KEDELAPAN. PENGECUALIAN TINDAK PIDANA TERHADAP MASYARAKAT YANG TINGGAL SECARA TURUN TEMURUN
A. Kewajiban untuk Mencegah atau Menghindari Penggusuran Paksa
1. Negara harus memastikan bahwa penggusuran hanya terjadi dalam keadaan luar biasa. Penggusuran membutuhkan pembenaran penuh karena memiliki dampak negatif pada berbagai spektrum hak asasi manusia yang diakui secara internasional. Karenanya untuk menghindarkan terjadinya pelanggaran HAM dalam penggusuran, setiap penggusuran harus memenuhi ketentuan: (a) sah secara hukum; (b) dilakukan sesuai dengan hukum hak asasi manusia internasional; (c) dilakukan semata-mata untuk tujuan memajukan kesejahteraan umum; (d) wajar dan proporsional; (e) diatur sedemikian rupa untuk memastikan kompensasi dan rehabilitasi yang adil dan menyeluruh; dan (f) dilakukan sesuai dengan standard HAM. Perlindungan yang diberikan oleh standard HAM terkait penggusuran berlaku untuk semua orang yang rentan dan kelompok yang terkena dampak, terlepas dari apakah mereka memegang hak atas rumah dan harta benda di bawah naungan hukum domestik.
2. Negara harus mengambil langkah-langkah legislatif dan kebijakan yang melarang pelaksanaan penggusuran yang tidak sesuai dengan kewajiban hak asasi manusia internasional. Negara semaksimal mungkin menghentikan tindakan mengklaim atau menyita rumah atau tanah, dan khususnya bila tindakan tersebut tidak memberikan kontribusi pada penikmatan hak asasi manusia. Negara seyogyanya menerapkan hukuman perdata atau pidana yang sesuai terhadap masyarakat umum atau orang
atau badan yang dalam yurisdiksinya melakukan penggusuran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan hukum yang berlaku dan standar hak asasi manusia internasional. Negara harus memastikan bahwa hukum yang sesuai dan efektif atau solusi layak lainnya tersedia untuk semua orang yang menjalani atau mempertahankan diri terhadap penggusuran paksa. 3. Negara harus mengambil langkah-langkah, dengan sumber daya
maksimum yang tersedia, untuk memastikan perlakuan yang sama terhadap hak atas tempat tinggal layak bagi semua orang. Kewajiban negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif dan kebijakan yang tepat untuk memastikan perlindungan terhadap individu, kelompok dan masyarakat dari penggusuran yang tidak sesuai dengan standar hak asasi manusia internasional.
4. Negara harus segera mengambil langkah yang bertujuan untuk memberikan keamanan hukum bagi kepemilikan atas orang-orang, rumah tangga dan masyarakat yang saat ini kurang mendapatkan perlindungan tersebut, termasuk semua yang tidak memiliki hak formal atas rumah dan tanah.
5. Negara harus mengambil cara pencegahan yang khusus untuk menghindari dan/atau mengurangi penyebab utama dari penggusuran secara paksa, seperti spekulasi harga tanah dan properti. Negara harus meninjau kembali operasional dan peraturan perumahan dan harga persewaan pasar dan, jika dibutuhkan, Negara ikut campur tangan untuk memastikan bahwa kekuatan pasar tidak menambah kerentanan penduduk yang memiliki pendapatan rendah dan kelompok terpinggirkan lainnya untuk melakukan penggusuran secara paksa. Dalam kejadian adanya peningkatan harga rumah atau tanah, Negara juga harus memastikan perlindungan yang cukup terhadap tekanan fisik dan ekonomi terhadap penduduk untuk meninggalkan perumahan yang layak atau tanah.
6. Negara harus mengambil cara-cara khusus untuk memastikan bahwa kebijakan dan program tidak dibuat atau dilaksanakan dengan cara-cara yang diskriminatif, dan tidak lebih jauh memarjinalkan mereka yang hidup dalam kemiskinan, baik itu di area perkotaan maupun di area pedesaan. B. Kewajiban Negara Sebelum Penggusuran
1. Melakukan perencanaan dengan mempertimbangkan semua kemungkinan yang akan terjadi, termasuk di antaranya: (a) memberikan
informasi yang cukup dan sesuai bagi semua orang yang potensial akan terkena penggusuran, bahwa penggusuran sedang dipertimbangkan dan akan ada dengar pendapat mengenai rencana yang diusulkan serta alternatif-alternatifnya; (b) Penyebaran informasi yang efektif atas informasi yang relevan disampaikan oleh pihak yang berwenang, termasuk laporan tanah dan rencana yang diusulkan mengenai program permukiman kembali secara komprehensif khususnya ditujukan pada usaha-usaha untuk melindungi kelompok-kelompok yang rentan; (c) Jangka waktu yang tepat untuk mendengar dan membicarakan pendapat masyarakat, dan/atau keberatan terhadap rencana yang diusulkan; (d) kesempatan dan usaha untuk memfasilitasi pengaturan secara legal, teknis dan nasihat-nasihat lain kepada masyarakat yang terkena penggusuran mengenai hak dan pilihan mereka; dan (e) melakukan dengar pendapat dengan masyarakat untuk membahas alternatif-alternatif yang mungkin untuk menghindari penggusuran dan upaya-upaya untuk meminimalkan resiko apabila penggusuran tak dapat dihindarkan.
2. Negara harus menggali sepenuhnya semua pilihan-pilihan yang mungkin terkait penggusuran. Semua kelompok dan orang yang potensial terkena penggusuran termasuk wanita, penduduk asli dan penyandang cacat serta para pekerja yang mengatasnamakan pihak-pihak yang tergusur, memilik hak akan adanya informasi yang relevan, konsultasi dan partisipasi menyeluruh atas proses yang berjalan dan untuk memberikan pilihan-pilihan lain dimana para pejabat secara sungguhsungguh memperhatikannya. Dalam kondisi kesepakatan tidak dapat dicapai pada usulan alternatif dengan pihak-pihak terkait, badan independen memiliki kekuasaan lewat undang-undang, seperti pengadilan hukum, pengadilan atau ombudsman harus melakukan mediasi, arbitrasi atau bertindak sebagai hakim untuk memutuskan perkara tersebut.
3. Memastikan bahwa penggusuran benar-benar tidak dapat dielakkan dan sesuai dengan tanggung jawab hak asasi manusi internasional untuk meningkatkan kejahteraan umum.
4. Setiap keputusan yang berkaitan dengan penggusuran harus diumumkan secara tertulis dengan bahasa setempat kepada semua individu.
Pengumuman/informasi mengenai penggusuran tersebut harus berisi dasar kebenaran secara rinci untuk pengambilan keputusan, termasuk (a) tidak adanya pilihan lain yang dapat dijalankan; (b) usulan alternatif lainnya yang diberikan secara rinci, dan (c) disaat tidak ada lagi alternatif lain, semua cara telah diambil dan diperhitungkan untuk meminimalkan kerugian terhadap korban penggusuran. Semua keputusan akhir harus tunduk pada tinjauan administrasi dan hukum. Pihak – pihak yang terkena penggusuran harus dijamin aksesnya secara tepat pada konseling hukum, tanpa bayar, jika dibutuhkan.
5. Surat pemberitahuan penggusuran harus mengizinkan dan memberikan kesempatan kepada korban penggusuran untuk menginventarisasi dan guna menghitung nilai properti, investasi dan barang-barang material lainnya yang mungkin saja akan hancur. Subjek penggusuran tersebut juga memberikan kesempatan untuk menilai dan mendokumentasikan hal-hal dibidang non material untuk dikompensasikan.
6. Semua tindakan permukiman kembali, seperti konstruksi bangunan rumah, air, listrik, sanitasi, sekolah, akses jalan dan alokasi tanah serta tempat yang terkait dengan akses atas pekerjaan dan penghidupan harus sesuai dengan pedoman serta prinsip prinsip hak asasi manusia dan selesai sebelum mereka yang terkena penggusuran berpindah dari area asal mereka.