• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketahanan Sektor Korporasi Provinsi Sumatera Utara

Dalam dokumen PROVINSI SUMATERA UTARA (Halaman 67-71)

Pola Inflasi Subkelompok Pendidikan

ULOS RAGIHOTANG

4.1 Perkembangan Stabilitas Sistem Keuangan Provinsi Sumatera Utara

4.1.1 Ketahanan Sektor Korporasi Provinsi Sumatera Utara

Kinerja korporasi di Sumatera Utara dipengaruhi terutama oleh kondisi ekonomi global. Hal ini dikarenakan produk yang dihasilkan sebagian besar diekspor ke luar negeri. Produk utama ekspor dari Sumatera Utara adalah crude palm oil (CPO), karet, dan kopi. Dengan demikian, kinerja korporasi banyak dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas internasional. Meski harga komoditas relatif melambat atau perkembangannya masih lemah, permintaan terhadap produk ekspor Sumatera Utara masih cukup kuat sejalan dengan perbaikan ekonomi di beberapa mitra dagang utama.

Di triwulan III 2017, harga CPO dan karet cenderung melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun demikian, kinerja ekspor CPO dan karet di triwulan III 2017 masih positif. Peningkatan kinerja ekspor sawit ke luar negeri terjadi seiring dengan tingginya aktivitas manufaktur makanan di negara partner dagang utama. Sejalan dengan hal tersebut, perbaikan ekspor ke luar negeri untuk komoditas karet sejalan dengan meningkatnya permintaan kendaraan bermotor di Amerika dan Tiongkok (lihat Bab I Makroekonomi).

Kinerja Korporasi - Umum

Kegiatan dunia usaha pada triwulan III 2017 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilaksanakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara meningkat dari -2% menjadi 10%. Peningkatan SBT tersebut diikuti oleh kenaikan SBT kapasitas produksi terpakai.

Struktur perekonomian Sumatera Utara didominasi oleh 3 sektor utama ekonomi, yaitu Pertanian dengan share 20,7%, Industri Pengolahan sebesar 20,5% dan Perdagangan Besar dan Eceran (PBE) sebesar 18,1%.

Penyaluran kredit korporasi di Sumatera Utara juga terkonsentrasi pada ketiga sektor tersebut. Tertinggi di sektor Industri Pengolahan (30,7%), diikuti sektor Pertanian (25,3%) dan PBE (28,6%).

Grafik 4.1 Perkembangan Kegiatan Usaha

Peningkatan SBT kegiatan dunia usaha terutama terjadi pada sektor Pertanian dan sektor Industri Pengolahan, sementara sektor Perdagangan mengalami penurunan.

Penyaluran kredit ke ketiga sektor tersebut dalam kecenderungan yang menurun. Namun demikian, pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor Pertanian dan sektor Industri Pengolahan masih cukup tinggi, sementara penyaluran kredit ke sektor Perdagangan tumbuh negatif pada triwulan III 2017. Risiko kredit juga masih terjaga kecuali untuk sektor Perdagangan yang di atas level indikatif.

Pertanian

Grafik 4.2 Perkembangan Pertumbuhan Kredit dan Resiko Sektor Pertanian

Penyaluran kredit pada sektor ini tumbuh 15,5% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 16,9% (yoy), namun dengan risiko kredit yang masih terjaga. Penyaluran kredit yang cukup tinggi tersebut merespon kinerja sektor Pertanian khususnya di subsektor Perkebunan yang masih cukup kuat ditengah penurunan harga komoditas. Secara keseluruhan pada triwulan III tahun 2017 sektor Pertanian tumbuh moderat sebesar 3,1% (yoy) (Grafik.4.1).

Perbaikan permintaan serta harga komoditas CPO yang mulai membaik turut mendukung meningkatnya kinerja sektor pertanian. Meskipun kenaikan tersebut masih didorong oleh kecukupan persediaan ditengah produksi TBS yang meningkat. Kondisi ini tergambar dari

inventory turnover ratio yang membaik dari 10.2%

menjadi 10.7%.

Sejalan dengan pertumbuhan kredit yang melambat, resiko kredit sektor ini masih terjaga pada 1,5% (yoy). Suku bunga tertimbang (SBT) kredit untuk sektor pertanian mencapai 8.5% (yoy), perkebunan kelapa sawit 8,2% (yoy) dan perkebunan karet 10,8% (yoy).

Industri Pengolahan

Grafik 4.3 Perkembangan Pertumbuhan Kredit dan Resiko Sektor Industri Pengolahan

Kondisi yang sama terlihat pada penyaluran kredit ke sektor Industri Pengolahan. Kredit ke sektor ini masih tumbuh cukup tinggi (16,3% yoy) (Grafik 4.2) yang mendukung pertumbuhan kegiatan ekonomi pada sektor Industri Pengolahan, yang tumbuh 6,2% (yoy) pada triwulan III 2017.

Penurunan konsumsi masyarakat pada triwulan sebelumnya berdampak pada produksi dari industri dimaksud yang menurun. Kondisi ini berpengaruh kepada permintaan kredit sektor ini yang juga menurun meskipun SBT sektor ini adalah 7,6% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya 7,7% (yoy). Keyakinan pelaku usaha yang menurun juga tergambar dari indeks keyakinan pelaku usaha berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Indeks keyakinan mencapai 7% lebih rendah dari realisasi yang mencapai 10% (Grafik.4.3).

Grafik 4.4. Indeks Realisasi dan Pelaku Usaha terhadap Kegiatan Usaha

Meskipun beberapa indikator menunjukkan penurunan, risiko kredit lapangan usaha industri pengolahan membaik pada angka 1,4% (yoy) dari sebelumnya mencapai 1,6% (yoy). Industri Pengolahan masih akan membaik pada Triwulan IV seiring dengan masuknya PHBK Natal dan Tahun Baru. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Triwulan III Tahun 2017 meningkat 123.3% (Grafik 4.4). Kondisi permintaan akan membaik.

Perdagangan Besar dan Eceran

Kinerja lapangan usaha PBE meningkat tipis 5.9% (yoy) pada triwulan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,8% (yoy) (Grafik 4.5). Berbeda dengan penyaluran kredit sektor PBE yang terkontraksi -9.8% (yoy). Penyaluran kredit yang rendah pada sektor ini salah satunya disebabkan oleh risiko kredit yang tinggi. mencapai 5,7% (yoy) di atas batas risiko kredit rata-rata perbankan yaitu 5%. Lembaga keuangan menjadi lebih berhati-hati menyalurkan kredit pada sektor ini. Kondisi ini juga direfleksikan oleh SBT sektor PBE yang mencapai 11,3% (yoy).

Grafik 4.6. Perkembangan Pertumbuhan Kredit dan Resiko Sektor PBE

Kinerja Korporasi - Keuangan

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan perbaikan pada triwulan III, indikator kinerja keuangan korporasi di Sumatera Utara pada triwulan II 2017 membaik dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (Tabel 4.1).

Produktivitas korporasi di Sumatera Utara relatif stabil yang tercermin pada indikator inventory

turnover. Berdasarkan industri, sektor

Perkebunan menunjukkan perbaikan produktivitas dan dengan level yang jauh di atas produktivitas industri secara keseluruhan. Sementara industri lainnya cenderung stabil. Tingkat produktivitas yang stabil tersebut dibarengi dengan profitabilitas yang membaik cukup signifikan. Profitabilitas yang tercermin pada rasio Return on Asset (ROA) dan Return on

Equity (ROE) menunjukkan peningkatan yang

signifikan dibandingkan dengan triwulan II 2017, meningkat masing-masing menjadi 4,9% dan 11,8%.

Perbaikan terutama terjadi pada sektor Trade (Perdagangan, Service dan Investasi),

Infrastructure (Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi) dan Property (Konstruksi, Properti dan Real Estate). Sedangkan untuk sektor Aneka Industri, meskipun ROA dan ROE mengalami penurunan, tetapi profit margin masih tumbuh positif. Membaiknya sektor Trade, Infrastructure dan Property dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas yang mendorong ekspor. Perbaikan tersebut juga sejalan dengan pembangunan beberapa proyek infrastruktur strategis di Sumatera Utara yang berjalan on-track seperti pembangunan jalan tol Kualanamu-Tebing Tinggi dan Medan-Binjai.

Meningkatnya profitabilitas berdampak pada ketahanan korporasi dan kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Proporsi hutang terhadap jumlah ekuitas yang tergambar dari

Debt to Equity Ratio (DER) juga membaik, turun

menjadi 1,4%. Kondisi tersebut juga didukung oleh kondisi likuiditas yang membaik. Hal ini terlihat dari current ratio tercatat meningkat 1,5% dan solvability ratio terjaga pada 1,7%.

Berbeda dengan Trade dan Infrastructure, sektor Perkebunan dan Industri Kimia Dasar menunjukkan penurunan, terutama sektor Perkebunan. ROA dan ROE sektor Perkebunan mencatat angka yang negatif. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebakaran hutan pada masa El Nino 2016 dan mayoritas perkebunan sawit rakyat yang sudah memasuki masa replanting, berdampak pada rendahnya produktifitas perkebunan kelapa sawit ditengah mulai membaiknya harga CPO. Kondisi ini turut berpengaruh pada industri turunannya. Namun, untuk Industri Kimia Dasar, tingkat profitabilitas industri masih lebih tinggi dari rata-rata industry keseluruhan.

Risiko Korporasi

Hingga triwulan III 2017 kemampuan membayar utang diindikasikan masih terjaga, yang tercermin pada rasio NPL yang relatif rendah. NPL pada triwulan III 2017 tercatat sebesar 2,88%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,78%.

Kondisi tersebut juga didukung oleh kinerja ekspor yang cukup baik, meningkat signifikan pada triwulan III 2017 dibandingkan triwukan sebelumnya, yaitu 0,9% (yoy) menjadi 13,2% (yoy). Namun demikian, hasil liaison menyatakan bahwa korporasi memandang bahwa isu proteksionismedan ketatnya persaingan masih menjadi kendala peningkatan usaha.

Ekspektasi kegiatan usaha oleh korporasi juga masih cukup kuat, menunjukkan kecenderungan meningkat. Survei SKDU pada triwulan III 2017 menunjukkan bahwa SBT perkiraan kondisi dunia usaha sebesar 30%, terus meningkat dibandingkan dua triwulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 21% dan 14%.

Kenaikan risiko korporasi terkait dengan tekanan kenaikan biaya, terutama biaya energi. Berdasarkan hasil liaison, korporasi di Sumatera Utara pada triwulan III 2017 merasakan adanya kenaikan biaya energi terkait dengan kenaikan tarif listrik. Likert Scale (LS) biaya energi cenderung meningkat dari 0,6 menjadi 0,9. Sementara itu, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja cenderung stabil atau bahkan menurun. Di sisi lain, harga jual produk relatif tetap sehingga margin usaha mengalami penurunan.

Ke depan, risiko korporasi diperkirakan berkurang sejalan dengan pembangunan infrastruktur strategis. Beberapa infrastruktur strategis yang dapat memberikan peran penting terhadap ekonomi Sumatera Utara diantaranya pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung, pengembangan Bandara Kualanamu, dan

pembangunan jalan to yang menjadi bagian trans Sumatera. Pembangunan tersebut berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan (on track), yang diharapkan ke depan memberikan dampak yang positif kepada sektor korporasi. Perdagangan antar wilayah akan semakin berkembangan yang selanjutnya akan mendorong perkembangan sektor-sektor ekonomi dengan lebih baik dan berkesinambungan.

Eksposure Perbankan Pada Sektor Korporasi Berdasarkan hasil liaison, sebagian besar dana korporasi bersumber dari dana internal. Sejak terjadi krisis 2008, perusahaan lebih banyak mengoptimalkan dana sendiri. Hingga saat ini exposure perbankan pada sektor korporasi terlihat masih relatif rendah dibandingkan penggunaan internal funding.

Dilihat dari proporsi penyaluran kredit, jumlah kredit yang disalurkan ke sektor korporasi pada triwulan III 2017 masih cukup dominan. Kondisi tersebut didukung oleh suku bunga kredit yang terus menurun, yang pada triwulan III 2017 sebesar 10,14%. Dengan perkembangan tersebut, rasio NPL masih terjaga meski sedikit meningkat (lihat subbab Perkembangan Perbankan).

Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan

Berdasarkan jenis penggunaan, penyaluran kredit terutama dalam bentuk modal kerja (sekitar 48%). Sementara itu, porsi kredit investasi mencapai sekitar 30%, yang terus meningkat sejalan dengan perbaikan ekonomi yang mendorong kegiatan investasi.

Namun demikian, pada triwulan III 2017 pertumbuhan kredit investasi melambat yang menjadi pendorong utama perlambatan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Kredit modal kerja juga melambat cukup signifikan, sementara pertumbuhan kredit konsumsi relatif stabil.

4.1.2 Ketahanan Sektor Rumah Tangga

Dalam dokumen PROVINSI SUMATERA UTARA (Halaman 67-71)