• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komitmen IMD dan ASI Eksklusif 1 Kebutuhan komitmen

Dalam dokumen 889f4355 4828 4272 9612 e02d8d5e68eb (Halaman 185-188)

Uraian Substansi 1 Latar Belakang

5. Komitmen IMD dan ASI Eksklusif 1 Kebutuhan komitmen

Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yakni sejak bayi baru lahir, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan Kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI Eksklusif semaksimal mungkin menjadi kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus yang berkualitas di masa depan. ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.

Pemberian ASI Eksklusif merupakan strategi tunggal yang paling efektif untuk meningkatkan kelangsungan hidup anak serta dapat mencegah kematian bayi dan balita.Karena dengan ASI Eksklusif dapat menghindarkan si bayi dari alergi dan menjamin kesehatan bayi secara optimal. Akan tetapi suksesnya pemberian ASI Eksklusif sangat tergantung pada pemahaman, pengetahuan dan komitmen dari berbagai pihak yang perduli terhadap terwujudnya generasi penerus yang sehat dan cerdas, terutama ibu melahirkan, lingkungan dimana si ibu berada serta masyarakat pada umumnya, dan petugas kesehatan yang mempunyai kewajiban untuk memberikan advokasi tentang pentingnya dan manfaat pemberian ASI.

Untuk menjamin hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif dan melindungi si ibu untuk memberikan

ASI Eksklusif kepada bayinya, Pemerintah Indonesia mengeluarkan PP No. 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Peraturan Pemerintah tersebut mengukuhkan kewajiban ibu memberikan ASI Eksklusif segera setelah proses melahirkan serta kewajiban negara, masyarakat, dan swasta untuk mendukung program tersebut. Pemberian ASI Eksklusif mutlak dan penting harus dilakukan, mengingat manfaat yang akan diperoleh bayi.

Dengan diterbitkannya PP tersebut, Pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai tanggungjawab untuk:

1. Melaksanakan kebijakan nasional dalam rangka program pemberian ASI Eksklusif

2. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi program pemberian ASI Eksklusif

3. Memberikan pelatihan teknis konseling menyusui

4. Menyediakan tenaga konselor menyusui di fasilitas kesehatan dan tempat sarana umum lainnya

5. Membina, monitoring, mengevaluasi dan mengawasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di fasilitas pelayanan kesehatan, satuan pendidikan kesehatan, tempat kerja, tempat sarana umum dan kegiatan di masyarakat

6. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan program pemberian ASI Eksklusif yang mendukung perumusan kebijakan kabupaten/kota

7. Mengembangkan kerjasama dengan pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan

8. Menyediakan ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas penyelenggaraan pemberian ASI Eksklusif.

5.2 Kunci Keberhasilan Program IMD dan

ASI Eksklusif

1. Menciptakan komitmen, kepedulian,

kesungguhan dan kemauan semua stakeholder 2. Dukungan eksekutif dan legislatif

3. Ada unsur (SDM) penggerak program di tingkat lokal

4. Menjaga keberlanjutan program.

5.3 Kebijakan Daerah

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, bahwa Pemberian ASI Eksklusif merupakan sebuah program yang wajib untuk dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Sebagai program pemerintah, kabupaten/kota perlu mengaturnya dalam sebuah kebijakan untuk menjamin terlaksananya program Pemberian ASI Eksklusif dalam bentuk kegiatan konkrit sebagai upaya pencapaian tujuan.

Untuk memberikan arahan atau petunjuk operasional tentang organisasi, personil, dan prosedur, dapat berbentuk Surat Keputusan (SK), Peraturan Kepala Daerah, atau Peraturan Daerah (Perda).

Kebijakan tentang Pemberian ASI Eksklusif diharapkan dapat:

1. Memberikan perlindungan dan kesempatan bagi bayi untuk mendapatkan haknya yaitu mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan bayi.

2. Memberikan pendampingan, perlindungan, dan kesempatan kepada ibu untuk memberikan IMD dan ASI Eksklusif pada bayinya

3. Mendorong peran dan dukungan keluarga, masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah daerah terhadap pemberian IMD dan ASI Eksklusif.

Agar kebijakan kepala daerah tersebut berjalan efektif dalam pelaksanaannya maka langkah- langkah yang harus dilakukan adalah:

1. Perumusan: perumusan naskah akademik 2. Advokasi: pembahasan dengan semua pihak

terkait termasuk masyarakat sebagai pengguna layanan melalui pendekatan persuasif,

presentasi, diskusi, negosiasi 3. Penetapan: proses pengesahan 4. Pelaksanaan: sosialisasi kebijakan dan

penerapan kebijakan oleh para pihak yang terkait

5. Monitoring: memantau pelaksanaan apakah sudah sesuai dengan aturan/kebijakan 6. Evaluasi: apakah kebijakan tersebut dapat

mengurangi masalah yang mempengaruhi kinerja yang diharapkan.

5.4 Para Pihak Terkait dalam Program

Pemberian ASI Eksklusif

Terbitnya Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Daerah/Kepala Daerah tentang Pemberian

ASI Eksklusif, maka hal yang terpenting adalah komitmen dari semua pihak terkait baik dari pemberi layanan, produsen dan pemasar susu, ibu hamil dan keluarga sebagai target dan penyelenggara pelayanan kesehatan untuk bisa memprioritaskan penggunaan ASI Ekslusif bagi anak usia 0 – 6 bularian serta pemberian IMD segera setelah bayi lahir.

Karena pemberian ASI Eksklusif dapat menurunkan resiko bayi terkena infeksi dan penyakit kronis dimasa mendatang, maka setiap ibu melahirkan harus mempunyai tekad yang kuat untuk

memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya kecuali jika si ibu mempunyai indikasi medis. Untuk itu perlu adanya dukungan dan komitmen berbagai pihak, mulai dari Pemerintah (Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota), produsen susu, para Penyelenggara Pelayanan Kesehatan, Tenaga Kesehatan, masyarakat, terutama keluarga terdekat ibu.

Beberapa pihak yang diharapkan turut berkomitmen dalam membantu ibu memberikan ASI Eksklusif adalah:

a) Keluarga terdekat ibu:

Dukungan suami diberikan dengan selalu menjaga suasana batin si ibu sepertimenemani isteri ketika menyusui, ikut merawat bayi,

melengkapi pengetahuan tentang pemberian IMD dan ASI Eksklusif, menyiapkan makanan bergizi dengan meminimalisasi mitos-mitos tentang larangan makanan yang dibutuhkan ibu, dsb.

Orang tua/mertua (keluarga) harus memberikan ibu hak untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi bayinya (pemberian IMD dan ASI Eksklusif), tidak memaksakan untuk memberikan makanan tambahan karena tradisi atau ketidaktahuan, melengkapi pengetahuan tentang IMD dan pemberian ASI Eksklusif dan kegiatan menyusui, semangat dan dorongan agar ibu percaya diri untuk menyusui, membantu menyiapkan makanan bergizi bagi ibu, dan membantu perawatan bayi.

b) Tenaga Kesehatan

Diharapkan tidak melakukan promosi susu formula, memberi informasi yang tepat tentang IMD dan ASI Eksklusif serta, makan bergizi yang perlu dimakan oleh ibu, dan hal-hal lain seputar menyusui, memberi bimbingan, konseling, dan dorongan agar ibu mau memberikan ASI Eksklusif, dsb.

c) Lingkungan kerja/kantor

Lingkungan kerja baik pemerintah maupun swasta hendaknya menerapkan kebijakan kantor yang ramah terhadap ibu menyusui, menyediakan ruang laktasi (menyusui), memberikan waktu untuk memerah ASI.

d) Sesama ibu menyusui

Saling berbagi pengalaman yang

mencerdaskan, bertukar informasi, memberi semangat dan dukungan.

e) Pemerintah

Secara terus menerus mengadakan sosialisasi tentang keunggulan ASI kepada masyarakat, memperbaiki dan melengkapi sarana dan prasarana pendukung kegiatan menyusui dan pemberian ASI Eksklusif, menindak dengan tegas segala bentuk pelanggaran yang

bertentangan dengan kebijakan pemberian ASI Eksklusif.

Panduan Pelaksanaan

1. Tahap Persiapan

Dalam dokumen 889f4355 4828 4272 9612 e02d8d5e68eb (Halaman 185-188)