BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Konsep Jual Beli dalam Islam
Perlu ditekankan, bahwa e-commerce adalah rangkaian set dinamis dari suatu teknologi, aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen dan komunitas melalui transaksi eloktronik dan perdagangan barang, jasa dan informasi yang diselenggarakan secara elektronik. Kondisi itu yang menyebabkan jarak bukan lagi menjadi hambatan dalam dunia bisnis. Perkembangan mencolok teknologi internet membuat suatu produk dapat dipasarkan secara global dalam situs Web, sehingga setiap orang dari seluruh penjuru dunia dapat langsung mengakses situs tersebut untuk melakukan transaksi secara
online.29
Secara negatif, perkembangan spektakuler transaksi elektronik dapat dijelaskan dengan kenyataan, bahwa transaksi seperti itu melahirkan kekuatan daya tawar yang tidak sejajar antara pelaku usaha dan konsumen. Konsumen dalam basis ini, tidak punya alat-alat proteksi yang terorganisir dengan baik. Persoalan itu dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa pelaku usaha yang menjual barang atau jasanya secara online kerap mencantumkan kontrak baku, sehingga muncul kekuatan daya tawar yang asimetris (unequal bargaining
power). Studi yang dilakukan Ian Walden menjelaskan, bahwa syarat
28 Ibid.
29 Iman Sjahputra, Perlindungan Konsumen dalam Transaksi Elektronik, (Bandung: P.T. Alumni, 2010), hal. 2.
dan ketentuan yang tercantum dalam kontrak baku hanya ditentukan oleh pelaku usaha sendiri. Merujuk kepada Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), ketentuan ini jelas mengatakan bahwa transaksi elektronik yang dituangkan dalam kontrak elektronik mengikat para pihak.30
Setiap kali orang berbicara tentang e-commerce, mereka memahaminya sebagai bisnis yang berhubungan dengan internet. Dari definisi diatas, bisa diketahui karakteristik bisnis online, yaitu:31
1) Terjadinya transaksi antara dua belah pihak; 2) Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi;
3) Internet merupakan media utama dalam proses atau mekanisme akad tersebut.
Dari karakteristik di atas, bisa di lihat bahwa yang membedakan bisnis online dengan bisnis offline yaitu proses transaksi (akad) dan media utama dalam proses tersebut. Akad merupakan unsur penting dalam suatu bisnis. Secara umum, bisnis dalam Islam menjelaskan adanya transaksi yang bersifat fisik, dengan menghadirkan benda tersebut ketika transaksi, atau tanpa menghadirkan benda yang dipesan, tetapi dengan ketentuan harus dinyatakan sifat benda secara konkret, baik diserahkan langsung atau diserahkan kemudian sampai batas waktu tertentu, seperti dalam transaksi as-salam dan transaksi
al-istishna.32
Transaksi as-salam merupakan bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara tunai atau disegerakan tetapi penyerahan barang ditangguhkan. Menurut para Ulama, Salam dapat didefinisikan sebagai transaksi atau akad jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada ketika transaksi dilakukan, dan pembeli melakukan
30 Ibid, hal 68-69.
31 Runto Hediana dan Ahmad Dasuki Aly, “Transaksi Jual Beli Online Perspektif Ekonomi Islam”, Jurnal IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Vol. 3, No. 2, (2015), hal. 46-47.
pembayaran dimuka sedangkan penyerahan barang baru dilakukan di kemudian hari.33
Pelaksanaan as-salam dalam jual beli yaitu barang yang disifati (dengan kriteria tertentu/spek tertentu) dalam tanggungan (penjual) dengan pembayaran kontan dimajlis akad. Dengan istilah lain, bai‟us
salam adalah akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah
disepakati dan dengan pembayaran tunai pada saat akad berlangsung. Dengan demikian, bai‟us salam memiliki kriteria khusus bila dibandingkan dengan jenis jual beli lainnya, diantaranya:34
1. Pembayaran dilakukan didepan (kontan di tempat akad), oleh karena itu jual beli ini dinamakan juga as-salaf.
2. Serah terima barang ditunda sampai waktu yang telah ditentukan dalam majlis akad
Hukum dasar bisnis online sama seperti akad jual-beli dan akad as
Salam, hal ini diperbolehkan dalam Islam. Bisnis Online dinyatakan
haram apabila:35
1. Sistemnya haram, seperti money gambling. Sebab judi itu haram baik di darat maupun di udara (online)
2. Barang/jasa yang menjadi objek transaksi adalah barang yang diharamkan.
3. Karena melanggar perjanjian atau mengandung unsur penipuan. 4. Dan hal lainnya yang tidak membawa kemanfaatan tapi justru
mengakibatkan kemudharatan.
Sebagaimana diputuskan oleh Majma’ Al Fiqh Al Islami (Divisi Fiqih OKI) keputusan no. 52 (3/6) tahun 1990, yang berbunyi “Apabila akad terjadi antara dua orang yang berjauhan tidak berada dalam satu majlis dan pelaku transaksi, satu dengan lainnya tidak saling melihat, tidak saling mendengar rekan transaksinya, dan media antara mereka adalah tulisan atau surat atau orang suruhan, hal ini dapat diterapkan
33 Ibid.
34 Ibid.
pada faksimili, teleks, dan layar komputer (internet). Maka akad berlangsung dengan sampainya ijab dan qabul kepada masing-masing pihak yang bertransaksi. Bila transaksi berlangsung dalam satu waktu sedangkan kedua belah pihak berada di tempat yang berjauhan, hal ini dapat diterapkan pada transaksi melalui telepon ataupun telepon seluler, maka ijab dan qabul yang terjadi adalah langsung seolah-olah keduanya berada dalam satu tempat.”36
Jadi, Transaksi seperti ini (jual beli online) mayoritas para Ulama menghalalkannya selama tidak ada unsur gharar atau ketidakjelasan, dengan memberikan spesifikasi baik berupa gambar, jenis, warna, bentuk, model dan yang mempengaruhi harga barang.37
Islam dalam hal ini mengatur tentang adanya syarat, rukun-rukun, dan ketentuan lainnya dalam hal transaksi elektronik (e-commerce) yang harus sesuai dengan syara‟. Sehingga dalam jual beli pada
tamasia.co.id harus memenuhi rukun dan syarat jual beli dalam Islam,
diantaranya:
a. Aqid (Orang yang berakad), yakni penjual dan pembeli
Dalam transaksi e-commerce pada situs tamasia.co.id meski tidak bertemu secara nyata tetapi terdapat pihak penjual (merchant) yaitu PT. Tamasia Global Sharia dan juga customer/konsumen yaitu pembeli. Selain melibatkan pejual dan pembeli, dalam transaksi e-commerce menjadi keharusan adanya pelibatan pihak-pihak lain dengan peran yang beragam. Para pihak-pihak itu adalah perantara penagihan (acquirer), penerbit kartu kredit (issuer), dan
Certification Authorities. Pihak-pihak ini berperan sebagai layanan
pendukung untuk menjamin adanya kepercayaan, kerahasiaan, validitas dan keamanan saat transaksi berlansung. Sebab itu, pihak-pihak tersebut dapat dianalogikan (qiyas) sebagai saksi atas berlangsungnya transaksi antara penjual dan pembeli. Dengan
36 Munir Salim, “Jual Beli Secara Online Menurut Pandangan Hukum Islam”, Jurnal UIN
Alauddin Makassar, Vol. 6, No. 2, (Desember 2017), hal. 378-379.
demikian transaksi e-commerce memenuhi syarat dari aqid (orang yang berakad) yaitu berjumlah lebih dari dua orang.
Islam memandang hal ini dengan memberikan ketentuan-ketentuan dalam melakukan transaksi jual beli guna menghindarkan kemudharatan terhadap kedua belah pihak. Pelaku perjanjian (jual beli online) juga disyaratkan harus berakal dan
mumayyiz,38 mengenai batasan umur pelaku untuk sahnya kontrak
diserahkan kepada „urf atau peraturan hukum yang tentunya dapat menjamin kebaikan semua pihak.39 Jadi tidak sah perjanjian (jual beli online) apabila dilakukan oleh anak-anak dan orang gila serta orang-orang yang berada di bawah pengampunan.
Menurut prinsip syariah, yang terkait dengan orang yang melakukan transaksi haruslah orang yang cakap bertindak hukum dan cakap diangkat sebagai wakil. Sementara itu, menurut mazhab Hanafi, kedua belah pihak yang berakad tidak syaratkan baligh, tetapi cukup berakal saja. Oleh sebab itu menurut mereka, anak kecil mumayyiz boleh melakukan akad, dengan syarat akad yang dilakukan anak kecil yang sudah mumayyiz ini mendapat persetujuan dari walinya.40 Dalam kaitan ini, wali anak kecil yang
mumayyiz itu benar-benar mempertimbangkan kemaslahatan anak
kecil itu. Jumhur ulama berpendirian bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu harus telah baligh dan berakal. Apabila orang
38
Menurut Ratu Humaemah dalam Jurnal Islamiconomic dengan judul “Analisa Hukum Islam Terhadap Masalah Perlindungan Konsumen yang Terjadi atas Jual Beli E-Commerce”,
Mumayyiz, yaitu bisa membedakan antara yang benar dan tidak, dan memiliki kompetensi untuk
melakukan aktivitas jual beli, yakni dengan kondisi yang sudah akil baligh serta berkemampuan memilih. Dengan demikian, tidak sah jual beli yang dilakukan oleh anak kecil yang belum nalar, orang gila atau orang yang dipaksa dan juga budak, penjual dan pembeli haruslah orang yang merdeka, berakal, dan baligh atau mumayyiz (sudah dapat membedakan baik dan buruk atau najis dan suci dan mengerti hitungan harga).
39 Nilam Sari, Kontrak (Akad) dan Implementasinya Pada Perbankan Syariah di
Indonesia, (Banda Aceh: Penerbit PeNA), 2015, hal. 38.
40 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah: Produk-produk dan Aspek-aspek
yang berakad itu belum mumayyiz, maka jual belinya tidak sah, sekalipun mendapat izin dari walinya.41
Kecakapan untuk bertindak di dalam hukum bagi orang-orang yang belum dewasa ini diatur dalam ketentuan sebagai berikut: 1) Menurut Pasal 330 KUH Per; orang yang dikatakan belum
dewasa apabila ia belum mencapai usia 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin.
2) Untuk melangsungkan perkawinan:
a) Menurut Pasal 29 KUH Per, bagi seorang laki-laki harus berumur 18 tahun dan bagi seorang wanita harus berumur 15 tahun
b) Menurut Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, bagi seorang laki-laki harus berumur 19 tahun dan bagi seorang wanita harus berumur 16 tahun.
3) Dalam hukum waris, seseorang yang belum mencapai 18 tahun tidak dapat membuat wasiat (Pasal 897 KUH Per).
4) Menurut Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu, untuk dapat memilih di dalam pemilihan umum harus berumur 17 tahun.42
5) Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 98 Ayat (1) batas umur anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun43
Terkait dengan penelitian ini dimana perbuatan hukum yang dimaksudkan adalah transaksi jual beli e-commerce, maka mengenai syarat kecakapan ini berdasarkan ketentuan atau sistematika di dalam KUH Perdata dan KHI, dikarenakan objek yang diatur adalah berupa kontrak jual beli, maka usia dewasa para
41 Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama), 2007, hal. 115-116.
42 P.N.H. Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia (Jakarta: Kencana PrenadaMedia Grup), 2015, hal. 21-22.
untuk menjadi sahnya jual beli harus ada ma‟qud alaih yaitu barang menjadi objek jual beli atau yang menjadi sebab terjadinya perjanjian jual beli. Barang yang dijadikan sebagai objek jual beli ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:45
1) Bersih barangnya, maksudnya yaitu barang yang diperjual belikan bukanlah benda yang dikualifikasikan kedalam benda najis atau termasuk barang yang digolongkan diharamkan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW:
“Dari Jabir Ibn Abdillah, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda pada tahun kemenangan Makkah: “Sesungguhnya Allah telah melarang (mengharamkan) jual-beli arak, bangkai, babi dan patung” lalu seseorang bertanya “bagaimana dengan lemak bangkainya, karena dipergunakan untuk mengecat kayu dan minyaknya untuk lampu penerangan? Kemudian Rasulullah SAW menjawab “Mudah-mudahan Allah melaknat orang-orang yahudi karena sesungguhnya Allah telah mengharamkan lemak bangkai pada mereka, tetapi menjadikannya, menjualnya serta memakannya (hasilnya)” (Muslim,t.th: 689).
Dalam hadis di atas menurut Syafi’iyah diterangkan bahwa arak, bangkai, babi dan patung adalah haram dijual belikan karena najis, adapun berhala jika dipecah-pecah menjadi batu biasa boleh dijual sebab dapat digunakan untuk membangun gedung atau yang lainnya.
PT. Tamasia Global Sharia adalah perusahaan platform digital yang menyediakan jasa transaksi jual beli emas batang logam mulia Aneka Tambang (ANTAM), titip emas, dan simpan emas secara online, tamasia menggunakan asas transparan dan dijalankan sesuai syariah. Dimana emas yang
45 Wati Susiawati, “Jual Beli Dalam Konteks Kekinian”, Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 8, No. 2, (November 2017), h. 176-178.
dijualbelikan 100% didukung oleh emas fisik, bukan emas trading atau paper. Tamasia juga bermitra resmi dengan Antam sebagai penyuplai emas. Semua pembelian emas dilakukan dan diasuransikan di kustodian terpercaya di Indonesia. Selain diawasi oleh Bappebti, tamasia juga memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) tersendiri dibawah kepemimpinan Muhammad Assad selaku CEO dengan penasihat seperti Ust. Yusuf Mansur yang bertugas mengawasi kesyariahan produk-produk tamasia.46 Namun menurut UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana yang telah termaktub dalam pasal 109 bahwa;
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai Dewan Pengawas Syariah.
2. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) terdiri atas seorang ahli syariah atau lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.
3. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasehat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah.
Dengan kata lain, agar barang dan/atau jasa yang diperjualbelikan oleh tamasia tetap sesuai dengan syara‟ dan tetap memiliki legalitas syariah maka tamasia harus memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang direkomendasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam hal ini kewenangan Dewan Syariah Nasional (DSN).
46 Rendi Alfuadi, vice President Bussiness and marketing PT. Tamasia Global Sharia,
2) Dapat dimanfaatkan, maksudnya yaitu barang yang diperjual belikan harus ada manfaatnya sehingga tidak boleh memperjual belikan barang-barang yang tidak bermanfaat. Barang yang diperjualbelikan dalam situs tamasia.co.id adalah emas dengan ketentuan akad dan ketetapan yang telah sesuai dengan syara‟, sehingga aman dan dapat dimanfaatkan.
3) Milik orang yang melakukan aqad, maksudnya bahwa orang yang melakukan perjanjian jual beli atas sesuatu barang adalah pilihan sah barang tersebut dan atau telah mendapat izin dari pemilik sah barang tersebut. Dengan demikian jual beli barang yang dilakukan oleh yang bukan pemilik atau berhak berdasarkan kuasa si pemilik dipandang sebagai perjanjian yang batal.
emas yang dijualbelikan 100% didukung oleh emas fisik, bukan emas trading atau paper. Tamasia juga bermitra resmi dengan Antam sebagai penyuplai emas. Semua pembelian emas dilakukan dan diasuransikan di kustodian terpercaya di Indonesia. Jadi emas yang dijualbelikan memang ada dan terorganisir.
4) Mengetahui, maksudnya adalah barang yang diperjual belikan dapat diketahui oleh penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya, sifatnya dan harganya. Sehingga tidak terjadi kekecewaan diantara kedua belah pihak. Transaksi
e-commerce pada PT. Tamasia Global Sharia mengenai kejelasan
informasi barang dan produk yang dijualbelikan dapat diketahui dengan jelas melalui katalog pada website
tamasia.co.id, akun instagram “tamasia_id”, dan situs layanan
lainnya seperti aplikasia tamasia itu sendiri. Tamasia juga memberikan fitur berupa grafik harga jual beli emas terupdate setiap harinya guna memberikan informasi kepada para konsumennya terkait pergerakan harga emas LM Antam.
5) Barang yang di aqadkan ada ditangan, maksudnya adalah perjanjian jual beli atas sesuatu barang yang belum ditangan (tidak berada dalam kekuasaan penjual) adalah dilarang, sebab bisa jadi barang sudah rusak atau tidak dapat diserahkan sebagaimana telah diperjanjikan.
6) Mampu menyerahkan, maksudnya adalah keadaan barang haruslah dapat diserah terimakan. Jual beli barang tidak dapat diserah terimakan, karena apabila barang tersebut tidak dapat diserah terimakan, kemungkinan akan terjadi penipuan atau menimbulkan kekecewaan pada salah satu pihak. Benda yang diperjualbelikan dapat mencakup barang atau uang, sifat benda harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang berharga dan dapat dibenarkan penggunaanya menurut syara’. Benda-benda seperti alkohol, babi, dan barang terlarang lainnya haram diperjual belikan sehingga jual beli tersebut dipandang batal jika dijadikan harga tukar menukar, maka jual beli tersebut dianggap fasid. Emas yang telah dicetak oleh pihak tamasia akan dikirimkan kepada konsumen melalui jasa pengiriman (kurir) sesuai dengan ketentuan yang berlaku, konsumen juga dapat mengambilnya secara langsung melalui kantor tamasia di Jakarta Selatan.
c. Syarat Sighat
1) Kecakapan; kedua belah pihak haruslah orang yang cakap dalam melakukan transaksi.
Orang yang mengucapkannya memiliki kecakapan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Dimana telah sesuai dengan ketetapan syara’ dan KUH Perdata.
2) Adanya kesesuaian antara ijab dan qabul
Pernyataan ijab dan qabul harus jelas dan terdapat kesesuaian, sehingga dapat dipahami oleh masing-masing pihak
3) Dilakukan satu tempat
Menurut Abdul Ghafur Anshari seperti dikutip mardani menjelaskan bahwa syarat yang mengharuskan bahwa ijab kabul harus berhubungan langsung dalam satu majelis, perlu diperluas pengertiannya, yakni pada kata majelis. Majelis harus diartikan bahwa para pihak yang ada dapat berkomunikasi secara langsung melalui alat komunikasi berupa internet, kata-kata “dilakukan dalam majelis” perlu dianggap bahwa para pihak yang membuat perjanjian melalui media internet adalah berada dalam satu majelis.47
Unsur terpenting dalam jual beli adalah adanya kerelaan dari kedua belah pihak (aqid). Adapun ijab dan kabul dapat dilakukan dengan empat cara berikut ini:48
a. Lisan. Para pihak mengungkapkan kehendaknya dalam bentuk perikatan secara jelas.
b. Tulisan. Hal ini dapat dilakukan oleh para pihak yang tidak dapat bertemu langsung dalam melakukan perikatan, atau untuk perikatan yang sifatnya lebih sulit, seperti perikatan yang dilakukan oleh badan hukum.
c. Isyarat. Suatu perikatan dapat pula dilakukan oleh orang cacat. Apabila cacatnya adalah berupa tunawicara, maka dimungkinkan akad dilakukan dengan isyarat.
d. Perbuatan. Adanya perbuatan memberi dan menerima dari para pihak yang telah saling memahami perbuatan perikatan tersebut dan segala akibat hukumnya.
Dalam transaksi e-commerce antara penjual (tamasia) dan pembeli (customer) dinyatakan dengan persetujuan pelanggan untuk membeli, menjual, mentransfer, atau mencetak suatu produk
47 Mardani, Hukum Perikatan Syariah di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika), 2013, h. 238.
48 Novi Ratna Sari, “Komparasi Syarat Sahnya Perjanjian Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Hukum Islam”, Jurnal Repertorium, Vol. 4, No. 2, (2017), h. 83
yang tertera pada fitur layanan aplikasi tamasia. Konsumen dapat melakukannya dengan mudah, praktis dan cepat hanya dengan mengklik pada fitur yang tertera dalam aplikasi tamasia dan mengikuti prosedurnya.
Gambar 4. 11: Fitur Beli Emas di Tamasia Gambar 4. 12: Fitur Jual Emas di Tamasia
Pada program #BeliSukaSuka pelanggan dapat membeli emas sesuai berapa pun budget yang dimiliki mulai dari Rp 10.000,- lalu dikonversikan dengan harga gram emas saat akad berlangsung. Kemudian pelanggan dapat mencetak emas yang ditabungnya saat emas sudah mencapai ukuran 1 gram.
Adapun alur transaksi program tabungan emas ini adalah sebagai berikut :
a. Buka aplikasi Tamasia. b. Klik “Beli Emas”.
c. Pilih nominal budget pembelian emas yang kamu miliki dimulai dari Rp 10.000,-.
d. Tunggu proses konversi harga emas dengan jumlah gram yang akan didapatkan. Misalnya si A memilih minimal pembelian emas seharga Rp 50.000,- pada tanggal 13 Maret 2021, adapun harga emas hari itu Rp 893.051,- per gram, kemudian jika
dikonversikan dengan Rp 50.000,- maka si A akan mendapatkan emas sejumlah 0,0559 gram.
Pada transaksi e-commerce bentuk Sighat dilakukan dengan cara penyampaian verbal melalui telepon, pengiriman pesan melalui sejumlah media sosial ataupun media tulis lain yang tujuannya untuk memberi kejelasan kepada pembeli. Kebebasan untuk memilih dan bertindak didapati secara bebas sesuai kehendak dan keinginan pembeli dengan melihat, membaca hingga menyetujui aturan dan perjanjian yang dibuat. Komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli melalui internet inilah yang kemudian disebut sebagai sighat. Sebab, ikatan antara penjual dan pembeli terbentuk melalui kesepakatan yang jelas (ijab dan qabul) yang diakhiri dengan serah terima.49
Oleh karena ada kesesuaian antara ijab dan qabaul dari pihak tamasia dengan konsumen sebagaimana dijelaskan di atas, walaupun tidak diikrarkan secara lisan dan langsung, namun ada tindakan nyata yaitu dalam proses konsumen membeli produk tamasia. Meskipun tamasia memiliki dua produk unggulan seperti program #BeliSukaSuka dengan kesesuaian akad wadi’ah yad amanah dan program #BeliBerkala dengan kesesuaian akad Murabahah serta akad salam pada proses pemesanan cetak emas batang Antam bagi penabung yang ingin mengambil saldo tabungan emasnya.
Dengan hal ini, akad yang dilakukan tamasia adalah sesuai dengan cara akad jenis yang kedua, yaitu dengan bentuk tulisan (kitabah) sebagai bentuk pengungkapan kehendak secara tidak langsung, yang mana terdapat kerelaan dari konsumen untuk terikat pada ketentuan tata cara pembelian, pembayaran dan pengiriman barang. Maka menurut penulis kedua pelaku telah sah dalam memenuhi salah satu
49 Ashabul Fadhli, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penerapan Akad As-Salam dalam Transaksi E-Commerce”, Mazahib, XV, 1 (Juni 2016), h. 12.
unsur dari perjanjian jual beli, yakni sighat al aqad (ijab dan qabul) dan hal ini berarti tidak bertentengan dengan syara‟.