BAB 2 TINJAUAN TEORITIS
2.2 Lansia dengan Depresi
2.2.1 Perubahan akibat Proses Penuaan pada Lansia 2.2.1.1 Teori Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson adalah seseorang yang berusia lebih dari 65 tahun berada pada fase integrity vs despair yaitu seseorang akan melihat kembali (flash back) kehidupan yang telah mereka jalani dan berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang belum terselesaikan. Penerimaan terhadap prestasi, kegagalan dan keterbatasan adalah hal utaman yang membawa dalam sebuah kesadaran bahwa hidup seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri. Orang yang berhasil melewati tahapan ini berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami. Individu ini akan mencapai kebijaksanaan meskipun saat menghadapi kematian. Keputusasaan dapat terjadi
pada orang-orang yang menyesali cara mereka dalam menjalani hidup atau bagaimana kehidupan mereka telah berubah (Shaffer, 2005)
Teori psikososial berasumsi bahwa munculnya masalah depresi pada masa tua adalah karena hilangnya harga diri, hilangnya peran yang berarti, hilangnya orang tertentu, dan kontal sosial yang kurang (Reker, 1997 dalam Miller, 2012). Faktor yang berkontribusi dalam munculnya masalah depresi pada lansia adalah meliputi: usia; kurangnya peran sosial dan rendahnya status sosial ekonomi; pengalaman masa lalu seperti trauma pada masa kecil; stres sosial yang berulang termasuk dalam kejadian hidup yang membuat stress; jaringan sosial yang tidak adekuat; kurangnya interaksi sosial; rendahnya intergrasi sosial misalnya ketidakmampuan lingkungan dan terbatasnya kekuatan keagamaan; serta kombinasi beberapa faktor-faktor.
Teori psikososial menggambarkan tentang masalah depresi sebagai suatu kondisi, dimana individu mengalami penurunan pada kognitif, motivasi, harga diri dan afektif-somatik (Seligman, 1981 dalam Miller, 2012). Blazer (2003) menyarankan bahwa strategi untuk meningkatkan kepuasan diri pada lansia akan mencegah depresi. Jika lansia terus menerus melakukan berbagai aktivitas, maka lansia akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan (Hikmawati & Purnama, 2008). Hal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan tujuan intervensi keperawatan mencegah depresi terutama pada lansia.
2.2.1.2 Teori Gangguan Kognitif
Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan (Stuart & Sundeen, 2009). Gangguan kognitif akan mempengaruhi gambaran diri lansia, lingkungan dan pengalamannya serta pandangannya untuk masa depan. Orang dengan depresi kurang memikirkan masa depan yang dapat membuatnya bahagia. Lansia dengan depresi biasanya memiliki penilaian negatif terhadap kehidupannya dengan adanya perasaan tidak berharga, menganggap kejadian kehidupan adalah suatu hal
yang buruk, berpikir tidak realistis terhadap kondisi ketidakberdayaannya (Miller, 2012).
2.2.1.3 Teori Biologis
Teori biologi berhubungan dengan proses penuaan, depresi dan perubahan pada otak, sistem saraf dan neurotransmitter. Neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, asetilkolin dan norefinephrin yang berkontribusi pada kondisi depresi pada lansia (Miller, 2012). Teori menunjukkan bahwa penyebab depresi sebenarnya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri. Jika lansia dihadapkan pada suatu masalah, ia akan mudah menyerah dan terjadi penurunan kemampuan dalam memecahkan masalah, sehingga lansia akan cenderung mengalami keputuasaan. Penelitian membuktikan bahwa perubahan neuroendokrin seperti penurunan kadar serotonin berkontribusi terhadap peningkatan risiko bunuh diri (Mann, 2002 dalam Miller, 2012).
2.2.2 Depresi pada Lansia 2.2.2.1 Pengertian Depresi
Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional yang mewarnai seluruh proses mental baik pikiran, perasaan dan aktivitasnya (Keliat dkk, 2011). Depresi merupakan respon emosional yang paling maladaptif yaitu dengan perubahan afektif, fisiologi, kognitif dan perilaku misalnya kesedihan, gelisah dan lambat dalam beraktifitas (Stuart, 2009). Depresi juga diartikan sebagai salah satu diagnosis mood (afektif) dengan kriteria terdapat 2 dari 3 gejala inti depresi ditemukan hampir setiap hari minimal 2 minggu yaitu penurunan mood (sedih, tertekan dan merasa tidak bahagia) atau afek depresif, kelelahan (merasa kelelahan atau energi berkurang) dan anhendonia atau tidak berminat dan kegembiraan berkurang untuk melakukan aktivitas (Townsend, 2009).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa depresi adalah adanya gangguan kondisi emosional yang maladaptif baik pikiran, perasaan dan aktivitasnya yang ditandai dengan kesedihan, gelisah, kelelahan dan lambat dalam beraktifitas yang ditemukan hampir setiap hari minimal 2 minggu.
2.2.2.2 Penyebab Depresi
Penyebab depresi menurut Stuart (2009) adalah akumulasi ketidakpuasan, frustasi, kritikan pada diri sendiri tentang kejadian hidup sehari-hari tanpa adanya dukungan hal positif, stres dalam pekerjaan dan keluarga serta kehilangan. Depresi terjadi pada lansia tergantung banyaknya jumlah stressor (sumber stres) kehilangan yang dialami seperti pasangan, penghasilan, peran, kesehatan, fungsi seperti masih muda (Carson, 2010; Townsend, 2009). Penyebab depresi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi dapat saling berinteraksi dengan faktor yang lain, sehingga munculnya depresi (Townsend, 2009). Selain itu ditambah dengan perubahan-perubahan akibat proses penuaan yang terjadi pada lansia.
2.2.2.3 Faktor risiko terjadinya depresi
Faktor risiko terjadinya depresi adalah sebagai berikut (Miller, 2012; WHO, 2009), meliputi : genetik atau keturunan; jenis kelamin wanita dua kali lebih besar berisiko menderita depresi dibandingkan laki-laki; lama tinggal di tempat khusus; dukungan sosial terbatas; kontrol tubuh yang kurang; kualitas tidur yang rendah; kejadian hidup yang membuat stres dan berulang; merasa tidak berdaya dan tidak ada harapan; merasa tidak ada alasan untuk melanjutkan hidup; gangguan fungsional menetap (misalnya: gangguan penglihatan); menderita penyakit serius (misalnya: kanker, kerusakan persyarafan).
2.2.2.4 Gejala Umum
Afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi, mudah lelah dan menurunnya aktivitas dan lamanya episode depresif yaitu selama 2 minggu (Kemenkes RI, 2012). Depresi pada lansia dengan usia lebih 65 tahun atau lebih sering terjadi karena efek dari masalah penyakit kronik, kerusakan kognitif dan kemampuan yang menurun (Alexopoulus, 2005; Carson, 2010).
Gejala umum yang terjadi pada lansia depresi (Miller, 2012; Stuart & Sundeen, 2009; Carson, 2010; Townsend, 2009, Keliat, 2011; Kemenkes RI, 2012) meliputi :
a. Gejala fisik berupa: gangguan pola tidur (sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit), menurunnya tingkat aktifitas, efisiensi kerja, produktifitas kerja dan mudah merasa letih atau sakit.
b. Gejala psikis berupa: kehilangan kepercayaan diri, sering memandang peristiwa netral dipandang dari sudut pandang yang berbeda, bahkan disalah artikan akibatnya sehingga lansia mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga, mudah sedih, murung dan lebih suka menyendiri, merasa dirinya tidak berguna, selalu gagal, merasa bersalah, merasa kehidupan ini sebagai hukuman, memiliki perasaan terbebani, dan menyalahkan orang lain.
c. Gejala Sosial berupa: adanya masalah interaksi sosial, konflik, minder, malu, cemas jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal, merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalani hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.
Tanda dan gejala depresi setiap lansia bervariasi. Penilaian tingkat depresi dapat diidentifikasi dengan penilaian menggunakan alat ukur yang tepat. Penilaian dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat, sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat.
2.2.2.5 Pengukuran tingkat depresi pada lansia
Pengukuran kondisi depresi pada lansia menggunakan kuesioner Geriatric
Depression Scale (GDS) dengan 15 item pertanyaan yang sudah valid secara
internasional (Sheikh, J. & Yesavage. JA, 1986 dalam Landefeld et al, 2004 & Ham et al, 2008). Penilaian depresi dengan menghitung total skor seluruh jawaban, kemudian diklasifikasikan dalam 4 kategori yaitu jika skor penilaian 0–4 maka kategori lansia normal (tidak depresi), skor 5–8 kategori lansia depresi ringan, skor 9–10 kategori lansia depresi sedang dan skor 12–15 kategori lansia depresi berat.
Lansia depresi memerlukan perhatian yang serius dengan pendekatan asuhan keperawatan untuk menurunkan faktor risiko, meningkatkan fungsi psikososial, memberikan latihan-latihan serta konseling oleh tenaga kesehatan yang didukung oleh lansia itu sendiri, keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.