BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3. Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Melihat substansi dari tanggung jawab pelaku usaha yang terdapat dalam Pasal 19 Ayat 1 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, meliputi:
a. Tanggung jawab ganti rugi atas kerusakan b. Tanggung jawab ganti rugi atas pencemaran
c. Tanggung jawab ganti rugi atas kerugian konsumen.
Hal ini tentunya sesuai dengan pemenuhan hak-hak yang dimiliki oleh konsumen, diamana hal yang paling utama adalah tanggung jawab berupa ganti rugi atas kerugian yang diterima oleh konsumen, baik berupa ketidaksesuaian produk, kerugian materil, fisik, maupun jiwa.
Adapun ketentuan mengenai perlindungan hukum bagi konsumen terhadap produk cacat terdapat dalam Pasal 1328 KUH Perdata yang tanggung gugatnya berdasarkan wanprestasi. Sedangkan terkait perbuatan melawan hukumnya terdapat dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Guna memberikan payung hukum yang yang lebih kuat, pemerintah mengundangkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK ) yang di dalamnya termuat pasal yang berkaitan dengan perlindungan terkait produk cacat, hanya saja dalam Pasal 11 huruf (b) UUPK menggunnakan istilah cacat
tersembunyi dan dalam Pasal 8 Ayat (2) dan (3) UUPK menggunakan istilah cacat atau bekas.
Untuk mengetahui kapan suatu produk mengalami cacat, dapat dibedakan atas tiga kemungkinan, yaitu kesalahan produksi, cacat desain, dan informasi yang tidak memadai.21
Tamasia telah berupaya untuk menjamin segala produknya baik barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan distribusikan sudah cukup aman bagi konsumen. Jika terdapat unsur kesalahan yang disebabkan atau dilakukan oleh pihak tamasia seperti halnya ketidaksesuaian pesanan, barang tidak sampai, penyalahgunaan data pribadi, sebagai pelaku usaha atau merchant, demi menjaga kredibilitas tamasia akan bertanggung jawab dan melakukan penggantian atas kerugian tersebut.
Pasal 19 Ayat (2) UUPK memberikan pedoman tentang jumlah, bentuk, atau wujud ganti rugi, yaitu:
1) Pengembalian uang; atau
2) Penggantian barang dan/jasa sejenis atau setara nilainya; atau 3) Perawatan kesehatan; dan/atau Pemberian santuanan; sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Mengenai apakah harus dibayar ganti kerugian atau berapa besar ganti kerugian yang harus dibayar bukan undang-undang yang menentukan, melainkan kedua belah pihak yang menentukan syarat-syaratnya serta besarnya ganti kerugian yang harus dibayar.22
B. Perlindungan Konsumen dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah
Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral, termasuk dalam masalah ekonomi. Islam mengatur perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya, Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-kegiatan dalam bisnis yang membawa
21 Ahmadi Miru, Prinsip-Prinsip Perlindungan bagi Konsumen di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 26.
22 Ahmadi Miru, Prinsip-Prinsip Perlindungan bagi Konsumen di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 97.
manusia berguna bagi kemaslahatan. Berdasarkan hal itu, Islam turut memberikan jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem dan teknik dalam perdagangan.23
Islam telah menawarkan asas-asas mendasar dan petunjuk pada orang-orang yang beriman untuk suatu kebaikan dan perilaku etis dalam bidang bisnis. Asas-asas dan petunjuk yang ditawarkan dalam Islam tersebut dapat diklasifikasikan dalam empat macam yaitu tauhid, keadilan, kebebasan berkehendak, dan pertanggung jawaban. Asas dasar yang telah ditetapkan Islam mengenai perdagangan dan niaga adalah manifestasi dari adanya etika dengan tolak ukur kejujuran, kepercayaan dan ketulusan. Dalam hubungannya dengan perlindungan konsumen, Islam dengan konsep Maqâshid Syarî’ah-nya juga mengatur tentang pemenuhan kebutuhan konsumen. Kebutuhan konsumen yang dipenuhi oleh pelaku usaha, didalamnya harus mencakup pada pertimbangan terhadap hal-hal yang bersifat esensial dalam melindungi konsumen, seperti pemenuhan kebutuhan konsumen berupa barang maupun jasa diharuskan turut menjaga, memelihara dan tidak menjadi ancaman bagi agama konsumen, jiwa, akal, keturunan, dan harta.24
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat (279).
ْظَت َلا ْمُكِلاَوْمَأ ُسوُءُر ْمُكَلَ ف ْمُتْ بُ ت ْنِإَو ۖ ِوِلوُسَرَو َِّللَّا َنِم ٍبْرَِبِ اوُنَذْأَف اوُلَعْفَ ت َْلم ْنِإَف
َنوُمِل
َنوُمَلْظُت َلاَو
Artinya: “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (QS Al-Baqarah/2: 279).
23 Muhammad Yusri, “Kajian Undang-Undang Perlindungan Konsumen Dalam Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Justisia Ekonomika, Vol. 4, No. 2 (2020), hal. 3.
Sepintas ayat ini memang berbicara tentang riba, tetapi secara implisit mengandung pesan-pesan perlindungan konsumen. Di akhir ayat disebutkan tidak menganiaya dan tidak dianiaya (tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi). Dalam konteks bisnis, potongan pada akhir ayat tersebut mengandung perintah perlindungan konsumen, bahwa antara pelaku usaha dan konsumen dilarang untuk saling menzalimi atau merugikan satu dengan yang lainnya. Hal ini berkaitan dengan hak-hak konsumen dan juga hak-hak pelaku usaha (produsen).25
Di Indonesia sendiri telah dibentuk Undang-Undang tentang perlindungan terhadap konsumen (UUPK) yang menggariskan tentang asas-asas dalam bisnis. Pada dasarnya Undang-Undang ini mempunyai tujuan yang sama dengan apa yang ditawarkan dalam Islam, yaitu menciptakan keseimbangan diantara pelaku usaha dan konsumen dan untuk memberikan perlindungan terhadap konsumen. Namun secara garis besar, keseimbangan yang diatur dalam UUPK adalah cenderung keseimbangan yang merujuk kepada terpenuhinya keinginan masing-masing di antara pelaku usaha dan konsumen daripada menyoroti hal-hal yang sifatnya esensial sebagaimana dijelaskan sebelumnya.26
Pada dasarnya perlindungan hukum terhadap konsumen dalam suatu transaksi perdagangan diwujudkan dalam 2 (dua) bentuk pengaturan, yaitu perlindungan hukum dalam bentuk perundang-undangan tertentu (undang-undang, peraturan pemerintah) yang bersifat umum dan perlindungan hukum berdasarkan perjanjian yang khusus dibuat oleh para pihak, wujudnya dalam bentuk substansi atau isi perjanjian antara konsumen dan pelaku usaha, seperti ketentuan tentang ganti rugi, jangka waktu pengajuan klaim, penyelesaian sengketa, dan sebagainya.27
25 Nurhalis, “Perlindungan Konsumen dalam Perspektif Hukum Isalm dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999”, Jurnal IuS, Vol. III, No. 9 (Desember 2015), hal. 526.
26 Muhammad Yusri, “Kajian Undang-Undang Perlindungan Konsumen Dalam Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Justisia Ekonomika, Vol. 4, No. 2 (2020), hal. 3-4.
27 Bella Citra Ramadhona, “Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Akibat Wanprestasi Dalam Transaksi Elektronik”, Kertha Semaya, Vol. 02, No. 04, (Juni 2014), hal. 6-9.
Islam memberikan keleluasaan terhadap ummatnya dalam melakukan berbagai bentuk muamalah dengan tujuan untuk kemaslahatan bersama selama sesuai syara‟. Salah satu fenomena muamalah dalam bidang ekonomi adalah transaksi jual beli yang menggunakan media elektronik. Dilihat dari definisi transaksi elektronik menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tersebut bahwa perdagangan atau bisnis yang dilakukan dengan media elektronik juga termasuk sebagai bagian dari transaksi elektronik.28