• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekonstruksi Penafsiran Pesan Agama

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 104-109)

DA’WAH RASIONAL

MODEL DA‘WAH SENTRIFUGAL

E. Rekonstruksi Penafsiran Pesan Agama

Agama Islam dan sains disadari tidak terjadi benturan seperti yang digulirkan sementara pakar agama atau saintis Barat.

98 98 9999

flik antara sains dan agama justru terjadi bila cara pandang terha-dap keduanya berbeda. Pemahaman secara benar terhaterha-dap posisi agama dan sains menjadi signifikan untuk mencegah benturan an-tara keduanya. Dalam aktivitasnya, sains menjawab pertanyaan “bagaimana”, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa”. Sains lebih banyak berurusan dengan “fakta” sementara agama banyak berkaitan dengan “nilai”, dan sains mendekati realitas se-cara “analitis” sedangkan agama mendekatinya sese-cara “sintetis”.

Bruno Abd Al-Haqq Guiderdoni mengatakan bahwa ajaran uta-ma Islam (tawhid) menggariskan bahwa semua jenis pendekatan terhadap realitas pada akhirnya dapat disatukan untuk mendapat-kan makna final dalam perenungan terhadap wajah Tuhan.96

Perbedaan utama antara sains dan agama terletak pada isu peny-elamatan. Sains merupakan upaya manusia untuk memahami alam semesta. Sementara, agama adalah pesan yag diberikan Tuhan un-tuk membantu manusia mengenal Tuhan dan mempersiapkan ma-nusia untuk menghadap Tuhan.

Sehubungan dengan dualisme pandangan terhadap sains, maka muncul dua kecenderungan utama dalam menyikapi pemikiran terhadap sains, yaitu: kecenderungan rasionalistis atau modern-isme dan kecenderungan perspektif fundamentalis.97 Kecender-ungan pertama lebih melihat kemajuan sains dan teknologi sebagai sesuatu yang dapat diterima tanpa perlu kritikan, sedangkan yang kedua lebih melihat kemajuan sains dan teknologi modern adalah produk Barat. Terlepas dari kontroversi yang muncul terhadap eksistensi sains, ternyata ada kemajuan pemikiran untuk memun-culkan sains Islam yang selaras dengan sains modern. Pendekatan

96Bruno Abd Al-Haqq Guiderdoni, Membaca Alam Membaca Ayat, terj. An-ton Kurnia dan Andan Nubowo, (Bandung: Mizan, 2004), hal. 41 – 42.

100 100 101101

sains Islam terhadap realitas berpotensi untuk melakukan analisa komprehensif sehingga melahirkan sintesa integral antara Tuhan sebagai Pencipta dengan alam semesta sebagai ciptaan-Nya.

Sains dan teknologi mampu menyandikan (encode) berbagai fenomena alam semesta menjadi sebuah “pesan” untuk kemasla-hatan umat manusia. Kemampuan umat manusia untuk melahir-kan sains ternyata yang melahirmelahir-kan sejumlah teknologi mutakhir, tidak terlepas dari otoritas “pesan-pesan” yang muncul dari alam semesta. Atas dasar pendekatan analisis yang dilakukan sains, maka muncul berbagai asumsi-asumsi atau teori-teori yang dijadi-kan dasar pengujian kadar kebenaran realitas. Intinya, sains yang lahir dari kemampuan mendeteksi sinyal yang muncul dari alam semesta, telah melahirkan sebuah kebenaran alamiah dan ilmiah terhadap karya cipta Tuhan yang sarat dengan sistimatika dan aturan-aturan menurut ketentuan atau angka-angka kepastian se-bagaimana ditemukan dalam pendekatan sains.

Mohammad Ali Aziz mengatakan bahwa pesan da‘wah atau al

maddah al da‘wah adalah segala yang menyangkut dengan ajaran

Islam.98 Pada dasarnya, semua pembahasan yang menjadi fokus Is-lam termasuk daIs-lam pesan da‘wah IsIs-lam, baik yang bersifat esensial (seperti aspek aqidah, ibadah, syariah, akhlak) maupun yang bersi-fat fenomenal atau realitas objektif yang berasal dari alam semesta. Ali Yafie mengatakan pesan da‘wah dapat juga bersumber dari ilmu pengetahuan manusia, seperti mengenal tulisan dan membaca, pe-nalaran dalam penelitian (ta‘ammul) atas rahasia-rahasia alam.99

Melalui penelitian dan analisa terhadap fenomena alam semes-ta, manusia mampu meningkatkan kualitas spiritualnya sehingga

98Moh. Ali Aziz, Ilmu Da‘wah, (Jakarta: Kencana, 2004), hal. 94.

99Ali Yafie, Da‘wah Dalam al-Qur’ān dan al Sunnah, (Jakarta: Makalah Seminar, 1992), hal. 10.

100 100 101101

akan mendapati “jejak-jejak” Tuhan dengan konsekwensi ke-Maha Ciptaan-Nya. Tuhan yang telah menurunkan teks-teks ayat-Nya secara tertulis dalam al-Qur’ān, akan terbukti kualitas kebenaran-nya melalui kegiatan penelitian yang diuji secara cermat. Penelitian dan pengkajian sains yang dilakukan secara teliti terhadap realitas alam dengan kesemestaan proses dan tatanannya – konon berang-kat dari “hepotesis “ al-Qur’ān – cenderung melahirkan sebuah pembenaran mutlak terhadap al ayatu al-bayyinah sebagai wujud kebenaran teks-teks wahyu.

Mad‘u atau sasaran da‘wah yang memiliki kualifikasi rasionali-tas, sulit beradaptasi dengan pesan-pesan da‘wah yang sifatnya me-langit. Sejalan dengan sikap mereka yang anti pati terhadap mistis dan tahayul, maka pesan-pesan Islam harus ditata dengan meng-gunakan pendekatan empiris sehingga mudah dimengerti dan dipahami demi pengayaan intelektualitas sekaligus spiritualitas. Sebaliknya, perumusan pesan-pesan da‘wah yang bersifat tekstual cenderung melahirkan sikap “tawazu’” mad‘u tersebut hanya pada tataran normatif tanpa mampu mengaplikasikan pemahaman ke-Islamannya secara komprehensif.

Al-Qur’ān sendiri banyak menjadikan fenomena alam semesta sebagai salah satu dasar manusia untuk mendekatkan diri kepa-da-Nya. Al-Qur’ān banyak bercerita tentang tatanan alam semesta sebagai wujud konsekwensi kebesaran Tuhan. Tatanan alam yang teratur menunjukkan bahwa sunnah Allah bergerak menurut hu-kum-hukum kausalitas alam semesta yang senantiasa mengikuti aturan-aturan secara sistematis. Guiderdoni menyatakan bahwa Al-Qur’ān senantiasa menyeru pada kemampuan, mengetahui yang bersifat intelektual, yang menawarkan kemungkinan untuk menyingkapkan kebenaran-kebenaran universal secara intuitif,

102 102 103103

dan yang paling utama adalah Tawhid.100

Secara “ontologis”, setiap umat Islam memposisikan Allah se-bagai satu-satunya Tuhan dan Pencipta. Namun, “pengetahuan” tentang Tuhan itu tidak benar-benar diuji dengan standarisasi ni-lai-nilai dan bukti-buktu kebesaran Tuhan itu sendiri. Umat Islam mampu meyakini kebesaran Tuhan secara emosional, tanpa diikuti oleh pengetahuan tentang Tuhan melalui bukti-bukti “fisiko-teol-ogis” (menisbatkan keharmonisan alam semesta kepada eksistensi Pencipta), bukti-bukti “kosmologis” yang membentang dari eksis-tensi akibat-akibat hingga eksiseksis-tensi kausa prima.

Da‘wah Islam dituntut harus mampu menghadirkan Tuhan ke-pada mad‘u dengan mengambil bukti-bukti eksistensi Tuhan dari keharmonisan alam semesta secara fisiko-teologis maupun bukti-bukti kosmologis. Pesan da‘wah dirumuskan untuk mendorong mad‘u agar melakukan refleksi (tafakkur) dan perenungan

(tadab-bur) terhadap alam semesta sehingga menemukan tanda-tanda

Al-lah. Allah memang tidak membuktikan diri secara rasional, tetapi Dia tetap dapat diamati dalam penampakan diri-Nya melalui buk-ti-bukti empirik yang dapat diamati pada alam semesta. Ayat-ayat kosmologis (ayatu al-kawniyah) – yang telah menarik perhatian manusia terhadap fenomena-fenomena tertentu seperti revolusi reguler bintang-bintang, gunung-gunung dan lautan, siklus meteo-rologis, pertumbuhan pepohonan, dan perkembangan embrio ma-nusia – merupakan tanda-tanda eksistensi dan kebesaran Tuhan.

Da‘wah Islam – yang sarat dengan nilai-nilai ilahiyah – memi-liki potensi untuk menggiring fenomena-fenomena alam semesta menjadi salah satu landasan penguatan aspek-aspek spiritual/kei-manan manusia. Sebagaimana dipahami bahwa sains dan

102 102 103103

gi berusaha untuk mendeskripsikan “bagaimana” terjadinya fenomena-fenomena, tetapi menolak untuk menjelaskan “menga-pa” fenomena-fenomena tersebut muncul. Sebaliknya, konsep Al-Qur’ān justru mengingatkan manusia bahwa fenomena-fenomena alam semesta bukanlah totalitas dari realitas, melainkan permu-kaan yang tampak dari realitas. Tugas manusialah untuk mengkaji fenomena-fenomena alam semesta secara lebih mendalam dengan menggunakan aspek penglihatan batin (basirah), yaitu intuisi in-telektual yang dicapai dengan cahaya Tuhan.101

F. Konstruksi Da‘wah Islam dalam Universalitas Islam dan

Dalam dokumen DAKWAH DALAM MASYARAKAT GLOBAL (Halaman 104-109)