong investasi sebesar-besarnya adalah mengefisienkan prosedur perizinan investasi agar menjadi sederhana dan singkat dengan memangkas semua bentuk hambatan. Dapat diinformasikan berdasarkan laporan International Finance Corporation (IFC), prosedur perijinan investasi Indonesia ditempatkan sebagai negara paling tidak efisien dan mahal. Pengurusan izin baru berinvestasi harus melalui 12 prosedur (berarti 12 instansi) yang membutuhkan 151 hari dan biaya yang dikeluarkan USD 1.163. bandingkan dengan negara lain yang dinilai IFC prosedurnya lebih mudah dan tidak mahal. Di Malaysia, pengurusan izin baru berinvestasi melalui 9 prosedur dan 30 hari pengurusan dengan biaya USD 966. pengurusan izin di Thailand lebih murah yaitu USD 160 selama 33 hari yang melalui 8 prosedur sedangkan Cina hanya membutuhkan biaya USD 158 dengan melalui 12 pintu instansi selama 41 hari. Australia hanya perlu 2 hari dan dua instansi dengan biaya yang dikeluarkan pengusaha USD 600.

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS. Program Riset: (Halaman 64-73)