• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mempersiapkan Tenaga Skill

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 131-135)

BENTUK Da’wah DARI AGAMA LAIN (ZENDING KRISTEN)

A. Mempersiapkan Tenaga Skill

Pada tahun 1930, perkumpulan umat Kristen sedunia pernah duduk bermusyawarah di Kairo, Mesir. Dalam musyawarah terse-but mereka berusaha mengevaluasi kegiatan-kegiatan para aktivis mereka di seluruh dunia. Diantara laporan mereka, aktivitas mer-eka yang paling tidak berhasil adalah di Aceh. Menurut laporan petugas penginjil dari Aceh, mereka tidak berhasil

126 126 127127

kan satu orangpun orang Aceh. Sehingga si pelapor, pendeta yang bertugas di Aceh, merasa sangat menyesal karena tugasnya tidak berhasil. Dan karena itu dia minta maaf sebesar-besarnya kepada forum rapat evaluasi kegiatan zending tersebut atas kegagalannya selama dia bertugas di Aceh.

Dalam situasi seperti itu seorang pendeta senior yang banyak pengalaman dan bijaksana bangun dari duduknya dan memberi semangat kepada para peserta musyawarah. Menurut pendeta se-nior ini, pendeta yang bertugas di Aceh tidak gagal, dia juga sudah berhasil seperti pendeta-pendeta yang lainnya. Memang pendeta yang bertugas belum mampu menarik orang Aceh agar memeluk Kristen, tetapi kita harus ingat bahwa masyarakat Aceh sudah hid-up turun temurun dalam kerajaan Islam selama 1000 tahun, dan mereka seratus persen Islam. Karena itu, mereka sudah menerima kehadiran gereja dan kehadiran pendeta saja sudah cukup. Agar mereka lebih simpati lagi pada kita untuk akan datang kita harus kirim orang-orang yang dibutuhkan oleh mereka, misalnya tenaga medis, dokter atau perawat dan juga guru-guru yang dibutuhkan oleh mereka. Jadi umat kita akan lebih banyak nanti di sana dan mereka tidak marah sama kita.

Agaknya apa yang dilaporkan dalam sebuah artikel yang diter-bitkan oleh Markas Pusat Muhammaddiyah seperti dijelaskan di atas, ada benarnya. Sekitar tahun tersebut kemudian Belanda membawa sejumlah umat Kristen memasuki Aceh melalui Singkil dengan mempekerjakan mereka di perusahaan perkebunan mer-eka.1 Kegiatan ini dilakukan secara berencana sistimatis dan

1T. Lembong Misbah, Interaksi Sosial-Keagamaan Masyarakat Singkil Pas-ca Perjanjian 1979 (Upaya Konstruktif Dalam Merekat Hubungan Antar Umat Beragam Yang Kondusif), tesis Master, (Banda Aceh: Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, 2009), hal. 44

126 126 127127

berkesinambungan. Memang melalui jalur ini agak lebih mudah di-lakukan. Kendatipun masyarakat muslim menyadari hal ini tetapi mereka sulit menolak. Pertama karena mereka dipekerjakan di pe-rusahaan-perusahaan Belanda. Kedua mereka masuk ke Aceh me-lalui Singkil yang areal tanahnya masih luas dan berpenduduk ja-rang. Daerah ini juga berbatasan dengan wilayah Provinsi Sumatera Utara yang sekitar itu penduduknya mayoritas umat Kristen.2

Jadi mereka hanya melakukan migrasi dari wilayah Sumatera Utara yang daerahnya sangat dekat dengan Singkil dan jika ada masalah mudah kembali ke tempatnya.

Sejalan dengan bermigrasinya umat Kristen ke Singkil yang ke-mudian difaslitasi tempat tinggal mereka lalu terjadilah perkam-pungan Kristen di Singkil. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa pemimpin-pemimpin umat Kristen telah mendiskusikan serius usaha mengkristenkan masyarakat Aceh sejalan dengan adanya umat Kristen di Singkil mereka mengirim sorang Zending Kristen tangguh dan gigih ke sana yaitu Ingat Winfrid Banureah. Kedatangan Winfrid ini sekaligus diinisiasi untuk mendirikan ge-reja di sini. Sejak itu semakin banyak zending-zending Kristen yang difasilitas kedatangannya oleh pemerintah Belanda.

Sepuluh tahun kemudia umat Islam baru merasa mereka telah didesak oleh umat Kristen bukan hanya jumlah mereka yang sema-kin banyak tetapi juga mereka telah memulai memelihara babi yang menurut Islam haram dimakan dan merupakan najis. Sehubungan dengan derasnya desakan umat Kristen baik dari segi jumlah pengi-kut bahkan juga jumlah gereja dan undung yang kadang-kadang

2Agama Kristen telah dibawa sejalan dengan kedatangan Belanda ke Ta-nah Batak yaitu sekitar tahun 1864 dan pada tahun 1881 umat Kristen telah berjumlah 3.500 orang yang tinggal di Selindang, Sipirak, Pahee, Huang Sa-mosir dan Uluwan. Lihat T. Lembong Misbah, Interaksi…hal. 42.

128 128 129129

tidak wajar terjadilah reaksi umat Islam yang mengakibatkan ter-jadinya bentrokan. Bentrokan-bentrokan it uterus berulang sam-pai sekarang, tetapi pemimpin-pemimpin umat Kristen sangat bijak dan tahu betul cara berda’wahnya sehingga umat Kristen terus bertambah di daearah ini. Misalnya kalau umat Islam sedang marah dan terjadi reaksi keras umat Kristen di suruh diam atau pindah sementara, ketika umat Islam sudah diam mereka kembali lagi. Sehingga kita lihat bukan hanya dari segi jumlah umatnya tetapi sampai lahan-lahanpun dari tahun ke tahun umat Kristen semakin menguasai, sebaliknya umat Islam semakin sempit.

Di daerah pesisir utara Aceh sampai tahun 1980-an masih ban-yak guru-guru yang beragama Kristen, terutama sekali guru-guru eksakta di SMA dan SMP dan guru keterampilan pada SMK.Itu berarti mereka benar-benar melaksanakan hasil musyawarahnya. Baru ketika terjadi konflik berat di Aceh, banyak tenaga pegawai yang pindah dari Aceh, termasuk guru-guru yang beragama non muslim turut pindah dari Aceh terutama sekali karena bukan ber-suku Aceh. Sangat mungkin juga dengan sebuah rekayasa, tanpa di sadari oleh masyarakat Aceh, banyak juga dari aparat negara yang beragama Kristen kemudian ditugaskan ke Aceh. Sekitar tahun 1985 pernah secara menyolok diperlihatkan sejumlah orang-orang yang berbaju seragam bersama-sama pergi menuju ke sebuah ge-reja yang terletak di Gampong Mulia pada hari minggu. Mereka mungkin tidak merasa apa-apa atau memang sengaja untuk show

offorce bahwa mereka sebenarnya banyak di Aceh dan memiliki

anggota yang memiliki kekuatan.

Di pesisir Barat Aceh malah sampai akhir-akhir ini masih saja di suplai dengan tenaga-tenaga skill guru bahasa Inggris. Demikian juga dengan pelatihan-pelatihan ketrampilan lainnya seperti

128 128 129129

rampilan menjahit dan lain-lain. Sebagian masyarakat Aceh baru terkejut ketika diberitakan di surat-surat kabar bahwa di sana ada kegiatan missionaris, terutama sekali setelah peristiwa musibah besar yaitu Gempa dan Gelombang tsunami. Jauh sebelum itu su-dah beberapa kali mereka masuk sebagai kelompok pekerja sosial untuk mengajarkan bahasa Inggris untuk sekolah-sekolah di desa. Akhir-akhir iniLembaga Sosial Masyarakat (LSM) CMH3 yang difasilitasi oleh World Vision malah telah melatih sejumlah pen-duduk desa dalam wilayah Aceh Barat dalam bidang koperasi. Pela-tihan ini sekaligus dengan pemberian modal jika masyarakat yang sudah dilatih itu membutuhkannya.

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 131-135)