• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prospek Dampak Penerimaan Negara dan Kesejahteraan dari Kesepakatan Kemitraan Bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat terkait Perdagangan

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS. Program Riset: (Halaman 188-193)

(2) SMART MODEL

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3.3 Analisis berbasis Program WITS

4.3.3.2 Prospek Dampak Penerimaan Negara dan Kesejahteraan dari Kesepakatan Kemitraan Bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat terkait Perdagangan

Perikanan Indonesia: “Analisis Fokus pada Perikanan”

4.3.3.2.1 Prospek Dampak Penerimaan Negara

Penerimaan pemerintah dalam hal ini dimasudkan sebagai besaran nilai yang diterima suatu negara (Indonesia dan Amerika Serikat) atas pembebanan sejumlah bea masuk dari barang atau jasa yang ditransaksikan dalam kegiatan perdagangan internasional yang dilakukannya dengan negara lain. Besaran nilai penerimaan pemerintah tersebut dapat berubah menjadi meningkat (bertambah) atau menurun (berkurang) dari sebelumnya. Dalam riset ini, perubahan penerimaan pemerintah tersebut merupakan dampak atau efek penerimaan penerimaan pemerintah (revenue effect of

custom union - RE) sebagai implikasi peningkatan atau pengurangan besaran prosentase

tarif bea masuk (impor) atas barang atau jasa dari kemungkinan terjadinya kesepakatan kemitraan ekonomi bilateral antara Indonesia dengan Amerika Serikat (IUSEPA).

Dalam realitas di dunia perdagangan antar negara, seringkali dampak penerimaan pemerintah (RE) tersebut “dikorbankan” demi melindungi sejumlah usaha komoditas/produk barang atau jasa tertentu di dalam negerinya oleh “gempuran”

masuknya sejumlah komoditas/produk barang atau jasa yang sama yang berasal dari negara lain melalui mekanisme perdagangan impor. Instrumen yang digunakan oleh banyak negara untuk melindungi sejumlah barang dan jasa tersebut di dalam negerinya adalah melalui penerapan kebijakan tarif bea masuk (impor) atas komoditas/produk barang dan jasa yang masuk (diimpor) dari negara lain. Meningkatnya tarif bea masuk (impor) yang diberlakukan oleh suatu negara mengindikasikan bahwa negara tersebut secara relatif cenderung lebih melindungi komoditas/produk barang dan jasa yang sama di dalam negerinya, namun tidak demikian dengan sebaliknya. Pengurangan tarif (tariff

reduction) atau pemotongan tarif (tariff cutting) impor tidak selalu (serta merta) berarti

bahwa negara yang bersangkutan mengurangi perlindungannya terhadap usaha domestik terkait dengan komoditas/produk barang atau jasa tertentu yang diperdagangkan.

Pengurangan atau pemotongan tarif impor tersebut dewasa ini dimungkinkan terjadi sebagai konsekuensi dari kesepkatan kemitraan ekonomi khususnya dalam hubungan perdagangan bilateral antara dua negara seperti Indonesia dengan Amerika Serikat. Sebagai contoh, akibat terjadinya kesepakatan bilateral maka dimungkinkan terjadinya efek pengalihan perdagangan (TD) yang berdampak terhadap berkurangnya sejumlah potensi penerimaan impor oleh salah satu negara tertentu yang melakukan kesepakatan bilateral tersebut. Secara teoritis maupun empiris, efek TD tersebut menjadi konsekuensi yang harus dilakukan negara yang dalam posisi sebagai pengimpor atas komoditas/produk barang atau jasa tertentu.

Dalam kasus perdagangan internasional untuk komoditas/produk perikanan antara Indonesia sebagai negara pengekspor (produsen) dan negara Amerika Serikat sebagai pengimpor (konsumen), maka konsekuensi efek TD tersebut mengharuskan negara Amerika Serikat untuk mengalihkan impor sejumlah komoditas/produk ikan dari negara lain (di luar Indonesia) menjadi ke Indonesia (sebagai negara mitra bilateralnya dalam kerangka kesepakatan kemitraan ekonomi, misalnya). Dengan kata lain, pihak Amerika Serikat dalam hal ini harus meningkatkan pembelian (impor) komoditas/produk ikannya dari Indonesia, dan yang berarti mengurangi impornya untuk jumlah yang sama terhadap komoditas/produk ikan tersebut dari negara lainnya. Bila efek TD tersebut terjadi melalui mekanisme pengurangan atau pemotongan tarif impor perikanan yang masuk ke Amerika Serikat, maka meningkatnya impor ikan Amerika Serikat dari Indonesia justru akan

berdampak terhadap penurunan sejumlah penerimaan negara tersebut atas tarif impor perikanan dari negara Indonesia. Semakin besar tarif impor yang diturunkan atau dipotong, maka akan semakin besar pula efek TD dan pada gilirannya akan berdampak terhadap semakin menurunya penerimaan pemerintah Amerika Serikat atas impor perikanannya, sehingga potensi efek tersebut terhadap penurunan penerimaan pemerintah (revenue effect – RE) yang semakin besar. Atau dengan perkataan nilai negatif dari RE tersebut semakin besar dengan semakin besarnya TD.

Oleh karena itu, wajar bila suatu negara “sedikit mengabaikan” penerimaannya dari impor dengan mengambil langkah-langkah penurunan/pemotongan tarif bea masuk (impor)-nya --yang mungkin dinilai merugikan oleh negara tertentu seperti Amerika Serikat karena memberikan RE yang negatif untuk sektor tertentu seperti perikanan--, namun mungkin saja secara totalitas justru memberikan sejumlah insentif seperti yang diperolehnya dari RE di luar sektor perikanan yang diterima sebagai dampak dari meningkat impor barang atau jasa di luar perikanan oleh Indonesia.

Dampak terhadap menurunnya penerimaan tarif impor tersebut terlihat dari semakin besarnya nilai negatif dari RE atas impor perikanan, yang dalam hal ini terjadi bagi negara pengimpor ikan (Amerika Serikat). Secara rinci perubahan yang negatif dari RE yang semakin besar dengan semakin meningkatnya penurunan/pemotongan tarif tersebut dapat dilihat dari gambaran yang tertera pada Tabel 19 dan Gambar 51. Pada pemotongan tarif 20-60%, tidak diperoleh perubahan (efek) nilai RE perikanan, sedangkan pada pemotongan tarif impor sebesar 80% diperoleh peubahan efek nilai RE perikanan tersebut sebesar US$ -69,211 ribu. Sementara pada pemotongan tarif impor sebesar 100% diperoleh perubahan (efek) RE perikanan sebesar US$ -707.434 ribu. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa implementasi IUSEPA memberikan prospek dampak yang positif terhadap perubahan penerimaan tarif bagi Indonesia karena berkurangnya sejumlah nilai atas pembayaran tarif impor perikanan dari semestinya dibayarkan kepada pihak Amerika Serikat sesuai dengan semakin meningkatnya komoditas atau produk perikanannya yang diekspor ke Amerika Serikat. Semakin besar kemungkinan pemotongan tarif impor yang diikuti dengan jumlah komoditas atau produk perikanan yang diekspor ke Amerika Serikat, maka akan semakin berkurang pula jumlah nilai pembayaran tarif impor yang dibayarkan kepada pihak Amerika Serikat.

Tabel 19. Rekapitulasi Dampak Penerimaan Pemerintah dari Hasil Simulasi Pemotongan Tarif Impor yang diolah Berdasarkan Modul Revenue Effect (Ribu US$)

-500 -400 -300 -200 -100 0 1 2 3 4 5 S k e n a r io

Tariff Revenue Effect (ribu US$)

mutiara

produk ikan lainnya produk udang produk tuna produk minyak ikan produk rumput laut komoditas ikan lainnya komoditas udang komoditas tuna

Gambar 51. Efek Penerimaan Tarif Impor (Tariff Revenue Effect – RE) Perikanan dari Kesepakatan Bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat berdasarkan Hasil Simulasi berbagai Skenario Pemotongan Tarif Impor (disusun Berdasarkan Tabel 19) 0 200 400 600 800 1000 1 2 3 4 5 S k e n ar i o

Tariff Old Revenue Value (ribu US$)

0 200 400 600 800 1000 1 2 3 4 5 S k e n ar i o

Tariff New Revenue Value (ribu US$)

Gambar 52. Perbandingan Nilai Penerimaan dari Tarif Lama dan Nilai Penerimaan Tarif Baru Impor Perikanan berdasarkan Hasil Simulasi berbagai Skenario Pemotongan Tarif Impor Perikanan (disusun Berdasarkan Tabel 19)

4.3.3.2.2 Prospek Dampak Kesejahteraan

Dalam dokumen LAPORAN TEKNIS. Program Riset: (Halaman 188-193)