• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILUM KELAS SUB KELAS ORDO

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Kondisi Fisika-Kimia Perairan

4.3.6 Kosentrasi Nutrien

 

terendah 30 o/oo pada T3 dan T6 dan tertinggi 35 o/oo pada T1. Hasil pengukuran pada Stasiun ST2-tikus rerata salinitas juga berada dalam kisaran normal air laut yaitu 32,57 o/oo, sedikit lebih tinggi dibanding Stasiun ST2-pari. Salinitas cenderung stabil dan hanya sedikit berfluktuatif pada saat T3 dan T4 dengan kisaran antara 29 o/oo pada T4 sampai 35 o/oo pada T0 dan T1.

Kecenderungan salinitas pada kedua stasiun sedikit berbeda, dimana Stasiun ST1-pari lebih berfluktuatif dan cenderung bervariasi dibanding ST2-tikus. Kisaran salinitas terlihat juga cenderung sama dengan salinitas maksimal sampai 35 o/oo , namun salinitas minimal sedikit lebih rendah pada ST2-tikus yaitu mencapai 29 o/oo. Namun secara keseluruhan pola salinitas pada kedua stasiun ada variasi namun cenderung sama. Perubahan signifikan salinitas berpengaruh terhadap kematangan gonad dan keberhasilan penempelan larva karang pada substrat (Bierkeland, 1997)

4.3.6 Kosentrasi Nutrien

Kadar Fosfat

Pengukuran kosentrasi Fosfat pada Stasiun ST1-pari terlihat terlihat cukup fluktuatif dengan rerata 0,047 mg/L. Kosentrasi Fosfat tertinggi yaitu 0,1 mg/L didapat dari hasil pengukuran pada T4 dan T6 sedangkan hasil terendah yaitu 0,02 mg/L pada T3. Secara keseluruhan hasil pengukuran pada setiap periode pengamatan sangat fluktuatif dan bervariasi dan cenderung berada di bawah 0,047 mg/L. Pada Stasiun ST2-tikus reratanya adalah 0,046 hampir sama dengan ST1-pari. Kosentrasi Fosfat juga terlihat fluktuatif dimana kosentrasi tertinggi mencapai 0,1 mg/L pada T0, T2 dan T5 sedangkan nilai terendah adalah 0,01 mg/L pada T1. Berbeda dengan Stasiun ST1-pari, kosentrasi Fosfat pada ST2-tikus cenderung berada sama atau di atas 0,04 mg/L

Kandungan nutrien Fosfat pada kedua stasiun terlihat sama-sama berfluktuatif dengan kecenderungan semakin meningkat selama bulan pengamatan. Peningkatan ini terlihat pada Stasiun S2-tikus lebih tinggi dibanding Stasiun S1-pari. Sebaliknya peningkatan maksimal kosentrasi Fosfat diperoleh pada Stasiun S1-pari yaitu mencapai 0,1 mg/L sedangkan penurunan minimal didapat pada Stasiun S2-tikus yaitu 0,01 mg/L.

Gambar 7. Variasi kosentrasi Posfat pada kedua stasiun selama pengamatan

Kadar Fosfat perairan normal berkisar antara 0,01 – 1,68 mg/L (Sutamihardja, 1987) pada perairan tersubur mendekati 0,60 mg/L (Ilahude dan Liasaputra, 1980) nilai ambang oleh MenLH (2004) yaitu 4,9 mg/L untuk biota dan wisata bahari. Penelitian kandungan Fosfat untuk pertumbuhan optimal karang belum banyak dilakukan. Rudi (2006) mengukur kandungan Fosfat di perairan depan tubir terumbu Utara Gugus Pulau Pari berkisar antara 0,001 – 0,033 mg/L. Hasil pengukuran Cuet et al (2010) di perairan rataan terumbu La Reunion Island, Lautan Hindia mendapatkan kosentrasi Fosfat lebih tinggi pada perairan dengan kecepatan arus lebih tinggi dibanding dengan kecepatan arus lemah.

Kadar Nitrat

Hasil pengukuran kosentrasi nitrat pada Stasiun ST1-pari menunjukan kecenderungan yang relatif stabil pada awal pengamatan (T0-T3) dan kemudian berfluktuatif pada akhir pengamatan (T3-T5) dengan rerata 0,56 mg/L. Selama pengamatan (T0-T6) kosenterasi nitrat cukup tinggi dari kisaran normal air laut, dimana kosenterasi terendah mencapai 0,3 mg/L pada T5 dan tertinggi yaitu 0,7 mg/L pada T3 dan T6. Agak berbeda dengan Stasiun ST1-pari, kosentrasi nitrat pada Stasiun ST2-tikus lebih bervariasi dan cukup berfluktuatif selama bulan

43   

pengamatan dengan rerata lebih tinggi yaitu 0,64 mg/L. Kosentrasi nitrat berada di atas kondisi normal air laut dengan kosentrasi minimal 0,5 mg/L pada saat T1 dan T4 sedangkan kosentrasi maksimal mencapai 1,1 mg/L pada T5.

Pola dan kecenderungan kosentrasi nitrat pada kedua stasiun tidak sama dan terlihat berlawanan pada waktu tertentu. Kosentrasi nitrat pada Stasiun ST1-pari berfluktuatifi dalam kisaran normal air alut, sedangkan pada ST2-tikus berada diatasnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Brotowijowo et al, 1995, bahwa kosentrasi nitrat pada perairan normal berkisar antara 0,01 – 0,50 mg/L. Pada saat pengamatan T4-T6 terlihat kecenderungan kosentrasi yang sangat berbeda yaitu padaStasiun ST1-pari cenderung turun kemudian meningkat, sebaliknya pada ST2-tikus cenderung naik kemudian turun.

Kadar Silikat

Kosentrasi silikat pada ST1-pari cukup stabil pada awal pengamatan (T0-T3) kemudian berfluktuatif pada akhir pengamatan (T3-T6) dengan rerata 0,74 mg/L. Kosentrasi maksimal silikat dicapai pada saat T4 yaitu 2,0 mg/L dan kosentrasi minimalnya saat T3 dan T7 yaitu 0,7 mg/L. Pada Stasiun ST2-tikus kosentrasi silikat lebih bervariasi dan sangat berfluktuatif selama pengamatan dengan rerata lebih tinggi dibanding ST1-pari yaitu 2,4 mg/L. Sebaran kosentrasi silikat pada stasiun ini berada dalam kisaran lebih tinggi dimana nilai terendah adalah 0,7 mg/L pada saat T6 dan nilai tertinggi yaitu 2,4 mg/L pada saat T5. Kosentrasi silakat pada kedua stasiun terlihat berbeda yaitu ST1-pari cenderung stabil dan sebaliknya tikus lebih berfluktuatif. Kosentrasi silikat pada ST2-tikus berada pada kisaran yang lebih tinggi dibanding ST1-pari dengan nilai maksimal mencapai 2,4 mg/L dan minimal 0,7 mg/L.

4.3.7 Sedimentasi

Hasil pengukuran laju endapan sedimen pada Stasiun ST1-pari terlihat cukup bervariasi dan cenderung meningkat, dimana nilai rerata terendah adalah 0,08 gr/cm2/bulan pada saat T1 dan tertinggi yaitu 0,22 gr/cm2/bulan pada T3. Terjadi peningkatan endapan sedimen sampai T3 kemudian menurun sampai T4 dan meningkat lagi sampai T6. Kecenderungan yang sama juga terlihat pada

Stasiun ST2-tikus yaitu rerata volume sedimen relatif bervariasi dan selalu meningkat selama pengamatan yaitu terendah 0,05 gr/cm2/bulan pada T1 dan tertinggi mencapai 0,23 gr/cm2/bulan pada T3.

Hasil keseluruhan pada kedua stasiun terlihat relatif cukup tinggi dan terus meningkat walaupun terjadi fluktuatif selama pengamatan. Hal yang kontradiktif terlihat pada saat T2 yaitu Stasiun ST1-pari meningkat sebaliknya ST2-tikus menurun dan keduanya mencapai puncak tertinggi pada saat T3. Endapan sedimen pada penelitian ini relatif lebih tinggi dibanding hasil pengukuran sebelumnya pada lokasi yang sama. Rudi (2006) mendapatkan hasil pengukuran sedimen pada bagian utara gugus Pulau Pari berkisar antara 0,02 – 0,1 gr/cm2/bulan. Fluktuasi sedimen yang cenderung meningkat lebih disebabkan adanya pengaruh musim dan anomali cuaca global selama 2010 yaitu La-Nina di Samudera Hindia . Secara lokal dampak yang ditimbulkan adalah kekuatan angin dan arus serta peningkatan curah hujan terhadap distribusi sedimen di perairan Kepuauan Seribu khususnya Gugus Pulau Pari.

Gambar 8. Variasi laju sedimentasi pada kedua stasiun selama pengamatan

Dokumen terkait