BAB IV IDENTIFIKASI SEBARAN DAN KONDISI DAERAH RAWAN
4.2 Daerah Rawan Bencana di Wilayah Kalimantan
4.4.3. Kerusakan Akibat Bencana di Wilayah Bali dan
Kerusakan rumah akibat bencana dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu rusak berat, rusak sedang, rusak ringan. Rumah rusak berat akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 mengalami peningkatan sebesar 91,02%, yaitu sebanyak 256 unit pada tahun 2014 dan sebanyak 489 unit pada tahun 2015. Rumah rusak sedang mengalami penurunan sebesar 75,09%, yaitu sebanyak 277 unit pada tahun 2014 dan sebanyak 69 unit pada tahun 2015. Rumah rusak ringan mengalami penurunan sebesar 93,77%, yaitu sebanyak 1.107 unit pada tahun 2014 dan sebanyak 788 unit pada tahun 2015. Data spesifik kerusakan rumah akibat
bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.67 di bawah ini.
Tabel 4.67
Jumlah dan Persentase Kerusakan Rumah Akibat Bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Tahun 2014 dan 2015
No Provinsi
Kerusakan Rumah Tahun 2014 Kerusakan Rumah Tahun 2015
Rumah Rusak Berat (Unit) % Rumah Rusak Sedang (Unit) % Rumah Rusak Ringan (Unit) % Rumah Rusak Berat (Unit) % Rumah Rusak Sedang (Unit) % Rumah Rusak Ringan (Unit) % 1 Bali 22 8,59 51 18,41 34 18,41 1 0,20 2 2,90 44 5,58 2 Nusa Tenggara Barat 156 60,94 220 79,42 428 38,66 107 21,88 61,00 88,41 58 7,36 3 Nusa Tenggara Timur 78 30,47 6 2,17 645 58,27 381 77,91 6,00 8,70 686 87,06 Jumlah 256 100 277 100 1.107 100 489 100 69 100 788 100
Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015
Pada tahun 2014 jumlah kerusakan rumah berat tertinggi di Nusa Tenggara Barat sebanyak 156 unit (60,94 %) yang diakibatkan bencana puting beliung, tanah longsor, banjir dan jumlah terendah di Provinsi Bali sebanyak 22 unit (8,59%) yang diakibatkan banjir, tanah longsor dan puting beliung. Jumlah rumah rusak sedang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebanyak 220 unit (79,42%) akibat puting beliung, dan jumlah terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 6 unit (2,17%) yang gelombang pasang/ abrasi. Jumlah rumah rusak ringan terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 645 unit (58,27%) akibat bencana banjir, puting beliung, gelombang pasang/ abrasi, dan jumlah terendah di Provinsi Bali sebanyak 34 unit (18,41%) yang diakibatkan gelombang pasang/ abrasi, banjir dan puting beliung.
Pada tahun 2015 jumlah kerusakan rumah berat terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 381 unit (77,91%) yang diakibatkan bencana puting beliung, banjir, gempa bumi dan jumlah terendah di Provinsi Bali yaitu hanya 1 unit (0,20%) yang diakibatkan tanah longsor. Jumlah rumah rusak sedang terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebanyak 61 unit (88,41%) akibat puting beliung, banjir dan jumlah terendah di Provinsi Bali sebanyak 2
unit (2,90%) yang diakibatkan puting beliung. Jumlah rumah rusak ringan terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 686 unit (87,06%) yang diakibatkan bencana puting beliung, gempa bumi, tanah longsor dan jumlah terendah di Provinsi Bali sebanyak 44 unit (5,58%) yang diakibatkan puting beliung.
b) Kerusakan Fasilitas Peribadatan Akibat Bencana
Kerusakan fasilitas peribadatan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 mengalami peningkatan sebesar 500%, yaitu sebanyak 5 unit pada tahun 2014 dan sebanyak 30 unit pada tahun 2015 yang rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas peribadatan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.68 di bawah ini.
Tabel 4.68
Jumlah dan Persentase Kerusakan Fasilitas Peribadatan Akibat Bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Tahun 2014 dan 2015
No Provinsi Kerusakan Fasilitas Peribadatan Tahun 2014 Kerusakan Fasilitas Peribadatan Tahun 2015 Kerusakan Fasilitas Peribadatan (Unit) % Kerusakan Fasilitas Peribadatan (Unit) % 1 Bali 1 20,00 2 6,67
2 Nusa Tenggara Barat 1 20,00 0 0,00
3 Nusa Tenggara Timur 3 60,00 28 93,33
Jumlah 5 100 30 100
Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015
Pada tahun 2014 jumlah kerusakan fasilitas peribadatan tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 3 unit (60%) yang diakibatkan banjir, puting beliung, gelombang pasang/ abrasi dan jumlah terendah di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat yaitu masing-masing hanya 1 unit (20%) yang diakibatkan banjir dan tanah longsor. Tahun 2015 jumlah kerusakan peribadatan tertingi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 28 unit (93,33%) yang diakibatkan gempa bumi, banjir dan jumlah terendah di Provinsi Bali yaitu sebanyak 2 unit (6,67%) yang diakibatkan tanah longsor.
c) Kerusakan Fasilitas Pendidikan Akibat Bencana
Kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 tidak dapat terdefinisi besarannya baik mengalami peningkatan ataupun penurunan karena pada tahun 2014 dengan jumlah nol sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 22 unit fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.69 di bawah ini.
Tabel 4.69
Jumlah dan Persentase Kerusakan Fasilitas Pendidikan Akibat Bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Tahun 2014 dan 2015
No Provinsi
Kerusakan Fasilitas Pendidikan Tahun 2014
Kerusakan Fasilitas Pendidikan Tahun 2015 Kerusakan Fasilitas Pendidikan (Unit) % Kerusakan Fasilitas Pendidikan (Unit) % 1 Bali 0 0,00 0 0,00
2 Nusa Tenggara Barat 0 0,00 1 4,55
3 Nusa Tenggara Timur 0 0,00 21 95,45
Jumlah 0 0 22 100
Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015
Pada tahun 2015 jumlah kerusakan fasilitas pendidikan tertinggi berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 21 unit (95,45%) yang diakibatkan gempa bumi, banjir dan julah terendah berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu hanya 1 unit (4,55%) yang diakibatkan puting beliung.
d) Kerusakan Fasilitas Kesehatan Akibat Bencana
Kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 tidak dapat terdefinisi besarannya baik mengalami peningkatan ataupun penurunan karena pada tahun 2014 dengan jumlah nol sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 17 unit fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.70 di bawah ini.
Tabel 4.70
Jumlah dan Persentase Kerusakan Fasilitas Kesehatan Akibat Bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Tahun 2014 dan 2015
No Provinsi
Kerusakan Fasilitas Kesehatan Tahun 2014
Kerusakan Fasilitas Kesehatan Tahun 2015 Kerusakan Fasilitas Kesehatan (Unit) % Kerusakan Fasilitas Kesehatan (Unit) % 1 Bali 0 0,00 0 0,00
2 Nusa Tenggara Barat 0 0,00 1 5,88
3 Nusa Tenggara Timur 0 0,00 16 94,12
JUMLAH 0 0 17 100
Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015
Pada tahun 2015 jumlah kerusakan fasilitas pendidikan tertinggi berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 16 unit (94,12%) yang diakibatkan gempa bumi, banjir dan jumlah terendah berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu hanya 1 unit (5,88%) yang diakibatkan puting beliung.
e) Kerusakan Jalan Akibat Bencana
Kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 berjumlah nol. Hal ini dikarenakan bencana yang terjadi menurut data dari BNPB tidak mengakibatkan kerusakan jalan baik pada tahun 2014, maupun tahun 2015.
f) Kerusakan Lahan Akibat Bencana
Kerusakan lahan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan sebesar 23,08% yaitu sebanyak 52 Ha pada tahun 2014, dan sebesar 52 Ha pada tahun 2015 lahan yang rusak akibat bencana. Data spesifik kerusakan fasilitas pendidikan akibat bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat dari Tabel 4.71 di bawah ini.
Tabel 4.71
Jumlah dan Persentase Kerusakan Lahan Akibat Bencana di Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Tahun 2014 dan 2015
No Provinsi
Kerusakan Lahan Tahun
2014 Kerusakan Lahan Tahun 2015 Kerusakan Lahan
(Ha) %
Kerusakan Lahan
(Ha) %
1 Bali 0,00 0,00 0,00 0,00
2 Nusa Tenggara Barat 30,00 57,69 25,00 62,50
3 Nusa Tenggara Timur 22,00 42,31 15,00 37,50
Jumlah 52,00 100 40,00 100
Sumber: Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Tahun 2015
Pada tahun 2014 jumlah kerusakan lahan tertinggi berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu sebanyak 30 Ha (57,69 %) yang diakibatkan banjir dan jumlah terendah berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 22 Ha (42,31 %) yang diakibatkan banjir. Pada tahun 2015 jumlah kerusakan lahan tertinggi berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu sebanyak 25 Ha (62,50 %) yang diakibatkan banjir dan jumlah terendah berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebanyak 15 Ha (37,50 %) yang diakibatkan banjir.