ANATOMI KURIKULUM
A. Anatomi Kurikulum
2. Komponen Isi Kurikulum
Pemaknaan terhadap isi atau materi kurikulum ( cur-riculum content) pada dasarnya adalah merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan sebagaimana yang diajukan oleh Tyler, yakni: What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes?. Dalam hal ini Tyler mengambarkan bahwa yang dimaksud dengan materi atau isi kurikulum adalah berupa pengalaman pendidikan ( edu-cational experiences). Hal ini mengandung makna bahwa yang dimaksud isi atau materi kurikulum bukan dalam bentuk materi atau mata pelajaran yang tertuang dalam fisik buku teks dan bahan ajar lainnya atau apa yang diberikan oleh guru semata, tetapi apa yang ada di balik itu semua yaitu apa yang dapat dialami dan didapat dalam proses interaksi peserta didik dengan segenap pihak dan dalam berbagai hal keadaan. Berdasarkan hal itu, dapat dinyatakan bahwa isi atau materi kurikulum dapat berupa segala sesaatu yang terdapat dalam proses pendidikan atau pembelajaran berupa: buku teks, media pembalajaran, interaksi antara siswa dengan guru, interaksi antar siswa, dan dengan lingkungan pembelajaran.
Pemaknaan isi kurikulum yang direfresentasikan sebagai segala apa saja yang dialami dan mempengaruhi pembentukan peserta didik di bawah tanggung jawab sekolah adalah merupakan pemaknaan isi kurikulum yang memandang bahwa kurikulum adalah segala apa saja yang mempengaruhi proses pendidikan/pembalajaran dalam sebuah proses pendidikan atau yang disebut dengan pengertian kurikulum dalam arti luas (modern). Sedang-kan pemaknaan isi kurikulum dalam pengertian yang sempit (tradisional), isi kurikulum tidak lain adalah sebatas pada materi atau mata pelajaran yang diberikan dalam
proses pendidikan. Dalam konteks kurikulum pendidikan nasional, sebagaimana disebutkan pada PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab I pasal 1 ayat 5, bahwa:
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Selanjutnya lebih tegas dijelaskan pada Bab III pasal 5 tentang Standar Isi disebutkan:
(1) Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
(2) Standar isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.
Selain itu, isi kurikulum juga sangat ditentukan oleh model kurikulum yang dipakai. Isi atau bahan kurikulum model klasik adalah materi-materi yang merupakan warisan masa lalu (zaman klasik) dan sedikit sekali materi-materi yang merepresentasikan untuk masa kini dan akan datang. Isi atau materi kurikulum dengan model humanis-tik lebih bentuk pengalaman belajar anak atau apa yang dialami oleh siswa untuk pembentukan potensi dirinya. Isi kurikulum dalam bentuk rekonstruksi sosial adalah pada berbagai kasus yang berkembang atau actual di ma-syarakat sebagai bahan pembelajaran untuk memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Sedangkan isi
kurikulum dalam bentuk teknologis lebih pada ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang dan akan datang. Dalam menentukan isi atau materi kurikulum tidak bisa dilepaskan dari filsosofi dan teori pendidikan yang dgunakan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi kurikulum disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :
1. Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
2. Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
3. Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
4. Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
5. Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
6. Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
7. Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
9. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
10. Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampai-kan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Isi atau materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat kons-truktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif.
Isi atau bahan kurikulum juga dapat dilihat dari tingkatasn kurikulumnya. Dilihat dari tingkatannya, isi kurikulum biasanya disusun mulai dari kurikulum tingkat nasional, lokal, institusional, dan mata pelajaran. Isi
kurikulum pada tingkat kurikulum nasional adalah me-rupakan materi-materi/mata pelajaran dan pengalaman-pengalaman inti yang wajib dimiliki oleh segenap peserta didik di suatu Negara. Sebagai contoh, Negara telah me-netapkan bahwa setiap siswa harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam hal beragama (pelajaran agama); berbahasa (bahasa Indonesia), berkewarga-negaraan yang baik (kewarganeraan), dan berpengatahuan (sain dan teknologi). Adapun isi kurikulum pada tingkat Institusional (lembaga) adalah materi-materi atau pengalaman-pengalaman yang harus dimiliki oleh seluruh siswa sesuai dengan jenjang dan jenis lembaga pendidikan-nya. Dalam konteks kurikulum nasional negara kita telah ditetapkan jenis-jenis bidang pelajaran yang wajib di-berikan kepada siswa. Sebagai contoh, berdasarkan UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 adalah sebagai berikut: 1. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. peningkatan iman dan takwa; b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan; e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. agama;
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Selanjutnya disebutkan bahwa:
2. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan; c. bahasa;
d. matematika;
e. ilmu pengetahuan alam; f. ilmu pengetahuan sosial; g. seni dan budaya;
h. pendidikan jasmani danolahraga; i. keterampilan/kejuruan; dan j. muatan lokal.
2. Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat: a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan; dan c. bahasa.
Selain itu, berdasarkan prinsip pengembangan kurikulum yang telah digariskan oleh UUSPN No 20 tahun 2003 bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik, maka dalam penentuan isi kurikulum diberikan ruang untuk memasukkan unsur dan kebutuhan daerah (muatan lokal) di samping dikembangkan lebih jauh dalam bentuk yang sesuai dengan satuan pendidikan
masing-masing atau yang disebut sekarang dengan istilah “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Dengan demikian, isi kurikulum untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan di samping tetap mempertahankan standar isi yang berlaku secara nasional, setiap jenis dan jenjang pendidikan dapat mengembangkan dan menyesuaikan dengan kebutuhan daerah dan lembaga pendidikan masing-masing.