• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET)

BAB III KOMPONEN PROYEK DAN BANTUAN TEKNIS

3.1.3. Komponen Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET)

1) Uraian

Komponen PAKET adalah salah satu komponen proyek P2KP yang dimaksud-kan sebagai suatu upaya proses pembela-jaran untuk membangun dan melem-bagakan “kemitraan” antara masyarakat dengan pemerintah kota/kabupaten dan kelompok peduli setempat (LSM, perguruan tinggi, pihak swasta, perbankan dan lain-lainnya) dalam rangka terwujudnya sinergi upaya penanggulangan kemiskinan. Melalui Komponen PAKET diharapkan juga dapat terbangun dan melembaga proses konsultatif antara ketiga pilar pembangunan (pemerintah, masyarakat, swasta/ kelompok peduli) di tingkat kota/kabupaten dalam penanggulangan kemiskinan. Hal ini berarti bahwa PAKET hanya dapat berjalan sesuai dengan tujuannya apabila di antara masing-masing pelaku pembangunan di atas memiliki ‘kepentingan dan kebutuhan yang sama’ untuk saling koordinasi, kooperasi dan kolaborasi satu terhadap yang lain sehingga terjadi kemitraan. PAKET hanya sekedar stimulan untuk membantu dan mempercepat proses kemitraan yang mulai ditumbuhkan oleh mereka sendiri.

Bagi masyarakat, terutama BKM, Komponen PAKET juga dimaksudkan sebagai proses pembelajaran untuk mengakses dan menggalang berbagai sumber daya maupun sumber dana yang dimiliki oleh pemerintah kota/kabupaten atau kelompok peduli (channeling),

sehingga diharapkan dapat lebih mengoptimalkan kemandirian dan keberlanjutan upaya penanggulangan kemiskinan. Agar BKM serta masyarakat mampu bermitra dengan pemerintah kota/ kabupaten dan kelompok peduli setempat, maka prasyarat utama adalah bahwa BKM-BKM memiliki kredibilitas yang menjamin kepercayaan dari berbagai pihak tersebut. Hal ini berarti bahwa hanya BKM-BKM yang telah menunjukkan kinerja sebagai “BKM Berdaya” yang memiliki perluang lebih besar untuk dapat berpartisipasi aktif dalam proses channeling program-program yang ada, khususnya melalui PAKET.

Program PAKET P2KP hanya merupakan ‘Stimulan’ sebagai pelengkap atas tumbuhnya keswadayaan, kebutuhan dan kepentingan bersama di antara masyarakat, pemerintah kota/kabupaten dan kelompok peduli setempat untuk menjalin kemitraan yang sinergis dalam mengefektifkan dan mempercepat upaya-upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah mereka!

Komponen PAKET P2KP akan mengalo-kasikan dana stimulan yang dapat diguna-kan untuk keperluan membiayai kegiatan yang direncanakan secara partisipatif serta diusulkan oleh BKM Berdaya bekerjasama dengan dinas pemerintah kota/kabupaten atau sebaliknya.

Dana PAKET bersifat “stimulan” sebesar setengah pendanaan dari kegiatan yang diusulkan dan dikelola oleh panitia kemitraan. Panitia kemitraan dibentuk dari gabungan BKM Berdaya dengan Dinas terkait setempat. Kesepakatan pembentu-kan panitia kemitraan harus dituangpembentu-kan dalam bentuk berita acara yang ditanda-tangani oleh masing-masing pimpinan dari unsur pembentuknya.

Komponen PAKET tidak dilaksanakan di seluruh kota/kabupaten sasaran P2KP, namun hanya di sebagian kota/kabupaten saja yang akan dipilih dengan cara kompetisi sehat yang dilakukan melalui mekanisme evaluasi partisipatif dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah kota/kabupaten.

Hasil evaluasi partisipatif tersebut selanjut-nya disampaikan untuk ditetapkan oleh PMU/Pimpro P2KP Pusat sebagai lokasi pelaksanaan PAKET P2KP. Proses seleksi lokasi pelaksanaan PAKET melalui mekanisme evaluasi partisipatif didasarkan pada kriteria-kriteria sebagai berikut: a. Kinerja pemerintah kota/kabupaten

dalam mendukung pelaksanaan P2KP di wilayah kerjanya, baik dalam memfasilitasi siklus kegiatan di tingkat masyarakat maupun memfasilitasi Komunitas Belajar Perkotaan (KBP); b. Kinerja pemerintah kota/kabupaten

dalam penguatan peran dan fungsi Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) di wilayahnya;

c. Kinerja Komite Penanggulangan Kemis-kinan Daerah setempat serta Kualitas Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan (SPK) setempat;

Pada tahun pertama pelaksanaan P2KP, ketika kegiatan pengembangan masya-rakat di tingkat kelurahan/desa sedang berlangsung, maka pada saat yang bersamaan pemerintah kota/kabupaten melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan penguatan peran dan fungsi KPK-D agar mampu menyusun dokumen SPK-D dan Pronangkis kota/ kab.secara partisipatif, demokratis, trans-paran dan akuntabel, serta kegiatan mem-bangun kepedulian berbagai pihak terkait

Komponen Program PAKET pada dasarnya harus ditempatkan sebagai sarana pembelajaran kemitaran antara masyarakat dengan pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, Indikator pelaksanaan dan capaian PAKET dapat dilihat pada tumbuhnya kebutuhan rasa kebersamaan dan kemitraan antara masyarakat dan pemerintah daerah, baik dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan maupun sumber dana terhadap kegiatan pembangunan di wilayahnya

2) Ketentuan Umum

a) Alokasi Dana PAKET

Untuk kota-kota terpilih, akan dialokasikan dana PAKET setiap tahun selama tiga tahun berturutan yang dibagi dalam tiga tahap (Tabel 3.3.) Alokasi dana PAKET P2KP kepada pemerintah kota/kabupaten terseleksi akan dilakukan melalui mekanisme penganggaran yang biasa dilakukan pemerintah pusat kepada pemerintah kota/kabupaten. Dalam hal ini, pemerin-tah kota/kabupaten akan menunjuk PJOK (Penanggung jawab Operasional Kegiatan) di tingkat kota/ kabupaten yang bertanggungjawab dalam mengad-ministrasi alokasi dana PAKET itu. terhadap persoalan kemiskinan melalui Komunitas Belajar Perkotaan (KBP). Berbagai pihak terkait yang telah terbangun kepeduliannya selama terlibat intensif da-lam KBP inilah yang menjadi embrio Pokja PAKET pada saatnya, bila kota/kabupaten tersebut terpilih sebagai lokasi PAKET.

Tabel 3.3. : Alokasi Dana PAKET per Kota/Kabupaten per tahun

Ketentuan Kota/Kab.Kecil Kota/Kab.Sedang

< 25 BKM 1 milyar 1,5 milyar 2 milyar 4,5 milyar > 25 BKM 1,5 milyar 2 milyar 2,5 milyar 6 milyar Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Total

Alokasi PAKET per Kota/Kab. (milyar Rp)

Plafon Usulan PAKET per sub

proyek/Panitia kemitraan Minimal Rp 30 juta dan Maksimal Rp 200 juta. Kurang daripadaRp 30 juta diharapkan dapat dipenuhi dengan swadaya masyarakat atau stimulan dana BLM, sedangkan lebih dari Rp 200 juta dapat didukung oleh APBD setempat maupun channel-ing program dengan pihak terkait lainnya

Jumlah alokasi dana PAKET untuk masing-masing kota/kabupaten sasaran diinformasikan secara terbuka, sehingga dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat secara transparan. Jumlah dana PAKET yang telah dialokasikan untuk masing-masing kota/kabupaten sasaran tersebut merupakan jumlah maksimum yang dapat dimanfaatkan. Sedangkan jumlah pencairan yang sesungguhnya akan didasarkan pada kemampuan pengelo-laan dan kesiapan masyarakat, peme-rintah kota/kabupaten serta kelompok peduli setempat dalam melaksanakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip di P2KP serta ketentuan PAKET P2KP.

Apabila dalam waktu yang telah ditentukan ternyata masyarakat, pemerintah daerah dan kelompok peduli di suatu kota/kabupaten sasaran dinilai tidak dapat menunjukan kemampuan dan kesungguhan melaksanakan PAKET, maka alokasi dana yang ada -sebagian atau seluruhnya- dapat ditangguhkan atau dibatalkan. Demikian pula halnya, apabila mereka tidak mampu mencairkan seluruh alokasi dana PAKET hingga masa pelaksanaan PAKET berakhir, maka sisa alokasi dana PAKET harus dikembalikan ke kas negara.

b) Pembentukan Pokja PAKET

Masing-masing kota/kabupaten yang terpilih sebagai lokasi pelaksanaan PAKET harus membentuk Pokja PAKET. Pokja PAKET di bawah koordinasi KPK Daerah sekaligus sebagai ’Pusat Pembelajaran (learning center)’, yang menjadi sarana forum diskusi, pembahasan serta pembelajar-an mengenai perkara dpembelajar-an upaya-upaya penanggulangan kemiskinan di wilayahnya masing-masing.

Pokja PAKET pada intinya bersifat ad-hoc, yang anggota-anggotanya dipilih dari relawan-relawan kemiskinan tingkat kota yang terlibat intensif dalam KBP.

Proses pemilihan anggota Pokja PAKET diawali dengan serangkaian FGD refleksi kepemimpinan moral melalui serangkaian pertemuan KBP yang difasilitasi KPK-D tingkat kota/ kabupaten setempat secara demo-kratis, partisipatif, transparan dan akun-tabel, dengan melibatkan seluruh para pihak terkait (stakeholders).

Prinsip kerja Pokja PAKET adalah sebagai dewan sehingga tidak ada satu pun anggota yang memiliki hak istimewa (privilege). Jumlah anggota Pokja PAKET adalah 11 orang atau lebih dengan catatan jumlah total tetap ganjil. Hal ini dimaksudkan untuk memudah-kan proses pengambilan keputusan dalam mekanisme kerja Pokja PAKET. Anggota-anggota Pokja PAKET adalah relawan-relawan kota yang terbukti telah menunjukkan keikhlasan, kepedulian, komitmen tinggi serta berperan aktif dalam proses Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) di wilayah setempat. Relawan-relawan tersebut dapat berasal dari masyarakat (BKM-BKM dan relawan-relawan lainnya), perangkat pemerintah kota/kabupaten ataupun kelompok peduli (LSM, lembaga pendidikan, pihak swasta, asosiasi profesi/usaha sejenis, dsb) yang peduli terhadap masalah penanggulangan kemiskinan.

Anggota Pokja PAKET merupakan representasi dari relawan-relawan kemiskinan kota/kabupaten yang paling dipercaya, ikhlas, jujur, peduli, adil dan lainnya, yang mencerminkan sifat-sifat universal kemanusiaan. Anggota Pokja PAKET bukan merupakan representasi dari kewilayahan, kelompok atau golongan tertentu.

Anggota-anggota Pokja PAKET bekerja atas dasar sukarela, sehingga tidak diperkenankan menerima imbalan secara tetap dan rutin, namun biaya operasional kegiatan Pokja PAKET akan dipenuhi dari kontribusi pemerintah kota/kabupaten dalam pelaksanaan proyek P2KP. Pemerintah kota/

kabupaten akan membantu KPK-D yang bertugas memfasilitasi kegiatan dan pekerjaan Pokja PAKET secara opera-sional, dengan sumber pendanaan dari APBD masing-masing kota/kabupaten. Peran-peran yang akan dilaksanakan oleh Pokja PAKET adalah:

Sosialisasi dan diseminasi PAKET;

Merumuskan dan menyepakati kriteria seleksi proposal kegiatan PAKET;

Mengevaluasi dan menyeleksi proposal; dan

Menetapkan prioritas usulan-usulan kegiatan panitia kemitraan yang dinilai layak untuk menerima dana PAKET;

Monitoring pelaksanaan kegiatan oleh panitia kemitraan serta menetapkan kegiatan-kegiatan terbaik (best practice) untuk dapat dipertimbangkan memperoleh penghargaan (rewards) maupun menerapkan sanksi terhadap panitia kemitraan yang melaksanakan kegiatan PAKET tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Buku Pedoman PAKET;

Memfasilitasi serangkaian forum diskusi antar pelaku (stakeholders) di tingkat kota/kabupaten untuk membahas perkara kemiskinan serta upaya-upaya penanggulangan-nya sebagai bahan masukan untuk kebijakan dan strategi penang-gulangan kemiskinan yang dirumuskan oleh KPK setempat.

Pokja PAKET tidak boleh terlibat sebagai pengusul atau pelaksana usulan/proposal kegiatan PAKET.

c) Penyaluran dan pencairan dana PAKET

Î Bagi proposal yang telah terseleksi oleh Pokja PAKET dan diverifikasi KMW, maka dibuat Surat Perjanjian Penyaluran Bantuan PAKET (SPPB PAKET) yang ditandatangani antara

PJOK dengan wakil pengusul kegiatan, yakni Panitia Kemitraan. Panitia Kemitraan selanjutnya membuka rekening yang ditanda-tangani bersama.

Î Penyaluran dana PAKET dari rekening khusus proyek ke rekening panitia kemitraan akan dibuat berdasarkan permintaan PJOK dan dicairkan dalam dua tahap yang sama (50% dan 50%).

Î Pencairan alokasi dana PAKET untuk kota/kabupaten lokasi sasaran pada tahun-tahun berikut-nya mengikuti prosedur pencairan dana PAKET tahun sebelumnya, dengan ditambah keharusan audit independen (BPKP dan auditor lainnya) serta telah diverifikasi kinerja pelaksanaan kegiatan tahun sebelumnya oleh KMW.

Î KMW beserta pemerintah propinsi dimungkinkan untuk mengajukan pembatalan dana PAKET kepada PMU/Pimpro P2KP pusat, apabila: (1) Dalam waktu satu tahun pelaksanaan PAKET P2KP di kota/ kabupaten tersebut dinilai gagal membentuk atau meng-efektifkan Pokja PAKET; atau (2) Adanya indikasi penyalahgunaan

dana PAKET tahun sebelum-nya; (3) Tidak dilakukan audit oleh auditor

independen; atau

(4) Terdapat indikasi visi, misi, tujuan, prinsip dan nilai P2KP tidak dapat dilaksanakan secara konsisten.

3) Penggunaan Dana PAKET

a. Kriteria Kegiatan yang boleh dibiayai oleh PAKET

PAKET merupakan stimulan untuk memperkuat upaya-upaya kemitraan antara lembaga masyarakat warga (BKM Berdaya) dan dinas pemerintah kota/kabupaten. Oleh karena itu, pada

dasarnya dana PAKET dapat digunakan secara cukup luwes dengan berpedoman kepada keterpaduan Program Masyarakat (PJM Pronangkis) yang disusun BKM bersama masyarakat dengan Rencana Program dinas-dinas terkait, sehingga hasilnya dapat benar-benar memberi manfaat langsung upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah setempat. Usulan kegiatan/subproyek dapat berkaitan dengan pembangunan atau rehabilitasi infrastruktur, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan anak, perbaikan lingkungan, kegiatan sosial dan lain-lainnya, yang merupakan keterpaduan rencana masyarakat dengan program dinas/instansi kota/ kabupaten.

Usulan kegiatan/sub proyek yang berkaitan dengan sektor pendidikan dan kesehatan yang diajukan untuk PAKET P2KP, harus sesuai dan selaras dengan rencana induk (master plan) pendidikan dan kesehatan di kota/ kabupaten bersangkutan.

Kegiatan-kegiatan yang akan diusulkan melalui mekanisme PAKET harus memenuhi kriteria yang ditetapkan sesuai tujuan PAKET P2KP, yakni: Î Kontribusi keswadayaan kegiatan

dari pihak pengusul (BKM Berdaya bersama dinas terkait) minimal 50% (natura dan tunai) dari jumlah total kebutuhan dana.

Î Melibatkan masyarakat miskin, perempuan dan kelompok masyara-kat rentan lainnya, baik dalam peng-elolaan atau pemanfaatan kegiatan Î Jangkauan wilayah atau penerima manfaat kegiatan diutamakan me-liputi lebih dari satu kelurahan/desa. Dalam hal hanya meliputi wilayah satu kelurahan/desa, maka kegiatan diprioritaskan pada skala kegiatan yang tidak dimungkinkan dibiayai melalui sumber dana BLM

Î Menjamin kebersamaan dan kesetaraan yang sinergi sejak tahap gagasan, perencanaan, pengusulan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, pemeliharaan dan pelestarian kegiatan, dll

Î Kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh Pokja PAKET secara partisipatif, demokratis, transparan dan akuntabel.

Apabila masyarakat yang bekerjasama dengan dinas pemerintah daerah setempat memutuskan untuk memilih kegiatan yang mungkin menimbulkan dampak lingkungan atau memerlukan pembebasan lahan, maka harus melaksanakan ketentuan sebagaimana tercantum pada Lampiran 2: Pedoman Lingkungan dan Lampiran 3: Kerangka kebijakan pembebasan lahan serta permukiman kembali/ penampungan.

Usulan-usulan kegiatan diseleksi Pokja PAKET berdasarkan 4 (empat) kriteria utama, sbb:

i. Kinerja BKM pengusul, sebagai salah satu unsur utama panitia kemitraan, lebih diprioritaskan bagi yang kualifikasi ’berdaya.

ii. Tingkat kemitraan yang diukur dari proses kebersamaan dan kerjasama antara BKM dengan dinas pemerintah kota/kabupaten dan/atau kelompok peduli yang tercermin dalam proses pengajuan usulan tersebut (mulai tahap gagasan, perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian serta pengembangan kegiatan, dll)

iii. Tingkat kontribusi keswadayaan pihak pengusul dalam usulan kegiatan yang diajukan (diharapkan minimal 50% dari jumlah dana yang diusulkan). Artinya sumber dana PAKET hanya dialokasikan sebesar 50% dari total kebutuhan biaya yang diusulkan Panitia Kemitraan. iv. Kemanfaatan dari usulan kegiatan

tersebut berkaitan langsung dengan penanggulangan kemiskinan

b. Kriteria Kegiatan yang tidak boleh dibiayai oleh PAKET

Beberapa kegiatan yang tidak boleh dibiayai dengan dana PAKET, yaitu: Î Pengadaan senjata api dan

sejenisnya;

Î Pembiayaan kegiatan yang ber-kaitan dengan politik (kampanye dll); Î Pembelian atau usaha narkoba; Î Deposito atau yang berkaitan dengan

upaya memupuk bunga bank; Î Kegiatan yang memanfaatkan dana

PAKET sebagai jaminan atau agunan atau garansi, baik yang berhubungan dengan lembaga keuangan dan perbankan maupun pihak ketiga lainnya;

Î Pembebasan lahan dan/atau Pemukiman kembali secara paksa; Î Pembangunan rumah ibadah; Î Pembangunan gedung kantor

pemerintah atau gaji pegawai ; Î Produk-produk yang merugikan

lingkungan;

Î Usaha perjudian dan usaha yang bertentangan dengan susila serta moral dan nilai-nilai agama; Î Kegiatan-kegiatan yang berdampak

negatif terhadap lingkungan, penduduk asli dan kelestarian budaya lokal;

Î Kegiatan yang bertentangan dengan hukum dan kemanusiaan serta tidak sejalan dengan visi, misi, tujuan dan sasaran P2KP;

Î Kegiatan bukan merupakan kegiatan pokok dari dinas pengusul;

Î Kegiatan perkreditan atau dana bergulir oleh pengusul; dan

Î Kegiatan yang jangka waktu pelaksanaannya diperkirakan lebih dari satu tahun.

4) Siapa yang berhak mengusulkan dan memanfaatkan dana PAKET

1) Penyusunan Usulan Kegiatan

Î Proposal kegiatan yang diusulkan terdiri dari satu jenis kegiatan spesifik.

Î BKM mengajukan usulan kegiatan berdasarkan PJM Pronangkis berkolaborasi dengan dinas terkait , dan dapat juga sebaliknya.

Î BKM diperkenankan berkolaborasi dengan beberapa dinas terkait yang berbeda untuk mengusulkan beberapa proposal sub proyek yang berbeda dan sebaliknya.

Î Kolaborasi antara BKM dengan dinas/instansi terkait harus berlandaskan kemitraan dan kesetaraan yang tercermin pada seluruh proses kegiatan, sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal yang melandasi P2KP

BKM-BKM yang diprioritaskan dapat mengajukan usulan kegiatan untuk mengakses dana bantuan PAKET P2KP adalah BKM-BKM yang memenuhi kualifikasi “Berdaya” !

2) Pihak Penilai dan Pemutus

Persetujuan Usulan Kegiatan PAKET Î KMW memverifikasi tingkat

kemi-traan dan kesesuaian dengan prinsip serta nilai P2KP dari proposal-proposal yang diajukan oleh pihak pengusul (panitia kemitraan). Hasil verifikasi KMW disampaikan kepada Pokja PAKET untuk ditindaklanjuti. Î Seleksi prioritas/rangking usulan

kegiatan ditetapkan melalui Rapat Anggota Pokja PAKET dan hasilnya diverifikasi KPK Kota/Kabupaten didasarkan kesesuaian usulan dengan Dokumen SPK setempat. Î Keputusan final pendanaan proposal

kegiatan ditetapkan Rapat Anggota Pokja PAKET berdasarkan verifikasi KMW & KPK-nya.

3) Pelaksanaan Usulan Kegiatan PAKET BKM-BKM dan dinas pemerintah kota/ kabupaten yang usulan kegiatannya dipilih oleh Pokja PAKET harus membuka rekening bersama dan menyepakati perjanjian bahwa dalam pelaksanaan kegiatan tersebut akan didasarkan pada prinsip kemitraan

dalam kesetaraan antara kedua belah pihak berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip di P2KP, sebagai aktivitas yang dikelola secara partisipatif dan mandiri.

3.2. DUKUNGAN PELAKSANAAN