BAB III KOMPONEN PROYEK DAN BANTUAN TEKNIS
3.1.1. Pengembangan Masyarakat dan Mengedepankan Peran Pemerintah
Daerah
1) Uraian
Komponen proyek ini menyediakan dukungan untuk mendanai kegiatan pengembangan atau pemberdayaan masyarakat serta penguatan kapasitas dalam rangka mengedepankan peran pemerintah daerah, termasuk diantaranya adalah penguatan peran dan fungsi Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPK-D), mengembangkan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP), dan menumbuh-kembangkan kemitraan sinergis dengan masyarakat, agar mampu bekerja sama secara lebih efektif dalam penanggulangan kemiskinan di wilayah setempat sesuai prinsip dan nilai universal di P2KP. Pada dasarnya, dukungan pembiayaan melalui komponen ini mencakup biaya operasional konsultan dan fasilitator untuk melaksanakan pendampingan masyarakat
dan pemerintah kota/kabupaten, biaya sosialisasi dan pelatihan, termasuk penyia-pan materi-materi sosialisasi dan pelatihan yang berkaitan dengan pelaksanaan P2KP, serta biaya-biaya lain yang berkaitan dengan upaya memperkuat kapasitas dan mengedepankan peran pemerintah daerah.
a) Pengembangan Masyarakat melalui Proses Pembelajaran
Komponen pengembangan atau pem-berdayaan masyarakat dalam P2KP dilakukan melalui proses pembelajaran masyarakat untuk memulihkan dan melembagakan kembali kapital sosial (social capital) yang telah ada di masyarakat, yakni nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal, sebagai landasan kokoh untuk membangun tatanan masyarakat yang mampu mandiri dan berkelanjutan menangani kegiatan pe-nanggulangan kemiskinan serta pemba-ngunan lingkungan perumahan permu-kiman di wilayahnya secara terpadu. Tahapan pembelajaran masyarakat terdiri dari serangkaian kegiatan, mulai dari belajar membangun kebersamaan pada saat rembug kesiapan masyara-kat, belajar mengevaluasi penyebab kemiskinan yang bertumpu pada perilaku dan sikap, belajar merumuskan keinginan secara riil sesuai dengan kondisi obyektif masalah yang ada dan potensi yang dimilikinya, belajar
bersinergi dan mengorganisir dalam lembaga yang mengakar dan represen-tatif, belajar membuat program kemiski-nan dan pembangukemiski-nan di wilayahnya, belajar melakukan kegiatan bersama yang dilandasi perubahan perilaku dan sikap, serta proses belajar lainnya.
Seluruh tahapan pelaksanaan kegiatan P2KP di tingkat masyarakat pada dasarnya dititikberatkan pada nuansa proses pembelajaran masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan P2KP tidak hanya berorientasi pada output/produk atau dilandasi prinsip sekedar terlaksana semata, namun justru harus benar-benar memperhatikan dinamika proses, kesadaran kritis dan pelembagaan nilai-nilai universal serta proses perubahan perilaku/ sikap masyarakat itu sendiri.
Beberapa kegiatan yang termasuk dalam komponen pengembangan masyarakat, antara lain mencakup: a.1.Rembug atau Musyawarah
Kesepa-katan Masyarakat
Kegiatan Rembug/Musyawarah Ke-sepakatan Masyarakat (RKM) me-rupakan serangkaian musyawarah di tingkat kelurahan/desa yang dise-lenggarakan oleh Lurah/Kepala Desa dengan mengundang para ketua RT, ketua RW, warga miskin (Pra KS dan KS1) dan tokoh masyarakat serta kelompok peduli setempat untuk memutuskan apakah berminat mengikuti P2KP dengan segala konsekuensinya atau tidak. RKM didahului serangkaian kegiatan silaturahmi sosial dan pemasyara-katan gambaran umum P2KP ke berbagai pihak, baik perangkat pemerintah maupun masyarakat, melalui berbagai media, arisan, pertemuan PKK, pengajian, siskam-ling, dsb, yang difasilitasi fasilitator. RKM ini dilanjutkan dengan pen-daftaran relawan-relawan yang akan berperan sebagai agen pembangun-an masyarakat setempat. Untuk tahap pertama yang dibutuhkan
adalah relawan untuk menyeleng-garakan Refleksi Kemiskinan yang akan dilakukan di tiap RT/RW, minimum 1 orang per RW. Dalam tiap tahapan kegiatan, jumlah anggota tim relawan dapat ditambah sesuai kebutuhan maupun terutama sesuai kesediaan partisipasi dan kerelaan warga untuk menjadi relawan-relawan dalam proses penanggulangan kemiskinan di wilayahnya.
Para relawan-relawan tersebut selanjutnya bersama fasilitator akan mendorong peran aktif masyarakat dalam berbagai proses kegiatan P2KP khususnya, maupun upaya pembangunan wilayah kelurahan pada umumnya.
Relawan-relawan adalah orang-orang yang memiliki niat ikhlas dan peduli untuk membantu masyarakat miskin di wilayahnya. Tidak ada batasan jumlah relawan dalam satu wilayah, karena siapapun yang ikhlas dan peduli dapat terlibat dan memberi kontribusi untuk membantu masyarakat dalam proses pelaksanaan P2KP di wilayahnya.
a.2. Pengorganisasian Masyarakat Kegiatan penyiapan dan peng-organisasian masyarakat diawali dengan proses membangun kesa-daran kritis masyarakat, melalui serangkaian kegiatan diskusi kelompok terarah (focus group discusión/FGD); dimulai dengan refleksi kemiskinan sebagai upaya membangun paradigma baru masyarakat terhadap akar persoalan kemiskinan yang dihadapi bersama yang berkaitan dengan sikap/prilaku dan cara pandang masyarakat selama ini, dilanjutkan dengan pemetaan swadaya (community self survey/CSS) sebagai upaya belajar bersama menemukenali realita persoalan dan potensi di wilayahnya serta berbagai kemungkinan penanggulangannya dan apa yang
dibutuhkan untuk menanggulangi kemiskinan secara efektif dalam bentuk antara lain; komitmen (individu dan kelompok), keahlian, sumberdaya, kelembagaan, organi-sasi dan lain-lainnya, dilanjutkan dengan FGD kelembagaan dan kepemimpinan moral hingga pengu-kuhan/pembentukan lembaga pimpinan kolektif berbasis nilai-nilai universal, yang secara jenerik dise-but BKM, untuk akhirnya memimpin gerakan penanggulangan kemiskin-an dari, oleh untuk masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan. a.3. Perencanaan Partisipatif Menyusun
PJM dan Renta Pronangkis Kegiatan ini merupakan kegiatan awal BKM bersama relawan-relawan, masyarakat serta pemerintah kelurahan dan kelompok peduli setempat, untuk bersama-sama merencanakan langkah-langkah penanggulangan kemiskinan dalam bentuk PJM dan Renta Pronangkis. Dalam hal ini, BKM diharapkan dapat mendorong peran aktif masyarakat kelurahan setempat untuk menyam-paikan aspirasinya, memberikan masukan, saran, usulan dan inisiatif-inisiatifnya.
BKM bersama para relawan, yang difasilitasi Tim fasilitator, akan mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan di masyarakat untuk menjamin bahwa proses penyusunan PJM Pronangkis dilakukan secara partisipatif serta benar-benar didasarkan pada kebutuhan nyata (riil) masyarakat, yang dalam penyusunannya perlu mempertimbangkan: 1) hasil-hasil pemetaan swadaya yang telah dilakukan masyarakat sendiri sebelumnya, 2) keterpaduan dengan rencana dan program pemerintah kelurahan, dan 3) kebijakan Pemda setempat.
Ruang lingkup kegiatan dalam PJM Pronangkis mencerminkan kegiatan yang benar-benar merupakan kebu-tuhan riil dan prioritas masyarakat, baik itu pembangunan prasarana/ sarana perumahan dan permukiman, penciptaan lapangan kerja baru, kre-dit mikro untuk usaha kecil, hingga santunan bagi masyarakat rentan/ lemah atau pelayanan sosial lain. Program penanggulangan kemiskin-an (pronkemiskin-angkis) ykemiskin-ang akkemiskin-an disusun masyarakat diharapkan dapat berisi; (1) Dokumen Strategi Penanggulang-an KemiskinPenanggulang-an KelurahPenanggulang-an setempat, yakni visi, misi dan strategi penang-gulangan kemiskinan di kelurahan setempat; (2) Rencana Jangka Menengah penanggulangan kemiski-nan, yakni dalam jangka waktu 3 tahun, serta (3) Rencana Tahunan (Renta) yang berisi rencana detail investasi tahunan pada tahun pertama yang dapat diusulkan untuk dibiayai sebagian dari swadaya murni masyarakat, alokasi dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) P2KP, maupun sumber dana Pemda dan pihak terkait lainnya.
PJM dan Renta Pronangkis tidak boleh semata-mata dipandang sebagai prasyarat untuk mem-peroleh dana bantuan P2KP, namun harus diposisikan sebagai media pembelajaran masyarakat untuk menyusun program bersama. Sehingga muatan PJM dan Renta Pronangkis bukan hanya berisikan daftar kegiatan yang didanai dengan sumber dana BLM P2KP, melainkan uraian program masyarakat secara menyeluruh, termasuk dengan sumber-sumber dana lainnya yang dibutuhkan, apakah berasal dari swadaya masyarakat, APBD, ataupun channeling dengan sektor perbankan, program, swasta, stimulan P2KP, dan sebagainya;
PJM dan Renta Pronangkis secara prinsip merupakan dokumen hasil proses pembelajaran perencanaan partisipatif masyarakat bersama perangkat kelurahan dan para pihak di kelurahan setempat, yang mencerminkan prioritas-prioritas program yang disepakati bersama. Tidak dibenarkan sama sekali adanya ‘exclusivitas’ ataupun adanya rekayasa pihak luar dalam proses penyusunan Pronangkis, baik fasilitator, KMW atau pihak-pihak lainnya.
a.4. Komunitas Belajar Kelurahan (KBK)
Sebagaimana telah dijelaskan di awal, seluruh proses pelaksanaan kegiatan P2KP di tkt masyarakat pada dasarnya bernuansa proses pembelajaran masyarakat untuk memperbaiki kondisinya secara bertahap menuju kondisi masyarakat yang mandiri, dan akhirnya mampu terwujud tatanan masyarakat madani.
Oleh karena itu, selama masa pro-yek P2KP, yang dimotori relawan-relawan setempat, masyarakat diharapkan mampu memahami substansi, mekanisme, proses dan dinamika pembelajarannya, sekali-gus kemudian mampu menerapkan-nya sesuai dengan nilai dan prinsip universal.
Untuk lebih mendukung proses pem-belajaran tersebut, BKM dapat men-jadi motor penggerak dalam mem-bangun forum pembelajaran dalam bentuk Komunitas Belajar Kelurahan (KBK), yang dipelopori para rela-wan`setempat. Dimaksud relawan dalam hal ini ialah anggota masyar-akat, perangkat pemerintah kelura-han dan orang-orang peduli yang memiliki komitment, kepedulian dan keikhlasan membantu masyarakat miskin di sekitarnya.
KBK pada prinsipnya merupakan forum dari para relawan, dikoordinir BKM, yang bersifat cair (tidak struktural) sebagai wadah melemba-gakan dan menumbuhkembangkan
proses pembelajaran masyarakat, melalui diskusi-diskusi, kajian-kajian refleksi, best practice dan tukar pikiran mengenai berbagai persoalan kemiskinan yang ada di wilayahnya serta bagaimana upaya penanggula-ngannya agar lebih efektif dan berbasis nilai-nilai universal. Proses membangun Komunitas Belajar Kelurahan (KBK), yang dimotori BKM, dapat dimulai setelah dana BLM P2KP tahap pertama telah diterima masyarakat, dimana pada saat itu relawan-relawan telah selesai membantu masyarakat sejak tahap awal hingga tahap pe-nyusunan PJM Pronangkis. Agenda pertama KBK dapat dimulai dengan diskusi reflektif tentang efektivitas kemanfaatan penggunaan dana, transparansi dan akuntabilitas, serta sosial kontrol status dan pemanfaat-an dpemanfaat-ana BLM.
Selanjutnya. pelaksanaan kegiatan KBK dilakukan misalnya dengan FGD-FGD bersama warga miskin, kunjungan lapang ke KSM-KSM dan kegiatan para anggotanya atau ke panitia-panitia dan hasil kegiatan-nya, refleksi proses dan hasil pelaksanaan kegiatan tertentu, dll. Hasil-hasil kajian dari KBK menjadi masukan bagi BKM untuk mening-katkan kinerjanya dan juga menjadi masukan bagi pemerintah kelurahan hingga pemerintah kota/kabupaten. Diharapkan pada pasca pelaksa-naan P2KP, mekanisme KBK dapat terus dilembagakan warga sehingga mampu menjadi motor penggerak masyarakat untuk senantiasa mela-kukan penyempurnaan proses pem-belajaran dalam penerapan substan-si konsep, substan-sistem dan mekanisme yang telah dikenalkan selama pelaksanaan P2KP, dalam rangka melembagakan kembali kapital sosial yang dimiliki masyarakat.
Melembaganya KBK, sekaligus juga merupakan pondasi yang kokoh bagi warga masyarakat untuk senantiasa merefleksi, mendis-kusikan dan memperbaiki serta menata kualitas lingkungan permukiman kelurahannya yang lebih lestari, asri, sehat, aman dan berkelanjutan secara terpadu (Neighbourhood Development).
Fungsi KBK adalah sebagai forum para relawan (masyarakat, perangkat pemerintah kelurahan dan kelompok peduli setempat) untuk saling belajar, sharing pemikiran dan pengalaman, kajian refleksi, tempat berkomunikasi, yang dilandasi semangat untuk menemukan model kegiatan dan kebijakan yang lebih mampu meningkatkan perbaikan masyarakat miskin di kelurahannya.
Sebagai sebuah forum, siapapun yang berminat bisa bergabung dalam KBK dengan kedudukan yang sejajar. Tidak perlu ada SK pengukuhan karena sifat keanggotaannya adalah cair. Artinya, siapapun bebas keluar masuk sesuai dengan minatnya. UPS-BKM memfasilitasi dan terus menerus menumbuhkembangkan KBK, agar proses kegiatan dan kehidupan bermasyarakat senantiasa bertumpu pada keadilan, keikhlasan dan kejujuran.
Ketentuan umum mengenai KBK dapat dipelajari pada Pedoman Khusus mengenai Komunitas Belajar Kelurahan dalam pelaksanaan P2KP.
b) Mengedepankan Peran Pemerintah Daerah
Kegiatan mengedepankan peran pemerintah daerah, pada dasarnya merupakan kegiatan yang berorientasi pada upaya membangun kemandirian pemerintah daerah dalam menang-gulangi kemiskinan dan mewujudkan pembangunan keberlanjutan yang berbasis nilai-nilai serta prinsip-prinsip universal.
Pemerintah Propinsi akan didorong pe-ran aktifnya sebagai pelaksana dalam penyelenggaraan lokakarya-lokakarya dan kegiatan P2KP di tingkat propinsi serta melakukan peran-peran koordina-si, monitoring dan supervisi. Sedangkan Pemerintah Kota/Kabupaten secara
prinsip merupakan pelaksana P2KP di wilayahnya masing-masing, baik dalam memfasilitasi proses kegiatan P2KP di tingkat masyarakat maupun di tingkat kota/kabupaten, dengan difasilitasi KMW sesuai ketentuan P2KP.
b.1. Penguatan peran Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan siklus P2KP
Penguatan peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan siklus P2KP sebenarnya telah dimulai pada saat tahap persiapan pelaksanaan P2KP, yakni dalam proses verifikasi penentuan lokasi sasaran, kese-pakatan MOU pelaksanaan P2KP, maupun lokakarya-lokakarya P2KP di tingkat nasional dan propinsi. Sedangkan dalam pelaksanaan P2KP di tingkat kota/kabupaten, kegiatan diawali dengan pelatihan dasar bagi aparat pemerintah kota/ kabupaten, KPK-D dan kelompok peduli setempat. Melalui pelatihan dasar ini, perangkat pemerintah kota/kabupaten, difasilitasi KMW, selanjutnya diharapkan dapat berperan sebagai nara sumber dan fasilitator, baik pada lokakarya-lokakarya P2KP di wilayahnya maupun pada kegiatan-kegiatan sosialisasi lainnya. Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan mampu mengikuti dinamika perkembangan P2KP di wilayahnya, termasuk dalam turut memfasilitasi kegiatan P2KP serta merespon berbagai permasalahan dan konflik yang terjadi.
Peran Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan kegiatan P2KP tidak hanya terbatas pada peran monitoring, supporting dan legitimator semata, melainkan juga peran-peran fasilitasi, koordinasi, supervisi dan turut implementasi dalam beberapa kegiatan, yang difasilitasi KMW.
b.2. Penguatan peran KPK-D dalam menyusun SPK-D dan Pronangkis Kota/Kabupaten.
Salah satu kegiatan mengedepan-kan peran pemda pada pelaksanaan P2KP dilakukan melalui pendam-pingan untuk memperkuat peran dan fungsi Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPK-D) agar mampu menyusun dokumen strate-gi penanggulangan kemiskinan Daerah (SPK-D) dan Pronangkis kota/kabupaten secara partisipatif, berdasarkan masukan dan kebu-tuhan masyarakat (Pronangkis kelurahan) serta dukungan pihak terkait lain, terutama bagi terwujud-nya keselarasan dan keterpaduan program penanggulangan kemiskin-an di wilayahnya.
Ketentuan penguatan peran dan fungsi KPK-D dalam menyusun SPK-D dan Pronangkis Kota/kab akan diatur lebih lanjut dalam Buku Panduan Khusus mengenai hal ini. b.3. Komunitas Belajar Perkotaan
(KBP).
Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) pada dasarnya suatu forum untuk belajar, berbagi pemikiran dan pengalaman, serta melakukan kajian-kajian pembangunan partisi-patif, terutama persoalan kemiskin-an di kota/kabupaten, ykemiskin-ang dilkemiskin-andasi prinsip prinsip “good governance”. Tujuan dari KBP adalah dikem-bangkannya satu forum pembe-lajaran untuk berbagi informasi sekaligus mengkaji program-program penanggulangan kemis-kinan dan program pembangunan wilayah dan terbangunnya komuni-tas pembelajar yang merupakan jaringan dari para relawan dan para peduli (stakeholders) tingkat kota/ kabupaten, baik dari unsur perangkat pemda maupun non-pemerintah.
KBP merupakan titik awal mem-bangun jaringan antar kelompok, organisasi, atau lembaga yang dimulai dengan memperkuat relasi-relasi antar individunya, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakan lembaga/organisasinya masing-masing.
KBP tidak bersifat struktural, melainkan suatu forum yang dimotori dan digerakkan oleh KPK-D setempat. Hal ini sekaligus menem-patkan kedudukan KPK-D yang juga didorong untuk berfungsi sebagai “pusat pembelajaran (learning center)”, yang terbuka untuk seluruh pelaku setempat dalam rangka membahas dan merumuskan perka-ra stperka-rategis secaperka-ra rutin serta siste-matis, khususnya perkara yang ter-kait dengan upaya-upaya penang-gulangan kemiskinan di wilayah masing-masing.
Hasil-hasil dan masukan dari KBP menjadi bahan KPK Daerah untuk memberi berbagai saran dan pertim-bangan bagi perbaikan dan penyem-purnaan kebijakan maupun program-program penanggulangan kemiskin-an di kota/kabupaten setempat. KPK-D, staf pemerintah kota/kab, dinas terkait dan para pelaku laín yang peduli kemiskinan pada tahap awal akan mengikuti terlebih dahulu lokakarya serta pelatihan dasar agar dapat memahami secara utuh konsep dan pelaksanaan P2KP. Alumnus dari pelatihan dasar P2KP tersebut kemudian diharapkan bisa menjadi relawan-relawan kemiskinan tingkat kota/ kabupaten, yang salah satunya akan berperan menjadi tulang punggung proses penum-buhkembangan KBP. Selanjutnya melalui koordinasi dan berbagi beban pendanaan, pemerintah kota/ kab. dan KPK-D juga akan
memfa-silitasi aktivitas KBP, baik itu dalam bentuk belajar dari lapangan (thematic field study) yang terdiri dari kunjungan lapangan dan diskusi tematik, penyajian audio visual (VCD), kunjungan dan FGD serta dialog dengan Fasilitator, BKM, Relawan Masyarakat, dan atau pemanfaat P2KP, yang akan diselenggarakan oleh KPK-D bekerja sama dengan KMW bersangkutan secara reguler maupun insedentil sesuai kebutuhan.
Keterlibatan pemerintah kota/kab ini akan dilakukan berkoordinasi dengan KMW yang ditugasi oleh Pimpro/PMU (Project Management Unit) P2KP di wilayah setempat.
Fungsi KPK-D untuk menumbuhkembangkan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) sebagai Pusat Pembelajaran (learning center) inilah yang diharapkan mampu mendorong terwujudnya “transformasi P2KP dari proyek menjadi kegiatan program oleh masyarakat bersama pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat”.
b.4. Membangun Kemitraan Sinergis. Pengembangan kapasitas ini juga dimaksudkan untuk membangun kepedulian dan menjalin kemitraan dengan masyarakat, baik dengan BKM-BKM, Forum BKM maupun kelompok peduli setempat, terutama pada pelaksanaan kegiatan PAKET. Upaya membangun kemitraan sinergis dapat dilakukan dalam berbagai tahapan kegiatan, antara lain; 1) perencanaan program, misalnya mensinergikan PJM Pronangkis dengan mekanisme musbangkel hingga rakorbang dan mensinergikan PJM Pronangkis dengan SPK-D dan Pronangkis kota/kabupaten, 2) pelaksanaan program, misalnya channeling program-program pemerintah daerah dan pihak ketiga dengan BKM, serta 3) monitoring dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan, 4) dll.
Untuk kota/kabupaten yang terpilih sebagai lokasi pelaksanaan PAKET, proses pembelajaran kemitraan sinergis dilakukan melalui serangkai-an kegiatserangkai-an yserangkai-ang difasilitasi KMW sesuai dengan ketentuan Buku Pedoman Pelaksanaan PAKET. c) Jaringan Kerjasama & Forum BKM
Komponen Pengembangan Masya-rakat, Pemerintah dan Pelaku lain juga memberikan pendampingan dan pelatihan untuk mendukung BKM dalam membentuk asosiasi atau forum antar BKM di tingkat keca-matan dan kota/kabupaten sebagai sarana kerja sama dan komunikasi antar mereka.
Forum BKM akan berfungsi sebagai jaringan tukar menukar pengalaman, melaksanakan kegiatan bersama, mengkombinasikan sumber daya yang ada untuk membantu warga miskin, serta menyuarakan aspirasi masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan lokal yang berkaitan dengan kebijakan publik yang langsung menyangkut kaum miskin. Kegiatan ini juga mendorong jaringan kerja sama, baik antar KSM, antar BKM maupun Forum BKM dengan dengan pihak terkait lainnya, untuk kepentingan dan kemanfaatan masyarakat miskin, antara lain; desain produk, perencanaan, pemasaran, advokasi masyarakat miskin, pusat informasi, jaringan bisnis dan sebagainya.
2) Ketentuan Umum
a) Siapa yang dimaksud masyarakat
Pengertian masyarakat dalam P2KP adalah seluruh penduduk warga kelurahan/desa peserta P2KP - baik yang kaya maupun yang miskin, kaum minoritas, pendatang dan penduduk asli setempat -, yang setelah melalui proses pemberdayaan dapat menyadari dan memahami kondisi kelurahan/desa
Gambar 3.1. Kedudukan dan Posisi BKM Pemerintah Masyarakat Madani Swasta dan Klpk.Peduli Kope ra s i LKM D / LP M K , dl l "BKM"
Dari gambaran di atas, kedudukan BKM jelas merupakan lembaga masyarakat warga (Civil Society Organization), yang pada hakekatnya mengandung pengertian sebagai wadah masyarakat untuk bersinergi dan menjadi lembaga kepercayaan milik masyarakat, yang diakui baik oleh masyarakat sendiri maupun pihak luar, dalam upaya masyarakat membangun kemandirian menuju tatanan masyarakat madani (civil socitey), yang dibangun dan dikelola berlandaskan berbasis nilai-nilai universal (value based).
Sebagai wadah masyarakat bersinergi, BKM berbentuk pimpinan kolektif, dimana keputusan dilakukan secara kolektif melalui mekanisme rapat anggota BKM, dengan musyawarah mufakat menjadi norma utama dalam seluruh proses pengambilan keputusan. Sedangkan sebagai lembaga keper-cayaan (‘board of trusty’), anggota-anggota BKM terdiri dari orang-orang yang dipercaya warga, berdasarkan kriteria kemanusiaan yang disepakati bersama dan dapat mewakili masya-rakat dalam berbagai kepentingan, mereka serta persoalan kemiskinan
yang masih dihadapi dan sepakat perlunya mengorganisasi diri untuk menanggulangi persoalan kemiskinan tersebut secara bersama, mandiri, terpadu, dan sistematik.
b) Lembaga masyarakat yang harus dibangun dalam P2KP
Warga yang sadar akan potensi dan persoalan yang masih harus disele-saikan tersebut, dapat mengorganisasi diri sebagai masyarakat warga dan membangun lembaga pimpinan kolektif sebagai representasi dari masyarakat warga kelurahan yang bersangkutan, yang secara jenerik disebut Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Pengertian masyarakat warga (civil society), dapat dirumuskan sbb :
“Civil Society ialah himpunan masya-rakat warga yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh warga, yang secara damai berupaya meme-nuhi kebutuhan atau memperjuang-kan kepentingan, memecahmemperjuang-kan persoalan atau menyatakan kepedu-lian bersama dengan tetap menghar-gai hak orang lain untuk berbuat yang sama dan tetap mempertahan-kan sifat independen dan otonom terhadap institusi pemerintah, politik, militer, keluarga, agama dan usaha”. Dengan demikian, masyarakat warga yang dibangun dalam P2KP adalah himpunan masyarakat yang didasarkan pada ciri-ciri sukarela, kesetaraan, kemitraan, inklusif, demokratik, mandiri, otonom, proaktif, bersemangat saling membantu, menghargai kesatu-an dalam keragamkesatu-an dkesatu-an kedamaikesatu-an. Gambaran umum mengenai kedudukan dan posisi BKM dapat dilihat pada gambar 3.1. di bawah ini.
Dengan demikian, kedudukan dan posisi BKM adalah sebagai lembaga masyarakat yang benar-benar dibangun dari, oleh dan untuk masyarakat sebagai representasi upaya-upaya untuk membangun sinergi segenap potensi masyarakat menuju tatanan masyarakat madani, yang senantiasa berbasis keikhlasan dan kerelawanan, keadilan serta kejujuran.
Jadi jelas dan tegas bahwa BKM pada dasarnya merupakan lembaga kepercayaan masyarakat atau “Board of Trusty”. Pengertian board of trusty pada satu sisi merujuk pada keberadaan BKM yang harus