• Tidak ada hasil yang ditemukan

ULOS SADUM TARUTUNG

Dalam dokumen PROVINSI SUMATERA UTARA (Halaman 90-98)

Pola Inflasi Subkelompok Pendidikan

ULOS SADUM TARUTUNG

6.1 Ketenagakerjaan

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Utara membaik seiring dengan perbaikan perekonomian Sumut di triwulan III. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja, menurunnya tingkat pengangguran terbuka, dan meningkatnya penduduk yang bekerja diatas jam kerja normal. Pada Agustus 2017 jumlah angkatan kerja meningkat 6.0% atau bertambah 375 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut juga diikuti dengan menurunnya Tingkat Pengangguran Terbuka dari sebelumnya 5,8% menjadi 5,6% (grafik 6.1) serta meningkatnya penduduk yang bekerja diatas jam kerja normal (full time

worker), mencapai 69,92% lebih besar

dibandingkan Agustus 2016 sebesar 68,76%. 5.1.1 Partisipasi Kerja

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Provinsi Sumatera Utara Agustus 2017 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan lebih tinggi dari rata-rata TPAK selama 4 tahun terakhir, yaitu sebesar 68,8%. Peningkatan tersebut disinyalir akibat adanya perubahan preferensi penduduk usia kerja dari sebelumnya mengurus rumah tangga menjadi bekerja. Selain perubahan preferensi, bertambahnya penduduk yang bekerja juga mengindikasikan kesempatan kerja yang mulai meningkat..

Sumber : BPS

Grafik 6.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan TPT

Sesuai dengan karakteristik daerah, sektor pertanian masih menjadi sektor yang paling dominan dalam penyerapan tenaga kerja (37,75%), meski dalam porsi yang terus menurun selama 4 tahun terakhir. Diikuti dengan sektor perdagangan (22,2%) dan Jasa Kemasyarakatan (17,3%). Berbeda dengan sektor pertanian, proporsi tenaga kerja di serapan tenaga kerja sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan serta sektor industri justru secara konsisten menunjukkan peningkatan sejak tahun 2014. Hal ini mengindikasikan semakin menggeliatnya sektor sekunder dan tersier yang memberi dampak terhadap perluasan kesempatan kerja pada sektor tersebut.

Sumber : BPS

Grafik 6.2 Proporsi Penyerapan Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor

Sumber : BPS, diolah

Grafik 6.1 Pertumbuhan Ekonomi Sumut Sektoral Triwulan III 2014-2017

Secara spasial serapan tenaga kerja sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan & perikanan paling banyak berada di daerah Kepulauan Nias, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Dairi, dan Karo. Sementara serapan tenaga kerja di sektor industri paling banyak di Medan, Tebing Tinggi, Binjai , Batubara, Asahan, Serdang Bedagai dan Pematang Siantar. Sesuai

72

karakteristik wilayahnya, tenaga kerja di sektor perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi paling banyak terserap di wilayah Sibolga, Pematang Siantar, Tebing Tinggi dan Medan.

Sumber : BPS (diolah)

Tabel 6.1 5 Kabupaten/Kota dengan Proporsi Serapan Tenaga Kerja Terbesar Periode Agustus 2017

Peran sektor informal14 masih mendominasi dalam struktur ketenagakerjaan Sumut. Proporsi tenaga kerja informal di Sumut mencapai 58% atau sebanyak 3,6 juta orang terdiri dari tenaga kerja yang berusaha sendiri (34,2%), berusaha dibantu buruh tidak tetap (26,1%), pekerja bebas (14,4%) dan pekerja keluarga (25,3%). Banyaknya tenaga kerja di sektor informal Banyaknya serapan tenaga kerja pada sektor informal diperkirakan karena dampak dari rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja di Sumut. Selain itu, sektor informal juga menyediakan lapangan kerja yang lebih banyak dan relatif tidak memerlukan keterampilan yang tinggi (non skill) sehingga mudah diakses oleh seluruh kalangan masyarakat.

Namun demikian dalam satu tahun terakhir (2016-2017), proporsi tenaga kerja di sektor formal menunjukkan peningkatan, tumbuh lebih tinggi dibandingkan sektor informal. Jumlah tenaga kerja formal di Sumut pada periode Agustus mencapai 2,6 juta orang, bertambah 216 ribu orang. Pekerja formal terdiri dari tenaga

kerja berusaha dibantu buruh tetap (8,3%) dan buruh/karyawan/pegawai(91,7%).

Meningkatnya jumlah tenaga kerja di sektor formal secara absolut disebabkan oleh kenaikan pada komponen buruh/karyawan/pegawai sebanyak 278 ribu orang atau meningkat 12,8% (yoy). Adanya pergeseran serapan tenaga kerja dari sektor informal ke sektor formal terindikasi sejalan dengan berkurangnya serapan tenaga kerja di sektor pertanian yang beralih ke sektor perdagangan, sektor industri dan sektor jasa.

Sumber : BPS (diolah)

Tabel 6.2 Lapangan Pekerjaan Utama

Sumber : BPS, diolah

Grafik 6.3 Proporsi Tenaga Kerja Berrdasarkan Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikannya, tenaga kerja di Sumut masih didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan rendah (SMP kebawah) dengan porsi 51%, meski dengan porsi yang relatif menurun. Rendahnya pendidikan penduduk usia kerja tersebut menyebabkan serapan tenaga

% 2016 - 2017

Sektor Formal 2,475 2,398 2,674 11.5%

Berusaha dibantu buruh tetap 165 225 223 -0.9% Buruh/Karyawan/Pegawai 2,310 2,173 2451 12.8%

Sektor Informal 3,697 3,593 3,692 2.8%

Berusaha sendiri 1,124 946 1261 33.3% Berusaha dibantu buruh tidak tetap 982 995 965 -3.0% Pekerja bebas 534 429 533 24.2% Pekerja keluarga 1,057 1,223 933 -23.7% JUMLAH 6,172 5,991 6,366 6.3% Proporsi Formal 40.1% 40.0% 42.0% -Proporsi Informal 59.9% 60.0% 58.0% -Aug-17 Aug-16 LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA Aug-15

73

kerja masih terkonsentrasi pada lapangan kerja

unskilled seperti sektor pertanian dan sektor

informal. Namun demikian, proporsi tenaga kerja jenjang diploma dan universitas yang mengalami kenaikan pada satu tahun terakhir diharapkan dapat menjadi faktor pendorong perbaikan ekonomi Sumut ke depan. Secara rinci, jumlah tenaga kerja yang berpendidikan SMP kebawah tercatat sebanyak 3,2 juta orang (51%), SMA sebanyak 1,5 juta orang (24,8%), SMK sebanyak 790 ribu orang (11,8%), dan Diploma-Universitas sebanyak 791 ribu orang (12,4%).

5.1.2 Pengangguran

Seiring dengan membaiknya perekonomian pada triwulan III, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumatera Utara periode Agustus 2017 menurun. Meski jumlah pengangguran di Sumatera Utara secara absolut bertambah 5000 orang dari semula 372 ribu orang pada Agustus 2016 menjadi 377 ribu orang pada Agustus 2017, namun Tingkat Pengangguran Terbuka Sumatera Utara sedikit menurun dari 5,8% menjadi 5,6%. Membaiknya TPT di Sumut didorong oleh penambahan ketersediaan lapangan kerja, seperti berkembangnya perdagangan ritel mini market, terutama di kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Kota Binjai. Di sisi lain, pembangunan beberapa ruas jalan tol yang ditargetkan selesai pada 2017, seperti Jalan Tol Medan – Binjai – Medan – Deli Serdang - Serdang Bedagai - Tebing Tinggi, mendorong serapan buruh/tenaga kerja di sektor konstruksi dan jasa yang cukup agresif.

Sumber : BPS, diolah

Grafik 6.4 TPT Sumut dan Nasional Periode Agustus 2011-2017

Secara spasial, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang relatif tinggi justru terjadi di wilayah kabupaten/kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi relatif baik di Sumatera Utara. Kota Tebing Tinggi, Medan, Sibolga dan Pematang Siantar memiliki rasio TPT tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Sumatera Utara. Tingginya tingkat pengangguran didaerah tersebut disinyalir karena pertumbuhan ekonomi yang belum optimal dalam mendorong kesempatan kerja. Dalam hal ini umumnya tenaga kerja di kota besar dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan lapangan pekerjaan. Sehingga ketidaksesuaian antara ketersediaan tenaga kerja dan lapangan kerja mendorong rasio pengangguran yang lebih tinggi.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian terkait Kesempatan dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan, yang menghasilkan bahwa tingkat kesempatan kerja kota Medan bersifat inelastis terhadap pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kota Medan sebesar 1% hanya membuka kesempatan kerja 0,207%.15

Grafik 6.5 TPT Menurut Kabupaten/Kota Agustus 2017

Sejalan dengan penurunan TPT, ekspektasi penghasilan meningkat. Hal ini tercermin dari indeks penghasilan saat ini yang memandang optimis, meski tidak sebaik periode sebelumnya. Berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, indeks penghasilan saat ini tercatat optimis meski dalam level yang menurun, dari 119 menjadi menjadi 116,2 Penurunan optimisme tersebut diperkirakan karena adanya kenaikan harga bahan makanan seperti cabai merah, bawang merah dan ikan-ikanan, yang menjadi komoditas utama mayoritas masyarakat di Sumatera Utara.

Pada periode mendatang, responden memandang optimis adanya peningkatan penghasilan, yang tercermin dari peningkatan indeks ekspektasi penghasilan. Hal ini mengindikasikan adanya optimisme perbaikan ekonomi yang berdampak pada peningkatan ketersediaan lapangan kerja.

Grafik 6.6 Indeks Kondisi & Ekspektasi Penghasilan

Menurunnya TPT juga sejalan dengan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini yang tercata meningkat pada periode laporan. Indeks Ketersediaan lapangan Kerja Saat Ini menunjukkan tren peningkatan dari 97,3 menjadi 104,9 sejalan dengan perbaikan ekonomi pada triwulan laporan. Ke depan, optimisme akan ketersediaan lapangan pekerjaan diperkirakan tetap dalam tren yang meningkat. Meski demikian, responden memandang akan adanya penurunan ketersediaan lapangan pekerjaan pada periode Oktober yang kemudian diperkirakan membaik hingga akhir tahun. Penurunan optimisme pada bulan oktober diperkirakan karena (1) Mulai menurunnya harga komoditas CPO, (2) Masih belum optimalnya penyerapan CPO domestik terkait mandatori biodiesel; dan (3) Perbaikan perekonomian belum kuat.

Sumber : Survei Konsumen KPw BI Sumut

Grafik 6.7 Indeks Kondisi dan Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja

Sejalan dengan indeks ekspektasi penghasilan dan ketersediaan tenaga yang meningkat, Indeks Ekspektasi Ekspektasi Konsumen (IEK), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), maupun Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) juga menunjukan tren yang meningkat. Peningkatan optimisme konsumen yang telah terjadi sejak triwulan II 2016 mengindikasikan ekspektasi perbaikan ekonomi Sumatera Utara.

Sumut 5,6

75

Grafik 6.8 Indeks Ekspektasi & Keyakinan Konsumen serta Kondisi Ekonomi

6.2 Kesejahteraan

6.2.1. Kesejahteraan Petani

Tingkat kesejahteraan petani pada triwulan III menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara. NTP Sumatera Utara menurun 0,69 persen dari triwulan sebelumnya, yaitu dari 99,5 menjadi 98,9. Penurunan tersebut disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima (It)16 lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar (Ib). Indeks diterima tercatat (It) naik 1,2% sementara indeks yang dibayar (Ib) naik 2,1%.

Sumber: BPS Sumatera Utara

Grafik 6.9 NTP Sumatera Utara

Indeks harga yang diterima (It) petani menggambarkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan oleh petani. Nilai It petani di Sumatera Utara pada triwulan ini

sebesar 128,66, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 127,46, atau meningkat 2,1%. Kenaikan Indeks harga yang diterima diperkirakan didukung oleh kenaikan harga Harga Gabah Kering Giling (GKG) baik di level petani maupun penggilingan. Selain itu masih baiknya komoditas utama mendorong kenaikan It pada periode laporan.

Sementara itu, Indeks Harga yang dibayar (It) petani menggambarkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada triwulan III 2017, Ib petani meningkat menjadi 130,15 dari triwulan sebelumnya 128,05, atau meningkat 2,1%. Kenaikan tersebut salah satunya didorong oleh tingginya inflasi pedesaan Sumatera Utara seiring dengan peningkatan harga hampir di seluruh kelompok yaitu bahan makanan, makanan jadi, sandang, kesehatan dan transportasi. Secara spasial, inflasi pedesaan Sumatera Utara tercatat paling tinggi dibandingkan 9 provinsi lainnya di Sumatera. Dengan demikian, kanaikan Ib yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan It, mendorong nilai NTP Sumatera Utara lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Berdasarkan sektor ekonomi, rendahnya NTP Sumatera Utara disebabkan rendahnya NTP beberapa sektor, diantaranya subsektor Tanaman Pangan (NTPP), NTP subsektor Hortikultura (NTPH), NTP subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR), dan NTP Pembudidaya Ikan (NTPi) yang tercatat dibawah 100.

Penurunan NTP pada periode laporan disebabkan oleh turunnya NTP pada subsektor Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 2,2%,

subsektor Hortikultura (NTPH) sebesar 1,9%, subsektor Perikanan (NTPN) sebesar 0,6%. Hal ini sejalan dengan belum optimalnya kinerja subsektor tanaman pangan dan hortikultura pada periode berjalan. Penurunan Harga Gabah Kering Panen (GKP) menjadi salah satu penyebab menurunnya NTP, ditengah kenaikan beberapa harga bahan makanan dan faktor input produksi. Sementara itu, NTP subsektor perkebunan (NTPR) dan peternakan (NTPT) tercatat meningkat seiring dengan masih baiknya harga komoditas, sehingga dapat menahan penurunan NTP yang lebih dalam.

Tabel 6.3 NTP Subsektor Provinsi Sumatera Utara

Sumber : BPS Sumatera Utara

Secara spasial, NTP beberapa provinsi di kawasan Pulau Sumatera tercatat menurun dibandingkan triwulan II 2017, kecuali Sumatera Selatan. Penurunan terbesar terjadi di provinsi Riau dan Sumatera Utara masing-masing sebesar -0,9% dan -0,7%. Sementara itu, Provinsi di Pulau Sumatera dengan NTP di atas 100 adalah Provinsi Riau (101,7) dan Lampung (106). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani di Sumatera masih relatif rendah. Sementara itu, secara Nasional NTP berada di atas angka 100 yaitu 102,2 dan kecenderungan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya

Sumber: BPS

Grafik 6.10 NTP Sumatera Utara

5.1.4 Kesejahteraan Nelayan

Nilai tukar nelayan perikanan (NTNP) merupakan salah satu alat ukur untuk mengukur indeks kesejahteraan nelayan. Pada triwulan III 2017 tercatat indeks NTNP Sumatera Utara sebesar 102,7 atau menurun sebesar -0,6 dibandingkan dengan posisi triwulan II 2017. Penurunan tersebut didorong oleh kenaikan indeks harga yang dibayar (1,6) lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks yang diterima (0,8). Penurunan NTNP juga didukung oleh penurunan pada Nilai Tukar kelompok Penangkapan Ikan (NTNPi) sebesar -0,9 dari 98,5 pada triwulan II 2017 menjadi 97,7 pada triwulan laporan. Di sisi lain, indeks Nilai Tukar Nelayan kelompok Perikanan Tangkap (NTN) juga mencatatkan penurunan sebesar -0,4, yaitu dari 108,2 menjadi 107,8. Mayoritas peningkatan indeks harga yang dibayar disebabkan oleh peningkatan indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) seiring dengan tingginya inflasi pedesaan Provinsi Sumatera Utara, bahkan tertinggi secara nasional, tercatat inflasi 0,51.

Tabel 6.4 Nilai Tukar Nelayan Perikanan Berdasarkan

Kelompok

Sumber: BPS Sumatera Utara

I II III IV I II III

Tanaman Pangan/Padi & Palawija (NTPP) 96.8 98.2 98.2 98.3 94.6 95.4 93.2 -2.18 Hortikultura (NTPH) 98.3 97.1 98.9 98.9 94.9 93.2 91.4 -1.86 Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 95.9 96.2 96.4 99.5 99.7 98.2 98.7 0.53 Peternakan (NTPT) 109.4 111.2 114.3 112.2 111.0 112.6 112.8 0.19 Perikanan (NTNP) 98.8 99.5 101.0 102.3 102.6 103.4 102.7 -0.64

2016 2017

BAB 7 PROSPEK PEREKONOMIAN

Dalam dokumen PROVINSI SUMATERA UTARA (Halaman 90-98)