• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP, TINJAUAN TEORETIS, DAN PENELITIAN TERDAHULU

2.4 Pengertian Kearifan Lokal

2.5.3 Teori Semiotika Sosial

Untuk mengkaji aktivitas sosial yang dilakukan oleh nelayan Aras Kabu terutama yang berkaitan dengan penggunaan mantra, maka penulis mengkaji fenomena ini dengan menggunakan teori semiotika sosial, terutama yang ditawarkan oleh Halliday. Ilmu semiotika adalah kajian tentang tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Menurut Sobur (dalam Sartini, 2011), bahwa semiotika atau

semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion

tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial.

Bahasa adalah interaksi, dan semua interaksi adalah multimodal. Implikasinya adalah bahasa adalah semiotika multimodal karena merupakan tanda atau simbol yang dihasilkan dalam komunikasi manusia. Ilmu semiotika meliputi studi seluruh tanda-tanda tersebut baik tanda-tanda visual, tanda-tanda yang dapat berupa imaji dalam lukisan dan foto dalam seni dan fotografi, tanda pada kata-kata, bunyi-bunyi, imaji bahasa tubuh, ekspresi wajah, warna, dan semua unsur-unsur komunikasi. Imaji adalah gambaran yang terbentuk dari sebuah objek visual. Gramatika didalam bahasa menjelaskan kata, klausa, frasa, kalimat, dan teks. Sedangkan gramatika visual memperlihatkan orang, tempat, dan benda-benda dikombinasikan dengan kompleksitas dan perluasan penjelasan visual dari sebuah objek. Fokus gramatika visual adalah pada deskripsi estetika imaji dan cara komposisi imaji yang digunakan untuk menarik perhatian penyaksi atau pembaca (Kress dan van Leeuwen, 1996:1).

Grammar goes beyond formal rules of correctness. It is a means of representing patterns of experience…. It enables human beings to build a mental picture of reality, to make sense of their experience of what goes on around them and inside them (Halliday, 1985: 101)

Analoginya adalah struktur visual merealisasikan makna-makna sebagaimana struktur linguistik melakukannya, dengan demikian menyebabkan berbeda interpretasi dari pengalaman dan berbeda bentuk interaksi sosial. Makna dapat direalisasikan dalam bahasa, sedangkan komunikasi visual diekspresikan kedua-duanya baik dalam verbal maupun dalam visual. Walaupun keduanya berbeda, misalnya bahasa melalui pilihan antara kelas kata dan semantik, namun di dalam komunikasi visual ekspresi dilakukan melalui sistem pilih, pada beberapa hal seperti: penggunaan warna dan struktur komposisi yang menonjol. Bahasa visual belum dipahami secara universal karena

bahasa visual itu spesifik secara budaya, misalnya komunikasi visual dalam dunia barat berbeda dengan dalam dunia timur.

Suatu jaringan sistem makna dalam sebuah budaya masyarakat mempunyai sumber makna semiotika yang kaya dan beragam. Santoso (2009: 9) mengatakan suatu kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat mempunyai nilai-nilai dan norma-norma kultural yang diperoleh melalui warisan nenek moyang mereka dan juga bisa melalui kontak-kontak sosio-kultural dengan masyarakat lainnya. Nilai-nilai dan norma-norma dari masyarakat lain tersebut baik langsung maupun tidak langsung memengaruhi nilai-nilai dan norma-norma yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Sebagai dampaknya nilai-nilai dan norma-norma kultural ini cenderung untuk berubah secara terus menerus, apalagi dunia pada saat ini semakin terbuka sehingga batas-batas kultur, daerah, wilayah, dan negara menjadi tidak tampak.

Sebagaimana yang telah disinggung Santoso di atas mengenai peristiwa-peristiwa kebudayaan dan sumber tesebut merupakan makna semiotika karena manusia sebagai makhluk yang hidup di dalam masyarakat berperan melakukan interaksi dan komunikasi agar dapat saling memahami makna tanda komunikasi tersebut. Supaya tanda itu bisa dipahami secara universal, dibutuhkan pula konsep yang universal untuk menghindari salah pengertian.

Menurut Kress dan Van Leeuwen dalam Handayani (2012) ada tiga aliran besar semiotika yang menerapkan konsep teori berasal dari domain linguistik dan domain non-linguistik sebagai sarana komunikasi di abad sekarang ini. Yang pertama adalah Aliran Praha (Prague School) pada tahun 1930-an dan awal 1940-an yang dikembangkan oleh pakar linguistik formalisme Rusia. Konsep yang menonjol diterapkan ke dalam bahasa adalah bentuk fonologi dan sintaksis melalui deviasi untuk tujuan artistik, pada kajian seni (Mukarovsky), teater (Honzl), sinema (Jakobson), dan

kostum (Bogatyrev). Setiap sistem-sistem semiotika dapat memenuhi fungsi komunikasi yang sama (fungsi refensial dan fungsi puitis).

Aliran kedua diperkenalkan oleh aliran Paris (Paris School) pada tahun 1960-an dan 1970-an, yang menerapkan ide de Saussure, linguis lainnya seperti Schefer, fotografi (Barthes), bidang fashion (Barthes), bidang sinema (Metz), bidang komik (Frenault-Deruelle), termasuk juga aliran Pierce. Konsep yang dikembangkan aliran ini pada studi kajian media, seni, dan desain selalunya disebut sebagai semiologi, juga dikatakan post-strukturalisme. Istilah-istilah semiotika “langue” dan “parole,signifier” dan “signified,” “arbitrary” dan “motivated,” “sign”, “icons,” “indexes,” dan “symbols,” “syntagmatics” dan “paradigmatics.

Aliran ketiga dinamakan semiotika sosial social semiotics) yang diperkenalkan oleh Halliday di Australia tahun 70-an dikenal dengan nama teori linguistik Sistemik Fungsional (SFL). Semiotika sosial ini diterapkan pada kajian sastra oleh Threadgold, Thibault dan kawan-kawan, semiotika visual oleh O’Toole, Kress, van Leeuwen, musik oleh van Leeuwen dan sarana semiotika oleh Hodge dan Kress. Konsep semiotika sosial adalah bahwa hubungan setiap manusia dengan lingkungan manusia penuh dengan arti dan arti-arti ini dipelajari melalui interaksi seseorang dengan orang lain yang melibatkan lingkungan arti tersebut. Potensi arti dalam proses belajar menciptakan sistem bahasa sebagai sistem sosial yang terdiri atas struktur ideologi, budaya, situasi, semantik, leksikogramatika, dan fonologi atau grafologi.

Pendekatan semiotika sosial menurut Kress dan van Leeuwen dalam Handayani (2012) menekankan pada dua hal penting. Yang pertama, komunikasi memerlukan partisipan untuk membuat pesan-pesan secara maksimal untuk dipahami pada konteks tertentu, kemudian memilih bentuk ekspresi yang diyakini secara maksimal, transparan kepada partisipan lainnya. Sebaliknya komunikasi terjadi pada struktur sosial yang

ditandai oleh perbedaan-perbedaan pada kekuasaan, dan hal ini mengakibatkan setiap partisipan memahami secara maksimal. Partisipan yang mempunyai kekuasaan dapat memaksakan partisipan lain mengikuti interpretasi yang kuat dengan pemahaman yang maksimal, sehingga partisipan tersebut mampu melakukan atau menghasilkan pesan-pesan terbaik dengan usaha yang maksimal untuk memberi interpretasi. Sebaliknya partisipan yang tidak mempunyai kekuasaan harus bekerja keras untuk memahami pesan-pesan penting tersebut secara maksimal. Yang kedua, representasi memerlukan pembuat tanda memilih bentuk-bentuk untuk ekspresi yang ada didalam pikiran mereka, membentuk pandangan apa yang menurut mereka cocok pada tempatnya dan dapat dipercayai pada konteks yang diberikan.

Menurut Halliday (1978) bahasa adalah suatu sistem semiotika sosial. Sistem semiotika bahasa mencakupi unsur bahasa dan hubungan bahasa dengan unsur konteks yang berada di luar bahasa sebagai konteks linguistik dan konteks sosial. Konteks sosial merupakan unsur yang mendampingi bahasa dan merupakan wadah terbentuknya bahasa. Bahasa dan konteks sosial, tempat bahasa atau teks terbentuk, juga merupakan semiotika. Terdapat tiga (3) hal penting sistem komunikasi bahasa menurut Halliday (1985), yaitu metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Metafungsi ideasional merepresentasikan aspek pengalaman manusia di dalam dan di luar khususnya sebagai sistem tanda. Dengan kata lain harus mampu merepresentasikan objek dan hubungannya dengan dunia di luar bahasa sebagai sistem representasi. Metafungsi interpersonal menawarkan hubungan antara pencipta tanda dengan penerima tanda. Metafungsi tekstual menjelaskan pembentukan teks, kerumitan tanda-tanda yang dihubungkan baik secara internal maupun eksternal.

Tabel 2.1 di bawah ini menjelaskan hubungan struktur semiotika situasi dengan komponen fungsi semantik (Halliday, 1979: 143).

Tabel2.1. Hubungan struktur Semiotika Situasi dengan Komponen Fungsi Semantik

Semiotic structures associated with functional component

of situation of semantics

field (type of social action) experiential tenor (role relationships) interpersonal

mode (symbolic organization) textual

Prinsip semiotika sosial pada penelitian ini adalah untuk mengungkap makna semiotika baik berupa ungkapan verbal dan visual seperti imaji, tanda atau simbol, seperti berikut. (1) Imaji yang terdapat pada peralatan yang digunakan pada prosesi

mantra melaut tersebut, (2) Pola semiotika (tanda atau simbol) yang terdapat pada mantra ritual mantra melaut yang mencerminkan simbol gaib dan magis. (3) Tanda dan simbol digunakan pada ritual mantra melaut, untuk menjelaskan praktik berbahasa pada masyarakat suku Melayu Aras Kabu. (4) Ungkapan yang dituturkan oleh setiap nelayan sebagai mantra melaut.

Dalam menganalisis aktivitas sosial tradisi mantra melaut ini akan digunakan teori semiotika multimodal dan teori semiotika yang dikemukan oleh Charles Sanders Peirce. Semua interaksi disebut multimodal. Setiap berinteraksi oral manusia secara otomatis mendengar suara prosodik, intonasi dan bunyi-bunyi, kita juga saling berpandangan atau menatap, kita memperhatikan setiap gerak gerik lawan bicara

During interaction, (1) you’re aware of your friends’ spoken language in order to hear the verbal choices, the content, the prosody and the pitch, (2) aware of facial expression, clothing, standing/sitting, nodding/leaning back or forward, 3) aware of environment where it takes place, etc (Kress dan van Leeuwen, 2006: 177).

Teori semiotika multimodal lebih dikenal dengan nama analisis multimodal. Analisis multimodal mengungkapkan representasi visual dan verbal bahasa dan menjelaskan berbagai jenis imaji yang ada di dalam konteks sosio-kultural. Kress dan van Leeuwen (2006: 178) “multimodal texts”, i.e. “any text whose meanings are realized through more than one semiotic code”. Analisis multimodal dapat diintegrasikan dengan analisis kode semiotika bahasa misalnya dengan aspek metafungsi bahasa untuk menjelaskan bagaimana gramatika dapat menjelaskan ekspresi efek visual gambar atau lambang, warna, tanda simbol dengan aspek verbal dalam teks multimodal. Dalam sarana tulis aspek multimodal terletak pada disain visual tanda baca, spasi, warna, font atau gaya, imaji dan sarana representasi dan komunikasi lainnya. Semua aspek multimodal ini potensi menjadi sumberdaya semiotika mendekorasi suatu komunikasi untuk menunjukkan potensi penguatan wacana sebagai suatu semiotika sosial.

Menurut Sinar (2011, 2012) di dalam analisis multimodal, teks-teks dianalisis dan dimaknai tidak hanya dari fisik bahasa yang terujar atau tertulis secara verbal tetapi juga teks diungkap dan dimaknai dari tampilan visual seperti yang terdapat pada iklan media cetak. Dengan kata lain, dalam klasifikasi perspektif semiologis kecenderungan analisis multimodal yaitu semua aspek semiotika yang muncul dalam teks dianalisis seluruhnya secara terpadu, baik aspek dan unsur semiotika kebahasaan maupun aspek dan unsur semiotika non-kebahasaan. Yang terakhir ini lazim disebut sebagai aspek dan unsur yang dikategorikan sebagai visual representation (lihat misalnya Kress dan Leeuwen 1996).

Kress dan van Leeuwen (2006, 177) menyarankan tiga prinsip komposisi dalam menganalisis teks verbal dan visual yaitu nilai informasi (information value), tonjolan (Salient) dan bingkai (framing), yang diaplikasikan tidak hanya pada gambar tunggal,

tetapi juga pada teks multi-semiotika. Interaksi langsung diciptakan melalui tatapan mata seperti pernyataan Kress and van Leeuwen (2006: 116-124) ‘the gaze’ as a central aspect of the interpersonal metafunction establishing interaction between the participants in the communicative act. Dalam sebuah tayangan, jika pelibat teks sebagai imaji menatapkan mata langsung kepada kamera, maka tatapan tersebut langsung tepat pada mata para penyaksi teks visual, sebagai efeknya hal ini menumbuhkan suatu garis hubungan ‘connecting the participant’s sight line with the viewers’ sehingga pembaca atau penyaksi teks mempunyai interpretasi bahwa imagi membalas tatapan matanya. Analisis ini disebut dengan ‘salience’ (Kress dan van Leeuwen, 2006: 201-203).

Salience dari bagian kepala adalah bagian utama yang menghasilkan jarak sosial keakraban antara sender dengan penyaksi dan pembaca dibandingkan bahagian lain dalam tubuh imaji. Tatapan mata menekankan mereka diletakkan dalam ruang luas dan kosong, wajah sekaligus memperoleh salience di dalam lingkup wajah yang juga menanti respon dari penyaksinya. Peran sekunder imaji juga memperlihatkan objek-objek pendukung seperti sarung tangan, topi, sepatu but, jilbab, scarf, bandana, saputangan, dll yang mengekspresikan hubungan eksplisit sebagai pembuat makna atau ‘meaning-maker’ yang tujuannya untuk menjelaskan setiap kekosongan informasi yang bersifat interpretasi atau “interpretive gaps” (lihat juga Baumgarten 2008).

Dalam analisis multimodal struktur hirarki di antara unsur penting yang diperlihatkan oleh imagi secara visual adalah ukuran (size), warna (colour), ketajaman fokus (focus). Kress dan van Leeuwen (1996) menekankan “how colour is very important in creating meaning.”