• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerusakan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Helmiati, SH, M.SI (Halaman 55-62)

BAB IV IDENTIFIKASI SEBARAN DAN KONDISI DAERAH RAWAN

4.1. Daerah Rawan Bencana di Wilayah Sumatera

4.1.4. Kerusakan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera

Kerusakan rumah akibat bencana dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu rusak berat, rusak sedang, rusak ringan. Rumah rusak berat akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan sebesar 18,93%, yaitu sebanyak 1.141 pada tahun 2014 dan sebanyak 925 rumah rusak berat pada tahun 2015. Rumah rusak sedang mengalami kenaikan sebesar 1,94%, yaitu sebanyak 824 pada tahun 2014 dan

sebanyak 840 rumah rusak sedang pada tahun 2015. Rumah rusak ringan mengalami kenaikan sebesar 11,98%, yaitu sebanyak 2.880 pada tahun 2014 dan sebanyak 3.225 rumah rusak ringan pada tahun 2015. Data spesifik kerusakan rumah bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.13 di bawah ini.

Tabel 4.13

Jumlah dan Persentase Keruskan Rumah Akibat Bencana di Wilayah Sumatera Tahun 2014 dan 2015

No Provinsi

Kerusakan Rumah Tahun 2014 Kerusakan Rumah Tahun 2015 Rumah Rusak Berat (Unit) % Rumah Rusak Sedang (Unit) % Rumah Rusak Ringan (Unit) % Rumah Rusak Berat (Unit) % Rumah Rusak Sedang (Unit) % Rumah Rusak Ringan (Unit) % 1 Aceh 108 9,47 135 16,38 274 9,51 390 42,16 107,00 12,74 1.281 39,72 2 Bengkulu 93 8,15 26 3,16 161 5,59 75 8,11 0,00 0,00 2 0,06 3 Jambi 65 5,70 88 10,68 204 7,08 8 0,86 101,00 12,02 79 2,45 4 Kepulauan Riau 21 1,84 12 1,46 121 4,20 0 0,00 31,00 3,69 0 0,00 5 Lampung 121 10,60 141 17,11 891 30,94 11 1,19 2,00 0,24 240 7,44 6 Riau 217 19,02 50 6,07 40 1,39 42 4,54 282,00 33,57 181 5,61 7 Sumatera Barat 96 8,41 99 12,01 349 12,12 56 6,05 64,00 7,62 737 22,85 8 Sumatera Selatan 288 25,24 62 7,52 553 19,20 17 1,84 10,00 1,19 64 1,98 9 Sumatera Utara 112 9,82 154 18,69 232 8,06 319 34,49 217,00 25,83 546 16,93 10 Kep. Bangka Belitung 20 1,75 57 6,92 55 1,91 7 0,76 26,00 3,10 95 2,95 Jumlah 1.141 100 824 100 2.880 100 925 100 840 100 3.225 100

Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015

Pada tahun 2014 jumlah kerusakan rumah berat terbesar di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 288 (25,24%) yang diakibatkan bencana banjir, tanah longsor, dan jumlah terendah di Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebanyak 21 (1,84%) yang diakibatkan abrasi, banjir, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor. Jumlah rumah rusak sedang terbesar di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 154 (18,69 %) akibat bencana banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebanyak 12 (1,46%) yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan, puting beliung. Jumlah rumah rusak ringan terbesar di Provinsi Lampung sebanyak 891 (30,94%) yang diakibatkan bencana banjir, puting beliung, tanah longsor, dan jumlah terendah di Provinsi

Riau sebanyak 40 (1,39%) yang diakibatkan abrasi, puting beliung, tanah longsor.

Pada tahun 2015 jumlah kerusakan rumah berat terbesar di Provinsi Aceh sebanyak 390 (42,16%) akibat bencana banjir, puting beliung, gempa bumi, tanah longsor, dan jumlah terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 7 (0,76%) yang diakibatkan puting beliung. Jumlah rumah rusak sedang terbesar di Provinsi Riau sebanyak 282 (33,57%) yang diakibatkan puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Lampung yaitu sebanyak 2 (0,24%) yang diakibatkan puting beliung. Jumlah rumah rusak ringan terbesar di Provinsi Aceh sebanyak 1.281 (39,72%) yang diakibatkan banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinisi Bengkulu yaitu sebanyak 2 (0,06 %) yang diakibatkan tanah longsor.

b) Kerusakan Fasilitas Peribadatan Akibat Bencana

Kerusakan fasilitas peribadatan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan sebesar 65,67 %, yaitu sebanyak 67 unit pada tahun 2014 dan sebanyak 23 unit pada tahun 2015 fasilitas pendidikan yang rusak diakibatkan bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.14 tabel di bawah ini.

Tabel 4.14

Jumlah dan Persentase Keruskan Fasilitas Peribadatan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera Tahun 2014 dan 2015

No Provinsi

Kerusakan Fasilitas Peribadatan Tahun 2014 Kerusakan Fasilitas Peribadatan Tahun 2015 Kerusakan Fasilitas Peribadatan

(Unit) %

Kerusakan Fasilitas Peribadatan

(Unit) % 1 Aceh 2 2,99 5 21,74 2 Bengkulu 2 2,99 0 0,00 3 Jambi 30 44,78 5 0,61 4 Kepulauan Riau 0 0,00 0 0,00 5 Lampung 4 5,97 0 0,00 6 Riau 0 0,00 4 0,49 7 Sumatera Barat 14 20,90 3 0,36 8 Sumatera Selatan 5 7,46 4 0,49 9 Sumatera Utara 8 11,94 2 0,24

10 Kep. Bangka Belitung 2 2,99 0 0,00

Jumlah 67 100 23 100

Kerusakan fasilitas peribadatan akibat bencana tahun 2014 tertinggi berada di Provinsi Jambi sebanyak 30 unit akibat banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Aceh sebanyak 2 unit (2,99 %) yang diakbatkan puting beliung,banjir, Provinsi Bengkulu sebanyak 2 unit (2,99 %) yang diakibatkan gempa bumi, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 2 unit (2,99 %) yang diakibatkan puting beliung. Tahun 2015 jumlah kerusakan fasilitas peribadatan tertinggi berada di Provinsi Aceh yaitu sebanyak 5 unit (21,74 %) yang diakibatkan banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebanyak 2 unit (0,24 %) yang diakibatkan puting beliung.

c) Kerusakan Fasilitas Pendidikan Akibat Bencana

Kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 mengalami kenaikan sebesar 228 , yaitu sebanyak 26 unit pad tahun 2014 dan sebanyak 101 unit pada tahun 2015 fasilitas pendidikan rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.15 di bawah ini.

Tabel 4.15

Jumlah dan Persentase Keruskan Fasilitas Pendidikan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera Tahun 2014 dan 2015

No Provinsi

Kerusakan Fasilitas Pendidikan Tahun 2014 Kerusakan Fasilitas Pendidikan Tahun 2015 Kerusakan Fasilitas Pendidikan (Unit) % Kerusakan Fasilitas Pendidikan (Unit) % 1 Aceh 2 7,69 54 52,94 2 Bengkulu 1 3,85 0 0,00 3 Jambi 10 38,46 19 18,63 4 Kepulauan Riau 0 0,00 2 1,96 5 Lampung 1 3,85 0 0,00 6 Riau 0 0,00 1 0,98 7 Sumatera Barat 8 30,77 3 2,94 8 Sumatera Selatan 0 0,00 18 17,65 9 Sumatera Utara 4 15,38 4 3,92

10 Kep. Bangka Belitung 0 0,00 1 0,98

Jumlah 26 100 102 100

Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015

Jumlah kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana tahun 2014 tertinggi berada di Provinsi Jambi sebanyak 10 unit (38,46%) yang diakibatkan banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Bengkulu hanya 1 unit (3,85 %) yang diakibatkan puting beliung, di Provinsi Lampung 1 unit (3,85%) yang diakibatkan puting beliung. Tahun 2015 jumlah kerusakan fasilitas pendidikan tertinggi berada di Provinsi Aceh yaitu sebanyak 54 unit (53,47%) yang diakibatkan banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Riau hanya 1 unit (0,99 %) yang diakibatkan puting beliung, di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hanya 1 unit (0,99%) yang diakibatkan puting beliung.

d) Kerusakan Fasilitas Kesehatan Akibat Bencana

Kerusakan fasilitas kesehatan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan sebesar 69,20 %, yaitu sebanyak 26 unit pada tahun 2014 dan sebanyak 8 unit pada tahun 2015 fasilitas pendidikan rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas kesehatan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.16 di bawah ini.

Tabel 4.16

Jumlah dan Persentase Keruskan Fasilitas Kesehatan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera Tahun 2014 dan 2015

NO Provinsi Kerusakan Fasilitas Kesehatan Tahun 2014 Kerusakan Fasilitas Kesehatan Tahun 2015 Kerusakan Fasilitas Kesehatan (Unit) % Kerusakan Fasilitas Kesehatan (Unit) % 1 Aceh 2 7,69 0 0,00 2 Bengkulu 1 3,85 0 0,00 3 Jambi 10 38,46 4 50,00 4 Kepulauan Riau 0 0,00 0 0,00 5 Lampung 1 3,85 1 12,50 6 Riau 0 0,00 0 0,00 7 Sumatera Barat 8 30,77 3 37,50 8 Sumatera Selatan 0 0,00 0 0,00 9 Sumatera Utara 4 15,38 0 0,00

10 Kep. Bangka Belitung 0 0,00 0 0,00

Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015

Jumlah kerusakan fasilitas kesehatan akibat bencana tahun 2014 tertinggi berada di Provinsi Jambi sebanyak 10 unit (38,46 %) akibat banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Bengkulu hanya 1 unit (3,85 %) yang diakibatkan puting beliung, di Provinsi Lampung 1 unit (3,85 %) yang diakibatkan puting beliung.Tahun 2015 jumlah kerusakan fasilitas kesehatan tertinggi berada di Provinsi Aceh yaitu sebanyak 4 unit (50,00 %) yang dakibatkan banjir, puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Lampung yaitu hanya 1 unit (12,50 %) yang diakibatkan puting beliung.

e) Kerusakan Jalan Akibat Bencana

Kerusakan jalan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan sebesar 0,48 %, yaitu sepanjang 14,64 Km pada tahun 2014 dan sepanjang 14,57 Km pada tahun 2015 jalan yang rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan jalan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.17 di bawah ini.

Tabel 4.17

Jumlah dan Persentase Keruskan Jalan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera Tahun 2014 dan 2015

No Provinsi Kerusakan Jalan Tahun 2014 Kerusakan Jalan Tahun 2015 Kerusakan Jalan (Km) % Kerusakan Jalan (Km) %

1 Aceh 0,25 1,71 11,75 80,65 2 Bengkulu 0,00 0,00 0,04 0,27 3 Jambi 14,32 97,81 0,05 0,34 4 Kepulauan Riau 0,00 0,00 0,00 0,00 5 Lampung 0,00 0,00 0,00 0,00 6 Riau 0,00 0,00 0,04 0,27 7 Sumatera Barat 0,07 0,48 0,11 0,75 8 Sumatera Selatan 0,00 0,00 2,04 14,00 9 Sumatera Utara 0,00 0,00 0,54 3,71

10 Kep. Bangka Belitung 0,00 0,00 0,00 0,00

Jumlah 14,64 100 14,57 100

Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia, Tahun 2015

Kerusakan jalan akibat bencana tahun 2014 tertinggi berada di Provinsi Jambi sepanjang 14,32 Km (97,81%) akibat banjir, dan jumlah terendah di Provinsi Sumatera Barat yaitu sepanjang 0,07 Km (0,48%) yang diakibatkan tanah longsor. Tahun 2015 kerusakan jalan tertinggi berada di Provinsi Aceh yaitu sepanjang 11,75 Km (80,65%) akibat banjir, tanah longsor, dan jumlah terendah di Provinsi Bengkulu yaitu sepanjang 0,04 Km (0,27%) yang diakibatkan banjir, tanah longsor, di Provinsi Riau sepanjang 0,04 Km (0,27%) yang diakibatkan tanah longsor.

f) Kerusakan Lahan Akibat Bencana

Kerusakan lahan akibat bencana di Wilayah Sumatera pada tahun 2014 dan 2015 mengalami peningkatan sebesar 197%, yaitu seluas 6.479,50 Ha pada tahun 2014 Ha dan seluas 19.235,60 Ha pada tahun 2015 lahan yang rusak akibat bencana. Jumlah dan presentase kerusakan jalan akibat bencana di Wilayah Sumatera per Provinsi pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.18 di bawah ini.

Tabel 4.18

Jumlah dan Persentase Keruskan Lahan Akibat Bencana di Wilayah Sumatera Tahun 2014 dan 2015

No Provinsi Kerusakan Lahan Tahun 2014 Kerusakan Lahan Tahun 2015 Kerusakan Lahan (Ha) % Kerusakan Lahan (Ha) %

1 Aceh 164,00 2,53 14.930,00 77,62 2 Bengkulu 43,00 0,66 0,50 0,003 3 Jambi 782,00 12,07 47,00 0,24 4 Kepulauan Riau 0,00 0,00 0,00 0,00 5 Lampung 78,00 1,20 265,00 1,38 6 Riau 50,00 0,77 0,00 0,00 7 Sumatera Barat 188,75 2,91 542,50 2,82 8 Sumatera Selatan 4.944,75 76,31 2.864,60 14,89 9 Sumatera Utara 229,00 3,53 586,00 3,05

10 Kep. Bangka Belitung 0,00 0,00 0,00 0,00

Jumlah 6.479,50 100 19.235,60 100

Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015

Kerusakan lahan akibat bencana tahun 2014 tertinggi berada di Provinsi Jambi seluas 4.944,75 Ha (76,31%) yang diakibatkan banjir, tanah longsor, dan jumlah terendah di Provinsi Bengkulu yaitu seluas 43,00 Ha (0,66%) yang

diakibatkan banjir. Tahun 2015 jumlah kerusakan lahan tertinggi berada di Provinsi Aceh yaitu seluas 14.930 Ha (77,62%) akibat banjir, dan jumlah terendah di Provinsi Bengkulu yaitu seluas 0,50 Ha (0,003%) yang diakibatkan tanah longsor.

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Helmiati, SH, M.SI (Halaman 55-62)