• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memiliki Jaringan yang Luas

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 135-139)

BENTUK Da’wah DARI AGAMA LAIN (ZENDING KRISTEN)

B. Memiliki Jaringan yang Luas

Dalam rangka melaksanakan tugas-tugas mereka yang dalam Islam disebut da’wah, mereka memiliki jaringan yang sangat luas dan kuat, baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Sudah biasa kita baca laporan-laporan missionaris dari suatu neg-ara kemudian mengabdi di suatu tempat terpencil di suatu nega-ra lainnya. Seperti sudah disinggung di belakang disekitar tahun 1880-an missionaris dari Belanda telah berusaha membonceng pemerintahnya yang sedang menjajah Indonesia untuk menye-barkan Kristen di tanah Batak. Tahun-tahun selanjutnya mereka mulai berusaha memasuki Aceh melalui Singkil dengan mebawa pekerja-pekerja yang beragama Kristen ke Singkil untuk bekerja di perusahaan-perusahaan mereka.

3Sebutan LSM CMH mengikuti apa yang dilaporkan oleh Surat Kabar Serambi Indonesia yang dalam masyarakat Aceh Barat terkenal nama Cen-ter Mulia Hati. Akan tetapi dalam akte mereka nama organisasi sebenarnya adalah CHN (Child Health Now). Mereka berlindung di bawah NGO World Vision.

130 130 131131

Dalam sejarah penyebaran agama Kristen ke Aceh melalui Sing-kil kita temukan sejumlah Zendingnya adalah tidak hanya ber-asal dari tanah Batak. Misalnya kita kenal nama Winfrid sebagai seorang pendeta yang didatangkan ke Singkil pada tahun 1940-an sudah pasti bukan nama penduduk asli Indonesia. Demikian juga sekitar tahun 1979-an umat Kristen berusaha mendatangkan pen-deta dari Vatikan, Roma yang bernaung dibawah Gereja Tuhan In-donesia (GTI) ke Aceh Singkil.4

Di Banda Aceh sendiri yang bertugas di gereja methodis adalah, Alfredo, berkebangsaan Itali. Menurut cerita teman-teman dari Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Alfredo lang-sung datang dari Itali ke Jakarta dan kemudian bertugas ke Aceh. Pada suatu waktu di tahun tahun 1986, ketika saya masih bekerja sebagai staf pada Wakil Rektor Bidang Akademik, IAIN Ar-Raniry, saya pernah ditugaskan menemani seorang Professor tamu dari Prancis yang ingin membuat penelitian di Perpustakaan Islam Dayah Seulimuem. Selain saya, Professor dari Perancis ini juga membawa seorang teman lain dari Banda Aceh yang berketurunan Cina. Dalam dialog saya dengan teman professor ini, terungkap bahwa dia mendapat perintah dari Gereja untuk menemani profes-sor ini yang juga merupakan tamu dari Gereja tersebut.

Demikianlah kita lihat hubungan gereja Metodis di kota Banda Aceh dan dengan demikian kita dapat memahami bagaimana lu-asnya jaringan kerja mereka di tingkat dunia. Sekaligus dengan itu juga dapat kita pahami bagaimana jaringan kucuran dana yang mereka dapat untuk kegiatan missionaris mereka. Karena fungsi kedatangan tamu-tamu dari luar ke gereja mereka di antaranya adalah untuk membawa dana tunai. Hal ini dilakukan dalam rangka

130 130 131131

menghindari benturan dengan ketentuan dari pemerintah Indone-sia, agar setiap bantuan luar negeri dilaporkan kepada pemerintah. Ada baiknya juga dalam hal ini kita gambarkan bagaimana kuat-nya jaringan baik gereja atau pendeta secara personal ditingkat nasional di Indonesia. Pada tahun 1989, pemerintah provinsi Aceh yang ketika itu dipimpin oleh Gubernur Ibrahim Hasan, meresmi-kan sejumlah proyek pembangunan di Aceh, yang salah satu dian-taranya adalah proyek Krueng Aceh. Ketika itu saya selain bekerja sebagai dosen di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh juga aktif sebagai wartawan Panji Masyarakat yang diterbitkan di Jakarta. Jadi saya termasuk wartawan yang ikut meliput acara seremonial tersebut yang diresmikan langsung oleh Presiden Suharto.

Karena kehadiran presiden pada acara tersebut, tamu-tamu yang diundang harus dipilih dan sekaligus harus melewati pen-jagaan sangat ketat. Semua tamu harus menunjukkan undangan resmi, melalui pemeriksaan oleh aparat keamanan dan kemudian juga harus masuk melalui pintu Xray. Saya, karena bertugas seb-agai wartawan memilih duduk di deret kursi belakang agar mudah bergerak ke sana ke mari untuk mengambil foto. Ketika acara baru dimulai, terlihat ada seorang tamu yang terlambat datang. Dari jauh terlihat sosok orang tinggi besar dan berkulit putih seperti biasa kulit orang Barat. Dia diperiksa oleh aparat keamanan agak lama, tapi akhirnya aparat tersebut mengantarnya sendiri ke tenda tempat duduk, yang kebetulan hanya satu lagi kursi yang kosong di samping saya.

Ketika dia sudah duduk dia langsung menegur saya menan-yakan saya dari mana beragama apa dan apa pekerjaan saya. Setelah saya jawab saya beragama Islam, dia langsung berkomen-tar dan berda’wah dengan merendahkan ajaran agama saya. Tetapi

132 132 133133

yang penting saya jelaskan sehubungan dengan jaringan mereka. Dia mengatakan tadi aparat keamanan memeriksa dia lama sekali karena dia lupa membawa undangan. Sudah dia beri alasan bahwa dia lupa membawa undangan, tetapi aparat itu masih juga bersik-eras, karena itu dia memberitahukan bahwa dia diundang oleh se-seorang pejabat tinggi - tetapi dia tidak menyebut namanya pada saya - lalu aparat tersebut mengizinkan masuk dengan mengan-tarnya sendiri ke kursi tempat duduk.

Belum banyak dia berbicara dengan saya, tiba-tiba dia memotong pembicaraan lalu dia menanyakan pada saya, apakah L.B.Murdani datang. Saya jawab saya tidak lihat, lalu dia mengatakan dia ingin ketemu L.B.Murdani. Dan tidak lama sesudah itu seseorang men-jemputnya dan membawanya ke depan untuk duduk bersama peja-bat-pejabat yang duduk di baris ke dua dari depan. Baris itu berarti dibelakang deret kursi presiden. Dari peristiwa ini dapat dibayang-kan betapa kuat jaringan mereka dalam melaksanadibayang-kan tugas di manapun mereka ditempatkan.

Dalam masa rehabilitasi dan rekonstrusi Aceh pasca tsunami, begitu banyak NGO yang berkontribusi membangun Aceh baik fisik maupun mental. Rupanya dalam kesempatan itu banyak juga organisasi missionaris menggunakan kesempatan untuk men-jalankan missinya, baik langsung dengan mengajak masyarakat agar menganut agama Kristen ada juga yang secara tersembunyi. Dalam hal ini di dapati organisasi-organisasi ini bukan hanya seke-dar mengelola dana dan tenaga kerja tetapi ada juga yang turun langsung dan berusaha secara keras agar ada warga Aceh yang mengikut agama mereka. Seperti yang terjadi di Desa Suak Geudu-bang dan Suak Semaseh, kecamatan Sama Tiga Aceh Barat selain mereka memperkerjakan orang Indonesia yang beragama

132 132 133133

ten ada tiga warga Amerika yang langsung turun ke desa tersebut melaksanakan peran missionaris.5

Seperti juga yang dilaporkan oleh surat kabar-surat kabar selama ini mengenai aktivitas dari LSM Child Health Now (CHN), mereka adalah sebagai pelaksana program dari World Vision. World Vision sebuah NGO yang dibentuk dan di bina oleh Gereja yang memiliki kantor pusat di Kanada. Tetapi ada juga yang mengatakan LSM ini memiliki kantor Pusat di Inggris. Tetapi yang paling penting kita ketahui adalah LSM ini beroperasi di seluruh dunia di mana saja terdapat masyarakat miskin.

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 135-139)