• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian teori

3. Peradilan Agama

Peradilan Agama adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam Pasal 1 angka 1 UU No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama). Peradilan Agama melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi rakyat yang beragama Islam mengenai perkara

15Undang-Undang Republik Indonesia pasal 13 (1) Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

15

tertentu. Menurut pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No.

7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yang menjadi kewenangan dari Pengadilan Agama adalah perkara tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang: perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, ekonomi syari'ah. Jadi, untuk perkara ekonomi syari’ah, menjadi kewenangan absolut dari pengadilan agama.16

a. Sejarah Peradilan Agama di Indonesia .

Perjalanan kehidupan pengadilan agama mengalami pasang surut.

adakalanya wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Pada kesempatan lain kekuasaan dan wewenangnya dibatasi dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan, bahkan sering kali mengalami berbagai rekayasa dari penguasa (kolonial Belanda) dan golongan masyarakat tertentu agar posisi Pengadilan Agama melemah. Sebelum Belanda melancarkan politik hukumnya di Indonesia, hukum Islam sebagai hukum yang berdiri sendiri telah mempunyai kedudukan yang kuat, baik di masyarakat maupun dalam peraturan perundang- undangan negara. Kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia melaksanakan hukum Islam dalam wilayah kekuasaannya masing-masing.17

Kerajaan Islam yang berdiri di Aceh Utara pada akhir abad ke 13 M, merupakan kerajaan Islam pertama yang kemudian diikuti dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam lainnya, misalnya: Demak, Jepara, Tuban, Gresik,

16 https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4cd4042b91308/peradilan-agama/

17Muchtar Zarkasyi, Sejarah Peradilan Agama di Indonesia,(Jakarta:Prenada Group:2019) Hlm 21

16

Ngampel dan Banten. Di bagian Timur Indonesia berdiri pula kerajaan Islam, seperti: Tidore dan Makasar. Pada pertengahan abad ke 16, suatu dinasti baru, yaitu kerajaan Mataram memerintah Jawa Tengah, dan akhirnya berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di pesisir utara, sangat besar perannya dalam penyebaran Islam di Nusantara.18

Munculnya banyak kelompok Islam yang terjadi di masyarakat sehingga Lembaga Peradilan semakin dibutuhkan. Dalam hal ini apabila terjadi sengketa dalam masyarakat maka hal itu pula yang mendasari Lembaga peradilan dibangun atau dibentuk, dimana pembentukan ini harus di landasi dengan Hukum Islam. Namun apabila dalam suatu masyarakat tidak terdapat Lembaga Peradilan maka, di berikan penanganan dengan cara memerintahkan kepada kedua belah pihak yang bersengketa untuk dapat melakukan tahkim terhadap orang-orang yang memiliki wewenang atas hal tersebut namun hal ini dapat di laksanakan apabila kelak putusan yang di keluarkan tentunya disepakati terlebih dahulu untuk diterimah serta berjanji unntuk mematuhinya.

Perkembangan Peradilan Agama di Indonesia bermula dari tahkim, sejak Islam berada di Indonesia, kala itu masyarakat sama sekali belum mengenal agama Islam, sehingga apabila terjadi sengketa di antara mereka maka ia bertahkim terhadap seseorang yang di anggap memahami solusi permasalahan tersebut (ulama).

Seiring perkembangan agama Islam yang saat itu mulai dikenal oleh masyarakat, mereka mulai mengenal bagaimana cara untuk menghandle

18ibid

17

kehidupan yang akan mereka jalani, mereka sudah mengenal peradilan, pada masa itu dilaksanakan oleh para Penghulu yang merupakan pengurus masjid di suatu wilayah. Persidangan pada masa itu, posisinya berada pada serambi masjid oleh karena tata letak atau posisi persidangannya berada pada serambi masjid, maka mereka memberi nama Pengadilan Serambi yang bahkan waktu itu terjadi di seluruh wilaya Nusantara yang kebanyakan menempatkan jabatan keagamaan, penghulu atau hakim, sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan pemerintahan umum.

Pasang surut yang dialami oleh Pengadilan Agama tidak mampu di pisahkan dari sejarahnya. Lembaga ini berfungsi untuk memeriksa dan memtuskan perkara. Dalam masa pemerintahanVOC, Lembaga Peradilan Agama berencana akan di tiadakan lalu membentuk lemabaga Peradilan yang independen yang sumber hukumnya dari negara Belanda, akan tetapi tidak berjalan sesuai dengan rencana tersebut, pada saat itu masyarakat Islam sudah mampu memahami bahwa untuk aturan tersebut harus benar-benar bersumber dari hukum Islam. Pemerintahan VOC tidak berhenti sampai disitu mereka juga ingin agar wewenang pengadilan agama dalam mengadili di minimalisir (dikurangi).

Pada tahun 1830, Peradilan Agama berada di bawah pengawasan landraad (Pengadilan Negeri), mereka memiliki kekuasaan bahwa hanya mereka yang dapat memegang kendali terhadap putusan-putusan pada Pengadilan Agama.

Pada pemerintahnya juga Pengadilan Agama tidak diberi kewenangan dalam menyita uang atau barang yang menjadi objek sengketa tersebut. Tidak adanya

18

kewenangan yang di miliki Pengadilan Agama sampai di Undangkannya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Lahirnya firman Raja Belanda (Koninklijk Besluit) tanggal 19 Januari 1882 Nomor 24, Staatsblad 1882 - 152 telah mengubah susunan dan status peradilan agama. Wewenang pengadilan agama yang disebut dengan preisterraacf tetap daIam bidang perkawinan dan kewarisan, serta pengakuan dan pengukuhan akan keberadaan pengadilan agama yang telah ada sebelumnya, dan hukum Islam sebagai pegangannya.

Berlakunya Staatsblad 1937 Nomor 116 telah mengurangi kompentensi pengadilan agama di Jawa dan Madura daIam bidang perselisihan harta benda, yang berarti masalah wakaf dan waris harus diserahkan kepada pengadilan negeri. Mereka (Pemerintah Kolonial Belanda) berdalih, bahwa dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, hukum Islam tidak mendalam pengaruhnya pada aturan-aturan kewarisan dalam keluarga Jawa dan Madura serta di tempat-tempat lain di seluruh Indonesia. Pada tanggal 3 Januari 1946 dengan Keputusan Pemerintah Nomor lJSD dibentuk Kementrian Agama, kemudian dengan Penetapan Pemerintah tanggal 25 Maret 1946 Nomor 5/SD semua urusan mengenai Mahkamah Islam Tinggi dipindahkan dari Kementrian Kehakiman ke dalam Kementrian Agama. Langkah ini memungkinkan konsolidasi bagi seluruh administrasi lembaga-lembaga Islam dalam sebuah wadah yang besifat nasional.

Berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 menunjukkan dengan jelas maksud- maksud untuk mempersatukan administrasi Nikah, Talak dan

19

Rujuk di seluruh wilayah Indonesia di bawah pengawasan Kementrian Agama.

Usaha untuk menghapuskan pengadilan agama masih terus berlangsung sampai dengan keluarnya Undang-undang Nomor 19 Tahun 1948 dan Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang Tindakan Sementara untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan, Kekuasaan dan Acara Pengadilan-pengadilan Sipil, antara lain mengandung ketentuan pokok bahwa peradilan agama merupakan bagian tersendiri dari peradilan swapraja dan peradilan adat tidak turut terhapus dan kelanjutannya diatur dengan peraturan pemerintah.

Proses keluarnya peraturan pemerintah inilah yang mengalami banyak hambatan, sehingga dapat keluar setelah berjalan tujuh tahun dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1957.19

Keluarnya Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, maka kedudukan Peradilan Agama mulai tampak jelas dalam sistem peradilan di Indonesia. Undang-undang ini menegaskan prinsip-prinsip sebagai berikut: .20

1) Peradilan dilakukan "Demi Keadilan Berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa"

2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara

3) Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi.

19https:// Peradilan_agama_di_Indonesia

20http://badilag.net/sejarah/profil-ditjen-badilag-1/sejarah-ditjen-badilag

20

Badan-badan yang melaksanakan peradilan secara organisatoris, administratif, dan finansial ada di bawah masing-masing departemen yang bersangkutan.susunan kekuasaan serta acara dari badan peradilan itu masing-masing diatur dalam undang-undang tersendiri. Hal ini dengan sendirinya memberikan landasan yang kokoh bagi kemandirian peradilan agama, dan memberikan status yang sarna dengan peradilan-peradilan lainnya di Indonesia.Lahirnya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memperkokoh keberadaan pengadilan agama.Di dalam undang¬undang ini tidak ada ketentuan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pasa1 2 ayat (1) undang-undang ini semakin memperteguh pelaksanaan ajaran Islam (Hukum Islam). Suasana cerah kembali mewarnai perkembangan peradilan agama di Indonesia dengan keluarnya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah memberikan landasan untuk mewujudkan peradilan agama yang mandiri, sederajat dan memantapkan serta mensejajarkan kedudukan peradilan agama dengan lingkungan peradilan lainnya

b. Tugas Pokok dan Fungsi Peradilan Agama

Sebagai Badan Pelaksana Kekuasaan Kehakiman bagi rakyat pencari keadilan ialah menerima, memeriksa dan memutuskan setiap perkara yang diajukan kepadanya, termasuk didalamnya menyelesaikan perkara.

21

Tugas-tugas pokok Peradilan Agama ialah :21

1) Memberikan keterangan, pertimbangan serta nasehat tentang Hukum Islam.

2) Melaksanakan hisab dan rukyatul hilal.

3) Melaksanakan tugas-tugas lain pelayanan seperti pelayanan riset/penelitian, pengawasan terhadap penasehat hukum dan sebagainya.

4) Menyelesaikan permohonan pembagian harta peninggalan diluar sengketa antara orang-orang yang beraga Islam.

Dengan demikian, Pengadilan Agama bertugas dan berwenang untuk menyelesaikan semua masalah dan sengketa yang termasuk di bidang perkawinan, kewarisan, perwakafan, hibah, infaq, shadaqah, dan ekonomi syariah.

Fungsi Peradilan Agama yaitu :22

1) Melakukan pembinaan terhadap pejabat struktural dan fungsional dan pegawai lainnya baik menyangkut administrasi, teknis, yustisial maupun administrasi umum

2) Melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan tingkah laku hakim dan pegawai lainnya (pasal 53 ayat (1) dan (2), UU No.3 Tahun 2006)

3) Menyelenggarakan sebagian kekuasaan negara dibidang kehakiman

21http://pa-muaratebo.go.id/index.php/tentang-pa/tugas-pokok-dan-fungsi-peradilan-agama

22Ibid

22 4. Perbankan Syariah23

a. Pengertian Perbankan Syariah

Sesuai UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia seperti prinsip keadilan dan keseimbangan ('adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, maysir, riba, zalim dan obyek yang haram. Selain itu, UU Perbankan Syariah juga mengamanahkan bank syariah untuk menjalankan fungsi sosial dengan menjalankan fungsi seperti lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai kehendak pemberi wakaf (wakif). Selain itu, kepatuhan pada prinsip syariah dipandang sebagai sisi kekuatan bank syariah. Dengan konsisten pada norma dasar dan prinsip syariah maka kemaslhahatan berupa kestabilan sistem, keadilan dalam berkontrak dan terwujudnya tata kelola yang baik dapat berwujud. Dalam kaitan ini lembaga yang memiliki peran penting adalah Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah memberikan kewenangan kepada MUI yang fungsinya dijalankan oleh organ khususnya yaitu DSN-MUI untuk menerbitkan fatwa kesesuaian syariah suatu produk bank. Kemudian Peraturan Bank Indonesia menegaskan bahwa seluruh

23 https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/tentang-syariah/Pages/UU-Regulasi-PBS.aspx

23

produk perbankan syariah hanya boleh ditawarkan kepada masyarakat setelah bank mendapat fatwa dari DSN-MUI dan memperoleh ijin dari OJK.

b. Tujuan dan Fungsi Perbankan Syariah Perbankan Syariah

Perbankan Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan pada Prinsip Syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian. Perbankan Syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

Sedangkan fungsi dari perbankan syariah adalah :

1) Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.

2) Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.

3) Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).

4) Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat(2) dan ayat(3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Struktur Perbankan Syariah

Berdasarkan Kegiatannya Bank Syariah dibedakan menjadi Bank Umum Syariah, Unit Usaha Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

24

a) Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

b) Unit Usaha Syariah /UUS, adalah unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.

c) Bank Pembiayaan Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

5. Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah

Penyelesaian sengketa adalah suatu penyelesaian perkara yang dilakukan antara salah satu pihak dengan pihak yang lainnya. Penyelesaian sengketa terdiri dari dua cara yaitu melalui litigasi (pengadilan) dan non litigasi (luar pengadilan).

Dalam proses penyelesaian sengketa melalui litigasi merupakan sarana terakhir (ultimum remidium) bagi para pihak yang bersengketa setelah proses penyelesaian melalui non litigasi tidak membuahkan hasil.24

Jalur Litigasi Dalam konteks perbankan syariah, sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui perdamaian maupun secara arbitrase dapat diselesaikan melalui lembaga peradilan. Menurut ketentuan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Pokok-pokok kekuasaan kehakiman, secara eksplisit menyebutkan

24Pramesti, Tri Jata Ayu (28 November 2013). "Ulasan lengkap: Litigasi dan Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan"

25

bahwa di Indonesia ada 4 lingkungan lembaga peradilan yaitu peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan Tata Usaha Negara. Lembaga peradilan agama melalui Pasal 49 Undang-undang nomor 7 tahun 1989 yang telah dirubah dengan undang-undang Nomor 3 tahun 2006 tentang peradilan agama telah menetapkan hal-hal yang menjadi kewenangan lembaga peradilan agama.

6. Dasar Hukum Formil Yang Di Gunakan Hakim Peradilan Agama Dalam Menyelesaikan Sengketa Perbankan Syariah

Dasar hukum formil Peradilan Agama yang di gunakan dalam menangani Perbankan Syariah adalah yaitu UU dan PERMA (Peraturan Mahkama Agung) yang berkaitan langsung dengan pedoman beracaranya yaitu:

a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama dan diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dimaksudkan untuk memperkuat prinsip dasar dalam penyelenggaraan kekuasaan kehakiman, yaitu agar prinsip kemandirian peradilan dan prinsip kebebasan hakim dapat berjalan pararel dengan prinsip integritas dan akuntabilitas hakim. Perubahan penting lainnya atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah

26

diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama antara lain sebagai berikut:25

1) Penguatan pengawasan hakim, baik pengawasan internal oleh Mahkamah Agung maupun pengawasan eksternal atas perilaku hakim yang dilakukan oleh Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim;

2) Memperketat persyaratan pengangkatan hakim, baik hakim pada pengadilan agama maupun hakim pada pengadilan tinggi agama, antara lain melalui proses seleksi hakim yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan partisipatif serta harus melalui proses atau lulus pendidikan hakim;

3) Pengaturan mengenai pengadilan khusus dan hakim ad hoc;

4) Pengaturan mekanisme dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian hakim;

5) keamanan dan kesejahteraan hakim;

6) transparansi putusan dan limitasi pemberian salinan putusan

7) Transparansi biaya perkara serta pemeriksaan pengelolaan dan pertanggung jawaban biaya perkara;

8) Bantuan hukum; dan Majelis Kehormatan Hakim dan kewajiban hakim untuk menaati Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.

b. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah;

Pengaturan mengenai Perbankan Syariah dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan

Undang-25 Undang-Undang No 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

27

Undang Nomor 10 Tahun 1998 belum spesifik dan kurang mengakomodasi karakteristik operasional Perbankan Syariah, dimana, di sisi lain pertumbuhan dan volume usaha Bank Syariah berkembang cukup pesat. Guna menjamin kepastian hukum bagi stakeholders dan sekaligus memberikan keyakinan kepada masyarakat dalam menggunakan produk dan jasa Bank Syariah, dalam Undang-Undang Perbankan Syariah ini diatur jenis usaha, ketentuan pelaksanaan syariah, kelayakan usaha, penyaluran dana, dan larangan bagi Bank Syariah maupun UUS yang merupakan bagian dari Bank Umum Konvensional.26

Sementara itu, untuk memberikan keyakinan pada masyarakat yang masih meragukan kesyariahan operasional Perbankan Syariah selama ini, diatur pula kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah meliputi kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur-unsur riba, maisir, gharar, haram, dan zalim.

c. Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan;

Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan Para Pihak dengan dibantu oleh Mediator.

Dalam Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan membahas tentang, 27

1) Pedoman Mediasi Di Pengadilan meliputi : ruang lingkup, Jenis Perkara Wajib Menempuh Mediasi, Sifat Proses Mediasi, Kewajiban Menghadiri Mediasi, Iktikad Baik Menempuh Mediasi, Biaya Mediasi, Biaya

26Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

27Peraturan Mahkamah Agung RI pasal 1 ayat 1Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan

28

Pemanggilan Para Pihak, Tempat Penyelenggaraan Mediasi, Tata Kelola Mediasi di Pengadilan,

2) Mediator meliputi: Sertifikasi Mediator dan Akreditasi Lembaga, Tahapan Tugas Mediator, Pedoman Perilaku Mediator, Tahapan

3) Pramediasi meliputi: Kewajiban Hakim Pemeriksa Perkara, Kewajiban Kuasa Hukum, Hak Para Pihak Memilih Mediator, Batas Waktu Pemilihan Mediator, Pemanggilan Para Pihak, Akibat Hukum Pihak Tidak Beriktikad Baik,

4) Tahapan Proses Mediasi meliputi Penyerahan Resume Perkara dan Jangka Waktu Proses Mediasi, Ruang Lingkup Materi Pertemuan Mediasi, Keterlibatan Ahli dan Tokoh Masyarakat, Mediasi Mencapai Kesepakatan, Kesepakatan Perdamaian Sebagian, Mediasi Tidak Berhasil atau Tidak dapat Dilaksanakan,

5) Perdamaian Sukarela meliputi: Perdamaian Sukarela pada Tahap Pemeriksaan Perkara, Perdamaian Sukarela pada Tingkat Upaya Hukum Banding, Kasasi, atau Peninjauan Kembali

6) Keterpisahan Mediasi Dari Litigasi, 7) Perdamaian Di Luar Pengadilan,

d. Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 14 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelesaian Perkara Ekonomi Syariah.

Perkara Ekonomi Syariah adalah perkara di bidang ekonomi syariah meliputi bank syariah, lembaga keuangan mikro syariah, asuransi syariah, reasuransi syariah, reksadana syariah, obligasi syariah, surat berharga berjangka

29

syariah, sekuritas syariah, pembiayaan syariah, penggadaian syariah, dana pensiun lembaga keuangan syariah, bisnis syariah, termasuk wakaf, zakat, infaq, dan shadaqah yang bersifat komersial, baik yang bersifat kontensius maupun volunteer.28 Dalam Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 14 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelesaian Perkara Ekonomi Syariahmeliputi tentang Ruang Lingkup, Tata Cara Pemeriksaan Perkara Dengan Acara Sederhana, Putusan, Tata Cara Pemeriksaan Perkara Dengan Acara Biasa, Tahapan Pemeriksaan Sengketa Ekonomi Syariah (Tata Cara Pemanggilan, Persidangan, Upaya damai), pembuktian, putusan, pelaksanaan putusan, ketentuan peralihan.

e. Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 5 Tahun 2016 Tentang sertifikasi Hakim Ekonomi Syariah

Perkara ekonomi syariah harus diadili oleh hakim ekonomi syariah yang bersertifikat dan diangkat oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.29Sertifikasi hakim ekonomi syariah bertujuan untuk meningkatkan efektifitas penanganan perkara-perkara ekonomi syariah di Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah sebagai bagian dari upaya penegakkan hukum ekonomi syariah yang memenuhi rasa keadilan.30

f. Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 4 Tahun 2019 Perubahan Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana Perubahan atas PERMA Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana.

28Peraturan Mahkamah Agung RI Pasal 1 ayat 4 Nomor 14 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelesaian Perkara Ekonomi Syariah.

29Peraturan Mahkamah Agung RI pasal 2 Nomor 5 Tahun 2016 Tentang sertifikasi Hakim Ekonomi Syariah

30Ibid pasal 3

30

Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2019 Tentang Perubahan Perma No.2 Tahun 2015 Tentang cara Penyelesaian Gugatan Sederhana, Penyelesaian Gugatan Sederhana adalah tata cara pemeriksaan di persidangan terhadap gugatan perdata dengan nilai gugatan materil paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) yang diselesaikan dengan tata cara dan pembuktiannya sederhana. Gugatan sederhana diajukan terhadap perkara cidera janji dan/atau perbuatan melawan hukum dengan waktu penyelesaian gugatan sederhana paling lama 25 (dua puluh lima) hari sejak hari sidang pertama.31

Adapun yang tidak termasuk dalam gugatan sederhana ini adalah : Perkara yang penyelesaian sengketanya dilakukan melalui pengadilan khusus sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan; atau sengketa hak atas tanah. Berikut adalah ketentuan bagi para pihak gugatan sederhana :

1) Para pihak dalam gugatan sederhana terdiri dari penggugat dan tergugat yang masing-masing tidak boleh lebih dari satu, kecuali memiliki kepentingan hukum yang sama.

2) Terhadap tergugat yang tidak diketahui tempat tinggalnya, tidak dapat diajukan gugatan sederhana. Penggugat dan tergugat dalam gugatan sederhana berdomisili di daerah hukum Pengadilan yang sama.

3) Dalam hal penggugat berada di luar wilayah hukum tempat tinggal atau domisili tergugat, penggugat dalam mengajukan gugatan menunjuk kuasa,

31 Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 4 Tahun 2019 Perubahan Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana Perubahan atas PERMA Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana.

31

kuasa insidentil, atau wakil yang beralamat di wilayah hukum atau domisili tergugat dengan surat tugas dari institusi penggugat.

4) Penggugat dan tergugat wajib menghadiri secara langsung setiap persidangan dengan atau tanpa didampingi oleh kuasa hukum.

5) Penggugat dan tergugat dapat menggunakan administrasi perkara di pengadilan secara elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan

5) Penggugat dan tergugat dapat menggunakan administrasi perkara di pengadilan secara elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan