• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Ilmu Keperawatan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 170-200)

BAB 5 PEMBAHASAN

5.3 Implikasi keperawatan

5.3.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan

Intervensi MaSa INDAH merupakan tindakan keperawatan yang dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan dalam kelompok lansia intervensi MaSa INDAH dapat membantu lansia mengatasi depresinya dengan menggunakan strategi koping (pemecahan masalah) yang dipilihnya. Koping lansia depresi dapat diintegrasikan melalui pelayanan keperawatan kesehatan bagi lansia dengan keterlibatan keluarga sebagai sistem pendukung bagi lansia. Dukungan keluarga dan masyarakat yang baik melalui intervensi keperawatan dalam MaSa INDAH memberikan dampak positif dalam menurunkan depresi pada lansia, sehingga peran serta dan keterlibatan dari keluarga sebagai sumber dukungan sosial bagi lansia sangat diperlukan di setiap kegiatan.

5.3.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan

Pelayanan keperawatan kepada lansia tidak terlepas dari peranan dari institusi pendidikan terutama institusi pendidikan keperawatan. Institusi pendidikan

keperawatan meningkatkan dan memperdalam teori dan konsep keperawatan yang berkaitan dengan berbagai terapi atau tindakan mandiri perawat dalam memberikan intervensi kepada lansia dengan depresi. Inovasi integrasi intervensi keperawatan diperlukan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan lansia depresi dengan berbagai penelitian terkait lansia depresi di komunitas serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan intervensi dalam menurunkan tingkat depresi, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan lansia yang lebih sehat, mandiri, produktif dan bermartabat.

BAB 6

SIMPULAN DAN SARAN

Bagian simpulan dan saran menguraikan tentang hasil pembahasan secara singkat terkait pengelolaan pelayanan manajemen keperawatan komunitas, asuhan keperawatan komunitas dan keperawatan keluarga.

6.1 Simpulan

6.1.1. Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan tenaga kesehatan dalam melaksanakan intervensi MaSa INDAH pada aggregat lansia depresi di Kelurahan Curug.

6.1.2 Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan anggota kelompok pendukung lansia MaSa INDAH tentang kesehatan lansia; deteksi dini depresi dan cara pencegahannya; teknik pendidikan kesehatan; komunikasi efektif; manajemen stres; cara meningkatkan harga diri lansia di Kelurahan Curug.

6.1.3. Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam perawatan kesehatan lansia dengan depresi melalui intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug.

6.1.4 Peningkatan kemandirian keluarga pada keluarga binaan dalam mengatasi masalah depresi pada lansia melalui intervensi MaSa INDAH

6.1.5 Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan lansia dalam perawatan kesehatan lansia dengan depresi melalui intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug.

6.1.6 Penurunan tingkat depresi lansia setelah dilakukan intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug.

6.2 Saran

6.2.1 Pengelola Program Kesehatan 6.2.1.1 Dinas Kesehatan

a. Merumuskan kebijakan program terkait dengan masalah kesehatan depresi pada aggregat lansia meliputi pengembangan staf atau sumber daya manusia

yaitu tenaga kesehatan terutama perawat sebagai pelaksana program keperawatan kesehatan lansia depresi.

b. Menetapkan kegiatan pengembangan staf melalui pelatihan, seminar maupun pendidikan berkelanjutan (linier) bagi perawat di puskesmas dan penangung jawab program lansia agar mampu menerapkan intervensi MaSa INDAH sebagai bagian dalam pelayanan asuhan keperawatan lansia depresi.

c. Mengadakan pelatihan bagi perawat di puskesmas untuk meningkatkan kemampuan dalam memberikan konseling bagi lansia dan keluarga lansia. d. Melibatkan perawat penyelia dalam setiap rangkaian kegiatan intervensi

MaSa INDAH bagi lansia depresi, sehingga dapat tetap terlaksana berkesinambungan dalam upaya menurunkan tingkat depresi lansia.

6.2.1.2 Puskesmas

a. Mengembangkan kegiatan tambahan pada pelayanan di dalam gedung dan di luar gedung dari rangkaian intervensi “MaSa INDAH” pada kelompok lansia di Kelurahan Curug.

b. Meningkatkan kemampuan dan potensi perawat sebagai pelaksana intervensi keperawatan melalui pemberian kesempatan dalam pengembangan pendidikan berkelanjutan di dalam institusi maupun di luar institusi.

c. Mengoptimalkan puskesmas santun lansia hingga ke lapisan masyarakat dengan memberikan pelayanan keperawatan kesehatan lansia baik berupa pelayanan kesehatan fisik maupun psikologis sebagai bentuk penghargaan bagi lansia di masa tuanya

d. Memfasilitasi setiap kegiatan kelompok lansia sebaya MaSa INDAH dan pembinaan kader dalam kelompok pendukung serta bimbingan untuk meningkatkan semangat dan motivasi masyarakat dalam mengatasi masalah depresi pada lansia.

6.2.1.3 Perawat Kesehatan Masyarakat (Perawat Komunitas)

a. Melakukan deteksi dini lansia depresi dan melakukan sosialisasi intervensi “MaSa INDAH” kepada masyarakat kelompok lansia dan keluarga lansia

depresi pada kegiatan posbindu, kunjungan rumah maupun dalam kegiatan di masyarakat.

b. Melakukan intervensi “MaSa INDAH” secara langsung pada kelompok lansia dengan depresi pada kegiatan posbindu atau kelomppok maupun melalui kunjungan rumah.

c. Melibatkan kader dan keluarga dalam kelompok pendukung dan melakukan pembinaan secara rutin dari pengkajian hingga evaluasi pelaksanan.

d. Mengembangkan potensi diri dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi lansia dengan depresi dengan mengikuti seminar, pelatihan dan workshop atau kegiatan ilmiah lainnya.

6.2.2 Kader Kesehatan

a. Mendukung dan mengikuti pembinaan secara berkelanjutan dalam pengembangan diri yang diselenggarakan dalam program pemerintah bidang kesehatan, sehingga dapat memberikan umpan balik positif pada kelompok lansia maupun pada keluarga lansia depresi di masyarakat dengan melakukan deteksi dini lansia depresi dan penyebaran informasi kesehatan lansia depresi. b. Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan diri dengan tetap belajar

dari berbagai sumber informasi kesehatan seperti majalah, buku kesehatan, internet yang berhubungan dengan situs keperawatan kesehatan lansia dan meningkatkan kemampuan dengan mengambil kesempatan untuk belajar dalam bentuk pelatihan atau seminar kesehatan.

c. Melakukan kerjasama dengan kader bina keluarga lansia dalam melakukan rujukan ke sarana pelayanan kesehatan bila ditemukan lansia yang mengalami masalah kesehatan.

6.2.3 Lansia, Keluarga dan Masyarakat

a. Meningkatkan perilaku (pengetahuan, sikap dan keterampilan) dengan aktif mencari sumber informasi yang berhubungan dengan kesehatan lansia depresi, sehingga akan meningkatkan kemandirian keluarga dan masyarakat dalam merawat lansia dengan depresi melalui intervensi “MaSa INDAH”.

b. Memberikan dukungan yang optimal bagi lansia melalui kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL) tingkat RW dalam upaya membantu lansia menjalani masa tuanya dengan sehat dan bahagia melalui keikutsertaan dalam kegiatan kelompok pendukung lansia depresi, kegiatan keagamaan maupun kegiatan lain di masyarakat.

c. Keluarga dan masyarakat memberikan semangat bagi lansia dan lansia tetap juga selalu semangat dalam menjalani proses penuaan sebagai suatu masa yang indah dan sebagai suatu kebanggaan dalam hidupnya.

6.2.4 Perkembangan Ilmu Keperawatan

a. Publikasi hasil intervensi MaSa INDAH sebagai suatu pengembangan intervensi keperawatan yang efektif dan efisien dalam mengatasi masalah kesehatan lansia depresi sebagai upaya pencegahan masalah kesehatan dan pengembangan inovasi perawatan kesehatan selanjutnya pada aggregat lansia dengan depresi.

b. Penelitian yang terkait tentang keperawatan kesehatan lansia dengan depresi misalnya dengan adanya penelitian tentang keefektifan intervensi MaSa INDAH dalam mengatasi depresi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Selain itu perlu adanya penelitian yang berhubungan dengan pemberdayaan kader dalam pelaksanaan kegiatan intervensi MaSa INDAH melalui kunjungan rumah, penelitian tentang elemen-elemen manajemen yang berhubungan dengan pelaksanaan program kesehatan lansia dengan depresi, misalnya tentang tingkat motivasi perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kesehatan lansia dengan intervensi MaSa INDAH di puskesmas santun lansia, hubungan karakteristik tenaga perkesmas dan kader kesehatan dalam pelaksanaan intervensi MaSa INDAH dengan tingkat depresi lansia di komunitas,

DAFTAR PUSTAKA

Alexopoulus, G.S. (2005). Depression in the elderly. The Lancet: Jun-4Jun10,2005,365,9475. http://proquest.umi.com, diperoleh tanggal 14 Januari 2014.

Allender, J. A., Rector, C. dan Warner, K. D. (2014). Community Health

Nursing: Promoting and Protecting the Public's Health. Philadelphia:

Lippincott Williams & Wilkins.

Anderson dan McFarlene. (2011). Community As Partner : Theory And Practice

In Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams &

Wilkins.

Asmuji. (2012). Manajemen keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2012). Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Jakarta: Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan BKKBN.

Biro Hukum dan Humas BPKP. (1998). Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/45/438.bpkp.

Bjorklof, G. H., Engedal, K., Selbæk, G., Kouwenhoven, S.E. dan Helvik, A.S. (2013). Coping and Depression in Old Age: A Literature Review.

Psychology Journal 35: 121-54.

Blazer, D.G. (2003). Depression in Late Life: Review and Commentary. The Journal of Gerontology; Mar 2003; 58 A,3. http://proquest.umi.com, diperoleh tanggal 23 Oktober 2013.

Carmody, S. dan Forster, S. (2003). Aged Care Nursing: A Guide to Practice. San

Francisco: Ausmed Publications.

Carson, V.B. (2010). Mental Health Nursing : The Nurse-Patient Journey 2nd

Edition. Philadelphia: W.B. Sounder Company.

Cole, M.G., dan Dendukuri, N. (2003). Risk factors for depression among elderly community subjects: A systematic review and meta-analysis. The American

Journal of Psychiatry 160.6 (Jun 2003): 1147-56.

Conner, K.O., Copelan, V.C., Grote, N.K., Koeske, G., Rosen, D., Reynold.,C.F., dan Brown, C. (2010). Mental Health Treatment Seeking Among Older Adults with Depression: The Impact of Stigma and Race. Am J Geriatr

Copel, L. C. (2007). Kesehatan Jiwa dan Psikiatri: Pedoman Klinis Perawat. Jakarta: EGC.

Cutler, C.G. (2005). Self-Efficacy and Social Adjustment of Patient with Mood Disorder. J.Am Psychiatr Nurs assoc 11:283.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2003). Puskesmas Santun Lansia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Ervin, N. E. (2002). Advanced Community Health Nursing Practice: Population -

Focused Care. New Jersey: Pearson Education.

Fatmah. (2013). Pengaruh Pelatihan pada Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Teknis Kader Penyuluhan Obesitas dan Hipertensi Kader Posbindu Kota Depok. Makara Seri Kesehatan, 17(2);49-54.

Frazer, C.J., Christense, H dan Griffiths. (2005). Sistematic Review : Effectivenss

of treatments for depression in older people. Medical Journal of Australia;

Jun 2, 2005; 182, 12; ProQuest pg 627. http://proquest.umi.com, diperoleh tanggal 02 Mei 2014.

Friedman (2010). Keperawatan Keluarga: Research, Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.

Gillies, D. A. (1994). Nursing Management: A System Approach Philadelphia: W.B Saunders Company.

Ham, R.J.,et al (2008). Interpersonal Psychotherapy As A Treatmen For

Depression In Later Life.Philadelphia: Mosby Elsevier.

Helvie, C.O. (1998). Advanced Practice Nursing in the Community. London: Sage.

Hikmawati, Eny dan Purnama, Akhmad. (2008). Kondisi Kepuasan Hidup Lanjut Usia. Jurnal PKS Vol. VII, No. 26 Desember 2008, 79-93.

Hill, T.D., Burdette, A.M., Angel, J.L., Angel, R.J. (2006). Religious Attendance and Cognitive Functioning among Older Mexican Americans. J Gerontol

B Psychol Sci Soc Sci. 61(1):3-9.

Hitchcock, J. E., Schubert, P. E., dan Thomas, S. A. (1999). Community

Health Nursing: Caring in Action. New York: Delmar Publishers.

Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia. 2014. Asuhan Keperawatan Komunitas. Seminar dan Kongres Nasional II. Yogyakarta tanggal 30 Oktober – 2 November 2013.

Keliat, B.A., Wiyono A.P. dan Susanti. (2011). Manajemen Kasus gangguan jiwa;

CMHN (Intermediate Course). Jakarta: EGC.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Buletin Jendela Data dan

Informasi Kesehatan Semester I. ISSN 2088-270x.

http://www.depkes.go.id/downloads/Buletin%20Lansia.pdf.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2013a). Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) tahun 2013. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia. https://www.litbang.depkes.go.id

Kementerian Sosial (2008). Mencapai Optimum Aging pada Lansia, Diakses dari

http://www.kemensos.go.id tanggal 04 Oktober 2013.

Komisi Nasional Lanjut Usia. (2010), Profil Penduduk Lanjut Usia 2009, Jakarta: Komisi Nasiona Lanjut Usia.

Landefeld, C.S., Palmer, R.M., Johnson, M., Anne, J.C.B dan Lyons, W. (2004).

Current Geriatric Diagnosis & Treatmen. Singapore: Mc Graw Hill.

Maas, M. L. (2011). Asuhan Keperawatan Gerontik : Diagnosis NANDA, Kriteria hasil; NOC dan Intervensi NIC. Jakarta: EGC.

MacInnes, D.L. (2006).Mental Health ; Effect of self esteem and self acceptance on phychological health is examined. Journal of Psychiatric and Mental

Health Nursing 2006;13(5):483-89.

http://search.proquest.com/docview/211467955?accountid=17242

Maglaya, A. S., Cruz Earnshaw, R. G., Pambid Dones, L. B. L., Maglaya, M. C. S., Lao-Nario, M. B. T., dan Leon, W. O. U. D. (2009). Nursing Practice

in the Community. Marikina: Argonauta Corporation.

Marquis, B. L., & Huston, C. J. (2012). Leadership Roles and Management

Functions in Nursing: Theory and Application. USA: Lippincott Williams

& Wilkins.

Mauk, K. L. (2006). Gerontological Nursing: Competencies For Care. Mississauga: Jones and Bartlett Publishers.

Maurer, F. A. dan Smith, C. M. (2005). Community/Public Health Nursing

Practice: Health for Families and Populations. Philadelphia: Elsevier

Meisenhelder, J.B. dan Chandler, E. N (2002). Spirituality and Health Outcomes in the Elderly. Journal of Religion and Health 41(3): 243-52.

http://search.proquest.com/docview/756929764?accountid=17242

Miller, C. A. (2012). Nursing for Wellness in Older Adults. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Pender, N. J., Murdaugh, C. L. dan Parsons, M. A. (2002). Health Promotion

in Nursing Practice. New Jersey: Prentice Hall.

Palestin. (2006). Ranah penelitian keperawatan gerontik.

http://ina-ppni.or.id/index/php. Diperoleh 20 Nopember 2013

Peden AR., et al. (2005). Testing an intervention to reduce negative thinking, depressive symptoms, and chronic stressors in low-income single mother,

Image J Nurs Sch 37:266.

Pistrang, N..et al. (2008) Mutual Help Group for Mental Health Problems: A Review of Effectiveness Studies. Am J Community Psychol : 42;110-121. Putri, A. K. (2012). Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Depresi pada

Wanita Perimenopaouse. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental vol 1, No.02.

Ratanto, R. (2013). Pengembangan Karir sebagai faktor paling mempengaruhi kinerja perawat pelaksana. Jurnal keperawatan Indonesia vol 16 no 2. Ratnasari, M., Setyowati, dan Kuntarti. (2012). Faktor-Faktor Manajemen

Sumber Daya Manusia Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Perkesmas Di Puskesmas Wilayah Kotamadya Jakarta Barat Tahun 2012.

Universitas Indonesia, Depok -- Indonesia.

Ruof, M. C. (2004). Vulnerability, Vulnerable Populations, and Policy. Kennedy

Institute of Ethics Journal, 14(4), 411-425.

Sadock, B. J. dan Sadock, V.A. (2010). Buku Ajar Psikiatri Klinis: Kaplan dan

Sandock. Jakarta: EGC.

Shaffer, David R. (2005). Social and Personality Development. United State of America : ThomsonWadsworth.

Songprakun, Wallapa dan McCann, Terence V. (2012). Effectiveness of a self-help

manual on the promotion of resilience in individuals with depression in Thailand: a randomised controlled trial. Psychology Journal 12: 12 http://search.proquest.com/docview/926901036?accountid=17242

Stanley, M. dan Beare, P. G. (2007). Buku ajar keperawatan gerontik, Jakarta: EGC.

Stuart, G.W. (2009). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis : Mosby.

Swanburg, R. C. (2000). Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan

Untuk Perawat Klinis. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Swanson, J. M. dan Nies, M. A (1993). Community health nursing : promoting the

health of aggrregaes. 2nd. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

Tambag, H., Oz, Fatma (2013). Evaluation of the Psychoeducation Given to the Elderly at Nursing Home for a Healty Lifestyle and Developing Life Satisfaction. Community Ment Health J 49:742-47.

Tamber dan Kookasiani (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan

Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Taylor, SE. (2006). Health Psychology 6th ed. Singapore: M.C. Grow Hill Book

Company.

Trivedi M.H., et al. (2006). Exercise as an augmentation stragtegy for treatment of major depression. J. Psychiatr Practice 12: 205.

Townsend, M.C. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care in

Evidence-Based Practice. 6th edition. Philadelphia: Davis Plus Company Whitehead, D. K., Weiss, S. A., d a n Tappen, R. M. (2010). Essentials of

Nursing Leadership and Management. Philadelphia: F. A. Davis

Company.

Wijono, D. (1999). Manajemen Pelayanan Kesehatan: Teori, Strategi,

dan Aplikasi. Surabaya: Airlangga University Press.

Wilkinson, Judit M. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan: diagnosis

NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.

World Health Organization (2009). Depression : ICD-10 criteria.

http://www.mentalhealth.com/icd/p22-md01.html didapatkan pada tanggal

N

o. Diagnosa Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas Tingkat pentingnya masalah untuk diselesaikan : 1=rendah, 2=sedang, 3=tinggi Perubahan positif bagi masyarakat jika masalah diselesaikan : 0=tidak ada, 1=rendah, 2=sedang, 3=tinggi Peningkatan kualitas hidup jika diselesaikan : 0=tidak ada, 1=rendah, 2=sedang, 3=tinggi

Prioritas masalah dari 1 sampai 6 :

1=kurang penting, 6=sangat penting

Jml

1. Koordinasi dan kerjasama lintas program dalam

pengembangan program kesehatan lansia dengan depresi belum optimal

2 3 2 4 11

2. Pengembangan staf untuk meningkatkan pelayanan kesehatan

lansia depresi masih belum optimal 3 3 3 6 15

3 Kegiatan supervisi pembinaan kesehatan lansia dengan depresi oleh pemegang program lansia belum terlaksana dengan baik

2 3 3 4 12

4 Wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan

kesehatan lansia belum tersedia 3 3 3 5 14

5 Monitoring evaluasi tentang pelaksanaan program kesehatan

lansiadengan depresi belum terlaksana. 2 3 2 4 10

Diagnosa manajemen pelayanan keperawatan komunitas berdasarkan prioritas adalah sebagai berikut :

1. Pengembangan staf untuk meningkatkan pelayanan kesehatan lansia depresi masih belum optimal (15) 2. Wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan kesehatan lansia belum tersedia (14)

3. Kegiatan supervisi pembinaan kesehatan lansia dengan depresi oleh pemegang program lansia belum terlaksana dengan baik (12) 4. Koordinasi dan kerjasama lintas program dalam pengembangan program kesehatan lansia dengan depresi belum optimal (11)

No.

Diagnosa Keperawatan Komunitas

Tingkat pentingnya masalah untuk diselesaikan : 1=rendah, 2=sedang, 3=tinggi Perubahan positif bagi masyarakat jika masalah diselesaikan : 0=tidak ada, 1=rendah, 2=sedang, 3=tinggi Peningkatan kualitas hidup jika diselesaikan : 0=tidak ada, 1=rendah, 2=sedang, 3=tinggi Prioritas masalah dari 1 sampai 6 : 1=kurang penting, 6=sangat penting Jml

1 Koping aggregate lansia tidak efektif di kelurahan Curug, Cimanggis, Depok.

3 3 3 5 14

2 Pola komunikasi kurang efektif pada aggregat lansia depresi di

kelurahan Curug, Cimanggis, Depok. 2 3 3 4 12

3 Risiko peningkatan masalah depresi pada aggregat lansia di

kelurahan Curug, Cimanggis, Depok. 2 3 2 2 9

4 Pemeliharaan kesehatan tidak efektif pada aggregat lansia depresi di

kelurahan Curug, Cimanggis, Depok. 3 3 3 4 13

Daftar Prioritas Masalah Keperawatan Komunitas :

1. Koping aggregat lansia tidak efektif di kelurahan Curug, Cimanggis, Depok (14)

2. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif pada aggregat lansia depresi di kelurahan Curug, Cimanggis, Depok (13) 3. Pola komunikasi kurang efektif pada aggregat lansia depresi di kelurahan Curug, Cimanggis, Depok (12) 4. Risiko peningkatan masalah depresi pada aggregat lansia di kelurahan Curug, Cimanggis, Depok (9)

No. Kriteria Skor Pembenaran 1. Sifat masalah : aktual 3/3 x 1 = 1

Masalah sudah terjadi karena nenek N terlihat pasif, menangis saaat bercerita tentang kehidupannya. Nenek N setiap hari duduk di kursi di depan rumah, terlihat lemah dan tidak ada inisiatif untuk berbagai aktifitas, kontak mata kurang saat berkomunikasi, nenek N dengan depresi tingkat sedang.

2. Kemungkin an masalah dapat diubah : mudah 2/2 x 2 = 2

Pengetahuan keluarga dalam mengenal keputusasaan pada nenek N masih kurang dan keluarga menganggap bahwa keputusaaaan itu adalah hal yang wajar terjadi pada lansia dan keluarga ingin nenek N tidak sedih lagi. Ada perawat yang akan memberi penkes, ada motivasi dari keluarga untuk mencari tahu dan ingin nenek N hidup lebih baik.

3. Potensi masalah untuk dicegah : cukup 3/3 x 1 = 1

Masalah lebih lanjut belum terjadi, keluarga belum melakukan tindakan lain untuk mengatasi masalah keputusasaan pada nenek N. Ada anggota keluarga dan tetangga yang peduli terhadap nenek N. 4. Menonjol-nya masalah: Masalah ada harus segera ditangani 2/2 x 1 = 1

Masalah pada Nenek N perlu diatasi agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut dari kondisi penurunan fisik dan psikologisnya.

No. Kriteria Skor Pembenaran 1. Sifat masalah :

Aktual

3/3 x 1 = 1

Masalah sudah terjadi. Komunikasi dalam keluarga Bpk S tidak terlalu sering dilakukan, dimana keluarga berusaha menunggu nenek N untuk bercerita atau berbicara tentang masalahnya. Nenek N terlihat setiap hari duduk di kursi di depan rumah, sendirian. Tidak ada inisiatif untuk berbagai aktifitas, kontak mata kurang saat berkomunikasi. 2. Kemungkinan masalah dapat diubah : Mudah 2/2 x 2 = 2

Pengetahuan keluarga dalam mengenal masalah komunikasi dalam keluarga masih kurang tapi dirasakan oleh nenek N dan seluruh anggota keluarga. Keluarga menganggap bahwa masalah komunikasi itu adalah karena ada kesalahpahaman antara anggota keluarga dan keluarga ingin masalah ini juga diselesaikan. Ada perawat yang akan memberi penkes, ada motivasi dari keluarga untuk mencari tahu tentang bagaimana caranya sehingga masalah komunikasi dalam keluarga dapat terselesikan. 3. Potensi masalah untuk dicegah: Cukup 2/3 x 1 = 2/3

Masalah lebih lanjut belum terjadi, keluarga belum melakukan tindakan lain untuk mengatasi masalah komunikasi dan menganggap dapat selesai sendiri.

4. Menonjol-nya masalah: Segera diatasi

2/2 x 1 = 1

Masalah dirasa perlu diatasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga anggota keluarga dapat merasa nyaman tinggal dalam rumah.

No. Kriteria Skor Pembenaran 1. Sifat masalah :

Aktual

3/3 x 1 = 1

Masalah sudah terjadi. Nenek N tidak mampu menunjukkan kemampuannya dalam melakukan aktifitas atau kegiatan keagamaan dan merasa tidak mampu untuk melakukan karena sudah bebal. Tidak ada inisiatif untuk berbagai aktifitas, kontak mata kurang saat berkomunikasi. 2. Kemungkinan masalah dapat diubah : Mudah 2/2 x 2 = 2

Pengetahuan keluarga dalam mengenal masalah kebutuhan spiritual bagi nenek N masih kurang. Keluarga menganggap bahwa nenek N sudah tua sehingga tidak mau dan tidak ada niat lagi untuk belajar sholat. Ada perawat yang akan memberi memberikan dukungan spiritual dan mengajarkan nenek N untuk sholat, ada motivasi dari keluarga untuk mencari tahu kurang tentang bagaimana caranya sehingga nenek N mau menjalankan ibadahnya kembali. 3. Potensi masalah untuk dicegah: Cukup 2/3 x 1 = 2/3

Masalah lebih lanjut belum terjadi, keluarga belum melakukan tindakan lain untuk mengatasi masalah distress spiritual dan menganggap bahwa tidak bisa memaksakan nenek N kembali karena nenek N tidak ada niat untuk belajar.

4. Menonjol-nya masalah: Tidak segera diatasi ½ x 1 = ½

Masalah dirasa tidak perlu diatasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga anggota keluarga dapat merasa nyaman tinggal dalam rumah.

No. Kriteria Skor Pembenaran 1. Sifat masalah : Aktual 3/3 x 1 = 1

Masalah sudah terjadi karena nenek N mengalami hipertensi (TD: 170/80 mmHg, N: 84 x/ menit) nenek N terlihat kurang sehat, terlihat lemah dan tidak ada inisiatif untuk berbagai aktifitas. Nenek N tidak pernah minum obat dan tidak pernah menggunakan sarana pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah kesehatannya. Lingkungan bising. 2. Kemungkin an masalah dapat diubah : Sebagian ½ x 2 = 1

Pengetahuan keluarga dalam mengenal masalah hipertensi masih kurang, keluarga menganggap bahwa tekanan darah nenek N karena pikiran dan sejak muda dulu suka makan daging dan masalah tekanan darah tinggi sudah biasa terjadi kalau sudah tua. Ada perawat yang akan memberi penkes, ada motivasi dari keluarga untuk mencari tahu dan ingin nenek N hidup lebih sehat, ekonomi keluarga kurang. Keluarga kurang memnafaatkan fasilitas kesehatan berupa puskesmas maupun posbindu untuk kontrol kesehatan. 3. Potensi masalah untuk dicegah: Cukup 2/3 x 1 = 2/3

Masalah lebih lanjut belum terjadi, keluarga belum melakukan tindakan lain untuk mengatasi masalah hipertensi pada nenek N. Keluarga hanya memfasilitasi bila ada keluhan dengan meminum obat dari warung.

4. Menonjol-nya masalah: tidak segera

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 170-200)