1. Tentang Keotentikan al-Qur’an
Bucaille mengatakan di dalam bukunya The Bible, the Quran, and the Science,
“Keaslian yang tak dapat disangsikan lagi telah memberi kepada Qur’an suatu kedudukan istimewa di antara kitab-kitab suci, kedudukan ini khusus bagi Qur’an, dan tidak dibarengi oleh perjanjian lama dan perjanjian baru... Bagi perjanjian lama, yang menjadi sebab kekeliruan dan kontradiksi yang terdapat di dalamnya adalah banyaknya pengarang suatu riwayat, dan seringnya teks-teks tersebut ditinjau kembali dalam periode-periode sebelum lahirnya Nabi Isa; mengenai empat injil yang tidak ada orang dapat mengatakan bahwa kitab-kitab itu mengandung kata-kata Yesus secara setia dan jujur atau mengandung riwayat tentang perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan realitas yang sungguh-sungguh terjadi, kita sudah melihat bahwa redaksi-redaksi yang bertubi-tubi menyebabkan bahwa teks-teks tersebut kehilangan autentisitas. Selain dari pada itu para penulis injil tidak merupakan saksi mata terhadap kehidupan Yesus…160
Bagi Qur’an, keadaannya berlainan. Teks Qur’an atau wahyu itu dihafalkan oleh Nabi dan para sahabatnya, langsung setelah wahyu diterima, dan ditulis oleh sahabat-sahabat yang ditentukannya. Jadi, dari permulaan, Qur’an mempunyai dua unsur autentisitas tersebut, yang tidak dimiliki injil. Hal ini berlangsung sampai wafatnya Nabi Muhammad. Penghafalan Qur’an pada zaman manusia sedikit sekali yang dapat menulis, memberikan kelebihan jaminan yang sangat besar pada waktu pembukuan Qur’an secara definitif, dan disertai beberapa regu untuk mengawasi pembukuan tersebut.161
Dalam pandangannya di atas, Bucaille mengakui bahwa al-Qur’an adalah wahyu, dan hanya al-Qur’anlah yang keasliannya terjaga, berbeda dengan perjanjian lama dan perjanjian baru yang sudah tidak asli lagi.
2. Tentang kesesuaian antara al-Qur’an dengan Sains modern
Menurut Bucaille, al-Qur’an mempunyai kesesuaian dengan fakta-fakta sains modern, sebagaimana ia menjelaskan bagaimana burung terbang. Ia mengatakan bahwa ada ayat yang menonjolkan tunduknya burung-burung kepada kekuasaan Allah secara total. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang ke
159Maurice Bucaille,
Fir’aun dalam Bibel dan al-Qur’an, terj: Mukhlish Madiyan,(Bandung:PT Mizan Pustaka,2007), hal. vvi.
160
Maurice Bucaille, Bibel, Qur’an dan Sains Modern, terj: M. Rosyidi,(Jakarta:Bulan Bintang, 1994), hal. 143. 161
Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis 86 angkasa bebas, tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang beriman (QS. Al-Nahl : 79). Menurut Bucaille, kita dapat merasakan hubungan antara
ayat-ayat yang menekankan ke bersandaran kelakuan burung kepada pengaturan Tuhan dengan hasil-hasil penyelidikan ilmiah yang menunjukan kemahiran beberapa jenis burung dalam mengatur kepindahan mereka dari satu daerah ke daerah lain. Memang hanya adanya program kepindahan yang terdapat dalam watak sesuatu macam binatanglah yang dapat menjadikan binatang-binatang itu mengerti trayek yang sukar dan berbelit-belit bagi burung muda yang tidak punya pengalaman dan tak punya orang yang menunjukan jalan, serta dapat pula kembali pada tanggal yang pasti kepada tempat asal mulanya.
Dalam bukunya, kekuatan dan kelemahan (Paris, 1972), Prof. Hamburger
menyebutkan contoh yang masyhur mengenai burung di lautan Pasifik dan perjalanan perpindahannya yang membentuk angka 8 dan mencapai jarak 25.000 km. Perjalanan itu ditempuh dalam waktu kurang lebih enam bulan dan perjalalan kembali ditempuh dengan waktu sama (selisih waktu paling lama satu minggu). Para ahli sudah mengakui bahwa petunjuk-petunjuk yang kompleks untuk perjalanan itu telah tertulis dalam sel syaraf burung-burung tersebut. Memang hal-hal tersebut sudah teratur.162
3. Tentang Banjir Nuh
Riwayat Qur’an Tentang Banjir, menurut Bucaille, menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak menimbulkan kritik dari segi sejarah. Qur’an tidak memberikan riwayat Banjir yang kontinyu. Beberapa ayat membicarakan hukuman yang diberikan depada umat Nabi Nuh. Riwayat yang paling lengkap adalah surat Huud (11) ayat 25 s/d 49. Surat 71 yang dinamakan surat Nuh menceritakan Nuh yang memberikan nasehat kepada umatnya, begitu juga surat Asy-Syu’araa’ (26) ayat 105 s/d 112.
Tetapi sebelum menyelidiki kejadian itu, agaknya kita perlu menempatkan banjir yang diriwayatkan oleh Qur’an dalam hubungannya dengan hukuman-hukuman Tuhan yang dikenakan kelompok-kelompok yang salah karena menyalahi perintah-Nya. Jika Bibel menceritakan Banjir Dunia untuk menghukum seluruh kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya al-Qur’an, menurut Bucaille, menceritakan bermacam-macam hukuman yang dikenakan kepada kelompok-kelompok tertentu.163 Dengan begitu, maka Qur’an menggambarkan banjir sebagai suatu hukuman yang khusus untuk kaum Nuh saja. Ini merupakan perbedaan pertama yang pokok antara kedua riwayat.164 Perbedaan pokok kedua adalah bahwa Qur’an tidak menempatkan Banjir dalam suatu waktu dan tidak menerangkan berapa lama Banjir itu berlangsung.
Sementara itu, sebab-sebab banjir hampir sama, baik dalam Bible maupun al- Qur’an. Riwayat Sakerdotal (Kejadian 7, 11) menyebutkan dua hal: sumber-sumber memancarkan air banyak sekali, dan langit-langit mencurahkan lautan-lautan;
162
Maurice Bucaille, Bibel, Qur’an dan Sains Modern, terj:M. Rosyidi,(Jakarta:Bulan Bintang, 1994), hal. 227
163 Surat al-Furqaan (25) ayat 35 s/d 39, dan Surat al-A’raaf (7) ayat 59 s/d 93 mengingatkan kepada hukum-hukum Tuhan yang menimpa kaum Nuh. ‘Ad, Tsamud, Lut dan Madyan secara terpisah.
164
Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis 87
sementara itu al-Qur’an menyebutkan dalam surat al-Qamar (54) ayat 11 dan 12 yang dengan sangat jelas menyebutkan isi perahu; Tuhan memeri perintah kepada Nuh dan perintah itu dilaksanakan tepat dengan menempatkan dalam perahu beberapa macam binatang yang akan langsung hidup. Dalam Surat Huud (11) ayat 40, disebutkan pula bahwa seorang anak Nuh yang mendapatkan laknat Tuhan telah dikecualikan. Dalam hal ini ayat 45 s/d 46 dari surat tersebut menceritakan bahwa permohonan Nuh kepada Allah tidak dapat merubah keputusan Tuhan. Qur’an menyebutkan bahwa di atas perahu, disamping keluarga Nuh minus anaknya, terdapat pula beberapa penumpang yang percaya kepada Tuhan.
Bible tidak menyebutkan orang-orang itu di antara para penumpang-penumpang perahu. Menurut riwayat Sakerdotal, hanya Nuh dan keluarganya sendiri saja yang menunpang perahu, dan dengan tak ada kecualian, dan sepasang dari tiap-tiap jenis binatang.
Riwayat Yahwist juga membedakan antara binatang-binatang suci dan burung di satu pihak dan di lain pihak binatang-binatang yang tidak suci. (Binatang suci, dalam perahu itu memuat 7 dari tiap jenis, jantan dan betina, dan ada yang tidak suci hanya satu pasang). Menurut ayat Yahwist juga yang sudah dirubah (keluaran 7, 8), sepasang dari tiap-tiap jenis, baik yang suci maupun yang tidak suci. Riwayat banjir itu sendiri dimuat dalam Qur’an surat Huud (11) ayat 25 s/d 49, dan surat al-Mu’minuun (23) ayat 23 s/d 30. Riwayat Bibel tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.
Tempat perahu itu berhenti, menurut Bibel itu adalah di gunung Arafat (Kejadian 8,4), dan menurut Qur’an tempat itu adalah Joudi (surat 11 ayat 44). Gunung Joudi ini adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia; tetapi tak dapat dijamin bahwa tak ada perubahan-perubahan nama untuk menyesuaikan antara kedua riwayat. R. Blachere berpendapat seperti itu. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia, jadi persamaan nama mungkin buatan saja. Secara definitif, terdapat perbedaan antara riwayat Qur’an dan riwayat Bibel. Perbedaan-perbedaan itu ada yang tak dapat diselidiki secara ilmiah karena tak ada data-data positif.165
Tetapi jika kita harus menyelidiki riwayat Bibel dengan perantaraan data-data yang jelas, kita dapat menyatakan bahwa dalam meriwayatkan Banjir dalam waktu dan tempat riwayat Bibel sudah terang tidak sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan pengetahuan modern. Sebaliknya, riwayat Qur’an bersih dari segala unsure yang menimbulkan kritik objektif. Begirtu juga antara waktu riwayat Bibel dengan waktu riwayat Qur’an apakah manusia sudah memperoleh informasi yang memberikan penerangan tentang kejadian Banjir itu? Jawaban atas pertanyaan itu adalah “Tidak,” karena antara waktu Perjanjian Lama dan Qur’an, satu-satunya dokumentasi yang dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel. Jadi faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu yang ditulis dalam Bibel.166
165
Maurice Bucaille, Bibel, Qur’an dan Sains Modern, terj: M. Rosyidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 202-203. 166
Kajian Orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis 88