5. Keunggulan Bersaing antar Negara
2.2. Keterkaitan Antar Sektor
Daya saing industri atau perusahaan di satu negara tertentu tidaklah berdiri sendiri. Pada konsep daya saing Diamond Porter di sub bab sebelumnya, daya saing punya keterkaitan dengan kondisi faktor, kondisi permintaan, industri terkait dan industri pendukung serta strategi perusahaan.
Aktivitas produktif dalam perekonomian memang tidak dapat berdiri sendiri. Masing-masing proses produksi umumnya memerlukan input yang disuplai dari dalam negeri maupun diperoleh secara langsung dari luar negeri. Pada gilirannya, industri yang memproduksi input memerlukan pula input yang berasal dari sektor lain untuk proses produksinya. Dengan menggunakan produk antara dan barang modal, industri-industri menjadi saling berkaitan satu sama lain,
bahkan terjadi hubungan saling ketergantungan. Keterkaitan tersebut dapat berupa: (1) Kaitan ke belakang (backward linkage), yang menunjukkan peranan suatu sektor dalam menciptakan permintaan turunan, (2) Kaitan ke depan (forward linkage), untuk melihat derajat pemencaran penggunaan hasil produksi suatu sektor sebagai input bagi sektor lain.
Keterkaitan antar industri bisa mempengaruhi struktur industri dan kemajuan perekonomian suatu negara. Aktivitas produksi di satu sektor bisa mempengaruhi langsung dan tidak langsung pada sektor lain (Hayashi, 2005). Penggunaan input antara yang berasal dari output sektor produksi lain dan penggunaan input primer seperti tenaga kerja dan modal, membuat suatu sektor produksi menjadi terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya dalam suatu perekonomian. Untuk melihat bagaimana integrasi perekonomian terjadi, dapat digunakan model I-O, yang dapat merefleksikan hubungan atau keterkaitan antarsektor (intersectoral).
Hubungan saling ketergantungan satu dengan lainnya, dimana output dari suatu sektor produksi merupakan input bagi sektor produksi lainnya begitu pula sebaliknya. Perubahan output suatu sektor produksi akan mempengaruhi pula output dari sektor produksi yang lain. Hirschman (1958) dalam Jhingan (1993), merinci keterkaitan antarsektor menjadi: (1) keterkaitan langsung ke belakang, (2) keterkaitan langsung ke depan, (3) daya sebar ke depan dan (4) daya sebar ke belakang. Berdasarkan hubungan keterkaitan ini, dapat ditentukan pengaruh suatu perubahan dalam satu sektor terhadap semua sektor lain dalam perekonomian, dengan demikian dapat pula disusun perencanaan yang sesuai.
Keterkaitan antar industri merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki oleh growth pole dalam perkembangan ekonomi. Keterkaitan itu dapat berupa
forward linkages maupun backward linkages. Growth pole harusnya lebih mengacu pada suatu sektor yang dapat menyebar dalam berbagai aktifitas sektor produksi sehingga mampu menggerakkan ekonomi secara keseluruhan. Sektor semacam ini umumnya memiliki ciri-ciri, antara lain: (1) perkembangannya relatif cepat, (2) industrinya relatif besar untuk memberikan dampak langsung dan tidak langsung, (3) memiliki keterkaitan tinggi antar industri, dan (4) inovatif.
Dijelaskan oleh Chenery-Watanabe (1958) bahwa melalui penjumlahan secara kolom matrik koefisien input A, akan diperoleh ukuran keterkaitan kebelakang pada suatu sektor, dengan rumusnya sebagai berikut:
∑
∑
= ==
=
n i ij n i j ij c ja
x
x
BL
1 1 ... ..(11)dimana BLjc menunjukkan keterkaitan kebelakang dari sektor j dengan metode Chenery-Watanabe, xij adalah banyaknya input yang berasal dari sektor i yang digunakan untuk memproduksi output sektor j, dan aij adalah koefisien input dari sektor j ke sektor i. Melalui cara yang sama, namun penjumlahan sekarang dilakukan secara baris, ukuran keterkaitan kedepan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
∑
∑
= ==
=
n j ij n j j ij c ib
x
x
FL
1 1 ... .(12)dimana FLic merupakan keterkaitan kedepan dari sektor i, sedangkan bij menunjukkan koefisien output dari sektor i ke sektor j.
Oleh karena Chenery-Watanabe (1958) menggunakan koefisien input (output) secara langsung, yang didapat dari satu kali iterasi perhitungan keterkaitan antarsektor, maka ukuran yang diperoleh dengan metode ini sering disebut sebagai keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan secara langsung, yang mengabaikan dampak tidak langsung (indirect effect) antarsektor.
Agak berbeda dengan metode Chenery-Watanabe (1958), Rasmussen (1956) mengajukan penjumlahan kolom (atau baris) pada matrik invers Leontif, (I – A)-1, digunakan sebagai ukuran keterkaitan antarsektor. Sehingga keterkaitan kebelakang dan keterkaitan kedepan menurut metode ini masing-masing diukur dengan cara:
∑
==
n i ij R jg
BL
1 ... .(13)∑
==
n j ij R ig
FL
1 ... .(14)dimana BLjR dan FLiR masing-masing menunjukkan ukuran keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan untuk metode Rasmussen, sedangkan gij adalah elemen pada matrik invers Leontif, G = (I – A)-1
Ukuran keterkaitan ke belakang, BL
. Oleh karena model Rasmussen menggunakan matrik invers Leontif, maka ukuran keterkaitan antarsektor yang diperoleh bisa dikatakan merupakan ukuran keterkaitan secara tidak langsung, yang menghitung dampak tidak langsung dari suatu sektor dalam perekonomian.
jR, pada model Rasmussen merefleksikan pengaruh dari kenaikan permintaan akhir pada sektor j terhadap output perekonomian secara keseluruhan, dengan kata lain ukuran ini menjelaskan
besarnya perubahan output perekonomian sebagai akibat terjadinya kenaikan sebanyak satu unit pada permintaan akhir di sektor j. Keterkaitan kedepan, FLiR
Berdasarkan teori perencanaan dan pembangunan ekonomi, yang dimaksud sektor kunci ialah sektor yang paling efektif untuk berperan sebagai
engine of development dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan yang berkelanjutan, yang intinya mengacu pada kemampuan sektor tersebut untuk mendorong dan menopang pertumbuhan seluruh sektor dalam perekonomian. Oleh karena itu, layak tidaknya suatu sektor menjadi andalan perekonomian semata-mata tidak hanya ditentukan berdasarkan besarnya kontribusi langsung terhadap perekonomian tetapi juga harus memperhitungkan kontribusi tidak langsungnya melalui keterkaitan antar-industri, artinya apakah industri tersebut mempunyai peranan besar untuk mendorong atau menunjang kegiatan produksi dari sektor-sektor yang lain.
, merefleksikan besarnya kenaikan output pada sektor j jika permintaan akhir pada setiap sektor lainnya naik sebanyak satu unit. Hirschman (1958), mengatakan bahwa indikator keterkaitan antarsektor yang disampaikan Rasmussen ini lebih baik dipakai untuk mengidentifikasi sektor-sektor kunci dalam perekonomian.
Dalam model I-O antarnegara, keterkaitan antarsektor ini tidak hanya dipandang dalam satu negara saja, namun yang lebih jauh lagi diamati pada keterkaitan antar negara. Inilah salah satu kelebihan dari penggunaan model I-O antarnegara dibandingkan model I-O tunggal suatu negara.
Model input-output antarnegara dapat digunakan untuk menelusuri sektor-sektor kunci yang dapat diidentifikasi kedalam empat indikator dibawah ini, antara lain:
1. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila mempunyai kaitan ke belakang (backward linkage) dan kaitan ke depan (forward linkage) yang relatif tinggi.
2. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila menghasilkan output bruto yang relatif tinggi, sehingga mampu mempertahankan
final demand yang relatif tinggi pula .
3. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila mampu menghasilkan penerimaan bersih devisa yang relatif tinggi.
4. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila mampu menciptakan lapangan kerja yang relatif tinggi.
Pengembangan industri penunjang yang kompetitif untuk menjamin perusahaan-perusahaan Indonesia yang merupakan bagian dari perdagangan, keuangan dan jaringan teknologi internasional; dan meningkatkan kemampuan teknologinya (Aswicahyono dan Pangestu, 2000).