BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kerangka Teori
3. Perlindungan Konsumen dalam Perspektif UU No. 8 Tahun 1999
Istilah “hukum konsumen” dan “hukum perlindungan konsumen” sudah sering terdengar. Namun, belum jelas benar apa saja yang masuk ke dalam materi keduanya. Ada juga yang berpendapat, hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen, yang lebih luas itu Az. Nasution seperti dikutip Celina Tri Siwi Kristiyanti berpendapat bahwa hukum perlindungan konsumen yang
12 Munrokhim Misanam,dkk, “Ekonomi Islam”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 59
memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur, dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen.
Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang atau jasa konsumen, di dalam pergaulan hidup.13 Jadi, hukum konsumen berskala lebih luas meliputi berbagai aspek hukum yang terdapat kepentingan konsumen di dalamnya.
Hukum perlindungan konsumen selalu berhubungan dan berinteraksi dengan berbagai bidang dan cabang hukum lainnya, karena pada tiap bidang dan cabang hukum itu senantiasa terdapat pihak yang berpredikat “konsumen”. Oleh karena itu, ruang lingkup hukum perlindungan konsumen sulit dibatasi hanya dengan menampungnya dalam satu jenis undang-undang, seperti UUPK.
Memahami perbedaan antara hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen, antara hak-hak pokok dari konsumen dan keterkaitan antara hukum perlindungan konsumen dengan bidang-bidang hukum yang lain dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang hukum perlindungan konsumen. Berkaitan dengan pengertian tersebut dapat disimpulkan beberapa pokok pemikiran:14
1. Hukum konsumen memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan hukum perlindungan konsumen.
2. Subjek yang terlibat dalam perlindungan konsumen adalah masyarakat sebagai konsumen, dan sisi lain pelaku usaha, atau pihak-pihak lain yang terkait, misalnya distributor, media cetak dan televisi, agen atau biro periklanan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan sebagainya
13 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 13-14
14 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum
3. Objek yang diatur adalah barang, dan/atau jasa yang ditawarkan oleh pelaku usaha/produsen kepada konsumen.
4. Ketidaksetaraan kedudukan konsumen dengan pelaku usaha mengakibatkan pemerintah mengeluarkan kaidah-kaidah hukum yang dapat menjamin dan melindungi konsumen.
Perlindungan konsumen menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 pasal 1 ayat 1, mempunyai arti “segala upaya yang manjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.”15
Adapun UU no. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen itu sendiri, tidak memuat definisi mengenai hukum perlindungan konsumen tetapi memuat perumusan mengenai perlindungan konsumen yaitu sebagai segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.
Achmad Ali mengatakan masing-masing Undang-Undang memiliki tujuan khusus. Hal itu juga tampak dari pengaturan Pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sekaligus membedakan dengan tujuan umum sebagaimana dikemukakan berkenan dengan ketentuan Pasal 2.16
Meskipun UUPK menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, tetapi salah satu faktor utama yang menjadi kendala atau kelemahan konsumen dalam memperjuangkan haknya adalah karena tingkat kesadaran akan haknya memang masih sangat rendah.
Semua norma perlindungan konsumen dalam UUPK memiliki sanksi pidana. Dalam pada itu, hukum pidana sebagai sarana perlindungan sosial (social defence) bertujuan melindungi
15
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 1 Ayat 1.
16
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 34
kepentingan-kepentingan masyarakat.17 Oleh karena itu, perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang sehat. Dalam kegiatan bisnis yang sehat terdapat keseimbangan perlindungan hukum antara konsumen dengan produsen. Tidak adanya perlindungan konsumen yang seimbang menyebabkan konsumen berada pada posisi lemah. Lebih-lebih jika produk yang dihasilkan oleh produsen merupakan jenis produk yang terbatas, produsen dapat menyalahgunakan posisinya yang monopolistis tersebut. Hal itu tentu saja merugikan konsumen.18
Sedangkat menurut Bussines English Dictionary, Perlindungan konsumen adalah protecting consumers againts unfair or illegal
traders.
Artinya: melindungi konsumen terhadap pedagang yang tidak adil atau ilegal.
Adapun Black‟s Law Dictionary mendefinisikan a statute that
safeguards consumers in the use goods and services.
Artinya: Undang-Undang yang melindungi konsumen dalam penggunaan barang dan jasa.
Perlindungan konsumen adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang merugikan konsumen itu sendiri.19
Cakupan perlindungan konsumen itu dapat dibedakan dalam dua aspek, yaitu:20
1. Perlindungan terhadap kemungkinan barang yang diserahkan kepada konsumen tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati.
17 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum
Acara Serta Kendala Implementasinya, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008), hal. 132
18
Ahmad Miru, Prinsip-Prinsip Perlindungan bagi Konsumen di Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 4.
19 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), hal. 21-22.
2. Perlindungan terhadap diberlakukannya syarat-syarat yang tidak adil kepada konsumen.
Rumusan pengertian perlindungan konsumen yang terdapat dalam pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut Undang-Undang Perlindungan Konsumen/UUPK) tersebut cukup memadai. Kalimat yang menyatakan “segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum”, diharapkan sebagai benteng untuk meniadakan tindakan sewenang-wenang yang merugikan pelaku usaha hanya demi untuk kepentingan perlindungan konsumen.
Konsumen adalah “setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.”21
Sedangkan dalam naskah final Rancangan Akademik Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut Rancangan Akademik) yang disusun oleh fakultas Hukum Universitas Indonesia bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Depatremen Perdagangan RI menentukan bahwa, konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan.22
Dengan demikian, konsumen dalam hal ini yaitu bisa perorangan ataupun sekelompok masyarakat yang membutuhkan barang dan/atau jasa untuk mereka konsumsi, atau dengan kata lain barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan.
21 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 1 Ayat 2.
22 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 5-6
Untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah “konsumen” yang mengaburkan dari maksud yang sesungguhnya, pengertian konsumen dapat terdiri dari 3 pengertian, yaitu:23
a. Konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa yang digunakan untuk tujuan tertentu.
b. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa yang digunakan untuk diperdagangkan/komersial. Melihat pada sifat penggunaan barang dan/atau jasa tersebut, konsumen antara ini sesungguhnya adalah pengusaha, baik pengusaha perorangan maupun pengusaha yang berbentuk badan hukum atau tidak, baik pengusaha swasta maupun pengusaha publik (perusahaan milik negara), dan dapat terdiri dari penyedia dana (investor), pembuat produk akhir yang digunakan oleh konsumen akhir atau produsen, atau penyedia atau penjual produk akhir seperti suppllier, distributor, atau pedagang.
c. Konsumen akhir adalah setiap orang alami(natuurlijke persoon) yang mendapatkan barang dan/atau jasa, yang digunakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidup pribadinya, keluarga dan/atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan kembali.
Sedangkan pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atu melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.24
Dengan hadirnya pemerintah dalam memberikan kebijakan berupa kepastian hukum melalui Undang-Undang ataupun peraturan lainnya,
23 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum
Acara Serta Kendala Implementasinya, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008), hal. 61-62
24 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK),
maka keadilan yang diinginkan oleh masyarakat akan terpenuhi melalui penegakan hukum yang baik dan berkeadilan.
b. Hak dan Kewajiban Konsumen dan Pelaku Usaha
1) Hak dan Kewajiban Konsumen
Presiden Jhon F. Kennedy mengemukakan empat hak konsumen yang harus dilindungi, yaitu:25
a) Hak memperoleh keamanan (the right to safety)
Aspek ini ditujukan pada perlindungan konsumen dari pemasaran barang dan/atau jasa yang membahayakan keselamatan konsumen. Pada posisi ini, intervensi, tanggung jawab dan peranan pemerintah dalam rangka menjamin keselamatan dan keamanan konsumen sangat penting. Karena itu pula, pengaturan dan regulasi perlindungan konsumen sangat dibutuhkan untuk menjaga konsumen dari perilaku produsen yang nantinya dapat merugikan dan membahayakan keselamatan konsumen.
b) Hak memilih (the right to choose)
Bagi konsumen, hak memilih merupakan hak prerogratif konsumen apakah ia akan membeli atau tidak membeli suatu barang dan/atau jasa. Oleh karena itu, tanpa ditunjang oleh hak untuk mendapatkan informasi yang jujur, tingkat pendidikan yang patut, dan penghasilan yang memadai, maka hak ini tidak akan banyak artinya. Apalagi dengan meningkatnya teknik penggunaan pasar, terutama lewat iklan, maka hak untuk memilih ini lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor di luar diri konsumen.
25 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), hal. 47-48.
c) Hak mendapat informasi (the right to be informed)
Hak ini mempunyai arti yang sangat fundamental bagi konsumen bila dilihat dari sudut kepentingan dan kehidupan ekonominya. Setiap keterangan mengenai sesuatu barang yang akan dibelinya atau akan mengikat dirinya, haruslah diberikan selengkap mungkin dan dengan penuh kejujuran. Informasi baik secara langsung maupun secara umum melalui berbagai media komunikasi seharusnya disepakati bersama agar tidak menyesatkan konsumen.
d) Hak untuk didengar(the right to be heard)
Hak ini dimaksudkan untuk menjamin konsumen bahwa kepentingannya harus diperhatikan dan tercermin dalam kebijaksanaan pemerintah, termasuk turut didengar dalam pembentukan kebijaksanaan tersebut. Selain itu, konsumen juga harus didengar setiap keluhannya dan harapannya dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa yang dipasarkan produsen.
PBB melalui Resolusi Nomor A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang perlindungan konsumen (Guidelines for
Consumer Protection) merumuskan enam kepentingan konsumen yang harus dilindungi, meliputi:26
a) Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya.
b) Promosi dan perlindungan kepentingan ekonomi sosial konsumen.
c) Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi.
d) Pendidikan konsumen.
e) Tersedianya ganti rugi yang efektif.
26 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), hal. 49
f) Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.
Menurut Prof. Hans W. Micklitz, dalam perlindungan konsumen secara garis besar dapat ditempuh dua model kebijakan. Pertama, kebijakan yang bersifat komplementer, yaitu kebijakan yang mewajibkan pelaku usaha memberikan informasi yang memadai kepada konsumen (hak atas informasi). Kedua, kebijakan kompensatoris, yaitu kebijakan yang berisikan perlindungan terhadap kepentingan ekonomi konsumen (hak atas keamanan dan kesehatan).27
Berikut ini adalah hak dan kewajiban konsumen yang diberikan/termaktud dalam UUPK:
a) Hak Konsumen
Menurut ketentuan pasal 4 Undang-Undang perlindungan konsumen, konsumen memiliki hak sebagai berikut:28
(1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
(2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
(3) Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur dan mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.
27 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), hal. 50.
28 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 4.
(4) Hak untuk didengar pendapat atau keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakannya.
(5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
(6) Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
(7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur secara tidak diskriminatif.
(8) Hak untuk mendapat kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
(9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lainnya.
Hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut, terdapat satu hak yang tidak dicantumkan secara khusus tentang “hak untuk memperoleh kebutuhan hidup” dan “hak memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat”, tapi hak tersebut dapat dimasukkan ke dalam hak yang disebutkan terakhir dalam pasal 4 UUPK tersebut. Yaitu “hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lainnya”. Oleh karena itu, apabila konsumen benar-benar akan dilindungi, maka hak-hak konsumen yang dusebutkan diatas harus dipenuhi, baik oleh pemerintah maupun oleh produsen, karena pemenuhan hak-hak konsumen tersebut akan melindungi kerugian konsumen dari berbagai aspek.29
29 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 47
b) Kewajiban Konsumen
Selain memperoleh hak-hak tersebut, konsumen juga memiliki kewajiaban untuk:30
(1) Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
(2) Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
(3) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati; (4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa
perlindungan konsumen secara patut. 2) Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
a) Hak Pelaku Usaha
Untuk memberikan keseimbangan dan kenyamanan berwirausaha, maka para pelaku usaha diberikan hak-hak yang termaktub dalam pasal 6, yaitu:
(1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
(2) Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;
(3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;
(4) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang/atau jasa yang diperdagangkan;
(5) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
30 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 5.
b) Kewajiban Pelaku Usaha
Selanjutnya, selain hak-hak konsumen tersebut, UUPK juga mengatur hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal-pasal berikutnya, yakni tentang kewajiban pelaku usaha. Kewajiban dan hak sesungguhnya merupakan antinomi dalam hukum, sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat dan sebagai (merupakan bagian dari) hak konsumen. Kewajiban pelaku usaha antara lain:
(1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya; (2) Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan;
(3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
(4) Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
(5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;
(6) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
(7) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Dari apa yang telah disebutkan di atas, tentunya dapat dijadikan manifestasi hak konsumen berupa
kewajiban-kewaiban dan tanggung jawab yang harus ditunaikan oleh para pelaku usaha kepada konsumen.
c. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
1) Asas Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan, dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum. Dalam penjelasan pasal 2 UUPK disebutkan bahwa perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 asas yang relevan dalam pembangunan nasional. Kelima asas yang disebutkan dalam penjelasan pasal 2 tersebut, bila diperhatikan substansinya, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) asas, yaitu:31
a) Asas kemanfaatan yang di dalamnya meliputi asas keamanan dan keselamatan konsumen.
b) Asas keadilan yang di dalamnya meliputi asas keseimbangan, dan
c) Asas kepastian hukum.
Berdasarkan UUPK pasal 2, ada lima asas perlindungan konsumen, yaitu:32
a) Asas Manfaat
Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
31 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum
Acara Serta Kendala Implementasinya, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008), hal. 59-60.
32 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 2.
b) Asas Keadilan
Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan.
c) Asas Keseimbangan
Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materill ataupun spiritual.
d) Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
e) Asas Kepastian Hukum
Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
2) Tujuan Perlindungan Konsumen
Berdasarkan UUPK Pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan dari perlindungan konsumen, sebagaimana berikut:33
a) Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri;
b) Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c) Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
33 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 3.
d) Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e) Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
f) Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
Dalam mewujudkan tujuan dari UUPK tentunya dibutuhkan peran dan tanggung jawab pemerintah atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen (Pasal 29 Ayat (1) UUPK), dalam hal ini Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang perdagangan dan/atau Menteri Teknis terkait lainnya (Pasal 29 Ayat (2) jo Pasal 1 butir 13 UUPK).
Pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pasal 29 UUPK meliputi upaya untuk:
a) Terciptanya iklim usaha dan tumbuhnya hubungan yang sehat antara pelaku usaha dan konsumen.
b) Berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
c) Meningkatnya kualitas sumber daya manusia serta meningkatnya kegiatan penelitian dan pembangunan di bidang perlindungan konsumen.34
34 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK), Pasal 29 Ayat 4.
d. Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengakomodasi dua prinsip penting, yakni tanggung jawab produk (product liability) dan tanggung jawab profesional (professional liability). Tanggung jawab produk merupakan tanggung jawab produsen untuk produk yang dipasarkan kepada pemakai, yang menimbulkan dan menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat pada produk tersebut. Sedangkan tanggung jawab profesional berhubungan dengan jasa, yakni tanggung jawab produsen terkait dengan jasa profesional yang diberikan kepada klien.35
Ketentuan yang lebih tegas terkait dengan product liability dan professional liability terdapat dalam pasal 19 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, menyebutkan:36
1. Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.
2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu tujuh hari setelah tanggal transaksi.
4. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.
35 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), hal. 99.
5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Ketentuan pasal 19 tersebut meliputi tanggung jawab pelaku usaha terhadap ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan kerugian konsumen. Maka produk yang cacat bukan merupakan satu-satunya dasar pertanggungjawaban bagi pelaku usaha. Hal ini berarti bahwa tanggung jawab pelaku usaha meliputi segala kerugian yang dialami konsumen.37
Namun pertanggungjawaban dalam Undang-Undang
Perlindungan Konsumen tersebut tidak sepenuhnya menganut prinsip tanggung jawab mutlak, sebagaimana yang dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.38
e. Kekurangan Evektivitas Undang-Undang Perlindungan Konsumen
Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) adalah instrumen hukum yang efektif melindungi konsumen, tetapi perlindungan tersebut terbatas sekali, karena Undang-Undang ini hanya berlaku terhadap subjek hukum yang berdomisili dalam yurisdiksi hukum Indonesia. Kenyataannya, liberalisasi perdagangan melahirkan konsekuensi berupa aktivitas bisnis yang dapat diselenggarakan melalui komunikasi jarak jauh (distance
communication) sehingga aktivitas bisnis semacam itu