• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik Sanad dalam Teori Projecting Back Schacht

Dalam dokumen KAJIAN ORIENTALIS THD AL QURAN HADIS (Halaman 135-137)

Kajian kritik sanad yang dilakukan oleh Goldziher turut memengaruhi beberapa pandangan Schacht pada kajian ini. Schacht sendiri secara jujur merujuk pendapat Goldziher dalam bukunya yang berjudul “Muhammedanische Studien”. Goldziher

menulis; One of these is that isnads have a tendency to grow backwards, that after going back to, say, a Successor to begin with, they are subsequently often carried back to a Companion and finally to the Prophet himself;9 in general we can say: the more perfect the

isnad, the later the tradition.287 Di samping itu, Schacht juga pernah mengemukakan bahwa pendapatnya adalah bagian kelanjutan dari gagasan pendahulunya, Goldziher.288

Keseriusan Schacht dalam kritik hadis tidak hanya terpaku pada matan hadis saja, dia juga menyibukkan dirinya untuk mempelajari dan membuat teori baru dalam kajian kritik sanad hadis. Jerih payahnya dalam mengkaji sanad hadis membuahkan hasil dengan penemuannya atas teori hadis yang dikenal dengan teori “Projecting Back”.

Teori Projecting Back adalah himpunan kesimpulan-kesimpulan yang didapatkan Schacht atas premis-premis yang dia buat mengenai kebermulaan hukum Islam. Premis tersebut adalah, hukum Islam belum eksis pada masa al-Sya’bi (w.110 H). premis ini menggiring kepada sebuah kesimpulan bahwa apabila ditemukan hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum Islam, maka hadis tersebut adalah buatan orang-orang pasca al-Sya’bî.

Dia berpendapat bahwa hukum Islam baru dikenal semenjak masa pengangkatan Qâdhi (hakim agama). Kira-kira pada akhir abad pertama Hijriah (±715-720 M) pengangkatan Qâdhi ditujukan kepada orang-orang “spesialis” yang berasal dari kalangan taat beragama. Karena jumlah mereka semakin bertambah banyak, maka akhirnya mereka berkembang menjadi kelompok ahli fikih klasik.289

Keputusan-keputusan hukum yang diberikan pada Qâdhi ini memerlukan legitimasi dari orang-orang yang memiliki otoritas lebih tinggi. Karenanya, mereka tidak menisbahkan keputusan-keputusan itu kepada dirinya sendiri, melainkan kepada tokoh- tokoh sebelumnya. Misalnya, orang-orang Irak menisbahkan pendapat-pendapat mereka kepada Ibrâhîm al-Nakha’î (W.95 H).290

Perkembangan selanjutnya, pendapat-pendapat para Qâdhi itu tidak hanya dinisbahkan kepada tokoh-tokoh sebelumnya yang jaraknya masih dekat, melainkan kepada tokoh yang lebih dahulu lagi, misalnya Masrûq. Langkah selanjutnya, untuk memperoleh legitimasi yang lebih kuat, maka pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada orang yang memiliki otoritas lebih tinggi, misalnya ‘Abdullah bin Mas’ûd. Dan pada tahap terakhir, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. Inilah rekonstruksi terbentuknya sanad hadis dengan memproyeksikan pendapat-

287

Joseph Schacht, A Revaluation of Islamic Tradition, edisi elektronik, file didownload dari http://answering- Islam.org/Books/Schacht/revaluation.html , senin 14 Desember 2011

288Al-Siba’î,

al-Sunnah wa Makarimuha (Kairo: Dâr al-Hadîts, tt) hal.15

289

Ali Musthafa Yakub, Kritik Hadis (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2004) cet.4, h.23 290

Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis 136

pendapat orang-orang belakangan (yang kemudian dikenal dengan teori Projecting Back)291

Pada gilirannya teorinya ini mendapat apresiasi dari orientalis-orientalis lainnya. Prof. Robson adalah salah satu orientalis yang terpikat dengan teori Schacht dan memujinya dengan berkata, “Kajian berharga yang membuka jalur penelitian baru.”292 Ringkasnya, pandangan Schacht secara keseluruhan adalah bahwa sistem isnâd mungkin valid untuk melacak hadis-hadis sampai pada ulama-ulama abad kedua Hijriah, tapi rantai periwayatan yang merentang ke belakang sampai kepada Nabi saw. dan para sahabat adalah palsu. Argumen Schacht teringkas dalam lima poin:

a. Sistem sanad dimulai pada abad kedua, atau paling “banter” akhir abad pertama Hijriah. b. Isnâd-isnâd diletakkan secara sembarangan dan sewenang-wenang oleh mereka yang

ingin “memproyeksikan ke belakang” doktrin-doktrin mereka sampai kepada sumber- sumber klasik.

c. Isnâd-isnâd secara bertahap “meningkat” oleh pemalsuan; Isnâd-isnâd yang terdahulu tidak lengkap, tapi semua kesenjangan dilengkapi pada masa koleksi-koleksi klasik. d. Sumber-sumber tambahan diciptakan pada masa Syâfi’î untuk menjawab penolakan-

penolakan yang dibuat untuk hadis-hadis yang dilacak ke belakang sampai kepada satu sumber. Isnâd-isnâd keluarga adalah palsu, demikian pula materi yang disampaikan di dalam isnâd-isnâd itu.

e. Keberadaan common narrator dalam rantai periwayatan itu merupakan indikasi bahwa

hadis itu berasal dari masa periwayat itu.

Konsep Schacht telah diadopsi oleh beberapa orientalis ternama lainnya, John van Ess adalah salah satu dari sederet orientalis yang sudi “bertepuk tangan” dan “menjiplak” teori atau konsep yang ditawarkan Schacht. Sebagaimana Schacht, Josef van Ess pun mengakui bahwa isnâd “tumbuh ke belakang” dan dia menerima teori common link.293

Sebagaimana sebagian orientalis lain yang “terhipnotis” oleh teori Schacht, sebagian sarjana muslim juga meniru dan mengembangkan teori yang digagas oleh Schacht. Sebut saja A.A. Fyzee, seorang hakim muslim dalam jajaran Mahkamah Agung Negara bagian Bombay India, dalam bukunya A Modern Approach to Islam, dia menerima

tanpa syarat tesis-tesis Schacht. Demikian pula Fazlur Rahman, direktur Islamic Centre di Karachi yang kemudian pindah ke Chicago, dalam bukunya yang berjudul “Islam”.294 Dia mengkritik dasar-dasar pandangan Schacht mengenai terbentuknya aliran-aliran hukum Islam. Tetapi dia menerima tesis pokok dari Schacht mengenai diedarkannya hadis dan mengenai teori Projecting Back-nya Schacht.295

291 Ibid, h.23 292Azami, Studies in Early, h.231-232 293

Kamaruddin Amin, Metode Kritik Hadis, (Jakarta : Hikmah, 2009) cet.1, h.156. 294

Sebenarnya posisi Fazlur Rahman tidak sedang menerima secara total tesis-tesis Schacht, melainkan juga mengeritiknya. Karena baginya, para penggugat originalitas hadis terkesan paradoks dengan pendapatnya sendiri, mereka menolak hadis dengan menggunakan hadis juga. Lihat Fazlur Rahman, Islam, pent: Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 1984) cet.1, h. 51-89.

295

Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis 137

Dalam dokumen KAJIAN ORIENTALIS THD AL QURAN HADIS (Halaman 135-137)