HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
DEWAN PEMBINA
A. Komunikasi Antarpribadi pada ND dan Guru Pendamping (PT)
Menjadi guru untuk anak dengan gangguan spektrum autisme merupakan hal yang tidak pernah dipikirkan oleh PT saat pertama kali memasuki bangku kuliah. PT yang merupakan lulusan fakultas Pendidikan Luar Biasa di salah satu perguruan tinggi negeri di Medan, pertama kali mengenal dan mempelajari mengenai anak penderita autisme saat
kuliah. Pada awalnya, PT berpikir bahwa anak berkebutuhan khusus hanya terbatas pada kekurangan fisik saja, tetapi saat berkuliah PT mulai mempelajari berbagai jenis anak berkebutuhan khusus yang tidak hanya kekurangan dalam hal fisik saja, dan salah satunya adalah anak penderita autisme.
PT merasa sangat tertarik dengan kasus yang diderita oleh anak penderita autisme. Menyadari bahwa komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan, tetapi hal tersebut justru tidak bisa dilakukan oleh anak penderita autisme, membuat PT ingin membantu anak-anak tersebut agar bisa diterima dan menerima orang-orang disekitarnya. Karena alasan ini lah PT kini bekerja di sekolah yang khusus mengangani anak penderita autisme. Dan semenjak mengajar dari tahun 2008 hingga kini, sudah banyak anak penderita autisme yang didampingi oleh PT mengalami perkembangan, dan salah satunya adalah ND.
Menurut PT, ND merupakan salah satu anak yang perkembangannya cukup cepat dan signifikan.Umumnya, anak penderita autisme tidak mengalami masalah dalam bidang intelegensi, bahkan dalam beberapa kasus ditemukan anak autisme yang unggul dalam hal ini, dan ND adalah salah satunya. ND cepat dalam menangkap dan menghapal pelajaran yang baru diberikan. Kemampuan ND ini lah yang menurut PT sangat membantu, sehingga ND bisa lebih cepat dalam perkembangan komunikasinya.
Pada saat pertama kali ND datang ke sekolah, PT tidak menemukan kesulitan yang berati dalam membantu ND untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah barunya. Pada minggu pertama, ND memang masih harus ditemani oleh ibu-nya di dalam kelas, dan pada minggu ke dua ND sudah mau ditinggal di kelas bersama PT tanpa dampingan ibu-nya. Melihat ND yang cepat beradaptasi dan bisa menerima kehadiran orang-orang baru, PT meyakini bahwa ND mempunyai potensi yang besar untuk sembuh. Setelah di lakukan observasi sesuai dengan prosedur yang ada, PT melihat bahwa ND adalah tipe anak yang bisa diajarkan dengan cara yang santai dan harus diselipkan dengan kegiatan-kegiatan yang membantunya untuk berkonsentrasi.
“ Dia kan hyperactive ya, jalan kesana-sini, ngerjain ini itu, jadi konsentrasi dia mudah terpecah-pecah. Jadi, kami cari cara-cara yang bisa menarik perhatian dia, kayak gambar-gambar yang warnanya terang, atau mainan yang bentuk sama warnanya menarik, disesuaikan sama pelajaran dia lah. Ga bisa dipaksa konsentrasi sama sesuatu yang dia ga tertarik, jadi ya kita buat cara-cara biar dia bisa santai terus bisa sambil belajar juga ”
Dengan menggunakan cara tersebut, PT mendekati ND secara perlahan-lahan. Warna dan bentuk gambar atau mainan yang ditunjukkan oleh PT sangat menarik perhatian ND, meskipun terkadang, ND malah tidak mendengarkan apa yang PT ajarkan dan malah lebih terfokus dengan gambar atau mainan tersebut. Ketertarikan ND akan suatu gambar atau benda juga dijadikan PT sebagai alat motivasi untuk ND belajar. PT sering mengajak ND untuk menjawab pertanyaannya dan sebagai gantinya jika ND mau menjawab PT akan memberikan mainan atau gambar tersebut sebagai hadiah. Hal ini membuat ND semangat untuk mau menjawab pertanyaan-pertanyaan PT.
“ Dia kadang malah ga mau jawab pertanyaan lagi karena udah fokus kali sama satu mainan kan, jadi saya cari cara lain, kasi dia hadiah. Mau kasi snack ga bisa sembarangan kan, karena ada beberapa anak autis yang diet khusus, jadi ya mainan itu lah. Kalo dia udah mulai ga mau jawab lagi, kakak bilang, yang bisa jawab pertanyaan kakak anak baik, anak baik dapat mainan. Jadi dia liat terus ada motivasinya biar dia mau jawab. Habis itu kita kasi hadiah sama pujian”
Perkembangan ND dalam berkomunikasi memang sangat terbantu dengan kemampuannya dalam menangkap dan mengingat suatu hal yang menarik perhatiannya dengan baik. Akan tetapi, terkadang hal tersebut malah menjadi masalah, seperti terkadang ND mendengar hal-hal yang tidak layak di dengar oleh anak seusianya, baik hal tersebut dari TV atau pun dari orang-orang di sekitarnya. ND yang sekarang ini mulai membeo atau mengikuti kata-kata yang dia rasa menarik, beberapa kali terdengar mengucapkan kata-kata yang tidak sesuai jika diucapkan oleh anak umur tujuh tahun. Jika hal ini terjadi, sikap tegas harus diterapkan pada ND. PT beberapa kali harus menjelaskan pada ND bahwa kata-kata yang dia ucapkan tersebut, meskipun tidak ditujukan pada siapapun, tidak baik. Dalam beberapa kejadian, ND mau langsung menuruti dan tidak lagi menggunakan kata-kata tersebut, tapi dalam beberapa kejadian lainnya, terlebih saat moodND sedang tidak baik, ND malah akan seperti sengaja mengulang kata-kata tersebut. Saat-saat seperti ini lah, PT harus menegaskan pada ND bahwa dia harus mendengarkan apa kata orang yang lebih tua. PT juga menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh ND bahwa kata-kata yang dia ucapkan dan melawan omongan orang yang lebih tua tidak baik. Mengubah intonasi suara menjadi lebih kuat tetapi tidak membentak merupakan cara yang digunakan PT untuk memberitahu ND, agar ND bisa mengetahui perbedaan saat dia berbuat baik dan saat dia berbuat tidak baik.
“ Saya juga harus tegas kalo saya udah dengar dia membeo ucapan yang ngga pantas untuk umur dia. Kan saya dan keluarganya ga 24 jam mengawasi, jadi
mungkin dia entah dengar dari TV atau anak tetangga, diulang-ulang lah sama dia. Ga boleh di bentak, tapi ya suara saya buat agak besar, dan nadanya agak beda sama yang biasa. ND itu cakap jahat! Atau, saya bilang, ND itu cakap anak bandel ” “ Namanya anak penderita autis dia kan ga tau kita ini kakaknya atau adeknya, sama aja semua nganggapnya. Disinilah saya ajarin, kalo dia melawan waktu di bilangin, saya pake cara yang tadi, pake bahasa yang simple, pokoknya biar dia ngerti kalo ngomong gitu sama saya atau orang tua-nya itu bukan anak baik. Tapi kalo dia ngomong sesuai dengan apa yang udah dia belajar, itu anak baik. Biar dia juga tau kan, kalo dia baik ga akan diginiin. Biar dia juga menghargai kita, ga bisa suka-suka”
Setelah tiga tahun mendampingi ND dalam belajar, PT mengakui kini lebih banyak mengetahui dan mengerti keadaan ND. PT kini bisa menyesuaikan diri dengan mood atau pun suasana hati ND yang terkadang tidak baik. Menurut PT, ND sekarang juga mulai peka terhadap perasaan atau dampak dari perilakunya terhadap orang-orang sekitarnya. Meskipun belum sepenuhnya peka, akan tetapi ND mengatakan bahwa ini merupakan perkembangan yang cukup besar, karena seperti diketahui bahwa anak penderita autisme sangat tidak peka terhadap sekitarnya. PT yakin, jika terus didampingi dengan baik di sekolah dan di rumah, ND akan bisa lebih peka lagi terhadap sekitarnya.
Rasa peka ND terhadap perasaan orang-orang disekitarnya, saat ini hanya bisa ia rasakan jika melihat efek langsung dari perbuatannya tersebut. Seperti, jika ND tidak mau menjawab saat di panggil namanya, atau tidak mau memperhatikan pelajaran dan malah bermain-main, PT akan berpura-pura menangis, atau mengatakan bahwa PT sedih karena ND tidak mau menjadi anak baik. Setelah melihat efek langsung dari tindakannya tersebut, ND akan mendekati PT dan menepuk-nepuk pundak PT, atau terkadang ND akan mengucapkan kata ‘jangan sedih’ kepada PT. Hal ini dipelajari ND dari tindakan-tindakan PT selama ini ketika ND menangis di kelas.