• Tidak ada hasil yang ditemukan

Foto 4.5 Jembatan Desa Lawe Sigala II penjebolan banjir bandang

4.3. Kesiapsiagaan Masyarakat(Society Preparedness)

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU RI No.24 Tahun 2007). Sedangkan

111

Kesiapsiagaan menurut Carter (1991) adalah tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas, dan individu untuk mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan tepat guna.

Termasuk kedalam tindakan kesiapsiagaan adalah penyusunan rencana penanggulangan bencana, pemeliharan dan pelatihan personil.

Kesiapan dan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi banjir yang diharapkan adalah bersifat proaktif untuk dapat melakukan langkah-langkah pencegahan, tanggapan darurat serta rehabilitasi yang bekerjasama dengan pemerintah, LSM untuk memelihara lingkungan yang dapat menyebabkan banjir agar dapat meminimalisir dampak yang akan ditimbulkan. Kesiapsiagaan juga meliputi pendidikan dan pelatihan kepada penduduk, petugas, tim-tim khusus, pengambil kebijakan, standar bakupenanganan supply dan penggunaan dana.

Dengan demikian kesiapsiagaan bencana bertujuan untuk meminimalisir kerugian melalui tindakan-tindakan cepat, tepat dan efektif (Mariani 2008).

Kesiapsiagaan adalah upaya yang dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, dan berubahnya tata kehidupan masyarakat. Sebaiknya suatu kabupaten kota melakukan kesiapsiagaan.

Pengetahuan dan sikap masyarakat merupakan pengetahuan dasar yang semestinya dimiliki oleh masyarakat meliputi pemahaman tentang bahaya banjir, penyebab, gejala atau tanda, pengalaman akan bencana, dampak yang ditimbulkan, maupun sikap apa yang harus dilakukan bila terjadi banjir

112

Kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah suatu kondisi suatu masyarakat yang baik secara invidu maupun kelompok yang memiliki kemampuan secara fisik dan psikis dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari manajemen bencana secara terpadu. Kesiapsiagaan adalah bentuk apabila suatu saat terjadi bencana dan apabila bencana masih lama akan terjadi, maka cara yang terbaik adalah menghindari resiko yang akan terjadi, tempat tinggal,seperti jauh dari jangkauan banjir. Kesiapsiagaan adalah setiap aktivitas sebelum terjadinya bencana yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas operasional dan memfasilitasi respon yang efektif ketika suatu bencana terjadi.

Perubahan paradigma penanggulangan bencana yaitu tidak lagi memandang penanggulangan bencana merupakan aksi pada saat situasi tanggap darurat tetapi penanggulangan bencana lebih diprioritaskan pada fase prabencana yang bertujuan untuk mengurangi resiko bencana. Sehingga semua kegiatan yang berada dalam lingkup pra bencana lebih diutamakan.

Adapun kegiatan kesiapsiagaan secara umum adalah: (1) kemampuan menilai resiko; (2) perencanaan siaga; (3) mobilisasi sumberdaya; (4) pendidikan dan pelatihan; (5) koordinasi; (6) mekanisme respon; (7) manajemen informasi; (8) gladi/ simulasi.

Dalam menghadapi ancaman bencana, kesiapsiagaan adalah menjadi kunci keselamatan bagi warga masyarakat yang mengalami bencana alam maupun non alam. Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang

113

dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

Menurut BNPB (Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana)Adapun upaya kesiapsiagaan yang bermanfaat bagi masyarakat dalam berbagai situasi yaitu: (1) Mamahami bahaya di sekitar kita. (2) Memahami sistem peringatan dini setempat. Mengetahui rute evakuasi dan rencana pengungsian. (3) Memiliki pemahaman untuk mengevaluasi situasi secara cepat dan mengambil inisiatif tindakan untuk melindungi diri. (4) Memiliki rencana antisipasi bencana untuk keluarga dan mempraktekkan rencana tersebut dengan latihan. (5) Mengurangi dampak bahaya melalui latihan mitigasi. (6) Melibatkan diri dengan berpartisipasi dalam pelatihan.

Bencana sering terjadi tanpa peringatan sehingga masyarakat membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapinya. Salah satau kebutuhan yang diperlukan untuk menghadapi bencana adalah rencana kesiapsiagaan. Tiga upaya utama dalam menyusun rencana kesiapsiagaan menghadapi bencana yaitu:

1. Memiliki sebuah rencana darurat keluarga Rencana yang mencakup sebagai berikut: (1) Mengetahui ancaman di sekitar. (2) Identifikasi titik kumpul. (3) Nomor kontak penting yang bisa dihubungi. (4) Ketahuilah rute atau jalan yang mudah dijangkau dan aman. (5) Identifikasi lokasi untuk mematikan saluran air, gas, dan listrik. (6) Identifikasi titik kumpul atau titik aman di dalam bangunan maupun luar rumah. (7) Identifikasi

114

anggota keluarga yang rentan (anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas).

2. Tas Siaga Bencana (TSB) merupakan tas yang dipersiapkan anggota keluarga untuk berjaga-jaga apabila terjadi suatau bencana atau kondisi darurat lain. Tujuan TSB sebagai persiapan untuk bertahan hidup saat bantuan belum datang dan memudahkan kita saat evakuasi menuju tempat aman. Berikut contoh kebutuhan dasar Tas Siaga Bencana maupun dokumen-dokumen penting adalah: (1) Surat-surat penting seperti surat tanah, surat kendaraan, ijazah, akte kelahiran, uang, perhiasan emas, senter penerang, peluit, masker, perlengkapan mandi, air minum, makanan ringan, kotak obat/P3K, sarung, dan lain sebagainya.

3. Menyimak informasi dan berbagai media seperti radio, TV, media online, maupun sumber yang resmi. Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi terhadap penanganan darurat dari BPBD, BNPB, dan kementerian/lembaga yang terkait. Apabila sudah terbentuk posko, informasi lanjutan akan diberitahukan oleh posko setempat. Berikut ini adalah beberapa daftar untuk melihat upaya perlindungan yang perlu diketahui atau dikenali sebagai berikut: (1) Kaji situasi yaitu mengidentifikasi tipe bencana dan kondisi sekitar kita. (2) Putuskan untuk tinggal atau berpindah tempat dalam beberapa situasi. Kita mungkin harus tetap diam dan di situasi lain kita harus berpindah tempat.

(3) Tinggal atau berpindah tempat adalah keputusan yang penting dalam bencana. Apabila kita tidak dalam kondisi bahaya. Kita harus tetap tinggal dan berupaya untuk mendapatkan informasi situasi terkini.

115

Apabila kita harus berpindah, buatlah keputusan secara cepat. Sangat penting untuk mendengarkan pemerintah setempat ketika ada instruksi.

(4) Lindungi diri anda dari keruntuhan dan beri sinyal kepada penolong.

Apabila kita berada di dalam kondisi keruntuhan carilah celah untuk bernafas. Lempar suatu tiup peluit untuk pertolongan. Upayakan untuk mrmbuat suara dengan benda sekitar kita.

Berdasarkan hasil wawancara dari seorang Bapak Ucok (40) dalam antisipasi di Desa untuk kesiapsiagaan banjir bandang mengatakan:

“Warga Desa yang jika memiliki anak-anak maupun bayi harap segera menggendong dan mencari tempat atau lokasi yang kita anggap aman.Yang memiliki keluarga lansia harap segera diungsikan ke tempat yang sudah diperkirakan airnya yang sudah melebar luas.Sebelum terjadinya banjir harap segera benda-benda yang dianggap penting ataupun berharga agar memasukannya kedalam tas atau ransel seperti: surat-surat tanah, surat-surat kendaraan, ijazah, akte kelahiran, uang, emas, dan lainnya.Siap sedia benda-benda pelindung seperti: mantel, payung, sarung, jacket, senter, handphone, pakaian untuk 3 hari, makanan ringan tahan lama, air minum, kotak obat/P3K, perlengkapan mandi.”(hasil wawancara 24/03/2019)