BAB II ISI LANDASAN TEORI

A. Teori yang Mendukung

4. Kurikulum

Setiap instansi pendidikan tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya kurikulum. Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan (Arifin, 2011). Istilah kurikulum dalam pendidikan adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah. Sedangkan pengertian kurikulum dalam perspektif yuridis-formal, yaitu menurut UU no.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “Kurikulum adalah seperangkat rencana yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk

mencapai tujuan pendidikan tertentu” (Bab 1 Pasal 1 ayat 19). Berdasarkan

pengertian kurikulum yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu perencanaan pada sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan diselesaikan oleh peserta didik dalam mengikuti proses belajar di sekolah untuk dapat mencapai tujuan dari pendidikan.

Perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan kebutuhan yang ada di masyarakat, karakteristik peserta didik, dan lingkup pengetahuan menurut hierarki keilmuan (Saylor, et al., 1981 dalam Hamalik, 2007). Adapun prinsip yang terdapat dalam mengembangkan kurikulum antara lain adalah prinsip umum dan prinsip khusus. Menurut Arifin (2011) prinsip umum pengembangan adalah:

a) Prinsip Berorientasi pada Tujuan dan Kompetensi

Prinsip berorientasi pada tujuan merupakan sesuatu yang akan dicapai dalam pendidikan. Tujuan dari pendidikan itu sendiri memiliki tingkatan tertentu, mulai dari tujuan yang umum sampai yang khusus. Adapun tujuan-tujuan yang dimaksud seperti, tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan pembelajaran umum, dan tujuan pembelajaran khusus. Sedangkan prinsip berorientasi pada kompetensi adalah perpaduan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang ditunjukan melalui pola pikir dan tindakan. Ciri utama dari prinsip ini adalah menggunakan pola pemikiran yang sistematik dan sistemik. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengembangkan kurikulum adalah mentapkan standar kopetensi lulusan (SKL).

b) Prinsip Relevansi

Prinsip relevansi terbagi atas dua jenis, yaitu relevansi eksternal dan relevansi internal. Relevansi eksternal merupakan relevansi antara kurikulum dengan lingkungan hidup peserta didik dan masyarakat, perkembangan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang, serta tuntutan dan kebutuhan dunia pekerjaan. Sedangkan relevansi internal adalah adanya hubungan dan konsistensi antar komponen kurikulum, seperti tujuan, isi, proses, dan evaluasi. Dari kedua prinsip tersebut, maka pengembang kurikulum harus paham benar mengenai isi kurikulum, tujuan, proses pembelajaran, dan sistem evaluasi. Apabila pegembang kurikulum berhasil dalam menjalankan prinsip

relevansi internal, hal tersbut tentu akan membawa keberhasilan untuk tercapainya relevansi eksternal.

c) Prinsip Efisiensi

Pengembang kurikulum perlu memahami terlebih dahulu situasi dan kondisi tempat dimana kurikulum tersebut akan digunakan. Pemahaman mengenai tempat dimana kurikulum akan digunakan dapat membantu pengembang kurikulum untuk dapat memenuhi prinsip praktis. Salah satu kriteria praktis itu adalah efisien, maksud dari efisien adalah sesuatu yang tidak memerlukan biaya yang mahal tetapi bukan sesuatu yang dianggap murahan. Oleh sebab itu, kurikulum harus dikembangkan secara efisien, tidak boros, dan sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. Para pengembang juga perlu memerhatikan aspek seperti sumber daya pendidikan yaitu tenaga, dana, fasilitas, terutama pada daerah yang sangat terbatas.

d) Prinsip Keefektifan

Prinsip keefektifan dapat ditinjau dari hal, yaitu melalui proses dan produk. Proses mengacu pada tingkat keefektifan proses pembelajaran yaitu cara guru mengajar/menyampaikan materi dan keefektifan peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Sedangkan produk mengacu pada hasil yang ingin dicapai dari proses pembelajaran. Kejelasan kompetensi yang ingin dicapai dapat mengarahkan pada pemilihan dan penentuan isi, metode, dan sistem evaluasi, serta model konsep kurikulum yang akan digunakan. Intinya, dalam prinsip ini pengembang perlu mengusahakan agar kurikulum yang dijalankan dapat membuahkan hasil dan kegiatan dalam pembelajaran sebaiknya dibuat

seefektif mungkin agar tidak ada kegiatan yang sia-sia atau tidak bermakna bagi siswa.

e) Prinsip Fleksibilitas

Pengembang kurikulum perlu memperhatikan nilai fleksibilitas pada suatu kurikulum. Fleksibilitas adalah suatu hal yang bersifat lentur (tidak kaku) dan dapat berubah sesuai dengan keadaan yang ada. Kefleksibelan dalam mengembangkan kurikulum yaitu fleksibel mengembangkan program pembelajaran, terutama penggunaan strategi, pendekatan, metode, media pembelajaran, sumber belajar, dan teknik penilaian. Kurikulum sebaiknya memiliki sistem tertentu yang mampu memberikan sebuah alternatif dalam penguasaan kompetensi melalui berbagai metode atau cara-cara tertentu yang sesuai dengan situasi dan kondisi tempat dimana kurikulum tersebut diterapkan. Berdasarkan hal diatas, maka pengembang kurikulum perlu mengusahakan agar kgiatan kurikuler dapat bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

f) Prinsip Integritas

Pengembang kurikulum perlu memperhatikan bahwa kurikulum harus dikembangkan berdasarkan suatu keseluruhan atau kesatuan yang bermakna atau berstruktur. Bermakna adalah suatu keseluruan yang memiliki arti atau makna, nilai, dan manfaat tertentu. Sedangkan keseluruhan merupakan sesuatu yang totalitas dan memiliki maknanya sendiri. Prinsip integritas bermaksud agar pengembang kurikulum memperhatikan dan mengusahakan agar pendidikan dapat menghasilkan pribadi yang unggul dan manusia seutuhnya.

Hal tersebut dikarenakan pendidikan anak merupakan pendidikan yang seutuhnya, pendidikan yang menyeuruh, dan pendidikan yang terpadu. Peserta didik memiliki potensi yang dapat tumbuh dan berkembang.

g) Prinsip Kontinuitas

Prinsip kontinuitas dalam pengembangan kurikulum dimaksudkan agar dalam kurikulum dikembangkan secara berkesinambungan, seperti kesinambungan antar mata pelajaran dan kesinambungan antar kelas ataupun antar jenjang.

h) Prinsip Sinkronasi

Kurikulum yang dikembangkan harus mengusahakan agar setiap aspek seperti kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler, dan pengalaman belajar yang lainnya dapat berjalan dengan seimbang, searah, dan setujuan.

i) Prinsip Objektivitas

Semua kegiatan dalam kurikulum harus dijalankan dengan tatanan kebenaran ilmiah serta menghindari pengaruh subjektivitas, emosional, dan irasional.

j) Prinsip Demokrasi

Prinsip demokrasi dalam pengembangan kurikulum ialah bertujuan agar menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui proses pembelajaran yang demokratis. Pengembangan kurikulum perlu dilandasi oleh nilai demokrasi, yaitu berupa penghargaan kepada kemampuan peserta didik, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik.

Pengertian kurikulum yang telah dipaparkan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan segala sesuatu yang sudah direncanakan secara matang oleh pihak yang berwenang untuk dijadikan acuan dalam kegiatan belajar mengajar sampai dengan tujuan pembelajaran dan harus memperhatikan aspek perkembangan peserta didik. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan jika sering terjadi perubahan kurikulum yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan kurikulum menjadi solusi terhadap persoalan yang dihadapi bangsa, karena berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan sangat tergantung pada kurikulum yang berlaku (Fadillah, 2014).Perkembangan dan perubahan kurikulum sering terjadi karena pada prinsipnya pendidikan bertujuan menyiapkan peserta didik agar dapat bersaing sesuai dengan keadaan zaman.

Dalam dokumen Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) berbasis permainan anak kelas I SD pada Tema Diriku Subtema Tubuhku. (Halaman 40-45)