ULOS MANGIRING
1.3 Perkembangan Ekonomi Sisi Lapangan Usaha
Dari sisi Lapangan Usaha, kinerja empat sektor utama pada triwulan III 2017 cenderung mengalami peningkatan, kecuali sektor industri pengolahan yang sedikit menurun. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh tingginya sektor konstruksi yang mencapai 6,7% (yoy) pada triwulan ini. Banyaknya realisasi proyek pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah dan swasta meningkatkan pencapaian sektor konstruksi. Walaupun peningkatan dari keempat sektor utama pada triwulan laporan kurang signifikan, keempat kategori tersebut masih menyumbang 74% PDRB Sumatera Utara. Sementara itu, sektor lainnya terutama sektor tersier tumbuh signifikan. Sektor administrasi pemerintahan, jasa perusahaan, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial pada triwulan III 2017 tercatat lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, sehingga mendukung perkembangan ekonomi sisi produksi.
Tabel 1.4 Perekonomian Sumatera Utara Sisi Penawaran
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Total I II III IV Total I II III
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 5.5 3.4 8.0 5.6 2.6 4.9 2.0 2.4 3.1 # Pertambangan dan Penggalian 6.1 1.7 6.7 8.2 6.1 5.7 4.8 4.9 4.8 # Industri Pengolahan 3.6 9.3 2.3 1.9 4.9 4.5 5.6 6.5 6.2 # Pengadaan Listrik, Gas 2.3 1.6 10.0 6.0 -1.7 3.8 12.2 9.5 9.0 #
Pengadaan Air 6.4 3.1 4.9 9.7 9.1 6.7 8.2 6.9 4.9 #
Konstruksi 5.5 3.5 6.0 5.5 7.4 5.6 5.2 5.2 6.7 #
Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor 4.4 2.5 5.2 7.5 7.7 5.8 4.8 5.8 5.9 # Transportasi dan Pergudangan 5.7 3.3 6.2 7.4 7.2 6.1 7.4 7.8 6.8 # Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 7.0 4.3 5.7 7.7 8.5 6.5 6.7 7.0 7.7 # Informasi dan Komunikasi 7.1 5.8 6.9 8.6 9.6 7.8 9.3 9.3 8.4 # Jasa Keuangan 7.2 7.5 6.2 3.7 -0.6 4.1 -0.5 2.5 -1.1 #
Real Estate 5.8 4.6 5.2 6.8 6.9 5.9 9.9 9.3 7.4 #
Jasa Perusahaan 5.9 5.7 5.9 6.0 6.2 6.0 8.0 8.0 9.0 #
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 5.8 1.2 1.9 2.1 2.6 2.0 1.0 1.5 3.1 #
Jasa Pendidikan 5.0 7.4 7.0 2.9 2.7 4.9 2.2 2.2 1.5 #
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7.2 7.9 5.2 8.5 7.7 7.4 6.9 7.4 8.3 #
Jasa lainnya 6.7 7.0 6.3 6.4 6.4 6.5 8.5 8.5 8.8 #
Kinerja sektor pertanian meningkat dari 2,4% (yoy) pada pada triwulan II 2017 menjadi 3,1% (yoy) pada triwulan III 2017. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh subsektor perkebunan bersamaan dengan masuknya musim panen tanaman perkebunan semusim yang didukung oleh cuaca yang kondusif. Selain itu, cuaca pada triwulan III 2017 juga mendukung nelayan untuk menangkap ikan, sehingga dapat mendorong peningkatan sektor pertanian lebih jauh lagi.
Grafik 1.25 Pertumbuhan Sektor Pertanian dan Pengolahan
Namun demikian, kinerja subsektor tanaman pangan dan hortikultura masih kurang optimal. Hal ini tercermin dari penurunan Nilai Tukar Petani Palawija (NTPP) serta Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) pada triwulan III 2017. NTPP menurun dari 95,0 pada triwulan II 2017 menjadi 93,8 pada triwulan ini, sedangkan NTPH menurun dari 93,9 menjadi 91,9 pada triwulan III 2017.
Sumber: BMKG Stasiun Klimatologi Sampali-Medan
Grafik 1.26 Perkiraan Sifat Curah Hujan Juli 2017
Sumber: BMKG Stasiun Klimatologi Sampali-Medan
Grafik 1.27 Perkiraan Sifat Curah Hujan Agustus 2017
Sumber: BMKG Stasiun Klimatologi Sampali-Medan
Grafik 1.28 Distribusi Sifat Curah Hujan September 2017
Di sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit pertanian juga sedikit melambat dari 16,9% (yoy) menjadi 15,5% (yoy). Namun, Non Performing
Loan (NPL) sektor pertanian mengalami
penurunan dari 1,5% menjadi 1,59% pada triwulan ini. Penurunan tersebut mencerminkan membaiknya risiko di sektor ini seiring dengan peningkatan ekspor CPO. Di akhir tahun, peningkatan kinerja sektor pertanian diharapkan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan masuknya musim panen bagi tanaman hortikultura.
Grafik 1.29 Penyaluran Kredit Pertanian
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Grafik 1.30 Realisasi NTP Sumatera Utara
Grafik 1.31 Realisasi Impor Pupuk Provinsi Sumatera Utara
Membaiknya kinerja kategori perkebunan ditopang oleh peningkatan ekspor komoditas utama Sumatera Utara yaitu kelapa sawit, karet, dan kopi. Perbaikan kinerja ekspor komoditas tersebut ditunjang oleh meningkatnya permintaan mitra dagang utama. Hal ini ditunjukkan dengan Purchasing Manager Index (PMI) Tiongkok dan Amerika Serikat yang mengalami peningkatan.
Permintaan komoditas tetap solid ditengah penurunan harga CPO dan karet yang diperkirakan akan terus menurun. Hal ini tercermin dari penurunan harga CPO dan karet pada bulan Oktober 2017 di pasar internasional. Pada bulan Oktober 2017, harga CPO turun 3,12% dari bulan sebelumnya, sedangkan harga karet turun 3,76% dari bulan sebelumnya.
Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan subsektor perkebunan belum mengalami perbaikan yang signifikan. Pertumbuhan kredit perkebunan karet cenderung membaik walaupun masih berkontraksi dari -17,3% (yoy) menjadi -14,9%
(yoy). Sementara itu, kredit kelapa sawit melambat dari 18,7% (yoy) menjadi 17% (yoy). Meskipun demikian, risiko kredit subsektor perkebunan mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari NPL perkebunan karet yang mengalami penurunan dari 5,8% menjadi 5,48%.
Grafik 1.32 Penyaluran Kredit Perkebunan
Memasuki awal triwulan IV 2017, pertumbuhan ekonomi sektor pertanian diperkirakan akan terus membaik seiring dengan masuknya musim panen pertanian khususnya subsector perkebunan (trak) serta cuaca yang mendukung. Sementara itu, permintaan mitra dagang diperkirakan akan tetap terjaga ditengah penurunan harga komoditas.
Sumber: BMKG Stasiun Klimatologi Sampali-Medan
Grafik 1.33 Perkiraan Sifat Curah Hujan 2017
Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2017 mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak optimalnya kinerja pertanian pangan terutama pada triwulan I 2017 disebabkan oleh terganggunya masa tanam di tahun 2016 akibat gangguan cuaca dan bencana alam. Namun, kondisi tersebut berangsur pulih di sisa tahun 2017 seiring dengan komitmen pemerintah
daerah yang senantiasa memberikan berbagai bantuan termasuk pupuk dan peralatan pertanian, serta pembangunan berbagai infrastruktur sarana dan prasarana pendukung sektor pertanian.
Pada triwulan III 2017, pertumbuhan industri pengolahan melambat menjadi sebesar 6,2% (yoy) dari 6,5% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Penurunan ini diperkirakan seiring dengan penurunan harga komoditas dan permintaan dari mitra dagang internasional. Selain itu, tingginya harga gas industri di Provinsi Sumatera Utara juga masih menjadi kendala dalam pertumbuhan kinerja industri pengolahan.
Selain itu, perusahaan disinyalir lebih memilih menggunakan stok yang tersedia dibandingkan dengan harus memproduksi barang sehingga menurunkan laju pertumbuhan industri pengolahan. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan inventori yang mengalami kontraksi sebesar -46,2% (yoy) dari 8,3% (yoy) di triwulan sebelumnya.
Grafik 1.34 Perubahan Inventori
Turunnya kinerja industri pengolahan juga disertai dengan melambatnya penyaluran kredit, yakni dari 20,8% (yoy) menjadi 16,3% (yoy). Namun, risiko kredit industri pengolahan mengalami perbaikan ditunjukkan dengan penurunan NPL dari 1,62% menjadi 1,48% pada triwulan III 2017.
Grafik 1.35 Penyaluran Kredit Kategori Industri Pengolahan
Penurunan kinerja industri pengolahan tidak lepas dari penurunan minat ekspor khususnya dari Amerika dan Eropa. Pada triwulan III 2017, volume ekspor ke Amerika Serikat menurun tajam, melambat dari 81,4% (yoy) menjadi 42,3% (yoy). Sementara itu, volume ekspor ke Eropa mengalami kontraksi hingga -12,5% (yoy) dari 9,3% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Namun, peningkatan ekspor manufaktur menjaga penurunan kinerja industri pengolahan lebih jauh lagi.
Grafik 1.36 Perkembangan Ekspor Manufaktur
Memasuki triwulan IV 2017, kinerja industri pengolahan diperkirakan akan melambat seiring dengan turunnya harga komoditas di pasar internasional. Namun, terdapat beberapa upside
risk dari beberapa faktor pendukung, diantaranya
pembebasan Bea Keluar untuk CPO, peningkatan kinerja ekonomi negara partner dagang, dan peluang diversifikasi ekspor ke negara lainnya.
Sektor konstruksi di triwulan III 2017 meningkat tajam dari 5,2% (yoy) menjadi 6,7% (yoy). Tingginya ini diperkirakan disebabkan oleh peningkatan yang signifikan serapan belanja modal Pemerintah Daerah. Peningkatan ini terjadi setelah tertundanya proses pengadaan akibat keterlambatan pengesahan APBD 2017.
Grafik 1.37 Pertumbuhan Sektor Konstruksi dan PBE
Grafik 1.38 Penyaluran Kredit Kategori Konstruksi
Peningkatan kinerja sektor konstruksi tercermin oleh penyaluran kredit yang naik dari 19,1% (yoy) menjadi 21,2% (yoy) pada triwulan III 2017. Namun, seiring dengan peningkatan kinerja, risiko kredit sektor konstruksi juga meningkat. Hal ini terlihat dari naiknya NPL sektor konstruksi dari 6,49% menjadi 7,21%
Peningkatan sektor konstruksi lebih ke arah pembangunan infrasktruktur. Sementara itu, sektor pembangunan properti (real estate) mengalami penurunan dari 9,3% (yoy) menjadi 7,4% (yoy).
Memsuki triwulan IV 2017, kinerja sektor konstruksi diperkirakan akan terus mengalami perbaikan. Hal ini sejalan dengan fokus Pemerintah terhadap percepatan pembangunan
infrastruktur strategis, seperti revitasliasi Pelabuhan Belawan, pembangunan terminal
multipurpose Kuala Tanjung, dan Tol Trans
Sumatera.
Sektor perdagangan mengalami sedikit peningkatan dari 5,8% (yoy) menjadi 5,9% (yoy) pada triwulan III 2017. Peningkatan sektor perdagangan diperkirakan disebabkan oleh peningkatan belanja operasional Pemerintah Daerah seiring dengan telah selesainya proses pengadaan yang sebelumnya tertunda.
Di sisi lain, kinerja sektor perdagangan tertahan seiring dengan menurunnya aktivitas konsumsi masyarakat pasca bulan Ramadhan. Selain itu, penurunan aktivitas perdagangan atar daerah menahan pertumbuhan sektor perdagangan lebih lanjut.
Tertahannya pertumbuhan sektor perdagangn juga tercermin dari turunnya kinerja sektor pariwisata. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan kunjungan wisatawan mancanegara dan
occupancy rate hotel/penginapan dari triwulan
sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh telah terlewatinya hari raya Idul Fitri.
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Grafik 1.39 Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Occupancy Rate
Sementara itu, dari sisi pemerintah, masih rendahnya realisasi belanja khususnya belanja barang juga telah menahan laju pertumbuhan sektor perdagangan. Realisasi belanja barang
APBD Sumatera Utara pada triwulan II 2017 hanya mencapai 33,6% dari pagu belanja APBD 2017 dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 36,1%. Terlambatnya penetapan APBD 2017 di beberapa kabupaten/kota disinyalir menyebabkan proses pengadaan berjalan lambat sehingga realisasi belanja barang pada triwulan III 2017 tidak maksimal dan menghambat kinerja sektor perdagangan.
Meskipun kinerja sektor perdagangan relatif stabil, pertumbuhan kredit yang relatif mengalami kontraksi dari 5,2% (yoy) menjadi -9,8% (yoy). Selai itu, risiko kredit sektor perdagangan juga mengalami peningkatan dari 4,44% menjadi 5,69%. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja sektor perdagangan masih belum optimal.
Grafik 1.40 Penyaluran Kredit Kategori PBE
Memasuki triwulan IV 2017, aktivias perdagangan diperkirakan akan mengalam peningkatan sesuai dengan pola musiman menjelang natal dan tahun baru. Perbaikan sektor pertanian dan industri pengolahan diharapkan juga dapat mendorong aktivitas perdagangan antar daerah sehingga dapat meningkatkan kinerja sektor perdagangan.
Kinerja sektor transportasi dan pergudangan tercatat menurun dari 7,8% menjadi 6,8% pada triwulan III 2017. Penurunan kinerja sektor transportasi seiring dengan penurunan kinerja industri pengolahan. Penurunan aktivitas ekspor
antar daerah menurunkan arus transportasi dan pergudangan di Sumatera Utara. Aktivitas bongkar muat di Sumatera Utara pada triwulan III 2017 mengalami penurunan. Aktivitas bongkar mencapai 1,2 juta ton sedangkan pada triwulan II 2017 mencapai 1,5 juta ton. Sementara itu, aktivitas muat mencapi 45 ribu ton, sedangkan pada triwulan II 2017 aktivitasnya mencapai 60 ribu ton.
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Grafik 1.41 Perkembangan Bongkar Muat Sumatera Utara
Penurunan sektor transportasi dan pergudangan juga sejalan dengan penurunan jumlah penumpang pada triwulan III 2017. Penumpang angkatan laut mengalami kontraksi dari 41,4% (yoy) menjadi -1,9% (yoy). Selain itu, pengumpang angkatan udara menurun dari 38,9% (yoy) menjadi 6,0% (yoy) pada triwulan III 2017. Penurunan ini disebabkan oleh telah terlewatinya perayaan hari Raya Idul Fitri dan libur sekolah.
Walaupun kinerja transportasi dan pergudangan mengalami penurunan, penyaluran kredit untuk sektor ini mengalami peningkatan. Penyaluran kredit meningkat dari – 5,7% (yoy) menjadi 3,5% (yoy). Hal ini diperkirakan mengindikasikan perbaikan kinerja transportasi dan pergudangan ke depannya. Namun, risiko kredit sektor transprotasi dan pergudangan masih perlu diwaspadai seiring dengan naiknya NPL di sektor ini dari 1,38% menjadi 1,73%.
Memasuki triwulan IV 2017, kinerja transportasi dan pergudangan diperkirakan akan membaik seiring dengan peningkatan produksi sektor pertanian dan perbaikan aktivitas perdagangan antarderah.
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Grafik 1.42 Perkembangan Penumpang Laut dan Udara Grafik 1.43 Penyaluran Kredit Kategori Transportasi dan