• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah 6. Memberi kesimpulan

3. Keterampilan Berpikir Kritis

a. Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis

Dijelaskan dalam Kamus Bahasa Indonesia Online, keterampilan

adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan bahasa adalah kecakapan seseorang untuk memakai bahasa di menulis, membaca/ berbicara. Sedangkan keterampilan tematis adalah kesanggupan pemakai bahasa untuk menanggapi secara betul stimulus lisan atau tulisan, menggunakan pola gramatikal dan kosakata secara tepat, menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, dsb. Keterampilan dan kemampuan memiliki arti yang sama yaitu mengenai kesanggupan seseorang dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan. Dalam penelitian ini yang menjadi pokok bahasan yaitu mengenai keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran pada materi sifat-sifat bangun ruang.

Vincent Ruggiero (1988) dalam Johnson (2010:187) mengartikan

berpikir sebagai ”segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau

memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pemcapaian

makna”.

Dalam (http://supraptojielwongsolo.wordpress.com/2008/06/13/meng

gunakan-ketrampilan-berpikir-untuk-meningkatkan-mutupembelajaran/) Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir.

John Chafee (1994), Direktur Pusat Bahasa dan Pemikiran Kritis di LaGuardi College, City University of New York (CUNY) dalam Johnson

(2010:187) menjelaskan bahwa berpikir sebagai ”sebuah proses aktif, teratur dan penuh makna yang kita gunakan untuk memahami dunia”. Dia

mendefinisikan berpikir kritis sebagai berpikir untuk ”menyelidiki secara

sistematis proses berpikir itu sendiri”. Maksudnya tidak hanya memikirkan

dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika.

commit to user

Berpikir kritis adalah mode berpikir-mengenai hal, substansi atau apa saja, di mana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya (Paul,Fisher dan Nosich 1993 dalam Fisher 2009:4)

Menurut John Langrehr (2006:42) berpikir kritis meliputi penggunaan kriteria yang relevan untuk menilai fitur informasi, seperti keakuratannya, relevansinya, reliabilitas, konsistensi dan biasnya.

Ditegaskan Beyer (Filsaime, 2008: 56) bahwa berpikir kritis adalah sebuah cara berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas sesuatu (pernyataan-penyataan, ide-ide, argumen, dan penelitian).

Menurut Johnson (2010:183), berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi. Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain.

Bloom (Filsaime, 2008 :74) mendaftar enam tingkatan berpikir kritis dari tingkatan berpikir kritis yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Daftar tersebut mulai dengan pengetahuan dan bergerak ke atas menuju penguasaan, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pendagogi berpikir kritis selalu mengacu pada teori Bloom.

Menurut Bloom (Filsaime, 2008 :75) Seseorang harus menguasai satu tingkatan berpikir sebelum dia bisa menuju ke tingkatan atas berikutnya. Alasannya adalah kita tidak bisa meminta seseorang untuk mengevaluasi jika dia tidak mengetahui, tidak memahaminya, tidak bisa menginterpretasikannya, tidak bisa menerapkannya, dan tidak bisa menganalisanya.

“Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir konvergen, yaitu menuju ke satu titik” (Supraptojiel, 2008: 2). Dan berpikir kritis dapat

dikatakan sama dengan ranah kognitif pada tingkat hapalan/pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4) sesuai dengan pernyataan berikut :

commit to user

In covergent thingking the correct answere to a problem or question can be known in advance since it is fixed by the requirements of the subject matter or the problem or both. Knowledge (C1), comprehension (C2), application (C3), and Analysis (C4) can be regarded as convergent thinking (Bloom et. al, 1971 :244).

Johnson (2010:185) mengungkapkan berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengatakan sesuatu dengan penuh percaya diri.

Menurut Halpern (Rudd et al, 2003:128) dalam

(http://fisikasmaonline.blogspot.com/2010/12/keterampilan-berpikikritis.html)

mendefinisikan critical thingking as „...the use of cognitive skills or strategies

that increase the probability of desirable outcome.‟

Sedangkan menurut Ennis (1996) dalam Fisher (2008:4), “Berpikir

kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk

memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan.”

Menurut Halpen (1996) dalam (http://researchengines.com/1007

arief3.html) berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran yang merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju.

Tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Pemahaman membuat kita mengerti maksud dibalik ide yang mengarahkan hidup kita setiap hari (Johnson, 2010:185).

Maka dari itu Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang

commit to user

kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.

Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir,

yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (high level

thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical

thinking). Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak

dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term

memory. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi

meliputi evaluasi, sintesis, dan analisis. Berpikir kompleks adalah proses

kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian. Berpikir kritis

merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik.

Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan sejak 1942.

Ketrampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang (Galbreath,1999; Liliasari, 2002; Depdiknas, 2003; Trilling & Hood, 1999; Kubow, 2000) dan merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia (Penner 1995 dalam Liliasari, 2000). Oleh karena itu, pengembangan Ketrampilan berpikir kritis menjadi sangat penting bagi siswa di setiap jenjang pendidikan.

commit to user

Ketrampilan berpikir kritis menggunakan dasar berpikir menganalisis argumen

dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap interpretasi untuk

mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, kemampuan memahami asumsi, memformulasi masalah, melakukan deduksi dan induksi serta mengambil keputusan yang tepat. Ketrampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemikir yang kritis karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki hubungan dengan pola pengelolaan diri ( self organization ) yang ada pada setiap mahluk di alam termasuk manusia sendiri (Liliasari, 2001; Johnson, 2000).

Berdasarkan pengertian-pengertian keterampilan berpikir kritis di atas maka dapat dikatakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan.

Wilson (2000) dalam (http://muhfahroyin.blogspot.com/2009/01/

berpikir-kritis.html) mengemukakan beberapa alasan tentang perlunya keterampilan berpikir kritis, yaitu:

1) Pengetahuan yang didasarkan pada hafalan telah didiskreditkan; individu

tidak akan dapat menyimpan ilmu pengetahuan dalam ingatan mereka untuk penggunaan yang akan datang.

2) Informasi menyebar luas begitu pesat sehingga tiap individu

membutuhkan kemampuan yang dapat disalurkan agar mereka dapat mengenali macam-macam permasalahan dalam konteks yang berbeda pada waktu yang berbeda pula selama hidup mereka.

3) Kompleksitas pekerjaan modern menuntut adanya staf pemikir yang

mampu menunjukkan pemahaman dan membuat keputusan dalam dunia kerja.

4) Masyarakat modern membutuhkan individu-individu untuk

menggabungkan informasi yang berasal dari berbagai sumber dan membuat keputusan.

commit to user

b. Karakteristik Keterampilan Berpikir Kritis

Wade (1995) dalam (http://re-searchengines.com/1007arief3.html)

mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi: 1) Kegiatan merumuskan pertanyaan,

2) Membatasi permasalahan, 3) Menguji data-data,

4) Menganalisis berbagai pendapat dan bias,

5) Menghindari pertimbangan yang sangat emosional, 6) Menghindari penyederhanaan berlebihan,

7) Mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan 8) Mentoleransi ambiguitas.

Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan

Beyer (1995: 12-15) dalam (http://re-searchengines.com/1007arief3.html)

secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu:

1) Watak (dispositions)

Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.

2) Kriteria (criteria)

Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

commit to user

Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

4) Pertimbangan atau pemikiran (reasoning)

Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.

5) Sudut pandang (point of view)

Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

6) Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)

Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.

c. Indikator Keterampilan Berpikir

Pada dasarnya keterampilan berpikir kritis (abilities) Ennis (Costa, 1985 : 54) dikembangkan menjadi indikator-indikator keterampilan berpikir kritis yang terdiri dari lima kelompok besar yaitu:

1) Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification).

2) Membangun keterampilandasar (basic support).

3) Menyimpulkan (interference).

4) Memberikan penjelasan lebih lanjut (advanced clarification).

5) Mengatur strategi dan taktik (strategy and tactics).

Dari masing-masing kelompok keterampilan berpikir kritis di atas, diuraikan lagi menjadi sub-keterampilan berpikir kritis dan masing-masing indikatornya dituliskan dalam Tabel. 1 berikut:

commit to user Keterampilan

Berpikir Kritis

Sub Keterampilan

Berpikir Kritis Aspek

1. Memberikan Penjelasan dasar

1. Memfokuskan pertanyaan

a.Mengidentifikasi atau

memformulasikan suatu pertanyaan b.Mengidentifikasi atau

memformulasikan kriteria jawaban yang mungkin

c.Menjaga pikiran terhadap situasi yang sedang dihadapi

2. Menganalisis argument

a.Mengidentifikasi kesimpulan b.Mengidentifikasi alasan yang dinyatakan

c.Mengidentifikasi alasan yang tidak dinyatakan

d.Mencari persamaan dan perbedaan e.Mengidentifikasi dan menangani ketidakrelevanan

f.Mencari struktur dari sebuah pendapat/argumen g.Meringkas 3. Bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang a.Mengapa?

b.Apa yang menjadi alasan utama? c.Apa yang kamu maksud dengan? d.Apa yang menjadi contoh? e.Apa yang bukan contoh?

f.Bagaiamana mengaplikasikan kasus tersebut?

g.Apa yang menjadikan perbedaannya?

h.Apa faktanya?

i.Apakah ini yang kamu katakan? j.Apalagi yang akan kamu katakan tentang itu?

2. Membangun Keterampilan dasar

4.Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak?

a.Keahlian

b.Mengurangi konflik interest c.Kesepakatan antar sumber d.Reputasi

e.Menggunakan prosedur yang ada f.Mengetahui resiko

g.Keterampilan memberikan alasan h.Kebiasaan berhati-hati

5. Mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi

a.Mengurangi praduga/menyangka b.mempersingkat waktu antara observasi dengan laporan

commit to user Keterampilan

Berpikir Kritis

Sub Keterampilan

Berpikir Kritis Aspek

c.Laporan dilakukan oleh pengamat sendiri

d.Mencatat hal-hal yang sangat diperlukan

e.penguatan

f.Kemungkinan dalam penguatan g.Kondisi akses yang baik

h.Kompeten dalam menggunakan teknologi

i.Kepuasan pengamat atas kredibilitas criteria

3.Menyimpulkan 6. Mendeduksi dan mempertimbangkan deduksi a.Kelas logika b.Mengkondisikan logika c.Menginterpretasikan pernyataan 7. Menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi a.Menggeneralisasi b.Berhipotesis 8. Membuat dan mengkaji nilai-nilai hasil pertimbangan

a.Latar belakang fakta b.Konsekuensi

c.Mengaplikasikan konsep ( prinsip-prinsip, hukum dan asas)

d.Mempertimbangkan alternatif e.Menyeimbangkan, menimbang dan memutuskan 4. Membuat penjelasan lebih lanjut 9. Mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisi Ada 3 dimensi:

a.Bentuk : sinonim, klarifikasi, rentang, ekspresi yang sama, operasional, contoh dan noncontoh b. Strategi definisi

c. Konten (isi) 10 . Mengidentifikasi

asumsi

a.Alasan yang tidak dinyatakan b.Asumsi yang diperlukan: rekonstruksi argumen 5. Strategi dan taktik 11. Memutuskan suatu tindakan a.Mendefisikan masalah

b.Memilih kriteria yang mungkin sebagai solusi permasalahan c.Merumuskan alternatif-alternatif untuk solusi

d.Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan

e.Merivew

commit to user Keterampilan

Berpikir Kritis

Sub Keterampilan

Berpikir Kritis Aspek

12. Berinteraksi dengan orang lain

a.Memberi label b.Strategi logis c.Srtrategi retorik

d.Mempresentasikan suatu posisi, baik lisan atau tulisan

Tabel. .1

(Costa, 1985 : 54) dalam (http://fisikasma-online.blogspot.com /2010/12/

keterampilan-berpikir-kritis.html diakses tanggal 27 Januari 2011)

d. Tahapan Berpikir Kritis

1) Keterampilan Menganalisis.

Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan

menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen - komponen agar

mengetahui pengorganisasian struktur tersebut

(http://www.uwsp/cognitif.htm.)

Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987: 44).

Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dsb.

2) Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah

Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai

commit to user

siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001:15).

3) Keterampilan Menyimpulkan

Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.

4) Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai

Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987: 44).

Dalam taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan

mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa dituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.

Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul (2000: 1) dan

Scriven (2000: 1) dalam arief (2007) (http://re-searchengines.

commit to user

bahwa pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: "Sejauh manakah siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya".

Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu. Berpikir kritis harus selalu mengacu dan berdasar kepada standar tersebut (Eider dan Paul, 2001: 1). Berikut ini akan dijelaskan aspek-aspek tersebut:

1) Clarity (Kejelasan)

5) Accuracy (keakuratan, ketelitian, kesaksamaan)

6) Precision (ketepatan)

7) Relevance (relevansi, keterkaitan)

8) Depth (kedalaman)

9) Breadth (keluasaan)

10) Logic (logika)