BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Data
4.3.1 Komunikasi Antarbudaya Para Pedagang
Komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi yang dilakukan oleh komunikator dan komunikan yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda.
Perbincangan sehari – hari seorang bersuku Batak dengan suku Jawa sudah bisa dianggap sebagai komunikasi antarbudaya, karena menurut Steward L. Tubbs dan
60
Sylvia Moss komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi antara orang – orang yang memiliki budaya yang berbeda(dalam Lubis, 2012 : 13). Kebudayaan sangat berperan dalam mengajarkan kepada anggotanya untuk melaksanakan suatu tindakan yang menjadi kekhasan kelompok kebudayaan tersebut.
David K. Berlo dalam buku Gatra – Gatra Komunikasi Antarbudaya tahun 2001 mengasumsikan bahwa perilaku komunikasi seseorang juga ikut ditentukan oleh kebudayaan yang dianutnya, termasuk memahami makna – makna yang dipersepsi terhadap perilaku komunikasi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda.
Sebuah pasar tradisional merupakan lokasi terjadinya komunikasi antarbudaya, di mana terdapat para pedagang berbeda identitas budaya saling berinteraksi. Pasar pajak pagi di kota Medan memiliki banyak pedagang dengan identitas budaya yang saling berbeda – beda. Hal ini dapat dilihat dari informan – informan penelitian ini yang memiliki identitas suku – suku yang berbeda. Sebagai sesama rekan yang memiliki pekerjaan dan tujuan yang sama, para pedagang ini kerap berkomunikasi satu sama lain tanpa mempedulikan identitas budaya masing – masing.
Pasar pajak pagi berlokasi di daerah Padang Bulan di kota Medan. Daerah tersebut memiliki mayoritas penghuni dari suku Karo dan Batak Toba, kenyataan ini membuat pedagang – pedagang di pasar pajak pagi banyak bersuku Karo dan Batak Toba. Namun tetap ada banyak pedagang dari suku – suku lain. Lingkungan pasar yang multikultural membuat komunikasi antarbudaya menjadi aktivitas sehari – hari di pasar ini. Seluruh informan mengakui telah mengerti dan memahami beragam kebiasaan budaya dan tradisi dari suku lain yang ada di pasar tersebut. Pemahaman tersebut terjalin melalui kontak langsung dan membangun hubungan sosial dalam proses komunikasi antarbudaya di antara para pedagang. Pemahaman dari komunikasi antarbudaya tersebut bahkan menyebabkan seorang individu dari suku lain turut mengikuti kebiasaan suku lainnya, seperti beberapa informan yang turut berkomunikasi dengan mengikuti kebiasaan dari suku lain.
61
Komunikasi yang terjadi di pasar tradisional pajak pagi adalah komunikasi antarbudaya. Para pedagang yang berjualan dan beraktivitas di pasar tersebut terdiri dari berbagai identitas suku, seperti Karo, Batak Toba, Jawa, Minang, dan Melayu.
Keragaman tersebut membuat pedagang – pedagang tersebut tidak bisa menghindar untuk tidak berkomunikasi dengan pedagang lain yang berbeda suku dengannya, sembari membangun hubungan dan mengenal satu sama lain. Kesembilan informan yaitu Bu Hotmawati, Bu Rasmi, Pak Harun, Pak Safrullah, Pak Hendra, Bu Lastari, Pak Andri, Bu Mirna, dan Pak Muhidin selalu berkomunikasi dengan pedagang maupun pembeli yang berbeda latar belakang kebudayaan dengannya. Bu Hotmawati, Bu Mirna, dan Pak Andri memiliki identitas suku Karo yang sangat banyak jumlahnya di pasar pajak pagi sehingga tingkat keterlibatan ketiga informan dalam berkomunikasi antarbudaya tidak terlalu sering terjadi. Bu Rasmi dan Bu Lastari memiliki identitas suku Batak Toba yang juga cukup banyak jumlahnya di pasar tersebut. Kemudian Pak Harun, Pak Safrullah, dan Pak Muhidin adalah pedagang dengan suku Jawa yang selalu berkomunikasi antarbudaya setiap hari. Dan Pak Hendra yang bersuku Minang.
Seluruh informan dalam penelitian ini mengaku selalu berkomunikasi dengan pedagang – pedagang lain yang ada di sekitar mereka, tidak peduli apapun identitas suku mereka. Beberapa informan seperti ibu Hotmawati dan ibu Mirna berjualan di sebuah lokasi tertentu di mana kedua informan ini memiliki identitas suku yang sama dengan pedagang lain di sekitarnya yaitu orang Karo, dengan demikian komunikasi antarbudaya hanya terjadi ketika kedua informan melayani pembeli
Informan juga memiliki tanggapan yang berbeda – beda terhadap perbedaan – perbedaan suku yang mereka temui setiap hari. Beberapa informan seperti ibu Hotmawati, bapak Harun, bapak Safrullah, bapak Andri, dan ibu Mirna mengatakan bahwa perbedaan tersebut merupakan hal yang biasa saja, terlebih karena berada di pasar tradisional yang memang selalu memiliki beragam orang di dalamnya.
Sedangkan informan lainnya memiliki tanggapan yang berbeda akan keberagaman tersebut. Mereka menganggap perbedaan tersebut merupakan sesuatu yang baik dan
62
bagus karena keadaan tersebut mampu membut mereka saling mengetahui dan saling mengenal pedagang antar suku yang ada, selain itu ada juga yang berpendapat walaupun berbeda tapi semuanya masih orang Indonesia. .
Ketika berinteraksi, para informan tidak pernah mengalami miskomunikasi akibat perbedaan identitas suku yang ada karena dapat memakai bahasa Indonesia yang dimengerti oleh semua orang. Namun satu informan yaitu bapak Hendra mrngatakan dirinya sudah 3 atau 4 kali melayani pembeli yang tidak mahir berbahasa Indonesia sehingga menyulitkan dirinya. Bapak Hendra sendiri memiliki rentang waktu berdagang yang lebih lama dibanding informan lainnya dalam penelitian ini sehingga memiliki pengalaman komunikasi antarbudaya yang lebih kaya.
Komunikasi antarbudaya pada Pak Harun, Pak Safrullah, Bu Lastari, dan Pak Muhidin bahkan telah berlangsung sebelum mereka menjadi pedagang di pasar pajak pagi. Pak Harun dan Bu Lastari mengatakan mereka sudah mengenal dan berkomunikasi dengan orang dari berbagai macam suku dari kampung halamannya sebelumnya. Pak Safrullah sendiri sebelum menjadi pedagang, dirinya mengaku sudah berpindah – pindah kerja di berbagai wilayah di pulau sumatera sehingga jelas dirinya sudah biasa berinteraksi dengan orang – orang yang berbeda – beda, sedangkan Pak Muhidin sebelumnya merupakan seorang penarik Becak di kota Medan, dia mengatakan selalu mendapat penumpang dari berbagai macam suku dan menjadi sarana baginya dalam melakukan komunikasi antarbudaya.
Komunikasi antarbudaya antara informan dengan pedagang lainnya berlangsung dengan baik. Selain karena informan yang sudah biasa berkomunikasi antarbudaya sebelum berdagang, juga karena informan yang sudah berjualan sangat lama di pasar pajak pagi. Pak Hendra sudah berjualan selama 30 tahun. Pertama kali berjualan dirinya mengaku sangat kesulitan untuk berinteraksi dengan pedagang – pedagang lain karena hanya dirinya yang bersuku Minang dan dirinya juga belum pernah berkomunikasi dengan orang dari suku lain sebelumnya. Meskipun mendapat bantuan dari teman karibnya, dirinya masih perlu waktu yang lama untuk dapat berkomunikasi dengan efektif dengan pedagang – pedagang lain disekitarnya. Dirinya
63
mengaku, meski dapat mengerti dengan bahasa Indonesia, perbedaan logat dan intonasi suara membuatnya seering gagal dalam memaknainya.
Terkadang komunikasi antarbudaya antar pedagang juga dapat berjalan tidak efektif akibat gangguan dari luar. Para pedagang buah yang mayoritas orang Karo harus berkomunikasi dengan suara yang keras dan besar karena lokasinya yang berada di sisi jalan yang kerap dilalui orang dan kendaraan. Para pedagang tersebut pun terbiasa dan selalu berbicara dengan volume suara yang besar setiap kali berkomunikasi. Keadaan tersebut membuat banyak pedagang lain ysng merasa gaya komunikasi tersebut kasar dan membuat mereka tidak nyaman akan hal tersebut.
Pengamatan tersebut selaras dengan keterangan informan lain yaitu Pak Harun dan Bu Rasmi. Pak Harun yang merupakan orang Jawa jelas merasa tidak nyaman dengan suasana interaksi seperti itu, dirinya bahkan berkata dia selalu kesal ketika mendengar pedagang tersebut saling berinteraksi seperti saling meneriaki satu sama lain.
Sedangkan Bu Rasmi menyadari kedaaan tempat mereka berjualan yang ada di pinggir jalanlah yang membuat mereka berinteraksi seperti itu. Bu Rasmi juga sedikit mengetahui arti bahasa Karo yang biasa digunakan oleh pedagang tersebut sehingga dirinya yakin bahwa pedagang buah tersebut kerap berbicara kasar satu sama lain.
Menurut pernyataan yang dikemukakan oleh para ahli, (dalam Liliweri, 2004 : 257) komunikasi antarbudaya akan berjalan efektif apabila :
1. Kemampuan seseorang untuk menyampaikan semua maksud atau isi hati secara profesional sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yag ditampilkan secara prima. Peneliti mengamati bahwa setiap informan mampu berinteraksi kepada pedagang lain dengan baik meski identitas sukunya berbeda. Pengetahuan informan akan suatu suku sangat membantunya untuk mampu menyampaikan maksud dan isi hati yang hendak mereka sampaikan pada lawan bicara dari suku lainnya di Pasar Pajak Pagi.
2. Kemampuan seseorang berinteraksi secara baik, misalnya mampu mengalihbahasakan semua maksud dan isi hatinya secara tepat dan jelas dalam suasana yang bersahabat. Hal ini juga termasuk dengan kemampuan yang dimiliki
64
informan untuk dapat menggunakan bahasa dari lawan bicaranya. Bertahun – tahun lamanya berjualan di pasar membuat setiap informan mampu mengetahui maksud dan percakapan sederhana dari bahasa daerah lain yang didengarnya.
Mereka juga mampu menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan sederhana ketika melakukan transaksi jual beli. Informan lain seperti Bu Lastari dan Pak Muhidin mengakui bahwa mereka bahkan menguasai bahasa lain selain bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya sendiri. Kemampuan tersebut membuat mereka mampu berkomunikasi secara efektif dengan pedagang lain di pasar itu.
3. Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan kebudayaan yang sedang dihadapinya meskipun dia harus berhadapan dengan berbagai tekanan dalam proses adaptasi tersebut. Seluruh informan mengatakan sudah beradaptasi dengan lingkungan Pasar Pajak Pagi. Bu Hotmawati dan Bu Mirna terlihat tidak memiliki adaptasi yang signifikan sejak pertama kali berjualan yang dikarenakan kedua informan ini langsung berjualan di lokasi yang terdapat banyak pedagang yang sesuku dengannya. Untuk Pak Harun dan Pak Safrullah yang merupakan seorang Jawa, mereka merasa tidak nyaman ketika melihat interaksi para pedagang Karo, tapi seiring waktu mereka mulai membiasakan diri dengan gaya komunikasi tersebut. Beberapa informan lainnya seperti Bu Rasmi, Pak Hendra dan Pak Andri sudah menggunakan kebiasaan dan gaya komunikasi yang biasa didengarnya di pasar. Bu Rasmi yang selalu senang berinteraksi dengan orang jawa membuatnya dapat menguasai beberapa kosakata bahasa Jawa beserta logatnya, Pak Hendra yang terdapat pedagang bersuku Karo didekatnya membuatnya kerap menerapkan kebiasaan komunikasi yang didengarnya dari pedagang Karo tersebut. Dan Pak Andri yang secara tidak sadar mengikuti gaya komunikasi yang ditemuinya di Pasar Pajak Pagi. Dirinya baru sadar ketika dia pulang kampung dan teman – temannya bahkan orang tuanya menyinggung tentang perubahan yang terjadi padanya.