DA’WAH RASIONAL
MODEL DA‘WAH SENTRIFUGAL
F. Konstruksi Da‘wah Islam dalam Universalitas Islam dan Kemanusiaan
Kemajuan sains dan teknologi telah membawa dampak besar dalam struktur kehidupan umat manusia. Manusia yang hidup dalam era sains dan teknologi ibarat hidup dalam sebuah “Desa Global” (Global Village) yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu secara ketat. Konsekwensinya, umat manusia akan masuk dalam sebuah “perkampungan” yang serba komplek baik dari sektor eko-nomi, politik, teruatama sektor sosial budaya dan agama. Dengan kata lain, kemajuan sains dan teknologi secara langsung telah men-gantarkan umat manusia hidup dalam suasana “geografis” plural yang di dalamnya terpampang peta ketidak-adaan batasan ikatan-ikatan keadaban umat manusia dari sektor budaya, adat, dan bah-kan agama.
Manusia “pluralis” pada dasarnya sedang berada suatu pertalian
101Seperti tersebut dalam QS. 14: 53, yang terjemahannya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’ān itu adalah benar. Dan apakah Tuhan-mu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguh-nya Dia mesesungguh-nyaksikan segala sesuatu?”
104 104 105105
sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine
eng-gagement of diversities within rhe bounds of civility,102). Nurcholish
Madjid – sebagaimana dikutip Budhy Munawar Rachman – men-gatakan pluralitas merupakan suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan antara sesama manusia guna memelihara keutuhan bumi,103 dan merupakan salah satu wujud kemurahan Tuhan kepa-da manusia.104 Manusia diciptakan Tuhan sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggungjawab untuk menciptakan dan mengung-kapkan keharmonisan dan kasih sayang antar sesama, sehingga dunia menjadi tatanan yang harmonis.
Pluralitas dalam perspektif Al-Qur’ān merupakan sunnatullah yang memiliki tujuan untuk saling melengkapi antara sesama ma-nusia dan alam semesta.105 Al-Qur’ān juga mensinyalir ada plurali-tas dalam persoalan keyakinan atau agama.106 Para sarjana Islam – yang banyak berkecimpung dengan penafsiaran Al-Qur’ān – sepakat bahwa pluralitas sebenarnya berakar dari doktrin Islam itu send-iri.107 Sejalan dengan prinsip inklusivisme, Islam termasuk agama yang sangat menghargai perbedaan yang ada pada diri manusia sebagai objek seruannya. Hal inilah yang mendasari Islam untuk mengakui perbedaan yang ada pada umat manusia termasuk per-bedaan ras, suku, warna kulit, dan agama serta kepercayaannnya.
102Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 39.
103Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis...hal. 39.
104Lihat QS. 2: 251.
105Lihat QS. 30: 22.
106Lihat QS. 22: 40.
107Nurcholish Madjid, “Da‘wah Islam Di Indonesia: Tantangan Pasca Ko-lonialisme dan Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Plural” dalam Mukti Ali Dkk, Agama Dalam Pergumulan Masyarakat Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1998), hal.125.
104 104 105105
Normativitas Al-Qur’ān tersebut memberikan indikasi penegu-han terhadap pluralitas, termasuk pluralitas agama dan keyakinan. Petunjuk tegas ini (qaul sarih) membuktikan kesantunan dan kela-pangan ajaran Islam yang sangat memahami perbedaan-perbedaan dasar kemanusiaan. Islam menganjurkan umatnya untuk senantia-sa bersikap arif terhadap perbedaan dasenantia-sar sesenantia-samanya, serta menge-cam tindakan saling merendahkan status keyakinan sesamanya, konon, harus saling mengkafirkan satu sama lain. Umat manusia adalah satu dalam penciptaan, seyogyanya memiliki kesatuan pula dalam keberagamaan. Bila kelak ternyata terdapat perbedaan, sep-erti disebutkan di atas, adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada diri manusia yang kodratnya memang memerlukan perubahan.
Islam adalah agama terakhir yang menjadi agama universal un-tuk dianut oleh semua umat manusia. Inti ajaran yang menyangkut keyakinan adalah warisan agama dari Nabi Ibrahim seperti halnya Yahudi dan Kristiani. Tetapi pola terapannya berbeda dari masing-masing-masing agama tersebut. Bila agama Yahudi dan Kristiani lebih merupakan agama yang memuat aturan untuk umat tertentu, sebaliknya Islam menjadi agama yang memiliki aturan universal, sekaligus menjadi anutan untuk seluruh umat manusia. Karena itu, Islam seharusnya diposisikan sebagai agama “penengah” terha-dap kebenaran-kebenaran yang pernah disebutkan pada inti ajaran agama-agama hanif sebagaimana yang diwasiatkan Nabi Ibrahim.
Menilik semesta ajaran Islam, akan ditemukan suatu visi dan misi yang bersifat substansial. Visi dan misi itu secara filosofis meneguhkan bahwa agama diturunkan untuk umat manusia dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, sangat tidak layak bila umat Is-lam melakukan penindasan dan monopoli ajaran terhadap sesama umat manusia, baik pemaksaan aplikasi syariah dalam kalangan
106 106 107107
umat Islam ataupun intervensi keyakinan kepada umat non-mus-lim. Bila dengan dalih agama umat Islam tetap melakukan tinda-kan sepihak ini, maka pada satu sisi muncul kerusatinda-kan dan kedan-gkalan spiritualitas dan humanitas Islam, sementara pada sisi lain mengganggu keharmonisan tatanan sosial.
Nabi Muhammad saw telah mewasiatkan secara keseluruhan bahwa umat manusia memiliki kemuliaan pada harta, nyawa dan kehormatan. Penghargaan ini membuktikan bahwa Nabi Muham-mad saw tidak bermaksud menggelorakan semangat parokialisme atau primordialisme, melainkan semangat universal kemanusiaan. Dalam bahasan fiqh, syariat Islam bertujuan untuk mewujudkan kebaikan universal (masalih al-ummah), yaitu aturan yang diren-canakan untuk bersikap mampu menjadi pelindung dan pengayom umat manusia secara keseluruhan. Jadi, pada intinya umat Islam sebagai umat terbaik adalah umat yang membawa kesalehan indi-vidu atau kelompok yang mampu memberikan ketenteraman dan kedamaian bagi semua umat manusia.
Da‘wah Nabi Muhammad saw banyak sekali ditemukan keari-fan yang sama sekali tidak mengangungkan keyakinan yang dia-nutnya di atas kerendahan keyakinan yang dianut oleh masyarakat Makkah dan Madinah saat itu. Dalam da‘wahnya, Nabi Muham-mad saw sangat sungkan memaksakan keyakinan yang beliau anut untuk orang-orang non-muslim. Dalam menjalankan islamisasin-ya, Nabi Muhammad saw tidak pernah menonjolkan teologi ekslu-sif yang secara membabi buta menyerang prinsip teologi umat lain kendati Nabi Muhammad saw mengetahui persis kekeliruan prin-sip dan teologi mereka.
Menyadari kenyataan universalitas Islam dan kemanusiaan di atas, maka da‘wah Islam secara terus menerus perlu
106 106 107107
kan panorama keragaman secara komprehensif (syumuliyah) men-genai pemahaman dan sikap keberagamaan yang terbuka
(hanafi-yah al-samhah). Da‘wah Islam dalam setiap aktivitas perumusan
pesan perlu memperjuangkan wahyu yang jelas dan tegas secara eksklusif sebagai sebuah kebenaran mutlak. Da‘wah Islam berkew-ajiban menyakinkan umat Islam terhadap ajaran-ajaran mutlak ini untuk dijalankan secara ikhlas, cinta, dan penuh semangat. Den-gan da‘wah yang memiliki dimensi loyalitas terhadap ajaran tegas, umat Islam atau secara tidak langsung juga umat non-muslim akan dapat memahami inti da‘wah yang amr ma‘rūf dan nahī munkar.
Da‘wah Islam dalam kontek universalitas perlu juga mensosial-isasikan sifat insklusif, terbuka, serta bersedia menerima kebena-ran yang datangnya dari manapun juga. Da‘wah yang terbuka akan mengisi tema-tema aktivitasnya dengan melibatkan alam sebagai sumber sekunder untuk menemukan asumsi kebenaran sehingga mampu menambahkan iman yang akan mengantarkan manusia pada Sumber Primer, yaitu Allah. Da‘wah terbuka harus menyadari perbedaan umat manusia bukanlah suatu kondisi yang penting untuk dipertentangkan sehingga akan semakin menjauhkan umat manusia itu sendiri dengan Sumber Primer (Tuhan).
Negosiasi Al-Qur’ān terhadap perbedaan manusia dengan ragamnya yang tercermin dalam ungkapan qawlan bi qaumihi (menurut bahasa yang dipahami komunitas setempat), mengi-syaratkan bahwa da‘wah Islam patut mempertimbangkan aspek-aspek sosio-kultural umat manusia yang universal. Da‘wah harus menyadari bahwa perbedaan-perbedaan manusia merupakan din-amika ilahiah yang memiliki kualitas kepentingan umat manusia itu sendiri.
108 108 109109
dang perbedaan-perbedaan umat manusia sebagai sebuah barom-eter untuk kepentingan perumusan pesan dan strategi sehingga memperoleh hasil maksimal tanpa mendiskredirkan pihak sasa-ran secara sepihak. Sasasasa-ran da‘wah atau mad‘u akan terbebas dari tekanan pihak dā‘i karena merasa bebas dari ikatan anjuran atau perintah yang disampaikan secara bijak dan rasional. Sikap toler-ansi yang dibangun itu memberikan dampak positif terhadap pe-nerimaan pesan-pesan oleh pihak mad‘u secara sukarela.