Karya B. Soelarto Di luar kedengaran ledakan peluru.
Politikus dan pedagang buru-buru rebah tiarap ke lantai. Petualang bersikap tenang saja juga senyum mencibir melihat kelakuan kedua lelaki yang sama ketakutan tiarap di lantai. Suara ledakan hilang. Petualang buru-buru menggamit kedua orang itu, memberi isyarat agar mereka bangkit. Keduanya sama bangkit dengan wajah masih me ngandung rasa cemas. Politikus sambil meng usapi debu pada pakaiannya dengan rasa
geram matanya melotot memandang ke arah perempuan, yang dibalas dengan cibiran. Pe-dagang buru-buru ambil cangkir wedang, terus diminum sisa-sisa isinya sampai tandas.
Politikus : Baik Nona, kali ini kau menang. Tapi tunggu sebentar lagi ya. Kau akan rasakan menghina seorang fungsionaris yang berkuasa besar seperti aku ini. Nona, sekali aku beri instruksi menutup losmen
Drama bermakna karangan yang ditulis dalam bentuk per-cakapan atau dialog dan sengaja disiapkan untuk dilakon kan. Drama sering juga disebut tonil (Belanda: toneel) atau sandiwara (Jawa).
Percakapan dan tanya jawab antara pelaku disebut dialog. Dialog dapat memperkenalkan watak tokoh-tokohnya dan mene-rangkan isi naskah. Selain itu, dialog berisi kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh tokoh kepada tokoh lain itu memuat peristiwa dan pokok pembicaraan yang ingin diungkap kan pengarang.
Tokoh- tokoh diciptakan sebagai pelaku cerita. Karakter to-koh-tokohlah yang menggerakkan cerita dalam drama. Karakter yang ditampilkan, misalnya, pemberani, penakut, jahat, serakah, dan sebagainya. Karakter juga dapat berkaitan dengan tema. Misalnya, tema percintaan akan memunculkan karakter yang gagah, heroik, lembut, dan dengki.
Penciptaan watak tokoh bisa secara tidak langsung, yaitu melalui tindakan dan ucapan tokoh (secara dramatik) dan dapat secara langsung melalui percakapan tokoh lain (analitik).
Selain tokoh, unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah latar (setting). Latar turut mendukung suasana dan tema drama. Misalnya, latar sebuah penjara akan membangun suasana yang suram, dingin, dan mencekam. Tema yang dapat dikaitkan dengannya, yaitu tentang kejiwaan, kejahatan, politik, atau sosial kemasyarakatan.
Untuk menelaah komponen teks drama, simaklah baik-baik teks berikut.
Menelaah Komponen
Menelaah Komponen
Kesastraan dalam Teks
Kesastraan dalam Teks DramaDrama
D
Pelajaran ini bertujuan agar Anda dapat : • memahami
aspek-aspek dalam teks drama;
• menganalisis unsur-unsur kesastraa dalam drama.
ini, tidak tunggu besok tidak lusa Nona akan kehilangan rumah ini. Dan Nona akan diusir seperti Nona telah mengusir kami. Perempuan : Oo... Tuan mau tunjukkan taring,
ha? Silakan tuan. Dibakar pun rumah milikku ini aku tidak akan mengeluh.
Politikus jadi gemetar mulutnya karena dibakar amarahnya. Tapi sebelum ia sempat bicara, si Petualang cepat melerai.
Petualang : Sudahlah, Pak. Sia-sia saja me-ladeni perempuan macam begitu. Perempuan : Alangkah hebatnya ucapanmu
itu ya Tuan Tabib obat kuat! Apa maksud tuan dengan perkataan "perempuan macam begitu" hah? Petualang : Nona sudah cukup pengalaman.
Sudah bisa menafsirkan sendiri dengan tafsiran yang setepat-tepat nya.
Perempuan : Hah, alangkah sayangnya bahwa tuan-tuan yang mengaku manusia-manusia terhormat, tidak tahu cara menilai kehormatan diri pribadi.
Politikus : Cukup! Bicara Nona sudah ke-lewat batas susila!
Perempuan : Alangkah lucunya tuan bersikap "sok-susila." Apa tuan sudah lupa kemarin malam? Tuan berbuat apa, hah? Tuan membujuk aku dengan janji-janji muluk, agar aku menjadikan losmen ini satu pe rusahaan bordil atasan. Dan agar aku suka jadi selir tuan secara tidak resmi....
Politikus : Itu aku protes! Nona telah dengan cara sengaja menyalah-tafsir kan pem bicaraanku ke-maren malam itu. Nona sekarang
mau meng intimidasi aku dengan tujuan peme rasan. Nona mau main intrik ya! Awas, Nona akan kutuntut
Perempuan : Besok boleh, sekarang boleh juga. Tuan boleh protes seribu kali. Politikus menghantamkan ke-palan tangan satunya ke atas meja. Sebelum ia sempat menjawab, si Pe dagang mendahului.
Pedagang : Ingat Nona! Bapak ini seorang pejabat tinggi yang menguasai seluruh wilayah ini. Bapak ini punya kuasa dan wewenang yang sangat besar. Jangan Nona meng-umbar bicara mentang-mentang ...
Perempuan : Mentang-mentang apa? Aku tidak peduli siapa tuan-tuan itu. Di mataku, tuan-tuan tidak lebih dari lelaki biasa. Yang sok alim, sok susila. Yang dengan segala akal bulusnya pintar main sandiwara untuk menghormatkan per-buatan isengnya yang sama sekali tidak terhormat!
Pedagang : Suara Nona seperti guntur! Perempuan : Peduli apa! Ini dalam rumahku
sendiri. Sekalipun sekarang ada bom jatuh kemari karena teriakan-teriakanku, aku tidak peduli lagi, pula bukankah tuan-tuan sendiri yang memulai sengketa ini.
Pedagang : Celaka sudah! Perempuan ini sudah tidak waras.
Perempuan : Pikiran tuan sendiri bagaimana hah? Waras? Kalau tuan waras, kenapa malam lusa kemaren tuan ngluyur coba-coba masuk ke kamarku. Mau apa tuan kalau begitu?
Sumber: Naskah drama Domba-Domba Revolusi, 1962
Dari cuplikan tersebut, Anda mengetahui bahwa drama Domba-Domba Revolusi tokoh-tokohnya terdiri atas empat orang, yaitu Perempuan, Politikus, Petualang, dan Pedagang.
143
143
Menelaah Teks Drama Koni k dimunculkan dengan lebih intens (sering) dengan
pengembangan karakter masing-masing tokoh. Misalnya, tokoh Politikus, Pedagang, dan Petualang akan terus memojok kan tokoh Perempuan mengingat tiap-tiap tokoh memiliki karakter negatif. Sementara itu, tokoh perempuan akan semakin tegar dan berani sehingga konfl ik berkelanjutan dan semakin meningkat.
Jika drama itu dipentaskan, latar (setting) sangat membantu dalam membangun suasana cerita pada drama itu. Ruangan losmen yang digambarkan adalah interior sebuah ruangan gaya arsitektur yang lazim ada pada 1940-an mengingat peris tiwa dalam cerita tersebut adalah revolusi i sik zaman perang kemer dekaan. Di dalam bentuk teks, suasana pada drama Domba-Domba Revolusi memang kurang tergambarkan dengan terperinci sehingga situasi tempat kurang terasa. Gambaran suasana terperinci itu misalnya bentuk lemari, kursi, meja, serta perabot-perabot dan hiasan-hiasan lainnya. .
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah penampilan. Karakter-karakter dapat lebih dimunculkan dengan penam pilan. Misalnya, mimik wajah, gerak-gerik tubuh (gesture), nada bicara, serta pemakaian kostum. Kostum, selain membantu menghidupkan perwatakan pelaku, juga membantu memper kuat setting.
Setelah itu, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Karya sastra drama memberikan pemahaman untuk kehidupan, khususnya melalui pesan karya.
2. Drama tersebut memiliki kekuatan pada karakter/ penokohan. Hal ini terbentuk karena latar dan konfl ik antartokoh.
Telaahlah komponen kesastraan dalam penggalan naskah drama "Bunga Rumah Makan" karya Utuy Tatang Sontani pada Pelajaran 10 bagian A.
Latihan
Latihan PemahamanPemahaman
Tugas
Tugas KelompokKelompok
Carilah sebuah naskah drama, kemudian telaah naskah drama tersebut.
Mengenal
Mengenal
Lebih Dekat
Lebih Dekat
Drama merupakan percakapan dan perilaku yang mem bentuk cerita, perwatakan, dan citra. Kita dapat menonton dan memahami pertunjukan drama dengan cara menyimak per cakapan di antara pelaku dengan saksama.Sumber:Rendra dan teater modern Indonesia, 200
Tokoh Perempuan memiliki karakter tegas, berani, dan pintar. Politikus memiliki karakter otoriter, hipokrit (munai k), dan mata keranjang. Petualang berkarakter pandai bicara. Sementara itu, tokoh pedagang memiliki karakter mata keranjang.
• Penokohan para pelaku adalah pelukisan kepribadian para pelaku / tokoh. Penokohan di bagi menjadi: Protagonis yaitu tokoh pembawa ide pokok, Antagonis yaitu tokoh penentang ide pokok, dan Tritagonis yaitu tokoh penengah.
• dalam mengekspresikan karakter dari seorang tokoh, seseorang sebaiknya mendalami dahulu peran yang akan dimainkan, dengan cara membaca naskah.