BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.7 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif yang diajukan oleh Huberman dan Miles(Idrus, 2009 148) , yaitu :
1. Reduksi Data
Tahap ini diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan – catatan tertulis dari lapangan. Pada tahap ini peneliti menganalisis bagian mana yang dikode, dibuang, fokus pada hal yang penting, dan mendapatkan polanya. Reduksi data akan membantu peneliti dalam melakukan analisisnya.
31 2. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan atau pengambilan tindakan.
Bentuk penyajiannya dapat berupa teks naratif, matriks, grafik, atau bagan.
Tujuannya agar mudah dibaca dan menarik kesimpulan.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Tahap terakhir ini dimaknai sebagai penarikan arti data yang telah ditampilkan, pemberian kesimpulan ini tergantung sejauh mana pemahaman peneliti dan interpretasi yang dibuatnya.
32 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Penelitian
Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan dengan cara wawancara mendalam terhadap informan yang sudah didapat. Penelitian ini berlangsung selama lebih kurang 1 bulan dari mulai bulan September hingga ke awal bulan oktober tahun 2016. Penelitian dilakukan terhadap pedagang yang berjualan pada pasar tradisional pajak pagi di pasar lima kota Medan. Peneliti mencari informan dengan metode Snowball Sampling, yaitu berusaha mendapat seorang Gatekeeper atau informan kunci dalam suatu penelitian. Gatekeeper biasanya adalah informan pertama yang diwawancarai, namun gatekeeper juga bisa dianggap sebagai orang yang mengerti objek dari sebuah penelitian (Bungin, 2008 : 77).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses adaptasi budaya yang terjadi di pasar tradisional tersebut. Adaptasi budaya merupakan sebuah proses sosial yang memakan waktu cukup lama, maka informan yang akan diwawancarai harus sudah berjualan minimal 1 tahun di pasar tersebut sehingga adaptasi budaya yang menjadi sasaran penelitian bisa didapat (Mulyana & Rakhmat, 2005 : 177).
Proses awal penelitian dimulai dengan mengajukan judul penelitian kepada jurusan dan disetujui dosen pembimbing. Setelah melakukan segala pengerjaan penelitian, penelitipun mulai bersiap mengumpulkan data dengan menuju ke lokasi penelitian untuk memperhatikan dan menandai pedagang mana yang berpotensi menjadi informan yang baik. Selanjutnya, peneliti membuat pedoman wawancara yang berguna sebagai acuan dalam mengajukan pertanyaan – pertanyaan kepada informan mengenai proses adaptasi budaya para pedagang. Peneliti mewawancarai informan di kios ataupun lapak jualannya masing – masing. Peneliti melakukan wawancara ke pasar tersebut sebanyak lima kali kunjungan.
33
Peneliti memulai penelitian dengan mencari pedagang yang sudah ditandai pada peninjauan lapangan sebelumnya. Sebelum memulai wawancara peneliti telebih dahulu akan bertanya karakteristik informan seperti data diri dan sudah berapa lama berjualan di pasar tersebut. Informan yang pertama adalah ibu Hotmawati br Bangun.
Beliau merupakan pedagang buah jeruk yang sudah berjualan selama 5 tahun. Peneliti memilih beliau sebagai informan pertama karena sebelumnya peneliti telah mengamati informan berinteraksi dengan pedagang – pedagang lain disekitarnya, dimana informan terlihat akrab dengan pedagang - pedagang tersebut. Ketika pasar sudah sepi pembeli, terlihat 4 pedagang disamping informan datang dan duduk ke dalam lapak jualan informan dan berbincang – bincang dengan santai. Meskipun jarang mendapat pembeli, peneliti melihat bahwa informan kerap mendapat sapaan dari orang – orang yang ada di pasar tersebut. Dari pengamatan – pengamatan tersebut, peneliti menganggap bahwa informan memiliki banyak kenalan di pasar dan memiliki sifat terbuka sehingga peneliti memilihnya menjadi informan yang pertama.
Proses wawancara berlangsung lancar karena informan cukup bersahabat dan pasar juga dalam keadaan sepi. Selain itu peneliti dengan informan memiliki identitas suku yang sama sehingga keakraban mudah tercapai. Namun peneliti merasa informan tidak terlalu mengerti akan pertanyaan yang diajukan peneliti karena informan menjawab di luar konteks objek yang diteliti.
Ketika mewawancari informan kedua, peneliti mengajak seorang teman untuk mendampingi peneliti di lapangan. Informan kedua adalah ibu Rasmi br Sitanggang, dimana selain wawancara, peneliti juga berbincang – bincang dengan beliau tentang keluarga, kampung halaman, dan hal – hal lainnya. Dalam sebuah penelitian kualitatif, peran seorang gatekeeper penting untuk didapatkan. Gatekeeper biasanya adalah informan pertama yang didapat dalam sebuah penelitian, namun gatekeeper juga bisa diberikan kepada informan yang lebih paham tentang objek yang diteliti.
Gatekeeper dibutuhkan sebagai pihak yang menjembatani peneliti dengan sumber – sumber data yang hendak didapatkannya (Bungin, 2008 : 77).
34
Dalam penelitian ini, informan pertama adalah ibu Hotmawati br Bangun.
Selama proses wawancara informan kerap menjawab diluar konteks yang sedang diteliti sehingga peneliti merasa bahwa informan kurang tepat untuk menjadi gatekeeper dalam penelitian ini. Ketika mewawancarai informan kedua, peneliti mengamati jawaban – jawaban informan berhubungan dengan pertanyaan wawancara. Informan juga mampu meningkatkan kepastian jawabannya dengan menceritakan sebagian pengalamannya kepada peneliti. Informan juga bersedia membantu peneliti untuk mendapatkan informan yang baik dalam penelitian dengan mengantar peneliti ke tempat berjualan pedagang lain yang menurutnya bisa menjadi informan yang baik. Beliau juga membantu menjelaskan maksud wawancara penelitian terhadap pedagang tersebut sebelum menyerahkan proses wawancara kepada peneliti. Selain bantuan tersebut, ibu Rasmi merupakan seorang yang baik dan bersahabat sehingga peneliti bisa dengan mudah membangun hubungan akrab dengannya. Berdasarkan hal – hal tersebut, peneliti pun menetapkannya sebagai gatekeeper dalam penelitian ini.
Informan keempat bernama bapak Safrullah yang masih berusia cukup muda yaitu 32 tahun dan memiliki suku campuran yaitu Jawa dan mandailing. Peneliti bertemu dengannya setelah informan sebelumnnya yaitu bapak Harun menganjurkan mewawancarainya juga. Bapak Safrullah merupakan rekan sesama pedagang yang sudah berteman baik dengan bapak Harun. Bapak Safrullah sudah berjualan selama 3 tahun. Bapak Safrullah menjual martabak mini di atas sebuah sepeda motor, setelah menyatakan bersedia diwawancarai, peneliti pun memesan beberapa martabak mini untuk membuat proses wawancara lebih santai.
35
Informan kelima adalah bapak Hendra Chaniago yang sudah berusia 59 tahun.
Beliau merupakan salah satu pedagang yang disarankan oleh gatekeeper kepada peneliti. Beliau sudah berjualan sangat lama yaitu selama 30 tahun. Beliau menjual daging potong dan bersuku Minang. Saat menjelaskan maksud kedatangan peneliti, beliau langsung memperbolehkan sambil menceritakan bahwa dia sudah beberapa kali kedatangan mahasiswa seperti peneliti untuk diwawancari demi penelitiannya.
Informan keenam adalah ibu Lastari br Sihombing, beliau sudah berusia 56 tahun dan sudah 3 tahun berjualan sayur - sayuran. Peneliti memilihnya sebagai informan saat peneliti datang ke pasar sekitar jam dua siang yang mana pasar sudah dalam keadaan sepi dan hanya terdapat sedikit pedagang yang masih berjualan.
Peneliti juga memperhatikan bahwa informan masih belum menata dan menyimpan jualannya, berbeda dengan pedagang – pedagang lain yang sudah mulai berkemas untuk pulang. Karena masih duduk santai di lapaknya, peneliti pun memilihnya untuk menjadi informan.
Informan ketujuh adalah bapak Andri Tarigan yang menjual buah – buahan di ujung pasar. Beliau sudah berusia 45 tahun dan sudah berjualan selama 4 tahun.
Informan memiliki lapak berjualan yang berada di ujung pasar dimana jumlah pedagang maupun pembeli tidak terlalu tinggi di situ. Peneliti memilihnya sebagai informan karena peneliti ingin mengetahui apakah ada pengaruh dari keadaan sepi pedagang di bagian pasar terhadap proses adaptasi budaya informan.
Informan kedelapan adalah ibu Mirna br Sembiring. Beliau menjual sayur – sayuran di gang masuk sebelum memasuk gedung utama pasar tersebut. Beliau berusia 40 tahun dan telah berjualan selama 12 tahun. Peneliti memilihnya sebagai informan berdasarkan pertimbangan karena dari beberapa pedagang yang sudah peneliti tandai sebelumnya, hanya beliau yang duduk santai menunggu pembeli, sedangkan pedagang - pedagang lainnya terlihat sedang melayani pembelinya atau berinteraksi dengan orang lain.
Informan kesembilan atau yang terakhir adalah bapak Muhidin Sitepu. Beliau memiliki suku campuran yaitu Jawa dan Karo. Beliau menjual sayur – sayuran dan
36
berusia 38 tahun. Beliau sudah berjualan selama 3 bulan. Namun sebelum berjualan, beliau sudah bekerja sebagai penarik becak dan selalu mengantar jualan abangnya ke pasar di pagi hari. Selain itu beliau selalu menunggu penumpang di daerah pasar tersebut selama 3 tahun sehingga memenuhi kriteria waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Peneliti menetapkannya sebagai informan karena pada kunjungan terakhir, peneliti bertemu kembali dengan informan ibu Lastari yang langsung menanyakan kabar tugas peneliti. Informan kemudian menunjukkan dan menyarankan seorang rekan pedagangnya untuk diwawancarai. Informan mengatakan bahwa rekannya tersebut mengetahui banyak hal tentang objek yang menjadi penelitian peneliti.
Pertama peneliti datang seorang diri dan mendapatkan informan yang pertama. Kedua peneliti mengajak seorang teman untuk mendampingi dan mendapat sebanyak 3 informan. Ketiga, peneliti hanya mendapat 1 informan karena pasar sudah sangat sepi, yaitu pada jam 3 sore di mana hampir semua pedagang sudah pergi dari pasar. Pada kunjungan keempat peneliti hanya mendapat 1 informan. Kemudian pada kunjungan kelima peneliti mendapatkan 3 informan.
Peneliti memutuskan untuk berhenti pada informan kesembilan karena banyak pertanyaan – pertanyaan wawancara yang Jawabannya sudah jenuh. Penelitian ini sendiri bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai peranan komunikasi antarbudaya para pedagang dalam proses adaptasi budaya di pasar tradisional pajak pagi di kota Medan. Proses wawancara berlangsung sesuai dengan pedoman wawancara yaitu mengajukan pertanyaan kepada informan yang menyangkut tentang tujuan penelitian. Melalui proses wawancara, peneliti akan memperoleh data mengenai informan secara lebih mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti mengajak seorang teman untuk menjadi pendamping selama melakukan wawancara, peran pendamping dalam penelitian ini cukup penting karena dapat mengamati, membantu, dan memberi masukan kepada peneliti untuk dapat lebih efektif dalam melakukan wawancara.
37
1 Hotmawati Perempuan Kristen Karo Buah Jeruk SD
2 Rasmi Perempuan Kristen Batak
Toba
Sabun &
Parfum SMA
3 Harun Laki – laki Islam Jawa Ikan Basah SMP
4 Safrullah Laki – laki Islam Jawa Martabak
Mini SMA
5 Hendra Laki – laki Islam Minan
g
Daging
Potong SMA
6 Lastari Perempuan Katolik Batak
Toba Sayuran Tidak tamat SD
7 Andri Laki – laki Kristen Karo Buah –
buahan SMA
8 Mirna Perempuan Kristen Karo Sayuran SMP
9 Muhidin Laki - laki Islam Jawa Sayuran Tidak tamat SD
Sumber : Wawancara dari tanggal 10 september – 1 oktober 2016
Informan 1 : Hotmawati br Bangun (45 Tahun)
Informan pertama adalah seorang pedagang penjual buah jeruk bernama ibu Hotmawati br Bangun. Berusia 45 tahun dan tinggal di pasar baru dan sudah berkeluarga. Beliau juga memiliki kampung halaman, yaitu di desa Lingga kabupaten Karo.
38
Ibu Hotmawati sudah berjulan di pajak pagi selama 6 tahun. Sejak awal berjualan di pajak pagi, beliau mengaku tidak merasa sulit ataupun susah sedikitpun.
Beliau justru merasa senang karena dengan berjualan di pajak pagi, maka beliau dapat mengenal banyak orang. Ketika mulai berjualan, beliau mendapat tempat di pinggir jalan tepat di depan jalan masuk ke gedung utama pajak pagi, dikarenakan beliau menjual buah jeruk. Pedagang buah jeruk biasanya terkonsentrasi di sepanjang jalan Bunga Mawar hingga ke depan gedung pajak pagi.
Meski ibu Hotmawati antusias terhadap usaha berjualan barunya, dia tetap mempunyai perasaan yang berbeda terhadap lingkungan barunya tersebut. Beliau mengatakan perasaan itu hanya timbul karena belum saling mengenal saja. Ibu Hotmawati berkata :
“Perasaan itu kan karena kita belum kenal siapapun waktu itu dek, jadi itulah kenapa rasanya beda gitu, jadi cukup saling bicara aja sama orang – orang pajak ini.”
Dalam beradaptasi beliau mengatakan dia tidak pernah berpikir untuk melakukannya, namun beliau mengatakan tidak sulit untuk mengerti kebiasaan dan situasi pajak pagi, terutama jika orang – orang di sekitar kita memiliki identitas suku yang sama.
Sejak pertama berjualan ibu Hotmawati sudah menyadari tentang diversitas suku di pasar ini. Beliau selalu menemui orang dengan identitas suku yang berbeda – beda, seperti Batak, Jawa, Aceh, dan lain – lain. Ketika berinteraksi dengan sesama pedagang, beliau sangat jarang berbicara dengan pedagang dari suku lain, daerah tempat beliau berjualan merupakan daerah di mana semua pedagangnya adalah pedagang buah dan sayur yang mayoritas adalah suku Karo.
“Sering kali pun dek, apalagi samping kita ini orang Karo semua, taulah kan kalau orang Karo itu kalau ngumpul – ngumpul biasanya cikurak/bergosip terus kerjanya.”
39
Namun sebagai pedagang, beliau selalu berinteraksi dengan pembeli dari berbagai suku, sehingga beliau mengetahui cirri khas yang biasa terdapat pada suku tertentu, seperti orang Batak yang keras, dan orang Jawa yang lembut. Beliau tidak pernah mengalami miskomunikasi akibat perbedaan bahasa dan budaya suku tersebut, karena dengan berbahasa Indonesia, kedua pihak bisa saling mengerti.
Setelah 6 tahun berjualan di pajak pagi, ibu Hotmawati sudah beradaptasi dengan keadaan, bahkan merasa senang dengan keadaannya di pajak pagi. Beliau beralasan bahwa berkomunikasi dengan orang – orang sangat menyenangkan karena bisa saling berbagi cerita dan kebiasaan masing – masing.
“Ya, teman – teman semua senang kalau ngomong sama saya, lagian banyak orang – orang gitu biasa duduk – duduk di sini istirahat, jadi kan bisa sekalian cerita – cerita saling kenal mengenal juga. Sudah tahu sedikitlah gimana sifat – sifat orang Batak, Jawa, gitu.”
Jika seseorang sudah beradaptasi dengan suatu kebudayaan, maka sangat memungkinkan jika kebudayaan baru tersebut diterapkan di lingkungan yang terdapat kebudayaan yang lama. Selama di rumah, ibu Hotmawati mengatakan dia tidak ada terpengaruh logat Batak ataupun kelembutan orang Jawa, namun anggota keluarga di rumah yaitu anak – anak beliau pernah mengomentari bahwa beliau berbicara dengan keras sehingga terjadi miskomunikasi. Beliau merasa ini terjadi karena beliau sering berinteraksi dengan pedagang lain yang berada di seberang jalan tempat beliau berdagang, sehingga beliau harus berbicara dengan keras untuk dapat menyampaikan pesan dengan jelas.
“Aku di rumah memang dibilang keras sama anak – anak, pernah jadi salng tidak mengerti, itu kayaknya udah kebawa – bawa dari orang – orang Batak sini, tapi aku ngomong sama sesama pedagang sini keras juganya.”
Menurut ibu Hotmawati, hal yang membuat beliau bisa lebih mudah untuk beradaptasi adalah hasil dari komunikasi dengan orang – orang di pajak pagi
40
sebelumnya, dari interaksi itu beliau dapat mengetahui sifat – sifat orang bagaimana serta bagaimana harus bersikap supaya dapat mencapai komunikasi yang efektif.
“Tadikan kita sudah tahu sifat – sifat orang – orang, jadi kita bisa tau cemana harus berperilaku, pokoknya gimanalah supaya cocok dia rasa sama kita.”
Meski demikian tidak selalu ibu Hotmawati benar dalam mengetahui sifat suatu orang berdasarkan sukunya saja sehingga mempersulit transaksi jual belinya.
Beliau mengatakan dia pernah mengalami miskomunikasi dengan seorang pembeli.
Pembeli itu merasa emosi dan langsung mengambil saja buah yang ada dan langsung pergi. Beliau yang tidak mau masalahnnya membesar akhirnya diam saja dan membiarkan pembeli itu pergi.
Selain Jawaban – Jawaban dari informan, peneliti juga mengamati informan selama wawancara sehingga peneliti menganggap bahwa informan tidak terlalu keras dalam berbicara karena letak ibu Hotmawati dalam berjualan cukup jauh dari pedagang Karo lainnya yang keras dalam berinteraksi sehingga tidak mempengaruhi ibu Hotmawati
Informan II : Rasmi br Sitanggang (45 Tahun)
Informan kedua adalah ibu Rasmi br Sitanggang. Beliau memiliki sebuah kios kecil tempatnya berjualan di lorong – lorong pajak pagi. Setiap hari beliau berjualan dari jam setengah 7 hingga jam 1 siang. Beliau sudah aktif berjualan sejak tahun 2006 atau sudah 10 tahun berjualan. Ibu Rasmi adalah orang asli Medan, tapi memiliki kampung halaman yaitu di Samosir. Melalui usahanya beliau dapat memperoleh 100 hingga 200 ribu perharinya.
Peneliti menetapkan ibu Rasmi br Sitanggang sebagai Gatekeeper, sebagaimana dalam metode Snowball sampling, peran seorang Gatekeeper sangat penting dalam proses penelitian. Peneliti memilih beliau karena beliau memiliki sifat yang bersahabat, mengerti objek penelitian, dan bisa memberi saran kepada peneliti untuk menemukan informan yang baik.
41
Ibu Rasmi mengatakan, keadaan waktu pertama kali jualan lebih baik dibanding sekarang karena saingannya dalam berdagang masih sedikit sehingga pedagang – pedagang yang berada di sekitar tempat beliau berjualan masih belum ada dan membuat beliau tidak terlalu sulit mengantisipasi perbedaan di pajak pagi tersebut. Namun beliau sadar pada pajak pagi keseluruhan, ada banyak pedagang dengan suku – suku yang berbeda – beda.
Tapi setelah berapa lama, lokasi tempat beliau berjualan semakin ramai pedagang dan beliau pun harus beradaptasi dengan pedagang – pedagang tersebut.
Ibu Rasmi mampu menerima dan berinteraksi dengan setiap pedagang di tempatnya, khusunya pedagang orang Jawa. Beliau cukup berinteraksi dengan sesama pedagang, karena melalui interaksi beliau mampu menilai seseorang dan bagaimana bersikap kepadanya, namun beliau mengatakan dia masih memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan orang Nias
Beliau tidak pernah terpikir untuk beradapasi, beliau hanya menjalani usahanya saja dan beradaptasi tanpa beliau sadari.
Beliau mengatakan bagaimana dia sangat senang jika berinteraksi dengan orang Jawa karena etikanya yang sangat baik. Ibu Rasmi mengatakan :
“Iya, mereka(orang Jawa) tuh nggak mau melawan, bandingkanlah sama orang Nias tadi, kalau kita misalkan nasihati orang Jawa, mereka diam aja sambil mengiyakan, kalau orang Nias kadang mereka ga terima teus diserang balik kita.”
Menurut ibu Rasmi, perbedaan – perbedaan tersebut bagus karena dengan perbedaan itu para pedagang sini jadi bisa saling kenal mengenal tentang budaya masing – masing. Meski ada budaya yang cukup sulit untuk di mengerti. Beliau mengaku bergaul dengan semua pedagang tidak peduli apapun sukunya, sehingga beliau mempunyai banyak teman pedagang yang kebanyakan orang Jawa dan Padang.
Dari interaksi yang sudah dilakukan, beliau jadi mengetahui logat maupun kebiasaan berinteraksi pada suku – suku yang ada di pasar ini. Beliau berkata orang Jawa merupakan suku yang paling enak dan menyenangkan untuk diajak
42
berkomunikasi. Tentang suku lain, beliau menyebutkan suku Batak khususnya orang Karo yang mayoritas menjual buah – buahan di depan pajak pagi. Beliau mengatakan keadaan mereka sangat semrawut karena letak berjualan mereka saling berjauhan di pinggiran jalan, sehingga mereka harus meningkatkan volume suaranya supaya dapat berbicara dengan jelas. Beliau juga mengatakan bahwa orang – orang Karo di situ cukup kasar dalam berkomunikasi, seolah – olah itulah kebiasaan mereka dalam berkomunikasi. Lebih lanjut ibu Rasmi berkata :
“Pernah saya dengar mereka berteriak : Munggil ko, kau pikir kau Cuma pedagang sini?. Ya kasar pun kayaknya udah jadi kebiasaan cakapan mereka.”
Ibu Rasmi mengaku tidak pernah mengalami miskomunikasi atas banyaknya perbedaan yang ada di pajak pagi. Beliau mengatakan biasa memakai bahasa Indonesia jika saling tidak mengerti. Namun meski saling mengerti, beliau mengatakan bahwa dia kerap sulit untuk berbicara dengan orang Nias.
Dari keadaan yang ada, terlihat bahwa ibu Rasmi sangat menghormati dan menganggap budaya dan kebiasaan orang Jawa sangat baik, beliau mengaku selain lemah lembut dalam berbicara kelakuan mereka juga membuatnya tenang. Lagipula karena seringnya berinteraksi dengan orang Jawa, beliau mengaku dia sudah terpengaruh kebiasaan itu di rumahnya.
“Iya terpengaruh, kita jadi kebiasaan malah di rumah, karena saya senang berbicara sama orang Jawa, saya pun bisa bicara kayak mereka di rumah.”
Peneliti sendiri menyadari hal ini selama mewawancarai beliau. Beliau menjawab pertanyaan peneliti dengan gaya bicara orang Jawa yang lemah lembut, meski logatnya bukan logat Jawa.
Dalam beradaptasi, ibu Rasmi bisa cepat beradaptasi dengan mengenal pedagang yang ada di sekitarnya melalui komunikasi. Melaui komunikasi beliau bisa saling bantu, mencurahkan hati, dan saling berbagi tentang masalah masing – masing, sehingga terbentuk ikatan yang baik meski berbeda suku dan agama.
43
Meski sudah mengenal banyak orang, ibu Rasmi mengaku kesulitan berinteraksi dengan orang Nias khususnya pedagang yang ada di dekatnya yang juga menjual barang yang sama. Ibu Rasmi mengatakan :
“Kayak orang Nias tadilah, sulit dibilangin, keras kepala, memang bukan orang Nias saja tapi itulah yang paling sering, dia kan dekat sini juga jualan dan sama juga jualan kami. “kau jangan suka – sukamu sini ya?” sering aku di bilang begitu sama dia.”
Beliau membenarkan pernyataan peneliti bahwa itulah perbedaan kalau orang Sumatera Utara dengan orang Jawa dan Cina dalam berjualan. Orang Cina atau Jawa akan semakin senang jika semakin banyak yang berjualan karena bisa saling membantu dan berbagi, berbeda dengan orang Batak, Karo, ataupun Nias pada umumnya.
Informan III : Harun (66 Tahun)
Informan ketiga adalah seorang penjual ikan basah yaitu bapak Harun. Setiap hari beliau sudah berjualan dari jam 6 pagi. Bapak Harun sudah berjualan dalam waktu yang cukup lama, yaitu 15 tahun. Setiap harinya beliau mendapat uang 50 ribu rupiah. Beliau merupakan informan yang sudah disarankan oleh Gatekeeper
Informan ketiga adalah seorang penjual ikan basah yaitu bapak Harun. Setiap hari beliau sudah berjualan dari jam 6 pagi. Bapak Harun sudah berjualan dalam waktu yang cukup lama, yaitu 15 tahun. Setiap harinya beliau mendapat uang 50 ribu rupiah. Beliau merupakan informan yang sudah disarankan oleh Gatekeeper