• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Menteri Sosial

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 152-157)

BENTUK Da’wah DARI AGAMA LAIN (ZENDING KRISTEN)

H. Da’wah untuk Pendatang ke Negeri Mereka

I. Pengalaman Menteri Sosial

Sebuah pengalaman kami ketika terjadi musibah gempa dan gelombang tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Di-antara korban musibah tsunami tersebut adalah masjid Baitul Makmur yang berada di Lampriet turut runtuh total, dan tidak dapat digunakan lagi. Sekitar dua bulan setelah tsunami Bapak A. Rahman Kaoy, salah satu diantara pengurus masjid Baitul Mak-mur, Lampriet, Kecamatan Kuta Alam, ingin membicarakan ma-salah pembangunan kembali masjid tersebut dengan gubernur, Azwar Abubakar, yang ketika itu sebagai pelaksana tugas. Me-lalui pendekatan Bapak Yusny Saby, kami diberi kesempatan un-tuk bertemu di rumahnya, Geuceu, pada waktu pagi jam 6 pagi. Pada waktu yang telah ditentukan kami tiba di rumah Bapak Gubernur. Karena sedang dipersiapkan makan pagi kami beristira-hat sejenak. Tetapi kemudian Bapak gubernur meminta kami un-tuk menemani Bapak Menteri Kesejahteraan Sosial Bapak Bachtiar Chamzah yang kebetulan sendiri saja di kamar tamu rumah pribadi Gubernur. Ada suatu hal yang menarik dari pembicaraan Menteri tersebut menyangkut dengan persoalan da’wah umat Islam dan Kristen.

Menteri Sosial mengutarakan pengalamannya yang berbeda ketika diawal-awal mengurus musibah tsunami antara tanggapan masyarakat Kristen di Medan dengan ulama-ulama di Aceh. Ketika Menteri singgah sebentar di Medan dalam rangka menunggu pe-sawat ke Aceh, sekelompok orang mewakili umat Kristen di Medan

146 146 147147

menyampaikan sesuatu kepada Menteri. “Kami dari umat Kristiani di Medan, pertama ingin menyampaikan rasa belangsungkawa ke-pada saudara kami yang menimpa musibah di Aceh melalui bapak Menteri. Kemudian kami juga telah mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan oleh orang-orang yang musibah di Aceh. Kami telah menyediakan beras, tepung, indomie dan juga pakaian-pakaian sederhana tapi baru. Demikian juga masih tersedia dana tunai kalau memang dibutuhkan. Kalau bapak Menteri membutuhkan sekarang kami akan bawakan sekarang.” Karena Menteri belum melihat apa kebutuhan masyarakat Aceh ketika itu menteri menjawab terima kasih, nanti akan saya kabarkan setelah saya melihat kondisi Aceh.

Dalam cerita lanjutan menteri mengatakan “ketika saya telah sampai di Aceh, saya meninjau ke beberapa daerah terutama sekali daerah-daerah yang terkena musibah, kadang-kadang juga saya datangi tempat-tempat lain yang tidak terkena musibah untuk berkunjung ke tempat tokoh-tokoh masyarakat dan ulama. Apa yang terjadi sangat berbeda dengan apa yang saya alami ketika saya berada di airport Polonia, Medan. Di mana saja saya ketemu den-gan tokoh-tokoh masyarakat dan juga ulama di Aceh ketika itu, se-lalu melaporkan bahwa mereka selama ini kekurangan ini dan itu, dan karena itu kami mohon kesediaan Bapak Menteri membantu kami demi kesempurnaan pembinaan umat.”

Dalam hal ini Menteri berkomentar, sebenarnya meminta bantuan untuk membantu umat sah-sah saja, apalagi membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah tsunami. Yang men-jadi pertanyaan kita sekarang, kenapa berbeda cara menangani bantuan di antara umat Islam dengan umat Kristen. Kenapa mere-ka lebih siap dari umat Islam. Kenapa umat Islam tidak sesiap umat Kristen dalam menangani masalah-masalah, termasuk masalah

148 148 149149

musibah seperti musibah gempa dan gelombang tsunami yang ter-jadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.

Jika benar seperti isu-isu yang berkembang ketika itu bahwa dalam situasi yang tidak menentu setelah terjadinya gempa dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 di Aceh sejumlah anak-anak Aceh termasuk anak-anak bayi diboyong oleh mereka keluar Aceh, maka betapa terlihat umat Islam terutama sekali di Aceh tidak siap menghadapi bencana-bencana yang mungkin terjadi. Kebenaran isu ini sulit dibuktikan secara fisik, tetapi di beberapa mass media baik televisi maupun beberapa media cetak, nasional dan daerah ketika itu telah terjadi beberapa kali pernyataan dari tokoh ma-syarakat Aceh bahwa anak Aceh dilarang di bawa keluar dan dila-rang menukar agamanya dari Islam ke agama lain.

Demikian juga sebulan setelah tsunami di Aceh satu rombon-gan ulama-ulama dari Persatuan Pondok Pesantren dari Jawa men-datangi pimpinan Pengurus Besar Persatuan Dayah Inshafuddin (PB Inshafuddin)di Aceh, Tgk. H. Muhammad Daud Zamzami yang merupakan salah satu diantara partisipan dari organisai pondok pesantren tersebut. Malamnya PB Inshafuddin menggelar rapat ber-sama di mana penulis ketika itu menjabat sebagai Sekretaris Umum PB Inshafuddin turut menghadiri rapat tersebut yang mengambil tempat di dayah Riazussalihin, Lam Ateuk. Dalam rapat tersebut utusan dari Persatuan Pondok Pesantren melapurkan sejumlah temuannya bahwa banyak anak-anak Aceh yang di bawa keluar Aceh. Ketika mereka mendengar isu tersebut, mereka perintahkan sejumlah ulama untuk memeriksa penumpang yang baru turun pe-sawat di Cengkareng yang berasal dari Aceh. Ternyata benar, beber-apa diantara mereka membawa anak-anak dari Aceh, sebagiannya dapat mereka selamatkan dan sebagian mereka tidak dapat

148 148 149149

gontrolnya. Berdasarkan pengalaman itulah mereka sengaja datang ke Aceh, untuk memberitahukan kepada ulama di Aceh dengan harapan mudah-mudahan masyarakat Aceh dapat mengatasinya.

Tentang apa yang dikhawatirkan oleh ulama dari kelompok pesantren di Jawa adalah suatu peristiwa yang benar terjadi. Dari pembicaraan-pembicaraan para pengungsi yang mengungsi ke luar Aceh melalui Polonia Medan menceritakan hal yang sama. Kelom-pok masyarakat Aceh yang ada di Medan akhirnya juga berjaga-jaga di Bandar Udara Polonia Medan untuk mengecek siapa-siapa yang membawa anak-anak Aceh ke luar Aceh. Ternyata mereka juga men-emukan ada diantara mereka yang berusaha membawa anak-anak Aceh keluar yang kita tiak tahu apa tujuannya. Diantara anak-anak Aceh yang dibawa keluar ada yang sampai pada ke kelurga Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Inipun baru ditemukan melalui usaha Metro TV yang berusaha mencari melalui acara khusus yang ditay-angkannya. Akhirnya anak ini juga diminta oleh kakaknya untuk dikembalikan karena dia tidak memiliki keluarga lain lagi. Karena seluruh keluarganya menjadi korban tsunami kecuali adiknya satu-satunya yang kemudian berada di keluarga Presiden Susilo Bam-bang Yudoyono. Ini mungkin karena Susilo BamBam-bang Yudoyono memiliki niat baik hanya sekedar membantu anak karena kehilan-gan orang tua. Kita dapat membayangkan jika yang menemukan atau mengambil anak itu sengaja agar dia dapat menukarkan aqi-dahnya.

150 150 151151 BAB V

TANTANGAN UMAT ISLAM ACEH

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 152-157)