• Tidak ada hasil yang ditemukan

ULOS RONDANG-RONDANG

Dalam dokumen PROVINSI SUMATERA UTARA (Halaman 83-89)

Pola Inflasi Subkelompok Pendidikan

ULOS RONDANG-RONDANG

64

5.1 Sistem Pembayaran Non

Tunai

5.2.1 Perkembangan Transaksi RTGS

Sejalan dengan perbaikan kinerja ekonomi Sumatera Utara pada triwulan III 2017, transaksi non tunai secara volume meningkat dari 24.927 transaksi pada triwulan sebelumnya menjadi 29.026 transaksi atau meningkat sebesar 16,4% (qtq). Selain itu, nilai transaksi non tunai juga mengalami peningkatan dari Rp89,6 triliun pada triwulan lalu menjadi sebesar Rp92,4 triliun atau meningkat sebesar 3,07% (qtq). Rata-rata transaksi harian BI-RTGS tercatat mencapai 461 lembar warkat dengan nilai Rp1,4 triliun per hari. Secara spasial, 98,06% transasksi atau Rp90,6 trilun dilakukan di Kota Medan, sedangkan 1,94% transaksi atau Rp1,79 triliun sisanya tersebar di Kabupaten/Kota Rantau Prapat, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Kisaran, Padang Sidempuan, Karo, Sibolga, dan Deli Serdang. Dominasi transaksi di kota Medan diperkirakan berkaitan dengan masih terpusatnya aktivitas ekonomi Sumatera Utara di kota tersebut.

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

Grafik 5.1 Perkembangan Transaksi RTGS9

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

Grafik 5.2 Transaksi RTGS Spasial Triwulan III 2017

5.2.2 Perkembangan Transaksi SKNBI Selain BI-RTGS, transaksi non tunai yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara adalah Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia. Transaksi kliring

mencakup kliring kredit dan kliring debet di Kota Medan, Tebing Tinggi dan Kabanjahe. Transaksi yang diproses oleh SKNBI meliputi kumulasi data keuangan elektronik transaksi card based melalui mesin EDC (kartu kredit dan kartu debet) dan transaksi paper based (cek, bilyet giro dan nota debet).

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

Grafik 5.3 Perkembangan Transaksi SKNBI

Pada triwulan III 2017, transaksi kliring melalui SKNBI10 secara volume tercatat sebesar 870.429 warkat dengan nilai nominal transaksi sebesar Rp37,9 triliun. Volume tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 5,50% (qtq) dibandingkan volume transaksi SKNBI pada triwulan II yang tercatat sebanyak 864.654 warkat. Kenaikan volume transaksi juga diikuti oleh kenaikan nilai transaksi sebesar 0,67% dari sebelumnya sebesar Rp35,9 triliun. Sementara itu, rata-rata harian transaksi SKNBI di Sumatera Utara pada triwulan III 2017 tercatat 13.816 warkat dengan nilai sebesar Rp602,8 miliar per hari. Sebagaimana halnya dengan RTGS, peningkatan transaksi kliring tersebut juga sejalan dengan peningkatan kinerja ekonomi pada triwulan III 2017.

10SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia), berbeda dengan BI RTGS, setelmennya periodik (netting) serta untuk transaksi bernilai kecil (maksimal Rp.500 juta).

Net cash inflow mencerminkan jumlah penarikan (outflow) dari Bank Indonesia lebih rendah dibanding jumlah penyetoran (inflow) ke Bank Indonesia. Perhitungan inflow/outflow uang kartal

5.2 Sistem Pembayaran Tunai

Sesuai dengan polanya, pada triwulan laporan penarikan uang kartal menurun secara signifikan disertai peningkatan penyetoran seiring dengan menurunnya kebutuhan uang tunai pasca Lebaran dan tahun ajaran baru pada triwulan II 2017. Dengan demikian transaksi uang kartal di Sumatera Utara mencatat net cash inflow11. Penurunan kebutuhan uang tunai ini sejalan dengan menurunnya aktivitas konsumsi, sebagaimana tercermin pada penurunan pertumbuhan konsumsi pada PDRB Sumatera Utara triwulan III 2017.

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

Grafik 5.4 Inflow/Outflow Sumatera Utara

Secara keseluruhan, aliran uang kartal di Provinsi Sumatera Utara mencatat net cash

inflow sebesar Rp6,98 triliun. Berbeda dengan kondisi triwulan sebelumnya yang tercatat net

cash outflow sebesar Rp0,37 triliun. Dari sisi

inflow, penyetoran uang kartal dari perbankan di Provinsi Sumatera Utara ke Bank Indonesia,12

pada triwulan III 2017 tercatat sebesar Rp10,3 triliun meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar Rp6,17 triliun. Sedangkan penarikan uang kartal oleh perbankan dari Bank Indonesia mencapai Rp3,05 triliun atau menurun dari

dilakukan berdasarkan pelaporan bank di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang berada di Sumatera Utara yaitu KPw BI Provinsi Sumatera Utara, KPw BI Sibolga, dan KPw BI Pematangsiantar.

Terdapat 3 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Sumatera Utara yaitu di Medan, Pematang Siantar dan Sibolga

triwulan lalu sebesar Rp6,53 triliun. Hal ini sesuai dengan polanya seiring dengan telah selesainya kebutuhan uang kartal untuk transaksi HBKN dan libur anak sekolah pada triwulan II 2017.

5.3 Pengelolaan Kelancaran Sistem

Pembayaran

Dalam menjaga kelancaran sistem pembayaran di Sumatera Utara, Bank Indonesia senantiasa melakukan berbagai tindakan yang bersifat preventif maupun represif, agar sistem pembayaran berjalan lancar, aman, efektif dan efisien.

5.3.1 Penanganan Uang Tidak Asli

Uang Rupiah yang beredar di masyarakat terus-menerus dijaga kualitasnya oleh Bank Indonesia. Uang Rupiah perlu dijaga kualitasnya agar uang yang beredar dalam kondisi baik dan layak sehingga masyarakat nyaman dalam menggunakan uang Rupiah sehari-hari. Uang Rupiah memiliki ciri-ciri berupa tanda-tanda tertentu yang bertujuan mengamankan uang Rupiah dari upaya pemalsuan. Secara umum, ciri—ciri keaslian uang Rupiah dapat dikenali dari unsur pengaman yang tertanam pada bahan uang gitu

Sampai triwulan III 2017, terdapat 3.647 lembar rupiah yang diragukan keasliannya. Temuan tersebut didapat dari masyarakat maupun setoran Bank. (Grafik 5.7). Jumlah temuan didominasi oleh Uang Pecahan Besar (UPB) yang mencapai 97,4%.

Grafik 5.5 Laporan Klarifikasi Upal

Masyarakat memliki peran besar dalam memutus mata rantai kejahatan pemalsuan uang Rupiah,

diantaranya dengan melaporkan dugaan tindak pidana pemalsuan yang dialami atau diketahui kepada Polisi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara bekerja sama dengan Kepolisian Daerah Sumatera Utara senantiasa melakukan koordinasi terkait penanganan uang palsu seperti Dugaan Pelanggaran Kewajiban Penggunaan Uang Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Dugaan Tindak Pidana terhadap Uang Rupiah. Kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian uang rupiah terus dilakukan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat akan keaslian uang Rupiah

5.3.2 Penyediaan Uang Rupiah

Sebagaimana amanat Undang-Undang Mata Uang Nomor 11 Tahun 2011 bahwa Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diberikan wewenang untuk mengedarkan uang Rupiah kepada masyarakat. Sehubungan dengan kewenangan Bank Indonesia dalam mengedarkan uang Rupiah kepada masyarakat, Bank Indonesia selalu berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan uang kartal di masyarakat, baik dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi yang layak edar (clean money policy).

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara selalu berupaya meningkatkan layanan kas guna memenuhi kebutuhan uang Rupiah layak edar kepada masyarakt Provinsi Sumatera Utara. Pemenuhan uang Rupiah selama ini telah dilakukan yaitu melalui kegiatan penarikan bank, setoran bank, penukaran, dan kas keliling.

Selama triwulan III 2017 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara melakukan kegiatan kas keliling sebanyak 14 kali yang meliputi Besitang, Perbaungan, Sei Rampah, Teluk Mengkudu, Sidikalang, Stabat, P. Brandan, P. Susu, Pulau Kampai, Bahorok, Sei Bingei, Sumbul, Pakpak Bharat, Galang, Dolok Masihul,

Indra Pura, Pasar Sukarami, Pasar Petisah, Berastagi, Laubalang, Kutacane.

Selain itu Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara juga memenuhi kebutuhan uang masyarakat di daerah melalui kas titipan di Kabanjahe (BRI, BNI, Bank Sumut, Bank Mandiri, BSM) dan Tebing Tinggi (BRI, BNI, Bank Sumut, Bank Mandiri, BCA, Bank Mestika, Bank Mega, Bank Maybank, Bank Panin, Bank Sinarmas, Bank CIMB Niaga).

5.4 Pengawasan Kegiatan

Penukaran Valuta Asing

Dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah serta menjaga kelangsungan eknomi nasional, dibutuhkan dukungan pasar keuangan termasuk pasar valuta asing domestik yang sehat. Untuk mewujudkan pasar valuta asing domestik yang sehat, perlu dilakukan penyelarasan pengaturan transaksi valuta asing terhadap Rupiah antara penyelenggara kegiatan usaha penukaran valuta asing bukan bank (KUPVA BB) dengan pihak lain dengan ketentuan Bank Indonesia.

Jumlah KUPVA BB yang telah mendapatkan izin dari Bank Indonesia di wilayah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara pada triwulan III 2017 sebanyak 55 KUPVA. Secara nominal transaksi beli pada triwulan III 2017 tercatat meningkat sebesar Rp 307,12 miliar dari Rp 306,61 miliar atau 0,17% (qtq). Sementara itu, transaksi jual juga meningkat dari Rp 308,60 miliar menjadi Rp 309,81 miliar atau sebesar 0,39% (qtq).

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

Grafik 5.6 Beli/Jual Valas Sumatera Utara

5.5 Pengawasan Penyelenggaraan

Transfer Dana (PTD)

Dalam rangka mendukung keamanan dan kelancaran transaksi transfer dana serta memberikan kejelasan pengaturan hak dan kewajiban bagi pihak yang terkait dalam penyelenggaraan kegiatan transfer dana, Bank Indonesia mengatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan antara lain meliputi ketentuan mengenai tata cara dan proses perizinan, penyelenggaraan transfer dana, dan penyampaian laporan oleh penyelenggara. Badan usaha yang berbadan hukum Indonesia bukan bank yang melakukan penyelenggaraan kegiatan transfer dana wajib memperoleh izin dari Bank Indonesia.

Pada triwulan III 2017, dana yang masuk ke wilayah Sumatera Utara melalui PTD lebih besar dibanding dana yang keluar sehingga terjadi kondisi net inflow, sebagaimana yang terjadi pada triwulan sebelumnya.

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

Grafik 5.7 Transaksi Penyelenggaraan Transfer Dana

Namun demikian, net inflow triwulan III 2017 Sumatera Utara tercatat turun sebesar -15,84% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya.Dana masuk terbesar berasal dari Malaysia (98,92%) diikuti oleh Singapura (1,08%).

Sumber: KPw BI Prov. Sumut

5.6 Program Elektronifikasi

Penggunaan transaksi pembayaran berbasis elektronik yang dilakukan masyarakat Indonesia relatif masih rendah. Jika dibandingkan dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar, masih terdapat potensi yang cukup besar untuk perluasan penggunaan instrumen non tunai. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis dan juga lembaga-lembaga pemerintah dalam menggunakan sarana pembayaran non tunai, maka dicanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesempahaman antara Bank Indonesia dengan Kementerian Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah serta Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2014.

Peningkatan implementasi elektronifikasi yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara dalam rangka pengembangan dan perluasan elektronifikasi melibatkan pondok pesantren dan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda). Koordinasi dengan Pemda setempat merupakan bentuk sosialisasi dan evaluasi perluasan elektronifikasi. Kegiatan tersebut sesuai dengan Roadmap Elektronifikasi yang disepakati dengan Pemda yang akan dilaksanakan hingga 2019. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara memfasilitasi Pemda dan pelaku industri dalam menyusun layanan pembayaran tunai yang dapat dimigrasikan menjadi non tunai.

5.7 Layanan Keuangan Digital

(LKD)

Layanan Keuangan Digital13 merupakan layanan keuangan berbasis uang elektronik dimana masyarakat dapat menikmati layanan seperti tarik tunai, transfer, menabung dan sejumlah layanan pembayaran tanpa harus datang ke kantor bank. Program LKD dilaksanakan Bank Indonesia bekerjasama dengan perbankan agar masyarakat yang bermukim jauh dari kantor bank (unbanked) tetap dapat menikmati layanan keuangan tanpa harus mendatangi kantor bank yang menyita waktu, tenaga dan biaya.

Layanan Keuangan Digital dapat dilakukan oleh Agen LKD Individu dan Bank dengan Agen LKD Berbadan Hukum. Khusus untuk implementasi LKD menggunakan agen LKD individu, saat ini hanya diperuntukkan bagi bank BUKU 4. Saat ini 2 (dua) bank di Sumatera Utara yang memperoleh izin untuk melaksanakan LKD antara lain Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri. Kedua bank tersebut telah memiliki izin dari Bank Indonesia sejak tahun 2014.

Jumlah agen LKD di Sumatera Utara terus mengalami kenaikan. Sampai dengan September 2017, agen LKD Sumatera Utara mencapai angka 8.954 agen meningkat sebesar 48,55% (qtq) dari triwulan sebelumnya. Pertumbuhan jumlah agen ini diiringi pertumbuhan positif jumlah pemegang uang elektronik (U-Nik) yang telah mencapai 34.716 pemegang, tumbuh 9,5% (qtq). Sementara itu, jumlah U-Nik tercatat sebanyak 34.767 pada September 2016 dengan nominal mencapai Rp 2,3 miliar (Grafik 5.4).

Grafik 5.4 Jumlah Agen LKD dan Pemegang Uang Elektronik di Sumatera Utara

Daerah dengan agen terbanyak berada di Medan sebanyak 1.695 agen, sementara daerah dengan agen terendah berada di Kabupaten Nias Utara sebanyak 1 agen. Kabupaten Karo yang memiliki jumlah pemegang U-Nik dan jumlah U-Nik terbesar mencapai 21.109 pemegang. Sedangkan

jumlah terendah dimiliki oleh Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Nias sebanyak 1 pemegang U-Nik. Hingga triwulan III 2017 terdapat 18 kabupaten/kota di wilayah Sumatera Utara yang tidak memiliki pemegang U-Nik. Transaksi LKD terdiri atas pengisian ulang (top up), tarik tunai, pembayaran atas tagihan rutin/berkala, fasilitator registrasi pemegang, transfer person to person serta transfer person to

account. Berdasarkan frekuensi dan nominal,

transaksi yang paling banyak dilakukan oleh pemegang U-Nik adalah top up sebanyak 2.831 pada triwulan III 2016 (naik 49,08% qtq) dengan nominal mencapai Rp106,17 juta (turun 31,56%, qtq).

BAB 6 KETENAGAKERJAAN DAN

Dalam dokumen PROVINSI SUMATERA UTARA (Halaman 83-89)